Karya Tulis
137 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 6:95-99) 9 Tanda Kekuasaan Allah


إِنَّ ٱللَّهَ فَالِقُ ٱلْحَبِّ وَٱلنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ ٱلْمَيِّتِ مِنَ ٱلْحَىِّ ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?”

(Qs. al-An’am: 95)

 

Ayat ini dan seterusnya adalah salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah.

Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah itu sebagai berikut:

(1) Allah adalah Pembelah butir dan biji (فَالِقُ ٱلْحَبِّ وَٱلنَّوَىٰ).

(a) Kata (فَالِقُ) artinya pembelah.

Kata ini juga disebut di dalam firman-Nya,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.” (Qs. al-Falaq: 1)

Kata (ٱلْفَلَق) yang diartikan “Subuh” karena “al-Falaq” itu membelah kegelapan dengan cahaya fajar.

(b) Kata (ٱلْحَبِّ) artinya butir.

Butir adalah bagian dalam biji-bijian yang berbentuk bulat atau hamper bulat, seperti gandum, beras, jagung, kedelai, kacang-kacangan.

(c) Kata (ٱلنَّوَىٰ) artinya biji.

Biji adalah struktur yang lebih besar dan mencakup seluruh bagian yang dapat tumbuh menjadi tanaman baru, di dalam biji mencakup embrio dan cadangan makanan yang diperlukan untuk memulai pertumbuhan awal.

Dari butir dan biji tersebut akan tumbuh pepohonan yang hijau, sayur mayur serta beragam jenis buah-buahan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

(2) Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati (يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ), seperti mengeluarkan makhluk hidup dari air mani dan menumbuhkan pepohonan, tumbuh-tumbuhan serta buah-buahan dari butir dan biji-bijian. Termasuk di dalamnya menyeluarkan ayam dari telur.

Sebagian ulama menafsirkan hidup dan mati dengan penafsiran secara maknawi. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Maksudnya: mengeluarkan orang mukmin dari orang kafir, seperti yang terjadi pada diri Nabi Ibrahim yang lahir dari bapaknya Azar yang kafir.”

Penafsiran ini berdasarkan firman Allah yang menjelaskan kehidupan dan kematian secara maknawi.

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَٰفِرِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. al-An’am: 122)

(3) Allah mengeluarkan yang mati dari yang hidup (وَمُخْرِجُ ٱلْمَيِّتِ مِنَ ٱلْحَىِّ), seperti mengelaurkan butir dan biji dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, mengelaurkan terlu dari ayam, mengeluarkan air mani dari manusia.

Atau secara maknawi, yaitu mengelaurkan orang kafir dari rang mukmin, seperti mengelaurkan anak Nabi Nuh yang kafir dari Nabi Nuh yang mukmin.

Pertanyaannya:

  • Apakah hikmah penggunaan kata kerja (يُخْرِجُ) dan kata benda (مُخْرِجُ) pada ayat di atas?
  • Apakah perbedaan di antara keduanya?

Para ulama memberikan dua jawaban, yaitu:

Pertama: bahwa kata kerja (يُخْرِجُ) pada ayat ini menunjukkan sesuatu yang berkesinambungan dan terus menerus. Karena mengeluarkan yang hidup dari yang mati adalah pemandangan yang bisa dilihat atau dijumpai sehari-hari, dan berlangsung secara terus menerus, seperti tumbuhnya pepohonan, tumbuh-tumbuhan, munculnya buah-buahan, lahirnya anak-anak, menetasnya telur-telur sehingga menjadi anak-anak ayam. Adapun kata benda (مُخْرِجُ) menunjukkan sesuatu yang tetap dan keistiqamahan.

Perbedaan keduanya bisa dijelaskan dengan contoh lain dari firman Allah,

هَلْ مِنْ خَٰلِقٍ غَيْرُ ٱللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۚ

“Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?” (Qs. Fathir: 3)

Kata kerja (يَرْزُقُ) menunjukkan bahwa Allah secara terus menerus dan berkesinambungan menurunkan rezeki kepada manusia.

