Ilmu
86 Hits

5 Nasehat kepada Qarun


5 NASEHAT KEPADA QARUN
(Tafsir Qs. al-Qashash: 76-77)
Dr. Ahmad Zain An-Najah

Resume Kajian Subuh
Masjid Baabut Taubah Kemang Pratama - Bekasi
Sabtu, 1 Februari 2020

•••

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

(إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ * وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ)

"Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, 'Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.' Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (Qs. al-Qashash: 76-77)

Pelajaran yang dapat kita ambil dari ayat di atas:

???? Pelajaran Pertama: Pentingnya mempelajari sejarah.

Qarun sudah tidak ada namun namanya tetap dikenal hingga sekarang. Qarun tenggelam ditelan bumi, namun hartanya masih dianggap ada. Jika orang menemukan harta temuan di dalam tanah atau lautan, disebut sebagai harta karun. Karena menganggap bahwa itu adalah temuan harta Qarun yang ikut terbenam ke dalam bumi ketika Qarun ditimpa adzab oleh Allah.

Apa pentingnya mempelajari sejarah?

(لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ)

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Qs. Yusuf 111)

Proverb Arab mengatakan bahwa sejarah itu akan terulang kembali.

Qarun sudah tidak ada namun pengikut-pengikutnya di masa sekarang ini tetap banyak. Fenomena manusia yang memiliki sifat seperti Qarun yang suka mengumpulkan harta dan menganggap harta itu hasil kerja kerasnya sendiri dan bukan karunia Allah, selalu terulang serta terulang kembali di setiap masa.

Apa manfaat mempelajari sejarah sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Yusuf: 111 di atas, antara lain:
 sejarah itu akan terulang lagi, sehingga di dalamnya ada pengajaran yang bisa diambil bagi orang-orang yang berakal.
 kisah-kisah kaum terdahulu dalam al-Qur'an untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan sesuatu.
 kisah-kisah masa lalu juga menjadi rahmat dan petunjuk bagi kaum yang beriman.
Misal kisah Maryam menurut mufassir merupakan kisah rahmat bagi orang-orang beriman.

Rahmat. Kita datang ke masjid Baabut Taubah ini untuk shalat Subuh berjama'ah dan mendengarkan kajian, juga untuk mendapatkan rahmat Allah. Sebagaimana doa yang kita ucapkan sebelum masuk masjid,

اَللّهُمَّ افْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

"Ya Allah bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu."

???? Pelajaran Kedua: Kekerabatan tidak bermanfaat bagi keselamatan seseorang.

Walaupun masih kerabat Musa, namun Qarun tidak ada manfaatnya darinya harta dan apa yang diusahakan. Sebagaimana Abu Lahab, merupakan paman Nabi, namun juga kekerabatannya dengan Nabi tidak menyelamatkannya di dunia dan akhirat.

Usaha manusia ada dua: berupa anak dan kekayaan. Kisah Nabi Nuh memiliki 4 anak, 3 beriman dan 1 tidak beriman. Walaupun menjadi anak seorang Nabi, juga tidak dapat menyelamatkannya dari adzab Allah.

Sebagaimana dalam firman-Nya Qs. Hud: 41-43,

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (41) وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42) قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (43)

"Dan Nuh berkata, "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata, " Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." (Qs. Hud: 41-43)

Permisalan lainnya yaitu istri Nabi Nuh & Nabi Luth, sebagaimana dijelaskan dalam Qs. At-Tahrim: 10,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ (10)

"Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)." (Qs. at-Tahrim: 10)

Walaupun keduanya adalah istri dari para nabi namun kekerabatannya dengan nabi, tidak bermanfaat bagi keimanannya dan keselamatannya di dunia dan akhirat.

Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan dalam firman-Nya Qs. al-Mu'minun: 101 bahwa kelak di hari kiamat tidak ada manfaat nasab dan kekerabatan.

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ

"Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya." (Qs. al-Mu'minun: 101)

Mengenal tiga malaikat yang utama beserta tugasnya, yaitu: Jibriel (menurunkan wahyu - menghidupkan hati), Mikael (menurunkan air - menghidupkan bumi), Israfil
(meniup terompet - menghidupkan orang-orang mati).

