Ilmu
10104 Hits

Tafsir Surat Al-Muthaffifin [ayat 14-17]


كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka(Qs. Al-Muthaffifin: 14)

 

          “كَلّا“, artinya sekali-kali bukan seperti apa yang mereka sangka bahwa al-Qur’an adalah kumpulan dongeng orang-orang terdahulu. Tetapi, sebenarnya hati mereka telah tertutup dengan dosa-dosa yang mereka perbuat.

          “كَلَّا“ juga bisa diartikan: “Sungguh benar“ (bahwa hati mereka telah tertutup dengan dosa-dosa yang mereka perbuat).

          Sebaliknya, orang-orang beriman yang mengikuti petunjuk Allah, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka mereka akan bisa melihat dengan cahaya hati mereka dan  hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firman-Nya dalam surat Muhammad: 17

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

 “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah, menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Qs. Muhammad: 17)

Berkata Ibnu Katsir: “ar-Rain menutupi hati orang-orang kafir, al-Ghaim menutupi hati al-Abrar (orang-orang yang baik), sedang al-Ghain menutupi hati al-Muqarrabun (orang-orang yang dekat dengan Allah ).“ [1]

          Disebutkan dalam hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

          إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ " كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”

”Sesungguhnya seorang hamba jika ia melakukan kesalahan, maka akan tercemari hatinya dengan satu bercak hitam. Jika ia menghentikan kesalahannya dan beristighfar (memohon ampun) serta bertaubat, maka hatinya menjadi bersih lagi. Jika ia melakukan kesalahan lagi, dan menambahnya maka hatinya lama-kelamaan akan menjadi hitam pekat. Inilah maksud dari ”al-Raan” (penutup hati) yang disebut Allah dalam firman-Nya: ”Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka."  [Qs. Al-Muthoffifin: 14] ” [2]

“رَانَ artinya gholaba (menguasai) atau menutupi. Berkata Abu Ubaid: Setiap apa saja yang menguasai dirimu, maka disebut dengan“ rona“ [3]

Berkata al-Baghawi: “Ar-Rain artinya mengusai, dikatakan: “Minuman khomr itu telah membuat “ar-Rain“ atas akalnya, maksudnya telah menutupi (menguasai) akalnya sehingga dia menjadi mabuk”.  Sehingga, ayat tersebut bisa diartikan: Perbuatan-perbuatan maksiat itu telah menutupi dan menguasai hati mereka. Berkata Hasan al-Bashri: “Dosa yang menumpuk atas dosa yang lain, sehingga hati menjadi mati“. [4]

Apa yang mereka usahakan, maksudnya apa yang mereka kerjakan dari perbuatan jelek dan maksiat kepada Allah.

 

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka”. (Qs. Al-Muthaffifin: 15)

 

Berkata asy-Syafi’I: “Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa orang-orang beriman melihat Allah azza wa jalla pada hari tersebut (hari kiamat)“[5]

Berkata Ibnu Katsir: “Perkataan Imam asy-Syafi’I tersebut sangat bagus, yaitu berdalil dengan mengambil mafhum ayat di atas. Sebagaimana bisa diambil dalilnya dari manthuq  firman Allah Ta’ala –Qiyamah: 22-23.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

 ”Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Melihat Rabb-nya” (Qs. Al-Qiyamah: 22-23)

Sebagaimana juga yang diterangkan di dalam hadist-hadist shahih mutawatir tentang melihatnya orang-orang beriman kepada Rabb mereka di akherat dengan mata telanjang, pada kejadian-kejadian hari kiamat dan di taman-taman syurga.“[6] 

          Hal ini dikuatkan dengan firman Allah dalam surat Yunus: 26.

      لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Yunus: 26)

Juga dengan firman Allah dalam surat Qaf : 35

   لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ                                             

 “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya” (Qs. Qaaf: 35)

          Adapun di antara hadist yang menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah di akherat kelak adalah sebagai berikut:

          Hadist Jarir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ،

           “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, tidak terhalangi dalam melihatnya.” (HR. Bukhari)

Juga hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

      أَن النَّاسَ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: هَلْ تُضَارُّوْنَ فِى الْقَمَرِ لَيِلَةَ الْبَدْرِ ؟ قَالُوْا: لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : فَهَلْ تُضَارُّوْنَ فِى الشَّمْسِ لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ؟ قَالُوْا: لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ.

  “Sesungguhnya para sahabat bertanya,”Wahai, Rasulullah. Apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat nanti?” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam balik bertanya,”Apakah kalian akan berdesak-desakan ketika melihat bulan pada malam purnama?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi,”Apakah kalian juga akan berdesak-desakan ketika melihat matahari yang tanpa diliputi oleh awan?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.” Maka Beliau bersabda,”Sesungguhnya, begitu pula ketika kalian nanti melihat Rabb kalian”(HR. Bukhari) 

 Begitu juga hadits Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

        إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ : يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : تُرِيْدُوْنَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُولُوْنَ  أتُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ : فَيُكْشَفُ الْحِجَابُ فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

.          “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Maka Allah membuka hijab, dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. (HR. Muslim)

           Berkata asy-Syafi’I: “Demi Allah, seandainya Muhammad bin Idris (asy-Syafi’I) tidak yakin bahwa dia akan melihat Rabb-nya pada hari kebangkitan, niscaya dia tidak akan menyembah-Nya di dunia.“ [7]

 

ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ  ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُون,

 “Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan". (Qs. Al-Muthaffifin: 16 &17)

 

          Dikatakan seperti ini dimaksudkan untuk penghinaan kepada mereka.  Berkata as-Sa’di: “Allah menyebutkan untuk mereka tiga bentuk adzab; adzab neraka Jahim, adzab penghinaan dan celaan, serta adzab tidak bisa melihat Allah Rabb semesta alam, yang menunjukkan kebencian dan kemurkaan Allah kepada mereka. Adzab yang terakhir ini lebih berat bagi mereka dari adzab neraka itu sendiri.“ [8] Wallahu A’lam,

 

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Jati Warna,  17 Dzulqa’dah 1434 H/ 23 September 2014

 


[1] Tafsir Ibnu Katsir : 4/ 487

[2] Hadist Riwayat Tirmidzi (no : 3334) dan Ahmad  ( 2/ 297 ). Berkata Tirmidzi : “Ini adalah hadist Hasan Shahih. “

[3] Tafsir al-Qurthubi : 19/ 170

[4] Tafsir al- Baghawi ( Ma’alim at- Tanzil ) : 8/365

[5] Tafsir Ibnu Katsir : 4/ 487

[6] Tafsir Ibnu Katsir : 4/ 487

[7] Tafsir al-Qurthubi : 19/ 171

[8] Tafsir as-Sa’di, hlm : 1080