Monday, 06 September 2010
 
| Home | Tentang Kami | Hubungi kami |
Karya Tulis
Tanya Jawab Shalat
Tanya Jawab Puasa
Jilbab Kewajiban Wanita Muslimah
Fikih Nikah
Fikih Kedokteran
Fikih Muamalat
Nasionalisme
Ilmu
Akidah
Fikih
Tafsir
Konsultasi
Ushul Fikih
Hadits
Buku
Tsaqafah
Tazkiyah
Sosial
Politik
Pendidikan
Pemikiran
Khutbah
Tokoh
Wanita
Bedah Buku
Penulis
Berita
Audio
Catatan Harian
Pengembangan Diri
Wawancara
Polling
Komentar Anda terhadap Situs Ini
 
Statistics
Syndicate
Popular

Website ini adalah pindahan dari www.ahmadzain.co.nr

Studi di Al Azhar
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A   
Monday, 26 July 2010

Pesan saya untuk para mahasiswa bahwa untuk menempuh sebuah cita-cita tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Banyak rintangan dan godaan yang harus kita lewati, dan tidak sedikit orang-orang yang berjatuhan di tengah jalan.  Ubahlah setiap rintangan yang ada menjadi sebuah kesempatan untuk memupuk diri dan meningkatkan potensi  serta melatih diri untuk selalu berpikir dan mencari solusi. Dengan mengikhlaskan niat, dan bekal semangat yang kuat diiringi dengan usaha yang gigih serta memohon taufik dari Allah SWT, impian apapun, betapa pun besar dan tingginya sebuah cita-cita, akan terwujud dengan izin Allah swt.”

Begitu pesan Dr Zain ke mahasiswanya.  Ia sendiri telah mengalami pahit getir ketika menjadi mahasiswa. Ketika keinginan untuk kuliah ke luar negeri membuncah, surat lamaran yang dikirimkannya ke Kuwait, tidak ketahuan rimbanya. Negeri kaya minyak saat itu sedang diinvasi Saddam Husain. Gagal di Kuwait, laki-laki Klaten ini melamar ke Universitas Madinah. Ia diterima.

Di Madinah keilmuannya diasah. Selama empat tahun di kota Rasulullah saw. tersebut, ia banyak banyak mendapat hal yang baru, yang belum pernah ia dengar selama nyantri di Indonesia.  Di Fakultas Syariah ia mulai mengenal ilmu-ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih. “Ilmu-ilmu itu sangat asing bagi saya, karena selama di Indonesia saya banyak menggeluti masalah-masalah Aqidah dan Dakwah.  Ilmu Fiqih yang dulunya saya benci, mulai merasuk dalam hati saya, dan sedikit-sedikit rasa cinta dengan ilmu Fiqih itu mulai muncul hingga hari ini,”terangnya kepada Islamia Republika.

 

Selengkapnya...
 
Hukum Asuransi Dalam Islam
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A   
Wednesday, 16 June 2010

       Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam macam resiko dan bahaya. Dan manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari dan dimana dia akan meninggal dunia. Resiko yag mengancam manusia sangatlah beragam, mulai dari kecelakan transportasi udara, kapal, hingga angkutan darat. Manusia juga menghadapai kecelakan kerja, kebakaran, perampokan, pencurian, terkena penyakit, bahkan kematian itu sendiri.

      Untuk menanggulangi itu semua, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi yang bisa menjamin diri dan hartanya, yang kemudian dikenal dengan istilah asuransi. Asuransi ini termasuk muamalat kontemporer yang belum ada pada zaman nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, perlu ada penjelasan tentang hukumnya di dalam Islam

Pengertian Asuransi 

      Asuransi berasal dari kata assurantie dalam bahasa Belanda, atau assurance dalam bahasa perancis, atau assurance/insurance dalam bahasa Inggris. Assurance berarti menanggung sesuatu yang pasti terjadi, sedang Insurance berarti menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi. 

      Menurut sebagian ahli asuransi berasal dari bahasa Yunani, yaitu assecurare yang berarti menyakinkan orang.

       Di dalam bahasa Arab asuransi dikenal dengan istilah : at Takaful,atau at Tadhamun yang berarti : saling menanggung. Asuransi ini disebut juga dengan istilah at-Ta’min, berasal dari kata amina, yang berarti aman, tentram, dan tenang. Lawannya adalah al-khouf, yang berarti takut dan khawatir. ( al Fayumi, al Misbah al Munir, hlm : 21 )  Dinamakan at Ta’min, karena orang yang melakukan transaksi ini ( khususnya para peserta ) telah merasa aman dan tidak terlalu takut terhadap bahaya yang akan menimpanya dengan adanya transaksi ini.

