Ilmu
29 Hits

Tadabbur Qs. An-Naziat: 37 - 46


Allah membagi manusia menjadi dua jenis;

  1. Yang melampaui batas dan mengikuti hawa nafsu.
  2. Takut pada Allah dan menahan hawa nafsu.

Kelompok Pertama

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاَمَّا مَنْ طَغٰى   وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا   فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰى

"Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya." (Qs. An-Nazi'at : 37 - 39)

Pada ayat di atas Allah mensifati penghuni neraka dengan dua sifat; melampaui batas dan lebih mementingkan dunia dibanding akhiratnya.

Arti secara bahasa dari (طغى) adalah melampaui batas. Maka setiap yang melampaui batas disebut tagha, seperti air sungai yang melebihi batas, Allah SWT berfirman:

اِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَآءُ حَمَلْنٰكُمْ فِى الْجَارِيَةِ  

"Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu ke dalam kapal," (Qs. Al-Haqqah : 11).

Melampaui batas disini adalah melanggar batas syariat yang sudah Allah tetapkan. Sedang mementingkan kehidupan dunia disini adalah dengan meninggalkan amal ibadah akhirat demi mengejar dunia.

Kelompok Kedua

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى  فَاِنَّ الْجَـنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi'at : 40 - 41)

Ayat di atas menunjukkan bahwa rasa takut mampu mengekang hawa nafsu, seperti siswa yang takut tidak lulus ujian akan lebih disiplin dalam belajar dan tidak berani bermain-main.

Usman bin Affan pernah mengkhatamkan Al Qur'an dalam sekali shalat malamnya di depan Ka'bah tak lain karena tingginya rasa takut yang beliau miliki pada Allah.

Umar bin Abdul Aziz juga pernah shalat malam dan berhenti pada ayat,

وَقِفُوْهُمْ اِنَّهُمْ مَّسْئُـوْلُوْنَ

"Tahanlah mereka (di tempat perhentian), sesungguhnya mereka akan ditanya," (Qs. As-Saffat: 24)

Beliau tidak bisa meneruskan ayat selanjutnya karena teramat takut akan keadaan akhirat yang kelak ia hadapi.

Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa ciri orang beriman adalah bergetar hatinya saat disebut nama Allah, Allah berfirman,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal: 2)

Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan bahwa sifat orang beriman dan bertakwa adalah takut pada tuhan mereka, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِّنَ السَّاعَةِ  مُشْفِقُوْنَ

"(yaitu) orang-orang yang takut (azab) Tuhannya, sekalipun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari Kiamat." (QS. Al-Anbiya: 49)

Begitu juga untuk menjadi pemimpin yang adil harus mampu menahan hawa nafsu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ  ۗ  اِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌۢ بِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ

"(Allah berfirman), Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan." (Qs. Sad: 26)

Dua kelompok yang disebutkan Allah dalam An Naziat di atas juga disyaratkan oleh Rasulullah dalam hadistnya, dari Syadad bin Auz, Rasulullah bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

"Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan akhirat, sedang orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan panjang angan terhadap Allah" (HR. Tirmidzi)

Setelah menjelaskan perihal rasa takut, Allah melanjutkan keterangan tentang hari kiamat, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰٮهَا   فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰٮهَا   اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰٮهَا

"Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, Kapankah terjadinya? Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya)"  (QS. An-Nazi'at 79: Ayat 42-44)

Dari ayat di atas dapat diambil pelajaran bahwa salah satu cara meningkatkan rasa takut adalah dengan mengingat akhirat dan kematian.

Dalam hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

أكثروا ذكر هادم اللذات : الموت

"Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan dunia (kematian)" (HR. Tirmidzi)

Allah menjawab pertanyaan kaum musyrik perihal kapan datangnya kiamat dengan pernyataan bahwa waktu terjadinya hari kiamat tidaklah penting,  yang terpenting adalah rasa takut pada kiamat dan seberapa siap kita menghadapinya.

Setiap orang akan mempersiapkan diri saat hendak bepergian jauh, keluar kota misalnya, maka perjalanan menuju akhirat adalah perjalanan yang paling pantas untuk dipersiapkan, karena akhirat adalah negeri dimana tiada manusia yang benar-benar tahu apa dan bagaimana keadaannya, maka mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya menjadi solusi utama menghadapi perjalanan ini.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

اِنَّمَاۤ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰٮهَا  كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْۤا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰٮهَا

"Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat), Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari." (QS. An-Nazi'at 79: 45 - 46)

Sesungguhnya Nabi Muhammad tak lain hanyalah penyampai pesan dari Allah.

Saat datang hari kiamat manusia akan merasa bahwa kehidupan mereka selama di dunia ini seolah tak lebih dari seklebat waktu di siang hari.

Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata;

الناس نيام إذا ماتوا انتبهوا

"Manusia sesungguhnya sedang tertidur, saat kelak mereka mati barulah mereka terbangun"

Kesimpulan

Surat An Naziat dibuka dengan menyebut malaikat pencabut nyawa dan diakhiri dengan kematian, seolah olah mengatakan bahwa manusia hidup hanya diantara kematian.

Wallahu a’lam.