Hal ini berbeda dengan firman Allah,

وَكَلْبُهُم بَٰسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِٱلْوَصِيدِ

“Dan anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua.” (al-Kahfi: 18)

Kata benda (بَٰسِطٌ) menunjukkan bahwa anjing tersebut mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua, hanya sekali, begitu saja terus, tidak berubah posisinya.

Kedua: bahwa kata benda (مُخْرِجُ) pada ayat ini merupakan sambungan atau lanjutan dari kata (فَالِقُ) yang terdapat di awal ayat. Adapun kata kerja (يُخْرِجُ) merupakan keterangan dari kalimat sebelumnya yaitu (فَالِقُ ٱلْحَبِّ وَٱلنَّوَىٰ). Sebab kalimat (يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ) “mengeluarkan yang hidup dari yang mati” merupakan penjelasan dari kalimat “Allah adalah Pembelah butir dan biji”.

(4) Allah menyingsingkan pagi

فَالِقُ ٱلْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ ٱلَّيْلَ سَكَنًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-An’am: 96)

(a) Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kekuasaan-Nya terhadap sesuatu yang ada di bumi. Pada ayat ini Allah menjelaskan kekuasaan-Nya terhadap apa yang ada di langit, salah satunya adalah menyingsingkan pagi.

Allah menyingsingkan pagi (فَالِقُ ٱلْإِصْبَاحِ) yaitu membelah gelapnya malam dengan munculnya sinar pagi merupakan peristiwa yang jauh lebih besar dari membelah butir dan biji.

(b) Kata (فَالِق) artinya adalah pembelah, sedangkan kata (ٱلْإِصْبَاحِ) artinya waktu subuh. Maksudnya di sini adalah bahwa Allah membelah gelapnya malam dengan cahaya subuh, sehingga gelap tersebut sirna berganti dengan cahaya siang.

(5) Allah menjadikan malam untuk beristirahat (وَجَعَلَ ٱلَّيْلَ سَكَنًا).

Maksudnya Allah menjadikan malam yang gelap sebagai waktu istirahat bagi makhluk-Nya, baik manusia maupun hewan.

Disebutkan bahwa tidur malam dapat memperbaiki metabolism otak, sebab walaupun organ lain beristirahat saat tidur, akan tetapi otak tetap aktif.

Selain itu, tidur malam dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Hal itu karena pada malam hari hormon pertumbuhan akan bermunculan, termasuk hormon melatonin yang meningkat pesat di malam hari. Hormon melatonin ini berfungsi meningkatkan imunitas tubuh, menimbulkan relaksasi otot, membantu meningkatkan mood dan menghilangkan ketegangan.

Di antara ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa malam untuk istirahat dan tidur sebagai bentuk penentraman dari Allah, adalah:

  • Qs. Ghafir: 61
  • Qs. al-Qashash: 73
  • Qs. al-Furqan: 62
  • Qs. Yunus: 67
  • Qs. al-Anfal: 11

Yang menarik adalah apa yang ditulis oleh Ibnu Katsir tentang kisah Shuhaib ar-Rumi seorang sahabat yang ditegur istrinya karena sering begadang malam, beliau berkata,

إٍنَّ الله جَعَلَ اللَيْلَ إِلَّا لِصُهَيْبٍ, إِنَّ صُهَيْباً إِذَا ذَكَرَ الجَنَّةَ طَالَ شَوْقُهُ, وَإِذَا ذَكَرَ النَّارَ طَارَ نَوْمُهُ

“Sesungguhnya Allah menjadikan malam hari untuk beristirahat kecuali bagi Shuhaib. Sesungguhnya Shuhaib apabila mengingat akan surga maka semakin bertambah rasa rindunya, dan apabila mengingat akan neraka maka hilanglah rasa kantuknya.”

(6) Allah menjadikan matahari dan bulan sebagai (pedoman) perhitungan waktu di bumi (وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ حُسْبَانًا).

Kata (حُسْبَانًا) berasalh dari kata (حِسَاب) yang artinya perhitungan. Tambahan huruf أ (alif) dan ن (nun) memberikan tambahan makna yang lebih berat, lebih berbobot dan lebih detail. Sehingga (حُسْبَانًا) bisa diartikan “perhitungan yang lebih berbobot dan sempurna”.

