Ilmu
4504 Hits

Tafsir Surat al-Muthaffifin [ayat 7-13]


 

كَلاَّ إِنَّ كِتابَ الفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

 "Sekali-kali jangan curang karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjiin” (Qs. al-Muthaffifin: 7)

          Kata “ كَلاَّ “ di dalam al-Qur’an artinya bisa dipahami sesuai dengan redaksi yang ada. Dalam ayat di atas misalnya, “ كَلاَّ ” bisa  diartikan sebagai bentuk peringatan. Maka, ayat di atas bisa diartikan sebagai berikut: “Janganlah“ (kalian berbuat curang dengan mengurangi timbangan), sesungguhnya kitab orang durhaka itu tersimpan dalam sijjin. Akan tetapi, kata “ كَلاَّ “ juga bisa diartikan sebagai bentuk penguatan. Maka, ayat di atas bisa diartikan sebagai berikut: “Benar, bahwa sesungguhnya kitab orang durhaka itu tersimpan dalam sijjin.“ [1]

           “  سِجِّين” berasal dari kataسِجْن  yang berarti tertahan dan sempit. Maka kata سِجْن  sering dipakai untuk menyebut penjara, karena penjara adalah tempat untuk menahan seseorang dan biasanya ruangannya sempit.

          Selain itu, penjara biasanya letaknya di bawah, karena  tempat yang di bawah itu menunjukkan kehinaan. Oleh karenanya, banyak ahli tafsir yang mengartikan سِجِّين pada ayat di atas dengan tempat yang berada di lapisan Bumi ke tujuh, lapisan Bumi paling bawah. Berkata Hasan al-Basri: “Siijin terletak di lapisan Bumi yang ke tujuh.“[2] Berkata Mujahid: “Sijjin adalah batu yang terletak di bumi tingkat yang ke tujuh,  kemudian kitab orang-orang durhaka diletakkan di bawahnya.”[3]

          Di dalam hadist Jabir bin Abdullah tentang adzab kubur yang sangat panjang disebutkan:

اكتُبُوا كِتَابَ عَبْدي – يعنى الكافر- فِي السِجْين فِي الأِرْضِ السَابِعة السُفلَى

“Tulislan kitab hamba-Ku - yang kafir ini – di Sijjin yang terletak di lapisan bumi ke tujuh yang paling bawah“ [4]

          Ibnu al-Katsir menerangkan bahwa setiap makhluq yang berada di bawah cenderung bentuknya lebih sempit dibanding makhluq yang berada di atasnya. Setiap ke atas, maka semakin besar makhluq tersebut. Sebagaimana langit yang mempunyai tujuh tingkatan. Maka langit yang paling kecil adalah langit paling bawah yang paling dekat dengan kita, yang para ulama menyebutnya dengan “as-Samaa ad-Dunya“ (langit terdekat). Semakin ke atas, langit itu semakin luas. Maka, yang paling luas adalah langit tingkat tujuh yang berada di bawah ‘Arsy.

          Begitu pula sebaliknya, Bumi yang kita tempati ini mempunyai tujuh tingkatan ke bawah, yang paling sempit adalah tingkat tujuh, yang berada di kerak Bumi.[5] Itulah tempat keberadaan kitabnya orang-orang durhaka yang disebut dengan “سِجِّين “

          Kalau kita renungi dalam al-Qur’an, ternyata Allah menggabung antara tempat yang sempit dan tempat yang  paling bawah untuk orang-orang jahat.

          Adapun tempat di bawah, Allah berfirman di dalam surat at-Tin (95) ayat 5:

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”(Qs. at-Tin (95): 5)

Hal itu dikuatkan dalam surat al-Muthoffifin (83) ayat 7:

كَلاَّ إِنَّ كِتابَ الفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

 

"Sekali-kali jangan curang karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjiin.” (Qs. al-Muthoffifin (83): 7)   

          Sedangkan untuk tempat yang sempit, Allah berfirman dalam surat al-Furqan (25) ayat 13-14:

وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا (13) لَا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا (14)

 “Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka): "Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak.” (Qs. al-Furqaan: 13-14)

 

وَما أَدْراكَ ما سِجِّينٌ

“Tahukah kamu apakah sijjiin itu?” (Qs. al-Muthaffifin: 8)

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa “Sijjin“ adalah suatu urusan besar yang harus menjadi pelajaran bagi setiap manusia, bukan karena kehebatannya, tetapi karena kehinaannya.  Berkata al-Utsaimin: “Membesar-besarkan masalah “Sijjin“ (di dalam ayat ini) bukan karena mulia kedudukannya dan ketinggiannya, tetapi karena rendahnya kedudukannya dan rendah tempatnya.“[6]

Kadang seseorang terkagum-kagum pada sesuatu karena sesuatu itu sangat besar dan sangat indah. Tetapi tidak sedikit yang terperanjat dan terheran-heran terhadap sesuatu, karena kebobrokannya. Kitab “Sijjin“ ini adalah salah satunya.

