Karya Tulis
106 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 6:100-103) Mereka Menyembah Jin


 وَجَعَلُوا۟ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ٱلْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ ۖ وَخَرَقُوا۟ لَهُۥ بَنِينَ وَبَنَٰتٍۭ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.”

(Qs. al-An’am: 100)

 

Pelajaran (1) Hakikat Jin

Pada ayat-ayat yang lalu telah dijelaskan Sembilan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta ini. Jika manusia mau merenunginya dengan seksama, dia akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah.

Tetapi hal ini tidak terjadi pada orang-orang musyrik. Walaupun begitu jelas dan gambling tanda-tanda ke-Esaan Allah, tetap saja mereka membuat sekutu-sekutu bagi-Nya. Salah satu makhluk yang mereka jadikan sekutu bagi Allah adalah jin.

(1) Firman-Nya,

وَجَعَلُوا۟ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ٱلْجِنَّ

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah.”

Para ulama berbeda pendapat tentang maksud kata (ٱلْجِنَّ) pada ayat di atas:

Pertama: Jin di sini maksudnya adalah malaikat. Mereka menyembah malaikat dan mengatakan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Disebut “Jin” karena malaikat tidak kelihatan oleh kasat mata.

Kedua: Jin di sini maksudnya adalah syetan. Mereka mentaatinya ketika diperintahkan untuk berbuat syirik dan bermaksiat kepada Allah. Hal ini dijelaskan di dalam beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya:

  • Firman-Nya,

إِن يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ إِنَٰثًا وَإِن يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَٰنًا مَّرِيدًا

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.” (Qs. an-Nisa’: 117)

  • Firman-Nya,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِۦٓ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِى وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۢ ۚ بِئْسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلً

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (Qs. al-Kahfi: 50)

  • Firman-Nya,

يَٰٓأَبَتِ لَا تَعْبُدِ ٱلشَّيْطَٰنَ ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.” (Qs. Maryam: 44)

  • Firman-Nya,

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا۟ ٱلشَّيْطَٰنَ ۖ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”.” (Qs. Yasin: 60)

Ketiga: Jin di sini maksudnya dalah Iblis. Mereka menyembahnya dan menganggap Iblis sebagai tuhan kejelekan dan kegelapan. Dia menciptakan binatang buas, kalajengking, ular, serta segala yang jelek dan jahat. Sedangkan Allah menurut mereka adalah Tuhan kebaikan dan pemabwa cahaya. Tuhan yang menciptakan binatang ternak dan hal-hal yang baik. Mereka menganggap Allah dan Iblis, dua tuhan yang bersaudara. Hal ini dikuatkan dalam firman-Nya,

وَجَعَلُوا۟ بَيْنَهُۥ وَبَيْنَ ٱلْجِنَّةِ نَسَبًا ۚ وَلَقَدْ عَلِمَتِ ٱلْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ

“Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka).” (Qs. ash-Shaffat: 158)

(2) Firman-Nya,

وَخَلَقَهُمْ

Maksudnya: “Padahal Allah menciptakan mereka.”

Siapa yang dimaksud mereka pada ayat ini? Para ulama berbeda pendapat, diantaranya:

(a) Maksudnya bahwa Allah yang menciptakan orang-orang musyrik yang menyembah jin. Bukan jin yang menciptakan mereka. Lalu bagaimana mereka menyembah sesuatu yang tidak bisa menciptakan?

(b) Maksudnya bahwa Allah lah yang menciptakan jin (sesembahan mereka). Lalu bagaimana mereka menjadikan makhluk seperti mereka sesembahan sebagai sekutu Allah?

(3) Firman-Nya,

وَخَرَقُوا۟ لَهُۥ بَنِينَ وَبَنَٰتٍۭ بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan.”

(a) Kata (خَرَقُوا۟) dari kata (الخرق). Berkata ar-Raghib, “Arti asalnya adalah memotong, membelah, membocorkan dengan tujuan merusak.” Hal ini sesuai dengan firman Allah,

فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِى ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا إِمْرًا

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (Qs. al-Kahfi: 71)

Berbeda dengan kata (الخلق) yang artinya menciptakan sesuatu dengan teliti dan seksama dengan tujuan baik.

