Ilmu
3615 Hits

Tafsir Al Muthoffifin [18-36]


 كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ , وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ , كِتَابٌ مَرْقُومٌ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin.  Tahukah kamu apakah 'Illiyyun itu?. (Yaitu) kitab yang bertulis,” (Qs. Al Muthaffifin: 18-20)

 Pada ayat sebelumnya Allah menjelaskan bahwa kitab orang-orang durhaka berada pada tempat yang paling rendah dan paling sempit, maka di sini Allah menerangkan bahwa kitab oang-orang yang berbakti berada pada tempat yang paling tinggi dan paling luas.[1] 

 “الْأَبْرَارِ“ berasal dari البر yang berarti luas, maka daratan disebut juga البر karena tempatnya luas. Maksudnya disini bahwa الْأَبْرَارِ adalah orang yang luas dan banyak kebaikannya di dunia ini, luas dan banyak ibadahnya kepada Allah, mereka adalah orang-orang yang berbakti.

 “عِلِّيِّينَ” berasal dari العُلُوْ  yang berarti tinggi. Maksudnya bahwa kitab catatan amal orang-orang yang berbakti (kepada Allah) diletakkan di tempat yang tinggi, yaitu langit yang ke tujuh.

Berkata ad-Dhohak, Mujahid dan Qatadah: “Maksudnya adalah langit yang ke tujuh di dalamnya terdapat ruh-nya orang-orang beriman.“  Riwayat lain dari adh-Dhohak menyebutkan bahwa maksudnya adalah Sidrah al-Muntaha, yaitu batasan terakhir segala urusan dari Allah, yang tidak akan dilampauinya, kemudian Para Malaikat berkata: “Ya Rabb, ini ada hamba-Mu Fulan, Dia Maha Tahu tentang keadaannya, kemudian dia diberi kitab dari Allah yang ada jaminan-Nya untuk tidak diadzab. “[2]

Berkata adh-Dhohak: “Al-Iliyyun adalah tempat di samping tiang ‘Arsy sebelah kanan“ [3]

  

يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ

  “Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan” (Qs. Al Muthaffifin: 21)

 “الْمُقَرَّبُونَ” maksudnya adalah malaikat-malaikat yang didekatkan dengan Allah.

Berkata al-Baghawi: “yaitu malaikat-malaikat yang berada di ‘Illiyin, menyaksikan dan mendatangi catatan amal tersebut jika sudah di bawah ke tempat tersebut.“ [4]

Berkata as-Sa’di: “Yaitu para Malaikat yang mulia, ruh-ruhnya para Nabi, para as-Siddiqin, dan para asy-Syuhada’, dan Allah akan menyebutnya di kalangan penduduk langit“[5] 

 

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ,عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

 “ Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni'matan yang besar (surga). Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.” (Qs. Al Muthaffifin: 22-23)

    “نَعِيمٍ“ artinya, dalam kenikmatan yang mencakup kenikmatan hati, ruh dan badan.

 الْأَرَائِكِ“ yaitu, dipan-dipan yang dihiasi dengan kasur-kasur yang menawan.[6]

 Berkata al-‘Utsaimin: “Yaitu tempat tidur yang penuh dengan hiasan, yang atasnya ada seperti payung. Ini adalah tempat tidur yang paling mewah. Mereka berada di atas tempat tidur yang empuk, bagus dan indah seperti ini“ [7]

يَنْظُرُونَ“ yaitu, mereka melihat Allah subhanahu wa ta’ala. Ini sebagi perbandingan dengan orang-orang yang durhaka kepada Allah yang berada di dalam neraka, tidak bisa melihat Allah.[8]

يَنْظُرُونَ“ bisa diartikan juga bahwa mereka melihat kenikmatan yang disediakan Allah untuk mereka. Berkata Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Mujahid: “Mereka melihat apa yang disediakan Allah untuk mereka, dari kemuliaan-kemulian.“[9]

 

تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

 “Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan.” (Qs. Al Muthaffifin: 24)

“نَضْرَةَ النَّعِيمِ“ adalah sifat wajah yang berseri-seri, penuh kebahagian dan kesenangan yang tiada-tara, karena mereka dalam kenikmatan yang sangat besar.[10]

