Karya Tulis
20791 Hits

Dzikir Ba'da Sholat

Saya membaca di internet mengenai bid'ah. Pertanyaan saya, apakah benar menyapu/mengusap muka selepas doa adalah bida’h?

Jawaban :

Setelah diteliti, ternyata tidak ada riwayat dari Rosulullah saw bahwa beliau mengusap muka sesudah berdo’a. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak usah mengusap muka sesudah berdo’a karena tidak dalilnya.

Adapun hadist yang berbunyi :

فإذا فرغتم فامسحوا بها وجوهكم

“ Jika kalian selesai ( berdo’a ), maka usaplah wajah kalian. “ ( HR Abu Daud )

Hadist di atas adalah hadist dho’if karena di dalamnya ada rowi yang majhul ( tidak diketahui ), sehingga hadist tersebut tidak dapat dijadikan hujjah dalam hal ini.

Begitu juga hadist yang berbunyi :

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دعا فرفع يديه مسح وجهه بيديه

“ Sesungguhnya Rosulullah saw jika berdo’a mengangkat tangannya dan mengusap mukanya dengan kedua tangannya “ ( HR Abu Daud )

Hadist di atas juga lemah, karena di dalamnya ada rowi yang lemah, yaitu Abdullah bin Lahi’ah, sehingga hadist tersebut tidak dapat dijadikan hujjah dalam hal ini.

 

Apakah benar mengeraskan bacaan doa juga bida’h?

Do’a mempunyai adab-adabnya, diantaranya adalah berdo’a sedang-sedang saja, yaitu tidak terlalu mengeraskan suara juga tidak terlalu pelan, sehingga tidak keluar suaranya. Dalilnya adalah firman Allah swt :

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“ Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. “ ( Qs Al A’raf : 55 )

Begitu juga hadist yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al Asy’ari, bahwasanya Rosulullah saw bersabda :

أيها الناس أربعوا على أنفسكم إنكم لا تدعون أصم ولا غائبا إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم

“ Wahai manusia, pelan-pelanlah ( dalam berdo’a ) sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Dzat Yang tuli dan bukan pula yang ghoib, akan tetapi kalian berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia selalu bersama kalian “ ( HR Bukhari dan Muslim )

Bagaimanakah posisi tangan yang benar saat berdoa?

Jawaban :

Di sunnahkan di dalam berdo’a untuk mengangkat tangan ke atas, diantara dalilnya adalah hadist-hadist di bawah ini :

  1. Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari bahwasanya ia berkata :

دعا النبي صلى الله عليه وسلم ثم رفع يديه و رأيت بياض إبطيه

“ Bahwasanya nabi Muhammad saw berdo’a kemudian mengangkat tangannya dan saya sempat melihat putihnya ketiak beliau “ ( HR Bukhari )

  1. Diriwayatkan dari Salman Al Farisi ra., bahwa Rasulullah saw bersabda :

إن ربكم حيي كريم يستحي من عبده إذا رفع إليه يديه أن يردهما صفرا

“Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu dan Pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya apabila mengangkat kedua tangan untuk berdoa lalu mengembalikannya dengan tangan hampa” (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi )

  1. Hadist yang menyebutkan bahwa mengangkat tangan adalah salah satu sebab dikabulnya do’a :

ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يا رب يا رب ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغُذِي بالحرام فأنى يستجاب له

“ Yaitu seorang laki-laki yang lusuh berdebu mengangkat tangannya ke langit, sambil berdo’a ya Rabb, Ya Rabb, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi gizi yang haram, bagaimana mau dikabulkan do’anya ? ( HR Muslim )

Bolehkah kita berdoa setelah melakukan dzikir setelah shalat? Dan apakah hal itu dianjurkan? Soalnya saya pernah dengar bahwa Rasulullah saw hanya berdzikir setelah shalat, tidak berdoa.