Perhitungan seperti ini tidak akan salah dan meleset, sehingga masing-masing dari matahari dan bulan beredar pada orbitnya masing-masing, serta tidak akan pernah terjadi tabrakan atau pergeseran. Hal ini telah dijelaskan Allah di dalam firman-Nya,

وَٱلشَّمْسُ تَجْرِى لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ ۞ وَٱلْقَمَرَ قَدَّرْنَٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلْعُرْجُونِ ٱلْقَدِيمِ ۞ لَا ٱلشَّمْسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدْرِكَ ٱلْقَمَرَ وَلَا ٱلَّيْلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ ۞

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Qs. Yasin: 38-40)

Allah menjadikan peredaran matahari dan bulan sebagai alat agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Hal ini telah disebutkan juga di dalam firman-Nya,

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمْسَ ضِيَآءً وَٱلْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Yunus: 5)

Hal ini dikuatkan di dalam firman-Nya,

يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِىَ مَوَٰقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (Qs. al-Baqarah: 189)

(7) Allah menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk (arah mata angin) bagi manusia dalam kegelapan di darat dan di laut.

Firman-Nya,

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهْتَدُوا۟ بِهَا فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Qs. al-An’am: 97)

(a) Orang-orang terdahulu, sebelum ditemukan teknologi, terutama para penjelajah menggunakan kondisi alam dan benda-benda yang ada di langit untuk menentukan arah mata angin. Salah satunya dengan mengandalkan keberadaan bintang-bintang yang ada di langit.

Mereka mengandalkan sekelompok bintang yang terlihat di langit pada malam hari. Sekelompok bintang tersebut akan saling terhubung dan membentuk formasi tertentu. Inilah yang sering disebut dengan rasi bintang.

(b) Adapun rasi bintang yang bisa dijadikan petunjuk untuk menentukan arah mata angin, diantaranya:

  • Ursa Mayor atau Biduk (Beruang Besar). Rasi ini dijadikan patokan untuk menunjukkan arah utara.
  • Orion (Bintang Pemburu). Rasi ini dijadikan patokan untuk menentukan arah barat.
  • Scorpion (Kalajengking). Rasi ini dijadikan patokan untuk menentukan arah tenggara atau timur.
  • Crux (Layang-layang). Rasi ini dijadikan patokan untuk menetukan arah selatan.

(c) Para ulama menyebutkan bahwa fungsi bintang ada tiga sebagaimana yang disebutkan di dalam al-Qur’an, yaitu:

  • Sebagai petunjuk bagi manusia untuk menentukan arah mata angin, sebagaimana diterangkan di atas.
  • Sebagai perhiasan langit. Langit tanpa bintang-bintang seperti ada yang kurang. Dengan adanya bintang-bintang, langit akan lebih indah dan menawan.
  • Sebagai alat pelempar syetan yang mencuri pendengaran dari langit.

(d) Adapun ayat-ayat yang menyebutkan fungsi bintang-bintang adalah sebagai berikut:

  • Firman-Nya,

وَعَلَٰمَٰتٍ ۚ وَبِٱلنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (Qs. an-Nahl: 16)

  • Firman-Nya,

إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِزِينَةٍ ٱلْكَوَاكِبِ۞ وَحِفْظًا مِّن كُلِّ شَيْطَٰنٍ مَّارِدٍ۞ لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلْمَلَإِ ٱلْأَعْلَىٰ وَيُقْذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٍ۞ دُحُورًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ۞ إِلَّا مَنْ خَطِفَ ٱلْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُۥ شِهَابٌ ثَاقِبٌ۞

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syetan yang sangat durhaka, syetan syetan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.” (Qs. ash-Shaffat: 6-10)

  • Firman-Nya,

وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ

“Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Fushshilat: 12)

  • Firman-Nya,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِمَصَٰبِيحَ وَجَعَلْنَٰهَا رُجُومًا لِّلشَّيَٰطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Qs. al-Mulk: 5)

(8) Allah menciptakan manusia dari satu jiwa yaitu Adam ‘alaihi as-salam.