Berkata Hasan al-Bashri: “an-Nadhrah (keceriaan)  di dalam wajah dan as- Surur (kesenangan) di dalam hati.“[11]

Berkata al-Qurthubi: “Wajah mereka berbunga-bunga dan bersinar-sinar. Dikatakan: “ نَضرَ النَبَاتُ “, yaitu tumbuh-tumbuhan yang berbunga dan kelihatan bersinar-sinar. [12]

 

يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُوم, خِتَامُهُ مِسْكٌ

 “Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya),  laknya adalah kesturi;” (Qs. Al Muthaffifin: 25-26)

 “رَحِيقٍ “ adalah nama khomr murni yang terbaik dan tidak ada campurannya sedikitpun.[13]

 “مَخْتُومٍ “ maksudnya, minuman tersebut diakhiri dengan minyak kasturi. Berkata Ibnu Mas’ud, Mujahid, Sa’id bin Jubair dan an-Nakh’I: “ Pada tegukan terakhir terasa seperti minyak kesturi“

Berkata al-Qurthubi: “Ini adalah penafsiran yang baik, karena biasanya minuman di dunia ini, air yang terakhir adalah yang paling keruh,  maka Allah menerangkan minuman penduduk Syurga bahwa air yang paling terakhir justru berbau minyak kesturi.“[14] 

Berkata al-‘Utsaimin: “Ini berbeda dengan khomr dunia yang baunya sangat tidak enak. Mereka adalah orang-orang yang berbakti, ketika menahan diri dari hal-hal yang menyenangkan, yang diharamkan Allah di dunia, maka Allah memberikan kesenangan tersebut pada hari kiamat.“[15]

“مَخْتُومٍ “ juga bisa diartikan, minuman khamr itu sudah ditutup rapat, sehingga tidak bisa dicampur lagi dengan yang lainnya, yang menyebabkan rasa lezatnya berkurang, atau bahkan merusak rasanya. Itu seperti tutup yang digunakan untuk minyak kasturi. [16]

 

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Qs. Al Muthaffifin: 26)

           Yaitu, hendaknya setiap orang berlomba-lomba mendapatkan Syurga yang penuh kenikmatan tersebut.

    “فَلْيَتَنَافَسِ “ Akar katanya dari النفيس,  yaitu sesuatu yang sangat berharga, yang setiap orang mengharapkannya dan berusaha mendapatkannya untuk dirinya sendiri (nafsihi ), walaupun harus mengalahkan orang lain.

  

وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ

 “Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim,” (Qs. Al Muthaffifin: 27)

 “تَسْنِيمٍ “ artinya segala sesuatu yang tinggi. Maka, punuk unta disebut dengan سنام البعير , karena letaknya paling tinggi dari seluruh tubuhnya. Begitu juga jika seseorang yang meninggikan kuburan dengan tanah gundukan disebut dengan تسنيم القبور

Adapun maksud “تَسْنِيمٍ “  di sini adalah mata air, yang airnya mengalir dari atas ke bawah.

Berkata al-‘Utsaimin: “ Dari air yang tinggi secara nilainya dan tempatnya, hal itu dikarenakan air Syurga bersumber dari Syurga Firdaus, sedangkan Firdaus adalah syurga yang paling tinggi dan yang paling tengah  dan di atasnya terdapat ‘ Arsy Robb azza wa jalla, sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ [17]

 

عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ

“(Yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (Qs. Al Muthaffifin: 28)

         “يَشْرَبُ بِهَا “ artinya يَشْرَب منِهَا  (meminum darinya). Jadi,  بِهَا di sini artinya  منِهَا. Tidak tepat kalau diartikan (meminum dengannya), karena tidak mempunyai makna.    

          يَشْرَبُ بِهَا juga bisa diartikan; dengan meminum air tersebut, seseorang menjadi kenyang. [18]

 

 إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ

 “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.” (Qs. Al Muthaffifin: 29)

           “ أَجْرَمُوا “ berasal dari جرم, yang berarti dosa. Maksudnya adalah orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat di dunia, dulunya sering menertawakan dan mengejek orang-orang yang beriman.