          Adapun asuransi menurut terminologi sebagaimana yang disebutkan dalam Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1992, :

” Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri pada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian pada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan ”

Selengkapnya...
 
Ketika Dalam Masa-Masa Belajar
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A   
Wednesday, 16 June 2010
 Berikut adalah wawancara Kolom Islamia Harian Republika dengan Dr. Ahmad Zain An Najah, MA pada tanggal 15/6/2010 :

Bagaimana masa kecil belajar ? Dan bagaimana peran orang tua ? Apa yang paling berkesan ketika belajar waktu kecil tersebut ?

      Seingat saya, ketika kecil, saya belajar di bawah bimbingan orang tua...khususnya di dalam membaca al Qur’an.  Teringat sekali di benak saya sampai sekarang, pada waktu itu belum ada listrik di rumah, walaupun sebenarnya tempatnya masih di bilangan kota.  Hanya diterangi lampu teplok ( lampu yang masih menggunakan minyak tanah ) dengan sangat telaten, ibu saya mengajari alif ba’ ta’. Ketika sudah masuk SD, peran ayah jauh lebih dominan. Setiap selesai sholat Maghrib beliau mewajibkan anak-anaknya untuk membaca al Qur’an, sehingga hal itu menjadi kebiasaan kami.

        Pada saat saya duduk di kelas VI SD, kakak saya yang sudah lulus SD lebih dahulu  dimasukkan orang tua ke Pesantren. Saya pada waktu itu juga bersikeras ikut masuk Pesantren padahal masih kelas VI SD, tetapi sayang pihak Pesantren tidak mengijinkan saya ikut, walau sekedar sebagai pendengar saja, akhirnya saya pulang dengan rasa kecewa.

Bagaimana pendidikan ketika remaja ? Dan apa yang terkesan pada masa-masa itu ?

       Betapa senangnya perasaan saya, ketika pada tahun berikutnya bisa masuk pesantren menyusul kakakku. Seingat saya, pada waktu itu terjadi gerhana matahari total yaitu pada tahun 1983. Masa-masa remaja saya dihabiskan di pesantren tersebut. Saya digembleng dengan pendidikan keras yang menekankan kedisiplinan dan penanaman aqidah Islam, sampai-sampai belum genap satu tahun saya di Pesantren, saya sudah sering berdebat dan dialog dengan ayah saya tentang masalah-masalah agama, padahal profesi ayah saya pada waktu itu adalah kepala sekolah MTsN dan seorang da’i.

Selengkapnya...
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 4 - 6 dari 238
FikihPolemik Arah Kiblat

Sunday, 08 August 2010

Akhir-akhir ini arah kiblat mulai menjadi pembicaraan hangat kaum muslimin di Indonesia.  Pasalnya fatwa MUI No 3 tahun 2010 yang menyatakan bahwa arah kiblat umat Islam Indonesia ke arah...
Selengkapnya

AkidahHukum Membongkar Kuburan

Wednesday, 21 April 2010

      Membongkar kuburan di dalam bahasa Arab sering disebut dengan istilah “ Nabsyu al Qubur “. Nabsy berarti menampakkan sesuatu yang dulunya tersembunyi,...
Selengkapnya

AkidahSyiah Antara Gerakan Politik dan Aliran Agama

Sunday, 28 February 2010

Di dalam makalah ini, penulis tidak akan membicarakan tentang Aqidah Syiah secara rinci dan mendetail, karena selain membutuhkan tulisan panjang,  yang dirasa tidak efektif  dan kurang...
Selengkapnya

Berita lainnya
Terbaru
Who's Online
Saat ini ada 10 tamu online
Kontak
Untuk berkomunikasi dengan kami silakan kontak di : 081319063442
Kegiatan
September 2010
SunMonTueWedThuFriSat
01020304
05060708091011
12131415161718
19202122232425
2627282930

 

Random Image
Tidak ada gambar
Pengunjung
Visits today: 29
Visits yesterday: 23
Visits month: 234
Visits total: 31052
Max.monthly visits: 3133
  occurred: 2010-4
Pages this month: 1033
Pages total: 88456
Data since: 2008-07-11