(b) Maknanya bahwa orang-orang musyrik menciptakan atau mengada-adakan kebohongan kepada Allah dengan mengatakan Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Mereka berbuat seperti itu karena kebodohan mereka dan tanpa ada dasar ilmu sama sekali.

(c) Berkata al-Baghawi, “Perbuatan ini mirip dengan kaum Yahudi yang mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah, dan kaum Nasrani yang mengatakan bahwa al-Masih adalah anak Allah, serta kaum musyrikin yang mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah.”

(4) Firman-Nya,

سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ

“Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.”

Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari sifat-sifat yang mereka sandingkan. Sebagian ulama mengatakan bahwa (سُبْحَٰنَهُ) adalah para hamba mensucikan-Nya. Sedangkan (تَعَٰلَىٰ) artinya bahwa Dzatnya sangat mulia dan suci dari sifat-sifat yang mereka sandingkan, baik para hamba memuji-Nya atau tidak memuji-Nya.

 

Pelajaran (2) Empat Bantahan Allah

بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (Qs. al-An’am: 101)

Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kaum musyrikin menjadikan jin sebagai sekutu bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Selanjutnya pada ayat ini, Allah menjawab pernyataan kaum musyrikin tersebut dengan jawaban yang tegas, jelas, dan dapat mematahkan dalil kaum musyrikin.

Jawaban Allah tersebut teringkas dalam empat poin, yaitu:

(1) Firman-Nya,

بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ

“Dia Pencipta langit dan bumi.”

Allah sebagai pencipta pertama kali langit dan bumi yang tidak ada contoh sebelumnya.

Kata (بَدِيعٌ) artinya Pencipta pertama kali, dan tidak ada contoh sebelumnya. Oleh karenanya kata (البدعة) diartikan mengerjakan suatu ibadah yang tidak dicontohkan sebelumnya oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Berkatan al-Biqa’i, “Dzat yang mampu menciptakan langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya tentunya tidak membutuhkan anak.”

(2) Firman-Nya,

أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٌ

“Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri.”

Berkata Ibnu Katsir, “Maksudnya anak itu hanyalah dilahirkan dari dua orang yang berpasangan, sedangkan Allah tidak sama dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya.”

(3) Firman-Nya,

وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ

“Dia yang menciptakan segala sesuatu.”

Berkata as-Sa’di, “Anak itu harus ada kemiripan dengan ayahnya. Padahal Allah menciptakan segala sesuatu. Dan tidak ada satu pun dari makhluk-Nya yang mirip dengan-Nya.”

(4) Firman-Nya,

وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Dan Dia mengetahui segala sesuatu.”

(a) Setelah disebutkan “Penciptaan” kemudian diikuti dnegan penyebutan “Ilmu”, ini menunjukkan kesempurnaan ciptaan-Nya dan sangat teratur pengelolaannya.

(b) Hal itu juga menunjukkan keluasan ilmu-Nya.

(c) Terdapat beberapa ayat lain yang menghubungkan antara “Penciptaan” dan “Ilmu”, diantaranya:

  • Firman Allah,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (Qs. al-Mulk: 14)

  • Firman Allah,

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ ٱلْخَلَّٰقُ ٱلْعَلِيمُ

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-Hijr: 86)

(d) Berkata al-Biqa’i, “Siapa saja yang mempunyai anak, pasti ilmunya tidak bisa mencakup segala sesuatu dan kemampuannya sangat terbatas. Bahkan dia sangat membutuhkan orang lain.”

 

Pelajaran (3) Allah adalah Tuhan yang Berhak Disembah

ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَٱعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (Qs. al-An’am: 102)

(1) Firman-Nya,

ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu.”

Yang demikian itu, yaitu Dzat yang mempunyai segala sifat yang disebutkan di atas, adalah Tuhan (Rabb) kalian.

Kata (رَبٌّ) artinya yang menciptakan, memiliki, mengatur, merawat. Ini semua sesuai dengan firman-Nya di dalam surah al-Fatihah,

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Yaitu yang menciptakan, memiliki, mengatur dan merawat alam semesta ini.

Karena Allah adalah Tuhan bagi manusia dan bagi alam semesta, maka tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia.

