Tafsir An-Najah (Qs. 6:104-107) Tuduhan Kaum Musyrikin

قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ
“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).”
(Qs. al-An’am: 104)
Pelajaran (1) Rasulullah ﷺ Bukan Pengawas
Pada ayat-ayat sebelumnya telah dijelaskan dalil-dalil tentang ke-Esaan Allah, kesempurnaan kekuasaan-Nya dan keluasan ilmu-Nya. Maka pada ayat ini dijelaskan tentang risalah dan tugas Nabi Muhammad ﷺ yang menyampaikan wahyu Allah, sekaligus sebagai penguat hati beliau serta pujian kepada hidayah yang dibawa oleh beliau ﷺ.
(1) Firman-Nya,
قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ
“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang.”
(a) Kata (بَصَآئِرُ) jamak dari kata (بصيرة) yang artinya adalah cahaya yang dengannya hati bisa melihat atau sering disebut dengan “mata hati”. Ini sebagaimana kata (بَصَر) adalah cahaya yang dengannya mata bisa melihat atau dengan kata lain adalah penglihatan.
Ringkasnya bahwa (بصيرة) adalah penglihatan hati, sedangkan (بَصَر) adalah penglihatan mata.
(b) Adapun (بَصَآئِرُ) dalam ayat ini maksudnya dalah ayat-ayat al-Qur’an dan petunjuk-petunjuk-Nya yang dengannya seseorang bisa membedakan antara al-haq dan al-bathil (antara kebenaran dan kebatilan), dan dengannya seseorang dapat mengikuti jalan yang lurus.
(c) Al-Qurthubi menjelaskan bahwa petunjuk-petunjuk ini dikatakan “telah dating”, karena ia dianggap sesuatu yang besar dan agung. Ini seperti seseorang yang sangat diagungkan kemudian diberitakan bahwa ia akan datang.
(2) Firman-Nya,
فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ
“Barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.”
(a) Barangsiapa yang bisa melihat kebenaran dan mengetahuinya melalui petunjuk-petunjuk yang datang tadi, maka sungguh dia telah mengambil manfaat untuk dirinya dan telah menempuh jalan kebahagiaan di dalam hidupnya.
Sebaliknya, barangsiapa yang berpaling dari petunjuk-petunjuk tersebut dan tidak mau mempelajarinya, maupun tidak mengambil manfaat darinya, maka dia akan merugi sendiri. Dia telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kehidupan yang sengsara di dunia, dan akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat.
(b) Ayat di atas mirip dengan ayat-ayat lainnya di dalam al-Qur’an, diantaranya adalah:
- Firman-Nya,
إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (Qs. al-Isra’: 7)
- Firman-Nya,
مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (Qs. Fushshilat: 46)
- Firman-Nya,
مَّنِ ٱهۡتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهۡتَدِي لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡهَاۚ
“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri.” (Qs. al-Isra’: 15)
(3) Firman-Nya,
وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ
“Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).”
(a) Maksudnya bahwa saya (Nabi Muhammad ﷺ) bukanlah diutus sebagai pengawas untuk mengawasi amal kalian, dan juga bukan sebagai pemelihara untuk memelihara kalian dari kesesatan.
Tetapi tugasku adalah sebagai muballigh (penyampai) yang menyampaikan wahyu kepada kalian dan Allah lah yang memberikan petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.
(b) Sebagian ulama membagi ayat di atas menjadi dua bagian:
- Bagian yang merupakan tugas Rasulullah ﷺ yaitu menyampaikan risalah dan wahyu dari Allah. Inilah yang terkandung dalam firman-Nya,
قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ
- Bagian yang bukan tugas Rasulullah ﷺ tetapi menjadi pilihan manusia, apakah mau beriman kepada Rasulullah ﷺ dan apa yang dibawa beliau dari wahyu Allah, ataukah mau berpaling dan kufur terhadap beliau. Itu pilihan mereka. Dan itu terkandung dalam firman-Nya,
فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٖ
Pelajaran (2) Mereka Menuduh Nabi Muhammad ﷺ
وَكَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ وَلِيَقُولُواْ دَرَسۡتَ وَلِنُبَيِّنَهُۥ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ
“Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab)", dan supaya Kami menjelaskan al-Qur’an itu kepada orang-orang yang mengetahui.” (Qs. al-An’am: 105)
Pada ayat sebelumnya, telah dijelaskan tentang tugas Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan risalah dan wahyu dari Allah. Kemudian ayat ini menjelaskan syubhat yang dihembus-hembuskan oleh orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah ﷺ, bahwa apa yang beliau sampaikan hanyalah nukilan atau kutipan dari Ahlul Kitab, bukan wahyu dari Allah.
(1) Firman-Nya,
وَكَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ
“Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya orang-orang beriman mendapatkan petunjuk.”