 

وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ

“Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (Qs. Al Muthaffifin: 30)

           Artinya, apabila orang-orang yang beriman berjalan di hadapan mereka, sedang mereka sedang duduk-duduk, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya, sebagai tanda ejekan pada orang-orang beriman. Sebaliknya pula demikian, apabila orang-orang kafir itu melewati orang-orang beriman, sedang orang-orang beriman sedang duduk, maka orang-orang kafirpun tetap mengedipkan mata mereka sebagai bentuk ejekan. [19]

 

وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ , وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

 “Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", (Qs. Al Muthaffifin: 31-32)

          “فَكِهِينَ “artinya orang yang gembira dan merasa nyaman karena dalam kenikmatan. Walaupun begitu, mereka tidak mensyukuri nikmat tersebut, bahkan merasa bangga dengan apa yang mereka lakukan selama ini dari perbuatan kufur dan mengejek orang-orang beriman.

          “فَكِهِينَ “ juga bisa diartikan, mereka bangga dengan kekafiran mereka dan bersenang-senang dengan menjelek-jelekan orang-orang beriman. [20]

          As-Sa’di menganggap, sikap seperti ini menunjukkan bahwa mereka telah tertipu, karena mereka menyakiti hati kaum muslimin tetapi dalam satu waktu mereka merasa aman dari adzab Allah, seakan-akan mereka hidup bahagia dan merasa diri mereka berada pada jalan yang benar, dan orang-orang beriman berada pada jalan yang salah. [21]

 

وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ

Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.” (Qs. Al Muthaffifin: 33)

           “حَافِظِينَ”artinya penjaga. Maksudnya bahwa Allah tidaklah mengutus orang-orang kafir tersebut untuk menjadi penjaga orang-orang beriman, memantau perbuatan mereka setiap saat, kenapa mereka selalu mengolok-ngolok kaum muslimin dan menghukumi mereka?

 

فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ , عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

 “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandan” (Qs. Al Muthaffifin: 34-35)

Yaitu, pada hari kiamat orang-orang beriman dalam keadaan yang sangat menyenangkan, duduk di atas dipan-dipan yang indah melihat kenikmatan yang diberikan kepada Allah kepada mereka. Pada waktu itu mereka tertawa melihat orang-orang kafir yang dulu, waktu di dunia selalu mengolok-ngolok mereka, sekarang diadzab oleh Allah dengan adzab yang pedih.

Ini sebagaimana firman Allah di dalam surat ash-Shoffat ayat 55:

فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ

 “Maka dia meninjaunya, lalu dia melihat (dari syurga) temannya berada di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala“

 

 هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Qs. Al Muthaffifin: 36)

 Yaitu mereka diganjar sesuai dengan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia dengan mengolok-ngolok orang beriman. Maka mereka pun segera disiksa di dalam Neraka sambil diolok-olok oleh orang-orang beriman.

 

Wallahu A’lam,

 

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

 

Jati Warna,  18 Dzulqa’dah 1434 / 23 September 2013

 

 

 

 

 

 

 


[1] Taisir al Karim, hlm : 1080

[2] Tafsir al-Qurthubi : 19/ 172

[3] Tafsir Ibnu Katsir : 4/487

[4]  Ma’alim at-Tanzil : 8 /367

[5] Taisir al Karim: hlm : 1080

[6] Taisir al Karim hlm : 1080

[7] Tafsir Juz Amma hlm : 104 

[8] Tafsir Ibnu Katsir : 4/ 488

[9] Tafsir al- Quthubi : 19/173

[10] Tafsir Ibnu Katsir : 4/ 488

[11] Ma’alim at-Tanzil : 8/ 367

[12] Tafsir al-Qurthubi : 19/ 173

[13] Tafsir al-Qurthubi : 19/ 173

[14] Tafsir al-Qurthubi : 19/ 174

[15] Tafsir Juz ‘Amma, hlm : 105

[16] Taisir al Karim, hlm : 1080 

[17] Tafsir Juz Amma, hlm : 105

[18] Tafsir Juz Amma, hlm : 105

[19] Tafsir Juz Amma, hlm : 106

[20]  Ma’alim at-Tanzil : 8/ 369

[21] Taisir al Karim, hlm 1081