(2) Firman-Nya,

لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَٱعْبُدُوهُ

“Tidak ada Tuhan selain Dia.”

(a) Ayat ini menunjukkan bahwa pengakuan terhadap Tauhid Rububiyah (Allah sebagai Pencipta) mengharuskan seseorang untuk mengakui Tauhid Uluhiyah (Allah sebagai sesembahan). Dengan ungkapan lain, “Yang mencipta, Dial ah yang berhak disembah.”

(b) Ayat-ayat yang menunjukkan hal itu sangat banyak, diantaranya:

  • Firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 21)

  • Firman-Nya,

فَلْيَعْبُدُوا۟ رَبَّ هَٰذَا ٱلْبَيْتِ۞ ٱلَّذِىٓ أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍۭ۞

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Qs. Quraisy: 3-4)

  • Firman-Nya,

أَمَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَّا كَانَ لَكُمْ أَن تُنۢبِتُوا۟ شَجَرَهَآ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (Qs. an-Naml: 60)

(3) Firman-Nya,

وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

“Dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.”

(a) Jika seorang hamba sudah mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Dat yang berhak disembah, maka dia harus bertawakkal kepada-Nya dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah.

(b) Adapun makna (وَكِيلٌ) pada ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah Allah lah yang memelihara, mengawasi, mengatur, meberi rezeki pada hamba-Nya dan menjaga mereka sepanjang malam dan siang.

(c) Ayat di atas menggabungkan antara perintah beribadah dan tawakkal. Hal itu karena tawakkal adalah bentuk ibadah yang utama, dimana seorang hamba menyerahkan dirinya dan segala urusannya kepada Dzat yang dia yakini sebagai Tuhan yang disembahnya.

(d) Terdapat banyak ayat yang menjelaskan penggabungan antara perintah untuk beribadah kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Diantaranya adalah:

  • Firman-Nya,

فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Hud: 123)

  • Firman-Nya,

قُلْ هُوَ رَبِّى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ

“Katakanlah: “Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat”.” (Qs. ar-Ra’d: 30)

  • Firman-Nya,

رَّبُّ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذْهُ وَكِيلً

“(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (Qs. al-Muzzammil: 9)

 

Pelajaran (4) Allah Maha Lembut

لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ ٱلْأَبْصَٰرَ ۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-An’am: 103)

(1) Firman-Nya,

لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَٰرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.”

(a) Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang menyebutkan bahwa Allah adalah Wakil, yang selalu memelihara, mengawasi, mengatur dan menjaga manusia. Sedangkan pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah tidak terlihat oleh mata manusia. Pengawas dan pengatur yang tiudak terlihat seharusnya lebih ditakuti.

Jadi ayat ini memberi pesan bahwa orang yang beriman harus selalu merasa diawasi oleh Allah, Dzat yang tidak bisa dijangkau atau dilihat oleh mata manusia.

(b) Kata (تُدْرِكُ) berasal dari kata (دَرَكَ) yang berarti mencapai atau menjangkau sesuatu. jika demikian, bisa diartikan bahwa Allah tidak bisa dijangkau oleh mata (penglihatan) manusia atau panca indera lainnya. Bahkan tidak pula terjangkau oleh pikiran atau akal manusia.

Dalilnya adalah firman Allah,

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (Qs. asy-Syura: 11)

Oleh karenanya, al-Qurthubi mengartikan (الإدراك) yaitu meliputi dan membatasi.

Ringkasnya para ulama berbeda pendapat di dalam menafsirkan maksud dari firman-Nya (لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَٰرُ)

Pertama, maksudnya bahwa Allah tidak terlihat oleh mata di dunia, tetapi bisa terlihat di akhirat. Dalilnya sebagai berikut:

  • Firman-Nya,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ۞ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۞

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Qs.al-Qiyamah: 22-23)

  • Firman-Nya,

كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.” (Qs. al-Muthaffifin: 15)

  • Firman-Nya,

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Yunus: 26)

Menurut para sahabat, seperti: Abu Bakar ash-Shiddiq, Hudzaifah ibn al-Yaman, ‘Abdullah bin ‘Abbas, dan beberapa ulama tafsir, seperti: Mujahid, Ikrimah, ad-Dhahak, al-Hasan, Qatadah, dan as-Su’di, makna (الزيادة) pada ayat di atas adalah memandang wajah Allah.