Jawaban :

Memang benar, bahwa riwayat-riwayat yang ada menyebutkan bahwa Rasulullah saw hanya berdzikir setelah shalat, dan tidak berdoa. Namun walaupun begitu tidak ada larangan untuk berdo'a habis sholat, karena berdo'a itu dianjurkan kapan saja dan dimana saja. Hanyasaja yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai dia menyakini bahwa do'a sehabis sholat adalah sunnah Rosulullah saw. Oleh karenanya, jika ingin berdo'a sehabis sholat hendaknya dilakukan kadang-kadang saja dan tidak terus menerus, khawatir dianggap oleh orang awam bahwa hal itu sunnah.

Apa saja yang harus dilakukan imam setelah shalat?

Jawaban :

1/ Imam setelah mengucapkan salam, hendaknya duduk sejenak, sebagaimana yang terdapat di dalam hadist Aisyah r.a bahwasanya ia berkata : “ Bahwasanya nabi Muhammad saw setelah mengucapkan salam, tidaklah duduk kecuali selama waktu mengucapkan :

اللهم أنت السلام منك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام

“ Ya Allah Engkau Maha Sejahtera dan dari-Mu kesahteraan itu berasal, Maha Suci Engkau, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan. “ ( HR Muslim )

2/ Setelah itu hendaknya dia menghadapkan wajahnya kepada para jama’ah secara lurus, dalilnya adalah hadist Samurah bin Jundab r.a bahwasanya ia berkata :

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا صلى صلاة أقبل علينا بوجهه

“ Nabi Muhammad saw jika sudah selesai mengerjakan sholat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami . “ ( HR Bukhari )

Boleh juga menghadap wajahnya ke makmum dengan berpaling sedikit ke kanan, atau ke kiri. Dalilnya adalah hadist Anas bin Malik ra, bahwasanya ia berkata :

أما أنا فأكثر ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ينصرف عن مينه

“ Aku sering melihat Rosulullah saw berpaling ke sebelah kanan beliau . “ ( HR Muslim )

 

Adapun berpaling sebelah kiri, sebagaimana hadist Abdullah bin Mas’ud r.a bahwasanya ia berkata :

أكثر ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ينصرف عن شماله

“ Sesungguhnya aku melihat nabi Muhammad saw banyak berpaling ke sebelah kiri . “ ( HR Muslim )

3/ Setelah itu hendaknya dia membaca dzikir – dzikir ba’da sholat, sebagaimana yang akan diterangkan nanti.

Ustaz, selama ini saya membaca zikir sebagaimana imam di desa saya melafalkannya bersama-sama setiap habis shalat. Saya tidak tahu arti dan dalilnya sehingga saya sering ragu. Tolong ustaz, beritahu saya dzikir yang dibaca nabi setelah shalat.

Jawaban :

Dzikir – dzikir ba’da sholat yang diajarkan nabi Muhammad saw sangat banyak diantaranya adalah sebagai berikut :

1- Membaca istighfar 3 kali

2- Membaca :

اللهم أنت السلام منك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام

“ Ya Allah Engkau Maha Sejahtera dan dari-Mu kesahteraan itu berasal, Maha Suci Engkau, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan. “ ( HR Muslim dari hadist Tsauban )

3- Membaca :

لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير اللهم لا مانع ما أعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد منك الجد

“ Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemulian itu bagi pemikiknya. Hanya dari-Mu kekayaan dan kemulian. “ ( HR Bukhari dan Muslim dari hadist Mughirah bin Syu’bah )

4. Membaca : “ “ subhanallah “ sebanyak 33 kali, “ alhamdulillah “ 33 kali, “ Allahu Akbar “ 33 kali .

5. Membaca :

لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

Dalilnya adalah hadist Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rosulullah saw :

من سبح الله في دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين وحمد الله ثلاثا وثلاثين وكبر الله ثلاثا وثلاثين فتلك تسعة وتسعون وقال تمام المائة ( لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير ) غفرت خطاياه وإن كانت مثل زبد البحر