Firman-Nya,

وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ

“Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.” (Qs. al-An’am: 98)

(a) Allah menciptakan manusia dari jiwa yang satu, maksudnya adalah Nabi Adam ‘alaihi as-salam yang menikah dengan Sayyidah Hawa. Kemudian dari keduanya lahirlah anak-anak Adam, lalu berkembang biak menjadi banyak, baik dari jenis laki-laki dan perempuan.

Hal ini telah dijelaskan Allah di dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Qs. an-Nisa’: 1)

(b) Adapun makna (فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ), para ulama berbeda pendapat tentang maknanya:

  • Kata (مُسْتَقَرّ) adalah tempat menetap di rahim, sedangkan (مُسْتَوْدَعٌ) adalah tempat simpanan di dalam tulang sulbi.
  • Kata (مُسْتَقَرّ) adalah tempat di dunia, sedangkan (مُسْتَوْدَعٌ) adalah tempat di alam kubur setelah mati.
  • Kata (مُسْتَقَرّ) adalah tempat sesudah mati, karena manusia menetap di sana selamanya. Sedangkan (مُسْتَوْدَعٌ) adalah tempat di dunia ini, karena bersifat sementara.
  • Kata (مُسْتَقَرّ) adalah manusia yang lahir dan tinggal di dunia. Sedangkan (مُسْتَوْدَعٌ) adalah manusia yang belum diciptakan (belum terlahir ke bumi) dan akan diciptakan nantinya.

Pendapat yang menyatakan bahwa (مُسْتَقَرّ) adalah tempat menetap di bumi, dikuatkan dengan firman-Nya,

وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ

“Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (Qs. al-Baqarah: 36)

Dan yang berpendapat (مُسْتَقَرّ) adalah tempat menetap di Rahim, dikuatkan dengan firman Allah,

وَنُقِرُّ فِى ٱلْأَرْحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى

“Dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.” (Qs. al-Hajj: 5)

(9) Allah menurunkan air dari langit.

Firman-Nya,

وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَىْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ ٱلنَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّٰتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَٰبِهٍ ۗ ٱنظُرُوٓا۟ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَيَنْعِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكُمْ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. al-An’am: 99)

(a) Firman-Nya (وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً) “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit.”

Kata (ٱلسَّمَآء) pada potongan ayat di atas artinya langit, yang dimaksud adalah awan. Hal itu karena orang Arab menyebut segala sesuatu yang di atas dengan (ٱلسَّمَآء). Bukti bahwa yang dimaksud di sini adalah awan, yaitu firman Allah,

أَفَرَءَيْتُمُ ٱلْمَآءَ ٱلَّذِى تَشْرَبُونَ ۞ ءَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ ٱلْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ ٱلْمُنزِلُونَ۞

 “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (Qs. al-Waqi’ah: 68-69)

Kata (ٱلْمُزْن) pada ayat di atas menurut Ibnu ‘Abbas dan Mujahid adalah awan.

Hal ini dikuatkan dengan firman-Nya,

وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلْمُعْصِرَٰتِ مَآءً ثَجَّاجًا

“Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (Qs. an-Naba’: 14)

Kata (ٱلْمُعْصِرَٰت) pada ayat di atas menurut Ibnu ‘Abbas, Ikrimah, al-Hasan al-Bashri adalah awan yang mengandung air hujan.

(b) Firman-Nya (فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَىْءٍ) “Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan.”

Potongan ayat di atas menunjukkan bahwa air adalah sumber kehidupan dan darinya Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup. Hal ini dikuatkan dengan firman-Nya,

أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Qs. al-Anbiya’: 30)

Dikuatkan juga dengan firman-Nya,

وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ مِنَ ٱلْمَآءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُۥ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (Qs. al-Furqan: 54)

(c) Firman-Nya (فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا)

Maksudnya: “Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan tersebut tanaman yang hijau. Dan tanaman yang hijau tersebut, Kami keluarkan butir yang banyak, bertumpang tindih dengan sebagian yang lain, seperti gandum, beras, dan sejenisnya.”

