Ilmu
2289 Hits

Tafsir Qs Al-‘Alaq [bag. 2]


 كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)

‘’Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.’’ (Qs. al-`alaq: 6-7)

 

Benar-benar manusia jika merasa dirinya kaya dan mampu, serta tidak membutuhkan orang lain, maka dia akan bertindak semena-mena dan melampaui batas.

“Kalla“ artinya benar-benar, karena merupakan awal kata.[1]

“al-Insan di sini maksudnya adalah Abu Jahal[2], yang pada waktu itu merasa menjadi pemimpin, kaya dan mampu. Sehingga, ia berbuat semena-mena kepada nabi Muhammad shallallahu’alaihi wassalam dan melarang beliau mengerjakan sholat.

Berkata Muqatil: “Abu Jahal jika mendapatkan uang banyak, dia akan menambah pakaian, kendaraan, makanan dan minumannya. Itulah perbuatan yang melampaui batas.“ [3]

Walaupun ayat ini berkenaan dengan Abu Jahal, tetapi berlaku umum kepada semua yang mempunyai sifat tersebut. Bahkan, ini merupakan teori dalam ilmu sosial bahwa manusia jika sudah merasa besar, kaya dan tidak membutuhkan orang lain, maka cenderung bertindak semena-mena dan melampaui batas, walaupun ini tidak berlaku bagi semua orang, tetapi potensi tersebut ada di dalam diri mereka.

Ibnu Utsaimin di dalam tafsirnya [4] menyebutkan bahwa ayat di atas berlaku untuk seluruh manusia, kecuali orang-orang yang beriman. Dan setiap manusia yang merasa dirinya cukup, berpotensi untuk berbuat semena-mena dan dhalim. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah :

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya manusia itu mempunyai sifat dhalim dan bodoh.” (Qs. al-Ahzab (33): 72)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa ada dua kelompok manusia yang tidak pernah kenyang dan puas. Kelompok pertama adalah penuntut ilmu, dan kelompok kedua adalah pemburu dunia. Keduanya tidak sama. Adapun penuntut ilmu akan bertambah ridha Allah Yang Maha Pengasih, sedangkan pemburu dunia akan bertambah semena-mena dalam perbuatannya.[5]

“Layathgha berasal dari akar kata “ Thagha“ yang berarti air yang luber (melampaui batas) penampungan, hingga menjadi tumpah. Atau, bisa diartikan air yang menjadi banjir. Lihat seperti firman Allah:

 إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ

“Ketika air itu mulai melampui batas (naik sampai gunung), maka Kami bawa kalian (Nabi Nuh dan orang-orang beriman) di atas kapal“ (Qs. al-Haqqah: 11)

Kemudian makna itu digunakan pada segala perbuatan yang melampaui batas.  Berkata Imam Qurthubi: “th-Thughyan” adalah melampaui batas dalam maksiat.“[6]

Begitu juga kata “Thaghut “ adalah pemimpin yang melampui batas, yaitu tidak mau berhukum dengan hukum Allah. Karena, setiap yang tidak berhukum dengan hukum Allah, bisa dipastikan dia akan melampui batas. “Thaghut“ juga berarti dukun, syetan dan setiap yang melanggar syariat Allah.

 

إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8)

‘’Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu)’’ (Q. al-`alaq: 8)

 

Ayat ini mengingatkan pada setiap orang yang melampui batas dengan melanggar syariat Allah, bahwa sesungguhnya mereka itu cepat atau lambat akan mati dan meninggalkan dunia yang fana ini. Dunia yang  mereka sombong di dalamnya  tidaklah langgeng. Kemudian, mereka akan dikembalikan kepada Rabb-mu dan akan dimintai pertanggung-jawaban atas segala amal perbuatan mereka.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengingat mati dan mengingat akhirat merupakan obat yang mujarrab untuk meluluhkan hati manusia, sekeras apapun hati mereka. Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam merintahkan kita untuk memperbanyak mengingat kematian, yang merupakan penghancur segala kenikmatan dan penghancur segala kesombongan serta penghancur segala perbuatan yang melampaui batas. Dari Abu Hurairah bahwasanya  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللّذَاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (kematian) “ (Hadist Shahih Riwayat Ibnu Hibban)[7]

 

أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10)

‘’Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat’’ (Qs. al-`alaq: 9-10)

 

Ayat ini menyebutkan salah satu bentuk perbuatan melampaui batas yang paling menyolok, yaitu melarang manusia dari beribadah kepada Allah, dalam hal ini sholat. Sholat adalah bentuk peribadatan kepada Allah yang paling mendasar, sehingga orang yang meninggalkan sholat dikatagorikan orang yang enggan beribadah kepada Allah, maka dihukumi kafir dan keluar dari Islam.