Lima nasehat kepada Qarun sebagaimana dalam firman-Nya Qs. al-Qashash: 76-77,

1⃣ Nasehat pertama: لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
"Janganlah kamu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakam diri."

Janganlah merasa bangga dengan kekayaan. Kekayaan tidak bermanfaat jika tidak beriman dan beramal shalih.

(وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ)

"Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, 'Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar'." (Qs. al-Qashash: 80)

Qarun menganggap memiliki banyak harta karena ilmunya dan upayanya sendiri. Ini adalah bentuk kesombongan.

Berbeda dengan Nabi Sulaiman yang memiliki kerajaan terbesar di dunia, memiliki kekayaan bahkan menguasai bahasa semut, tetap mengatakan bahwa: هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبيِّ Ini adalah (semata-mata karena) karunia dari Allah.

Qarun bersikap sombong karena kunci-kunci perbendaharaannya berat dibawa oleh beberapa orang kuat. Menunjukkan sangat banyaknya harta Qarun.

Padahal semua harta dan kekayaan adalah anugerah dari Allah. Sebagaimana firman Allah,

(أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ)

"Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?" (Qs. al-Mulk: 21)

Ingatlah bahwa Allah yang berkehendak memberikan kekayaan atau kemuliaan bagi hamba-Nya. Tidak ada yang dapat mencegah apa yang Allah berikan. Tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Allah cegah.

Doa setelah shalat,

اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

"Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan." (HR. Bukhari)

2⃣ Nasehat kedua: وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat."

Kekayaan itu digunakan untuk mencari bekal kehidupan di akhirat.
Terdapat banyak jalan menuju surga, seperti:
- birrul walidain
- dengan shalat sunnah
- melalui kekayaan untuk diinfakkan fii sabilillah
- menginfakkan harta terbaik yang kita miliki

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

(لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ)

"Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengtahuinya." (Qs. Ali Imran: 92)

Mendengar ayat ini, para sahabat berlomba-lomba menginfakkan harta yang paling dicintainya, bukan menginfakkan yang berupa harta sisa.

Dalam hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh." (HR. Muslim no. 1631)

3⃣ Nasehat ketiga: وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
"Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi."

Jangan sampai lupa terhadap nasibmu di dunia. Dunia juga penting. Perbandingan prioritas antara Dunia-Akhirat itu setara 30:70. Dalilnya doa ketika duduk di antara dua sujud. Dalam doa ini diminta dua untuk dunia, yaitu kesehatan dan rezeki.

Barangsiapa mencari akhirat maka dunia akan mengikuti.

"Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang di situlah urusan kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali. Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan, dan jadikanlah kematianku seba­gai tempat peristirahatan dari setiap kejahatan."

4⃣ Nasehat keempat: وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْك
"Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu."

Kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah berbuat baik kepada kita. Allah Maha Baik yang mengabulkan setiap permohonan kita. Selayaknya kita membalas kebaikan Allah dengan cara menolong orang-orang yang membutuhkan.

Doa usia 40 tahun,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak keturunanku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (Qs. al-Ahqaf: 15)

5⃣ Nasehat kelima: وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْض
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi."

Jangan membuat kerusakan di muka bumi. Yang melakukan kerusakan di muka bumi adalah ikut campurnya orang kaya dalam bisnis dan negara, seperti minyak, senjata, dll.
Kerusakan di muka bumi adalah hanya untuk mencari uang, dengan membuat perang, membuat virus supaya manusia membeli vaksin dan obat-obatan.

Kajian ditutup dengan menjelaskan satu hadits, yang menyebutkan bahwa tidak ada yang menolak takdir kecuali doa, tidak ada memanjangkan umur kecuali dengan kebaikan, dan kemaksiyatan bisa mengurangi rezeki.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ
إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)

Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’ala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi)

Wallahu a'lam.
Mudah-mudahan bermanfaat.

Resume by: ~ad
Legenda Wisata, 02.02.2020