  • Hadits Jarir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إنكم سترون ربكم كما ترون هذا القمر لا تضامون في رؤيته

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kedua, maksud ayat di atas bahwa Allah tidak akan terlihat oleh pandangan mata jika dia menampakkan diri dengan cahaya-Nya.

Ketiga, maksud ayat di atas bahwa Allah tidak akan bisa diliputi dan dibatasi oleh makhluk-Nya. Ini tidak menafi’kan bahwa Allah bisa dilihat dengan mata pada hari kiamat, tetapi pandangan itu tidak bisa meliputi dan mengetahui Allah yang sebenarnya.

  • Ini sebagaimana dalam firman-Nya,

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِۦ عِلۡمٗا

“Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (Qs. Thaha: 110)

  • Hal ini dikuatkan dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

لا أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك

Aku tidak bisa menghitung pujian atas-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji atas diri-Mu. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  • Suatu hari Ikrimah ditanya tentang ayat ini (Qs. al-An’am: 103), Ikrimah berkata, “Tidakkah engkau melihat langit?” Sang penanya menjawab, “Ya, saya melihatnya.” Ikrimah berkata, “Apakah semuanya terlihat?”

(2) Firman-Nya,

وَهُوَ يُدْرِكُ ٱلْأَبْصَٰرَ

“Sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan.”

(a) Berkata al-Baghawi, “Tidak ada yang tersembunyi dari Allah dan tidak ada yang luput dari-Nya.”

(b) Berkata az-Zujaj, “Ayat ini menunjukkan bahwa manusia tidak mengetahui hakikat penglihatan, bagaimana dia bisa melihat dan bagaimana proses sehingga dia bisa melihat dengan kedua matanya, dia tidak bisa melihat dengan anggota badan lainnya.

(c) Berkata Ibnu Katsir, “Dia meliputi makhluk-Nya dan mengetahui seluk beluknya. Hal itu karena semuanya adalah ciptaan-Nya, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya,

أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (Qs. al-Mulk: 14)

(3) Firman-Nya,

وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ

“Dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

(a) Kata (اللَّطِيفُ) berasal dari kata (لَطَفَ) yang berarti lembut, halus, kecil. Berkata al-Baghawi, “Asal makna (اللَّطْف) adalah teliti dalam mengamati sesuatu.”

Perkataan ulama tentang makna (اللَّطِيفُ) pada ayat ini, sebagai berikut:

  • Yang Maha Lembut sehingga tidak bisa dilihat.
  • Yang Maha Lembut kepada hamba-Nya.
  • Yang memberikan taufik dan perlindungan kepada hamba-Nya.
  • Yang memberikan cahaya di hatimu dengan hidayah, yang merawat badanmu dengan gizi, melindungimu di saat terkena musibah, menjagamu ketika engkau lengah, dan memasukkan dirimu ke dalam surga.
  • Yang melupakan dosa para hamba-Nya seupaya mereka tidak malu.
  • Yang menyampaikan sesuatu dengan lembut dan pelan.
  • Yang melimpahkan kepada hamba-Nya secara sembunyi dan pelan-pelan tanpa mereka ketahui dan menolong dengan cara-cara tak terduga.

(b) Kata (ٱلْخَبِيرُ) artinya mengetahui sesuatu secara detail dan mendalam.

Adapun penggabungan antara kedua nama tersebut (ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ) terdapat beberapa hikmah, diantaranya apa yang disebutkan oleh ar-Razi, yaitu:

  • Allah Maha Lembut kepada hamba-Nya dan dalam waktu yang sama Dia Maha Mengetahui secara detail seluruh kemaksiatan yang dilakukan hamba-Nya.
  • Allah Maha Lembut sehingga tidak bisa dijangkau oleh penglihatan, tetapi Dia Maha Mengetahui secara detail setiap yang lembut, dan tidak ada yang luput dari jangkauan-Nya.

 

***

Karawang, Jumat, 28 Juli 2023

KARYA TULIS