Kata (أَخْرَجَ) pada ayat ini menggunakan kata kerja bentuk sekarang (present tense) untuk menarik perhatian orang agar orang merenungi bagaimana butir-butir yang saling bertumpuk dan tumpang tindih tersebut bisa keluar dari tumbuh-tumbuhan yang hijau dan segar. Tumbuh-tumbuhan yang disebutkan di atas adalah jenis tumbuhan yang tidak memiliki batang.

Setelah ini pembahasan beralih kepada tanaman yang memiliki batang, sebagaimana yang tersebut di bawah ini.

(d) Firman-Nya (وَمِنَ ٱلنَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ) “Dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai.”

Dari potongan ayat ini, mulai dibahas tentang tanaman yang memiliki batang.

Dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai ke bawah bagi kurma yang pendek, sehingga berada dekat tanah dan mudah dipetik.

Kata (قِنْوَانٌ) jamak dari (قِنْوٌ) atau (قَنْوٌ) yang artinya tangkai kurma.

Kata (دَانِيَةٌ) artinya dekat atau mudah dipetik.

(e) Firman-Nya (وَجَنَّٰتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ) “Dan (Kami keluarkan darinya) kebun-kebun dari pohon anggur.”

Perlu diketahui bahwa kurma dan anggur adalah buah-buahan yang sangat digemari penduduk Hijaz (Jazirah Arab) ada waktu itu. Dan ternyata kedua jenis tersebut hingga hari ini, menurut penelitian, ternyata termasuk buah-buahan yang sangat baik dan mengandung banyak manfaat untuk Kesehatan tubuh.

Berikut ini beberapa manfaat buah kurma, antara lain:

  • Mengandung sumber energi sehingga memberikan energi instan dan mengatasi kelelahan.
  • Kaya serat dan mengandung anti oksidan.
  • Membantu Kesehatan jantung.
  • Menjaga tekanan darah.
  • Mengandung zat besi yang berguna untuk mencegah kekurangan darah.

Adapun manfaat buah anggur, diantaranya:

  • Kaya akan anti oksidan.
  • Membantu untuk menjaga kesehatan jantung.
  • Menjaga kolesterol dalam batas normal.
  • Mendukung Kesehatan otak.
  • Mengandung vitamin C dan K yang dapat meningkatkan system kekebalan tubuh.
  • Membantu Kesehatan kulit dan menghambat penuaan dini.

(f) Firman-Nya (وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَٰبِهٍ)

§ Maksudnya: “Kami keluarkan juga (dari air hujan) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa.” Yaitu sebagiannya tidak serupa dedaunannya tetapi serupa bentuknya. Atau serupa bentuknya, tetapi tidak serupa rasanya. Begitu seterusnya.

  • Hal ini telah dijelaskan juga oleh Allah di dalam firman-Nya,

وَفِى ٱلْأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَٰوِرَٰتٌ وَجَنَّٰتٌ مِّنْ أَعْنَٰبٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَىٰ بِمَآءٍ وَٰحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِى ٱلْأُكُلِ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Qs. ar-Ra’du: 4)

(g) Firman-Nya (ٱنظُرُوٓا۟ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ)

“Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya.”

(g.1) Maksudnya: “Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan perhatikanlah pula jika buah itu matang.” Yaitu: perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan itu semua, dari yang tidak ada menjadi ada. Kemudian dari tumbuh-tumbuhan menjadi pepohonan dan mengeluarkan buahnya, akhirnya menjadi matang. Bentuk, warna, dan rasanya pun bisa berbeda-beda, padahal disirami dengan air hujan yang sama.

(g.2) Ar-Razi menjelaskan bahwa buah-buahan tersebut pada awalnya memiliki sifat-sifat tertentu yang sangat berbeda dengan sifat-sifatnya ketika sudah matang. Misalnya: pada awalnya berwarna hijau, kemudian berubah warnanya menjadi merah atau hitam. Dahulu ketika bentuknya masih kecil rasanya asam; kemudian ketika sudah matang, berubah rasanya menjadi manis. Atau kadang pada awalnya dingin, kemudian berubah menjadi panas.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada buah-buahan tersebut tentunya ada penyebabnya. Namun penyebabnya bukanlah dari akibat faktor perubahan alam, cuaca, ataupun musim; karena efeknya menjadikan buah-buahan ini berbeda satu dengan yang lainnya.