Berkata al-Qurthubi: “Ini menunjukkan bahwa amal perbuatan mereka sangat jelek dan Allah sangat menghinakannya“ [7]

كِتابٌ مَرْقُومٌ

“ (Ialah) kitab yang bertulis.” (Qs. al-Muthaffifin: 9)

          Ayat ini bukan penafsiran dari pertanyaan sebelumnya (Tahukah kamu apa itu “as-Sijiin“?). Tetapi ayat ini menerangkan tentang pengertian kitab orang-orang yang durhaka. Yaitu, kitab yang tertulis dan ditandai, tidak bisa dirubah, tidak bisa ditambah, maupun dikurangi, seperti tanda yang ada pada baju, tidak bisa dilupakan dan dihilangkan.

 

وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ  الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

“ Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. “(Qs. al-Muthaffifin: 10 & 11)

الدِّينِ  di sini artinya pembalasan.  Agama disebut الدِّينِ  karena di dalam agama setiap perbuatan adalah balasannya. Berkata ath-Thobari: “Yaitu orang-orang yang mendustakan hari penghitungan dan pembalasan.“ [8]

Kalau seseorang tidak percaya dengan adanya hari pembalasan, secara otomatis dia akan berbuat seenaknya sendiri tanpa aturan. Dia tidak akan menghirukan halal dan haram, mana yang dilarang dan mana yang dibolehkan, semuanya akan diterjang. Dia akan berbuat sesuai dengan bisikan hawa nafsunya, maka orang seperti ini akan membuat kerusakan di muka bumi ini. Oleh karenanya, Allah menimpakan kecelakan baginya. 

 

وَما يُكَذِّبُ بِهِ إِلاَّ كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

Tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, (Qs. al-Muthaffifin: 12)

 

“مُعْتَدٍ” yaitu orang melampaui batas dalam perbuatannya, dengan memakan sesuatu yang haram, dan berlebih-lebihan dalam sesuatu yang mubah.

Dia melampaui batas juga ketika berhubungan dengan orang lain, dengan selalu mendholimi dan menyakiti mereka.

Sedangkan “  أَثِيمٍ  “ adalah orang yang berdosa. Jika berkata dia berbohong, jika berjanji dia menyelesihi dan jika bertengkar dia melakukan kecurangan. 

Atau bisa diartikan  مُعْتَدٍ  yaitu orang melampaui batas di dalam perbuatannya dan أَثِيمٍ yaitu orang yang berbuat dosa di dalam perkataannya.

Orang-orang seperti inilah yang mendustakan hari pembalasan. Dia tidak takut sama sekali dengan ancaman Allah, yang berupa neraka dan siksa yang pedih.

Berkata as-Sa’di : “أَثِيمٍ “ yaitu orang-orang yang terlalu banyak dosanya, inilah yang menyebabkannya dia berbuat melampaui batas, sehingga mendustakan (ayat-ayat Allah) dan menyebabkannya sombong sehingga menolak kebenaran. “  [9]

 

إِذا تُتْلى عَلَيْهِ آياتُنا قالَ أَساطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“ Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (Qs. al-Muthaffifin: 13)

 

Salah satau ciri orang yang tidak percaya kepada hari pembalasan adalah ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mereka sombong dan mengatakan itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.

 أَساطِيرُ  jama’ dari أسطورة, yaitu dongeng atau cerita fiktif untuk menghibur  yang sebenarnya tidak ada dalam realita.[10]

 الْأَوَّلِينَ adalah: orang-orang terdahulu.

 Ungkapan seperti ini sering diucapkan orang-orang kafir terhadap kebenaran yang dibawa oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam beberapa ayat al-Qur’an kita dapatkan hal yang serupa, umpamanya di dalam surat al-Furqan (25) ayat 5 : 

 وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

 “Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (Qs. Al-Furqan(25) : 5)

 Begitu juga di dalam surat an-Nahl (16) ayat 24 :

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

 

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Dongeng-dongengan orang-orang dahulu”(Qs. An-Nahl (16) : 24)

 

Wallahu A’lam,

 

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

 

Jatiwarna, 11 Dzulqa’dah 1434 / 16 September 2013 M

 

 

 

 


[1] Al-Utsaimin, Tafsir al-Qur’an al-Karim, Dar ats-Tsurayya, Riyadh, hlm : 98 

[2] Al-Quthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut : 19/ 169

[3]  Ath-Thobari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wili al-Qur’an, Dar- al-Kutub al Ilmiyah, Beirut : 12 / 488, lihat juga tafsir al-Qurthubi : 19/ 168

[4]  HR Ahmad, Abu Daud, dan al-Hakim di dalam al Mustadrak, beliau berkata :  Hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, dan tashih ini disetujui oleh adz-Dzahabi.

[5]  Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhim, Dar al-Hadist, Kairo : 4/ 486

[6]  Tafsir al-Qur’an al-Karim, hlm : 98

[7]  Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an : 19 / 169

[8]  Jami’ al-Bayan fi Ta’wili al-Qur’an : 12/ 489

[9] As-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi tafsir Kalam al-Manan, Wazarah Syuuni al Auqaf, hlm : 1079

[10]  Tafsir al-Qur’an al-Karim, hlm : 99