Maksudnya bahwa Allah telah mengulang-ulang di dalam menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menunjukkan ke-Esaannya, baik yang di langit maupun di bumi, termasuk ayat-ayat yang terdapat di dalam al-Qur’an dengan tujuan agar orang-orang beriman mendapatkan petunjuk.
(2) Firman-Nya,
وَلِيَقُولُواْ دَرَسۡتَ
“Dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab)”.”
(a) Bahwa ayat-ayat yang terus diulang-ulang tersebut mengakibatkan orang-orang kafir Quraisy mengatakan kepada Nabi Muhammad ﷺ, “Engkau telah mempelajarinya dari Ahli Kitab dan Engkau telah menghafal dari mereka cerita-cerita orang-orang terdahulu. Ini bukan wahyu yang diturunkan Allah.”
(b) Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa kaum musyrikin berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ, “Engkau telah belajar dari Yasar dan Khoir, dua budak dari tawanan Romawi. Kemudian Engkau membacakan kepada kami dan Engkau mengklaim itu dari Allah.”
(c) Kata (دَرَسۡتَ) berasal dari kata (دَرَسَ) yang artinya mempelajari, membaca, dan mengulang-ulangi hingga hafal. Dahulu kata ini digunakan untuk menyebut orang yang menginjak-injak gandum secara terus-menerus sehingga menjadi lembut.
Dari situ muncul kata “madrasah” yaitu tempat untuk terus menerus membaca, mempelajari dan mengulang-ulang suatu ilmu sehingga dia menguasainya.
(d) Dalam membaca kata (دَرَسۡتَ) terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, yaitu:
- Mayoritas ulama membaca dengan bacaan (دَرَسۡتَ) yang artinya engkau telah mempelajarinya, sebagaimana dijelaskan di atas.
- Ibnu Katsir dan Abu ‘Amru membaca dengan bacaan (دَارَسۡتَ) terdapat tambahan huruf Alif, yang artinya engkau membacakan di depan orang Yahudi dan mereka membacakan di depanmu. Kemudian terjadi diskusi dan mudzakarah. Bacaan ini dikuatkan oleh firman-Nya,
وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ إِفۡكٌ ٱفۡتَرَىٰهُ وَأَعَانَهُۥ عَلَيۡهِ قَوۡمٌ ءَاخَرُونَۖ فَقَدۡ جَآءُو ظُلۡمٗا وَزُورٗا
“Dan orang-orang kafir berkata: "Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain"; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar.” (Qs. al-Furqan: 4)
- Ibnu Amir membaca dengan bacaan (دَرَسَتْ) yang artinya apa yang engkau baca ini sudah using dan ketinggalan zaman. Bacaan ini dikuatkan dengan firman Allah,
حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوكَ يُجَٰدِلُونَكَ يَقُولُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ
“Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” (Qs. al-An’am: 25)
(3) Firman-Nya,
وَلِنُبَيِّنَهُۥ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ
“Dan supaya Kami menjelaskan al-Qur’an itu kepada orang-orang yang mengetahui.”
(a) Berkata Ibnu Katsir, “Yaitu agar kami menerangkan al-Qur’an itu kepada orang-orang yang mengetahui kebenaran lalu mereka mengikutinya, dan yang mengetahui kebatilan lalu mereka menjauhinya.”
(b) Hal yang sama di sini juga disampaikan oleh al-Biqa’i, beliau berkata, “Maksud dan penjelasan tentang ayat-ayat al-Qur’an ini adalah orang-orang yang bodoh bertambah bodoh, dan orang-orang yang berilmu mendapatkan hidayah.”
(c) Ayat di atas mirip dengan firman Allah,
يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ
“Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk.” (Qs. al-Baqarah: 26)
- Qs. al-Hajj: 53
- Qs. al-Muddatstsir: 31
- Qs. al-Isra’: 31
- Qs. Fushshilat: 44
Pelajaran (3) Ikuti Apa yang Diwahyukan
ٱتَّبِعۡ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (Qs. al-An’am: 106)
Pada ayat yang lalu telah dijelaskan bagaimana orang-orang kafir menuduh bahwa al-Qur’an adalah ciptaan Nabi Muhammad ﷺ yang dipelajari dari orang-orang Yahudi, bukan wahyu dari Allah. Oleh karenanya, pada ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk tetap mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya.
(1) Firman-Nya,
ٱتَّبِعۡ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ
“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu.”
(a) Yaitu tetaplah engkau mengikuti apa yang diwahyukan kepadamu dari Rabbmu dan jangan bersedih dengan tuduhan-tuduhan mereka kepadamu.
Jadi ayat ini merupakan penghibur dan penguat hati Nabi Muhammad ﷺ supaya tidak bersedih dengan apa yang dituduhkan orang-orang kafir kepada beliau.
(b) Kata (ٱتَّبِعۡ) dari kata (تَبِع). Menurut Ibnu ‘Asyur, pada mulanya berarti mengikuti jejak orang yang berjalan, kemudian digunakan untuk menyebut orang yang beramal dengan mengikuti amal orang lain, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya,
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Qs. at-Taubah: 100)
Kemudian kata ini diartikan “mengikuti apa yang diperintahkan.”