Ayat ini menunjukkan shighat ta’ajjub (ungkapan keheranan), bagaimana bisa seseorang melarang orang lain untuk beribadat kepada Dzat Yang menciptakannya. Sungguh perbuatan ini sangat aneh, tidak masuk akal sehat dan benar-benar melampaui batas. Imam Qurtubi menyebutkan riwayat dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Abu Jahal berkata: “Jika saya melihat Muhammad mengerjakan sholat, maka akan aku injak lehernya[8]

 

أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)

‘’Bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)’’ (Qs. al-`alaq: 11-12)

 

Bagaimana jika orang yang dilarang tadi berada di atas petunjuk (Allah) dan memerintahkan orang agar bertaqwa? Masak sih, orang baik seperti itu dilarang, apa tidak salah?

Ayat di atas menyebutkan dua sifat nabi Muhammad shallallahu a‘laihi wassalam, yaitu bahwa dia di atas petunjuk Allah. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang “sholih“ (sholeh pribadinya). Dan yang kedua beliau menyuruh orang lain untuk bertaqwa kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang “mushlih“ (sholeh sosial), yaitu tanggap dengan lingkungan sekitar dan berusaha memperbaiki masyarakatnya.  Berkata Ibnu Utsaimin: “Karena nabi Muhammad adalah orang yang menyuruh orang lain bertaqwa, maka tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah orang yang sholeh dan juga memperbaiki orang lain.“ [9]

 

أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (13)

‘’Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?’’(Qs. al-`alaq: 13)

 

Ayat ini memberitahukan bahwa orang yang melarang tadi (yaitu Abu Jahal) adalah orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling tidak mau mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya.

 

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى (14)

‘’Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?’’(Qs. al-`alaq: 14)

 

Apakah orang yang melarang sholat, mendustakan kebenaran dan berpaling darinya itu mengetahui bahwa Allah melihat perbuatannya setiap saat. Artinya bahwa penyebab perbuatan semena-mena dan melampaui batas dengan melarang orang lain mengerjakan sholat, padahal dia berada di atas petunjuk Allah dan selalu menyuruh kepada ketaqwaan adalah ketidak percayaannya bahwa Allah melihat segala amal perbuataannya. Kalau dia yakin Allah melihat perbuataannya tentunya dia tidak melakukan tindakan semena-mena tersebut.

 

كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16)

’Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (Qs. `al-`alaq: 15-16)

 

Ayat di atas berisi ancaman kepada Abu Jahl, jika tetap bersikeras melarang orang yang mengerjakan sholat, maka Allah benar-benar akan menarik dan menyeret ubun-ubunnya untuk dimasukkan ke dalam api neraka. Yaitu ubun-ubun setiap yang berbuat dusta dan durhaka.

Lanasfa’an dari akar kata “ As-Saf’u” yang berarti menarik dengan sangat keras. Atau menggenggam dan menariknya dengan keras.[10]

Kenapa disebut ubun-ubun ? Karena ubun-ubun adalah tempat yang mulia bagi manusia, maka kalau dia durhaka dan mendustakan kebenaran, maka akan dihinakan sehina-hinanya. Bisa juga dikatakan bahwa ubun-ubun yang tidak dipakai untuk sujud kepada Allah, maka akan diseret oleh Allah ke dalam api neraka.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, jika Abu Jahal benar-benar melaksanakan ancamannya, maka Malaikat Zabaniyah benar-benar akan menyeret ubun-ubun Abu Jahal secara terang-terangan di hadapan manusia. [11]

Apa bedanya antara kata “Khoti’ “ dengan  “akhtho’ “? kalau Khoti’ artinya berbuat salah dengan sengaja padahal dia mengetahui, ini karena ada sifat sombong dan meremehkan dalam dirinya, sedangkan “ akhthoa “ artinya berbuat salah yang tidak disengaja, dan bukan berasal dari sifat sombong dan meremehkan, maka dia dimaafkan. [12]

Ubun-ubun yang akan diseret oleh Malaikat Zabaniyah adalah ubun-ubun yang mempunyai dua sifat :  Kadzibah, yaitu kalau berkata dia berdusta dan mendustakan kebenaran, dan Khothiah, yaitu selalu sengaja berbuat salah padahal dia tahu, dan sengaja melanggar syariat. [13]

 

فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ (18)

‘’Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya) kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah’’(Qs. al-`alaq: 17-18)


 Ayat di atas turun berkenaan dengan perkataan Abu Jahal yang membanggakan banyaknya pengikut dengan mengancam nabi Muhammad, maka Allah membalas ancaman tersebut dengan tantangan : “ Hendaknya Abu Jahal memanggil kelompok dan pengikutnya yang ia banggakan itu, maka Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, yaitu malaikat-malaikat yang bertugas mendorong dan menyeret  orang –orang kafir ke dalam api neraka. Zabaniyah adalah malaikat yang paling besar bentuknya dan paling keras kepada orang-orang kafir . [14]

“ Nadi “ adalah tempat berkumpul, maksudnya adalah para pengikut dan kelompoknya yang  selalu berkumpul dengannya. Nadi pada zaman sekarang sering dipakai untuk menyebut “ Club “ .

