Ilmu
2129 Hits

Mengambil Hikmah Dari Musibah


 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

“ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” ( Qs. al-Hadid : 22-23 )

          Akhir-akhir ini Negara kita ditimpa musibah bertubi-tubi, dari gunung meletus, seperti gunung Sinabung, gunung Merapi, gunug Kelud, dan gunung Slamet, kemudian tanah longsor di Banjarnegara, semburan lumpur di Sidoarjo, Tsunami di Aceh dan Pangandaran, Gempa bumi di Padang dan Yogyakarta, jatuhnya pesawat AirAsia, terbakarnya pasar Tanah Abang dan Klewer serta banjir bandang yang menenggelamkan kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung yang datang setiap musim hujan.

          Semua musibah tersebut datang silih berganti untuk memberikan pelajaran bagi kita, umat manusia yang  hidup di bumi Allah ini. Diantara pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dari musibah-musibah tersebut adalah sebagai berikut :

          Pertama : Musibah dan bencana yang terjadi menunjukkan bahwa bumi yang kita tempati ini mulai rusak, dan ini merupakan salah satu tanda-tanda kiamat kecil, yang kemudian cepat atau lambat akan menuju kiamat besar, yang berupa hancurnya bumi dan dunia ini secara sempurna.  

          Kedua : Musibah yang terjadi di bumi ini, bagaikan manusia yang terkena sakit, atau hilangnya salah satu anggota tubuh kita atau hilangnya fungsi dari anggota tersebut. Ini menunjukkan telah terjadi kematian-kematian kecil di dalam tubuh kita, yang kemudian cepat atau lambat akan diikuti dengan kematian besar, yaitu kematian yang sesungguhnya, ketika roh berpisah dari tubuh kita. Inilah bentuk kiamat pada setiap manusia.  

          Allah tidaklah menjadikan dunia ini abadi, tidaklah menjadi tubuh manusia ini sehat terus, sebaliknya tubuh ini akan mengalami kerusakan dan kematian. Allah berfirman :

          وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ (34) كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (35)

           “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. “ ( Qs. al-Anbiya’ : 35 )


Ketiga :  Musibah yang terjadi di muka bumi ini semua dengan izin dan kehendak Allah, dan semuanya sesuai dengan rencana dan skenario Allah,  untuk suatu hikmah terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Diantara hikmah-hikmah musibah adalah sebagai berikut :

 

 Hikmah Pertama :  Kita tidak putus asa terhadap rahmat Allah. Walaupun terjadi musibah yang bertubi-tubi, yang barangkali merenggut nyawa orang-orang yang kita cintai, dan melenyapkan barang-barang  berharga yang kita miliki, tetapi di sana masih ada harapan. Harapan untuk tetap tegar dan mengarungi kehidupan ini menjadi lebih baik.  Kita masih punya Allah, Rabb sekalian alam, yang tidak pernah berhenti memberikan nikmat-nikmat-Nya kepada kita. 

Hikmah Kedua :  Sebaliknya, kita tidak bangga dengan apa yang kita miliki dari harta kekayaan dan jabatan di dunia ini.  Bahkan kita tidak boleh bangga dengan prestasi yang pernah kita raih, ataupun bangga dengan kesehatan dan keselamtan kita dari musibah-musibah tersebut. Karena semua itu, yang terkena musibah atau kehilangan sesuatu yang dicintainya dan yang mendapatkan sesuatu yang menyenangkannya atau memilikinya, semuanya datang dari Allah untuk menguji manusia. Allah berfirman :

          مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

          “ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” ( Qs. al-Hadid : 22-23 )

 Hikmah Ketiga : Musibah yang terjadi di dunia ini menunjukkan bahwa  dunia ini fana dan tidak langgeng, jika kita mendapatkan sesuatu barang atau jabatan atau kesenangan, maka cepat atau lambat akan lepas lagi dari tangan kita. Kesenangan dunia ini datang dan pergi silih berganti, maka janganlah kita terperdaya dengannya, larut di dalamnya , dan terbawa arusnya serta terkesima dengan gemerlapan penampilannya. Sesungguhnya semuanya itu tipuan, bukanlah kesenangan yang sebenarnya. Allah berfirman :

          كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)

          “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. “ ( Qs. Ali Imran : 185 )

Hikmah Keempat : Musibah dan kerusakan yang terjadi di muka bumi ini tidak lain karena ulah manusia sendiri, maka jangan sampai kita menyalahkan Allah dan menyalahkan alam. Alam ini akan bersikap ramah kepada kita, mana kala kita ramah kepadanya, jika kita merusak alam ini, maka alampun marah dan terjadilah bencana.

          Ini semua terjadi agar manusia kembali kepada ajaran yang benar dan kembali kepada jalan Allah. Allah berfirman :

     ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41)

           “ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). “ ( Qs.ar-Rum : 41 )

Hikmah Kelima : Musibah yang terjadi mendorong kita untuk banyak melakukan istighfar ( memohon ampun ) atas segala kesalahan dan kekhilafan  yang selama ini kita lakukan. Istighfar ini sekaligus sebagai tolak bala’ ( menghindarkan kita dari musibah berikutnya ). Allah berfirman :

           وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (33)

 “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. ( Qs Al Anfal : 33 )

           Allah juga berfirman :

           وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)

 “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”  ( Qs Al Anbiya’ : 87 )

Hikmah Keenam : Musibah yang terjadi ini mendorong kita untuk menyiapkan bekal berupa amal sholeh sebelum ajal menjemput kita, sebelum musibah ini menimpa kita dan keluarga kita. Orang yang pandai dan cerdas adalah orang yang selalu menyiapkan bekal sebelum melakukan perjalanan, menyediakan payung sebelum turun hujan.  Di dalam  hadist Abu Ya’la Syadad bin Aus radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“ Orang yang cerdik adalah oraang yang selalu menahan hawa nafsunya dan beramal untuk sesudah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah “ ( HR Tirmidzi, dan beliau berkata : hadist ini Hasan Shahih “ )

Hikmah Ketujuh : Amal sholeh dan istighfar yang kita kerjakan selain menolak bala’ maka akan mendatangkan rahmat dan berkah dalam hidup kita. Maka untuk menjaga agar kehidupan kita, keluarga kita, masyarakat kita dan Negara kita tetap aman sentosa, makmur dan serba kecukupan, maka  setiap dari diri kita hendaknya bertaqwa kepada Allah menjalankan syariat-Nya dan menjauhi kemaksiatan. firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

  وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.  ( Qs Al A’raf : 96 )

          Allah juga berfirman :

          فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

”Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. ” ( Qs Nuh : 10-12 )

          Kita juga diperintahkan untuk berdoa agar dihindarkan dari musibah-musibah tersebut. Sebagaimana hadist Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berrdoa :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

          “ Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dan dari pindahnya keselamatan yang Engkau nerikan, dan dari kedatangan sangsi-Mu yang  tiba-tiba, serta dari seluruh murka-Mu “ ( HR. Muslim )

           Beliau juga berdoa :

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

          “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu (agar selamat) dari murka-Mu, dan dengan keselamatan-Mu (agar terhindar) dari siksaan-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu.  Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu, sebagaimana  pujian-Mu kepada diri-Mu.” ( HR. Muslim )

Wallahu A’lam,

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Pondok Gede, 22 Rabi’u at-Tsani 1436 H / 12 Februari 2015 M