(c) Adapun yang dimaksud ayat ini bukan sekedar perintah kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya saja. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu perintah untuk selalu dan secara terus menerus mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya. Dalam hal ini, penekanannya adalah perintah untuk tetap berdakwah menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an, mengajak mereka untuk masuk Islam dan ikut memperjuangkan agama ini sampai akhir hayat.
Pemilihan kata (رَبِّكَۖ) sebagai pengganti kata (الله) untuk memberikan pesan bahwa yang menurunkan wahyu adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, yang selalu merawat, dan membimbingmu setiap saat.
(2) Firman-Nya,
لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ
“Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia (Allah).”
Untuk menunjukkan bahwa inti dari wahyu adalah kalimat tauhid, dan inti dari dakwah adalah mengajak kepada tauhid, dan tujuan dari kehidupan ini adalah untuk menyembah Allah.
Berkata al-Biqa’i, “Tidak ada yang berhak diikuti perintahnya, kecuali Allah. Dan tidak ada yang bisa memberikan manfaat dan madharat, kecuali Allah.”
(3) Firman-Nya,
وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
“Dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”
Setelah perintah untuk mengikuti apa yang diwahyukan, yaitu Laa Ilaha Illallah (لا إله إلّا الله), kemudian diikuti dengan perintah untuk berpaling dari orang-orang musyrik. Artinya bahwa kesempurnaan tauhid itu terwujud dengan meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan para pelaku syirik.
Ini seperti firman Allah,
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu".” (Qs. an-Nahl: 36)
(b) Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang maksud “berpaling dari orang-orang musyrik” dalam ayat ini, diantaranya:
- Berkata al-Baghawi, maksudnya adalah jangan engkau berdebat dengan mereka.
- Menurut al-Biqa’i, maksudnya adalah tinggalkan dakwah kepada mereka, tetapi tetap terus berdakwah kepada yang lainnya. Karena terlalu berharap kepada keimanan mereka justru menambah para kesyirikan mereka.
- Maksudnya adalah menghindari untuk bertemu dengan mereka.
- Maksudnya adalah menghindari untuk bertemu dengan mereka, jika mereka bertindak bodoh. Tetapi di saat yang sama, Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk mencari cara lain agar dakwahnya bisa diterima oleh mereka.
Pelajaran (4) Kehendak Allah
وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكُواْۗ وَمَا جَعَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظٗاۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak memperkutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.” (Qs. al-An’am: 107)
Ketika oran-orang musyrik menuduh Nabi Muhammad ﷺ dengan berbagai tuduhan dan mereka tetap dalam kesyirikannya, tentu hal itu membuat Rasulullah ﷺ sedih. Maka ayat ini datang untuk menghibur beliau, yaitu jika Allah menghendaki niscaya mereka akan beriman, tetapi Allah berkehendak untuk menguji mereka.
(1) Firman-Nya,
وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكُواْۗ
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak memperkutukan(Nya).”
Kalau Allah berkehendak, tentunya mereka tidak akan melakukan kesyirikan dan mereka akan langsung beriman. Tetapi hal itu tidak dikehendaki Allah. Yang dikehendaki Allah adalah menguji dan mengajak mereka untuk beriman melalui kesadaran sendiri, setelah dipaparkan kepada mereka bukti-bukti nyata tentang ke-Esaan Allah yang ada di alam raya ini dan diutusnya para rasul kepada mereka.
Setelah itu maka tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk mengatakan, “Kalau Allah berkehendak tentunya kami tidak akan melakukan kesyirikan.” Sebagaimana yang tersebut di dalam firman-Nya,
سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَيۡءٖۚ
“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” (Qs. al-An’am: 148)
(2) Firman-Nya,
وَمَا جَعَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظٗاۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ
“Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.”
(a) Dan Kami tidak menjadikan engkau sebagai pengawas yang mengawasi amal perbuatan mereka, kemudian memberikan sanksi atau ganjaran atasnya. Dan engkau bukanlah sebagai (وَكِيلٖ) yaitu orang yang diserahi tugas untuk memelihara rezeki dan urusan mereka. kewajibanmu hanyalah menyampaikan apa yang diwahyukan Allah kepadamu.
(b) Hal ini sesuai dengan firman Allah,
فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظًاۖ إِنۡ عَلَيۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُۗ
“Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (Qs. asy-Syura: 48)
Juga dikuatkan di dalam firman-Nya,
فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ ۞ لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ ۞
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (Qs. al-Ghasyiyah: 21-22)
Juga di dalam firman-Nya,
فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ وَعَلَيۡنَا ٱلۡحِسَابُ
“Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” (Qs. ar-Ra’du: 40)
***
Karawang, Senin, 31 Juli 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-78
Lihat isinya
Lihat isinya »