Abu Jahal mempunyai nama asli  “Amru bin Hisyam bin Mughirah“ dan pertama kali dijuluki dengan Abu al-Hakam, yang artinya orang yang bijak, kemudian julukan itu berubah menjadi : “ Abu Jahal “, karena kebodohannya dengan menolak kebenaran yang dibawa oleh nabi Muhammad.

Abu Jahal ini akhirnya mati dengan sangat mengenaskan pada perang Badar dipenggal lehernya oleh Abdullah bin Mas’ud dan beliau menyeret ubun-ubunnya kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Peristiwa ini menjadi bukti kebenaran firman-firman Allah.

Surat Al-‘Alaq ini terbukti kebenarannya di dunia sebelum di akherat, Abu Jahal mati dalam keadaan ubun-ubunya diseret. Hal ini mengingatkan kebenaran Surat al- Lahab yang menjelaskan bahwa anak dan harta Abu Lahab tidaklah bermanfaat, dan ternyata ketika Abu Lahab mati, karena kena bisul, maka anak-anaknya pun meninggalkannya dan tidak mau mengurusi jenazahnya, dan hartanyapun tidak bermanfaat menyelamatkan dia dari penyakit bisul dan kematian.

 

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ (19)

 “ Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan),( Qs al-‘Alaq: 19)

 

Wahai Muhammad jangan engkau taati orang yang melarangmu untuk mengerjakan sholat, tapi justru bersujudlah terus kepada Rabb-Mu dan mendekatlah kepada-Nya, karena Dia adalah satu-satunya penolong-mu di dunia ini.

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita, jika kita ditimpa musibah, bencana, ujian, maupun ancaman orang lain, bagaimanapun bentuk ancaman tersebut, janganlah hiraukan hal tersebut dan jangan bersedih. Cara yang paling efektif untuk menghadapi itu semua itu adalah memperbanyak sujud ( sholat ) kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai amal sholeh.

Ayat di atas juga mengisyaratkan, kalau kita sedang sujud hendaknya mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak do’a. [15]  Berkata Ibnu al Arabi al Maliki : “ Maknanya adalah dekatkanlah dirimu kepada Rabb-mu dengan sujud, karena seorang hamba paling dekat Rabb-nya ketika dalam keadaan sujud. Karena sujud adalah puncak peribadatan dan ketundukan kepada Allah. Sedangkan puncak kemuliaan ada di sisi Allah. Jika seseorang jauh dari sifat Allah ( tunduk kepadanya dan tidak sombong di hadapannya ), maka akan menjadi dekat dengan syurga-Nya, dan dekat di sisi-Nya pada hari akherat. “ [16] 

Ini sesuai dengan hadist Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda :

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“ Seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya ketika dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah do’a ( di dalamnya ) “ ( HR Muslim )

Ibnu Nafi dan Muthorif berkata : “Bahwa Imam  Malik ketika menyelesaikan bacaan surat ini, beliau sujud di dalam kesendiriannya“ [17] . Wallahu A’lam

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

 

 


[1] Tafsir Qurthubi : 20/ 83

[2] Tafsir Qurthubi : 20/ 83

[3]  Syaukani, Fathu Al Qadir : 5/ 589. 

[4] Ibnu Utsaimin, Tafsir Juz Amma, hlm : 265

[5] Tafsir Ibnu Katsir : 4/530

[6] Tafsir Qurthubi : 20 / 83

[7] Berkata Syu’aib al-Arnauth : Hadist ini sanadnya hasan. (Shahih Ibnu Hibban,Tahqiq Syuiab al Arnauth,   Beirut, Muassah ar-Risalah, 1994 )

[8] Tafsir Qurtubhi : 20/ 84, 85. 

[9]  Ibnu Utsaimin, Tafsir Juz Amma, hlm : 267

[10] Syaukani, Fathu al Qadir : 5/ 590

[11] Tafsir Ibnu Katsir : 4/ 531

[12] Syenkithi, Adhwaul Bayan : 9/ 458

[13]  Abdurrahman Sa’di, Taisir ar-Rahman, 7/ 625 

[14] Tafsir Qurthubi : 20/ 85

[15] Tafsir Qurthubi : 20/ 86

[16]  Ibnu al Arabi, Ahkam al-Qur’an : 4/ 425 

[17]  Ibnu al Arabi, Ahkam al- Qur’an : 4/ 425