“ Barang siapa mengucap setiap selesai sholat : “ subhanallah “ sebanyak 33 kali, “ alhamdulillah “ 33 kali, “ Allahu Akbar “ 33 kali, itulah 99 kali, kemudian mengucapkan sebagai penggenap bilangan 100 :” Lailaha Illallah wahdahu la syarikalahu lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir “

Maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih lautan “ ( HR Muslim )

6. Membaca : Ayat Kursi

Dalilnya adalah hadist Abu Umamah r.a, bahwasanya Rosulullah saw bersabda :

من قرأ آية الكرسي في دبر كل صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة الا ان يموت

“ Barang siapa membaca ayat kursi setiap habis sholat fardhu, maka tidak ada yang menghalanginya untuk masuk syurga kecuali kematian. “ ( Hadist Shohih Riwayat Nasai dan Baihaqi )

7. Membaca :

اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

“ Ya Allah bantulah aku untuk selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu. “ ( Hadist Shohih Riwayat Abu Daud dan Nasai dari hadist Mua’adz bin Jabal )

8. Membaca :

اللهم إني أعوذ بك من البخل أعوذ بك من الجبن وأعوذ بك أن نرد إلى أرذل العمر

وأعوذ بك من فتنة الدنيا وعذاب القبر

“ Ya Allah Aku benar-benar berlindung kepada-Mu dari kebakhilan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikannya kepada usia yang terhina, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan akherat. “ ( HR Bukhari dari hadist Sa’ad bin Abi Waqqas )

Bagi seorang imam, mana yang lebih afdhal antara membaca wirid setelah shalat dan membaca secukupnya saja lalu beranjak?

Jawaban :

Bagi seorang imam setelah sholat sebaiknya menghadap wajahnya kepada jama’ah, kemudian membaca wirid secukupnya, sebagaimana yang telah diterangkan di atas. Kemudian setelah itu segera beranjak setelah dirasa para jama’ah perempuan sudah beranjak terlebih dahulu.

Saya melihat ada seorang perempuan selalu bersujud setiap kali selesai sholat. Apabila seorang kawannya bertanya, dia mengatakan bahwa dia sudah terbiasa untuk sujud syukur setiap kali selesai solat. Kawannya mengatakan bahwa hal itu bid’ah dan bertentangan dengan kata Nabi, ‘Shalatlah kamu sebagaimana aku solat.’ Menurutnya, ia tidak mengubah apa-apa dalam shalat. Ia hanya sujud selepas salam dan tidak pernah menyuruh orang lain untuk melakukannya. Bagaimana ini ustaz?

Jawaban :

Pertama kali harus diketahui bahwa sujud syukur secara umum adalah sesuatu yang diperintahkan di dalam Islam. Dalilnya adalah hadist Abu Bakrah ra, bahwasanya ia berkata :

أن النبى -صلى الله عليه وسلم- كان إذا أتاه أمر يسره أو يسر به خر ساجدا شكرا لله تبارك وتعالى

“Bahwasannya Nabi jika datang kepadanya suatu perkara yang menggembirakan atau gembira dengannya, maka dia merebah sujud syukur terhadap Allah tabaraka wa ta’ala” ( Hadist Shahih Riwayat Ibnu Majah)

Untuk masalah hukum sujud syukur setiap habis sholat, maka ada rinciannya sebagai berikut :

  1. Jika ia melakukan itu hanya karena kebiasaan dan faktor kebetulan saja, tanpa diserati menyakini bahwa sujud syukur harus dilakukan sehabis sholat, tetapi boleh dilakukan kapan saja ketika dia mendapatkan nikmat dari Allah swt, maka hal ini dibolehkan.
  2. Jika ia melakukan hal itu dengan keyakinan bahwa sujud syukur setiap habis sholat adalah sunah Rosulullah saw, maka perbuatan seperti ini adalah bid'ah yang harus ditinggalkan.