Jika penyebabnya bukan karena faktor perubahan alam, cuaca, ataupun musim; tentu di sana terdapat penyebab lainnya. Maka tidak ada jawabannya kecuali perubahan-perubahan dan perbedaan pada buah-buahan itu karena kehendak Dzat Yang Maha Bijak, Maha Penyayang. Dzat yang mengatur alam semesta ini sesuai dengan kasih saying-Nya dan sesuai dengan kemaslahatan yang Dia tetapkan.

(h) Catatan:

Terdapat tiga macam kata penutupan yang digunakan dalam tiga ayat di atas. Kata yang digunakannya berbeda antara satu ayat dengan ayat lainnya. Keterangannya sebagai berikut:

(h.1) Pada ayat 97, ketika membahas tentang bintang-bintang di langit yang dijadikan patokan oleh para penjelajah untuk mengetahui arah mata angin. Allah menggunakan kata (يَعْلَمُونَ) sebagai penutup ayat. Hal ini karena untuk mengetahui dan mengenal posisi bintang-bintang di langit, serta penggunaannya untuk petunjuk arah mata angin; tidak membutuhkan analisis dan pemikiran yang tajam maupun spesialis dalam ilmu tertentu yang rumit. Cukup dengan bekal ilmu, pengalaman, percobaan serta pengamatan umum dan sederhana maka seseorang langsung bisa mngetahui hal itu. Oleh karenanya disebutkan bahwa istilah ilmu lebih umum dibanding dengan istilah fiqih.

(h.2) Sedangkan pada ayat 98, ketika membahas tentang manusia dan penciptaannya dari jiwa yang satu (yaitu Nabi Adam), Allah menggunakan kata (يَفْقَهُونَ) yang berarti pengetahuan yang detail, rinci dan mendalam, sebagai penutup ayat. Hal ini karena pembahasan tentang manusia yang diciptakan dari jiwa yang satu, serta penempatannya pada kondisi yang berbeda-beda, termasuk pengetahuan anatomi tubuh manusia, kejiwaannya dan hal-hal yang berhubungan dengan itu semuanya hanya bisa diketahui melalui pengamatan yang akurat, pemahaman yang mendalam, percobaan yang dilakukan berkali-kali, bahkan terkadang melalui proses yang panjang dengan teori yang rumit. Bahkan saking rumitnya, pengetahuan tentang manusia dan seluk beluk yang mengitarinya, seorang ahli bedah dan ilmuwan Biologi sel dari Perancis, yaitu Alexis Carrel (w. 1944) merasa sangat kesulitan dalam memahami hakikat manusia. Dia mengungkapkan hal tersebut di dalam bukunya yang berjudul L’Homme cet Inconnu yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul Man, the Unknown, dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab dengan judul (الإنسانُ ذلك المجهول)

(h.3) Adapun pada ayat 99, ketika membahas tentang air hujan dan tumbuh-tumbuhan, Allah menggunakan kata (يُؤْمِنُونَ) yang berarti orang-orang yang beriman. Hal itu sebagaimana ditulis oleh Syeikh al-Qasimi, yakni karena orang-orang kafir Quraisy mengingkari adanya hari kebangkitan, maka perlu dijelaskan kepada mereka bahwa Allah lah yang menurunkan hujan, dan darinya butir dan biji akan tumbuh menjadi tumbuh-tumbuhan dan pepohonan. Kemudian darinya juga muncul berbagai macam dan jenis buah-buahan yang bisa mereka makan. Tidak ada yang bisa melakukan hal tersebut, kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Jika demikian, Allah juga mampu menciptakan dan membangkitkan mereka dari alam kubur dengan cara menurunkan hujan dari langit kemudian menghidupkan mereka kembali, sebagaimana Allah menumbuhkan pepohonan dari biji.

 

***

Karawang, Senin, 24 Juli 2023

KARYA TULIS