Karya Tulis
3036 Hits

Keajaiban Air Dalam Kisah Thalut


فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَّ مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُواْ مِنْهُ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ قَالُواْ لاَ طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو اللّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللّهِ وَاللّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." ( Qs Al Baqarah : 249 )

Saya terinspirasi dengan ayat di atas, ketika sedang mengisi Tabligh Akbar dengan tema “ Membuka Blokade Gaza “ di Islamic Centre, Bandar Lampung, tepatnya pada tanggal 1 Muharam 1432 H/ 7 Desember 2010, yang sekaligus mensosialisasikan rencana pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza.

Ketika saya menyampaikan kepada jama’ah yang hadir bahwa di dalam berjihad di jalan Allah, kita memerlukan dana yang banyak untuk pembiayaan perang supaya kita menang. Pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta menanyakan tentang penafsiran ayat di atas dan relasinya dengan dana yang banyak untuk keperluan perang. Sang penanya mengatakan bahwa ayat di atas menunjukkan bahwa yang minum sedikit justru menang sedang yang minum banyak malah kalah. Seakan-akan ia ingin mengungkapkan bahwa yang punya harta sedikit justru menang dan yang punya harta banyak justru kalah.

Pada waktu itu saya – dengan taufik dari Allah swt - menjawab bahwa ayat itu menunjukan pentingnya tarbiyah nafsiyah ( pendidikan untuk mengekang jiwa dari hal-hal yang dilarang oleh Allah swt ) dan pentingnya pelatihan untuk bisa mengendalikan hawa nafsu sebelum terjun dalam peperangan fisik dengan musuh. Siapa saja yang mampu menahan hawa nafsunya, Insya Allah akan menuai kemenangan, sebaliknya orang yang terbiasa mengumbar hawa nafsunya, maka dia akan mengalami kekalahan di dalam perang. Dan alhamdulillah, Al Kaya al Harasi di dalam tafsirnya Ahkamul Qur’an juga menyebutkan keterangan yang serupa.

Alasan kedua yang saya sampaikan dalam majlis itu adalah bahwa di dalam perjalanan yang jauh dan panas ( khususnya ketika berjalan kaki dengan jarak tempuh yang jauh ), seseorang hendaknya jangan terlalu banyak meminum air, karena akan menyebabkan dia lemah sehingga jalannya menjadi lambat dan tidak lincah, bahkan menyebabkan dia tidak bisa melanjutkan perjalanan. Hal ini, saya alami sendiri, ketika masih muda dan sering melakukan  perjalanan malam dengan jalan kaki dengan jarak tempuh 30- 40 km, ketika saya banyak minum, maka menjadi malas berjalan, tetapi ketika hanya minum sedikit atau sekedarnya, justru kekuatan untuk berjalan itu menjadi  penuh.

Di dalam tafsir al Kaya al Harasi ( 1/ 164 ) disebutkan : “ Mereka langsung menyerbu sungai setelah mereka kehausan yang amat sangat, kebanyakan mereka menyebur ke sungai dan mereka minum sebanyak-banyaknya “

Saya terkesan dengan pernyataan al Kaya al Harasi di atas khususnya kata-kata : “ Setelah mereka kehausan yang amat sangat “. Menurut yang saya ketahui, bahwa seseorang kalau haus sekali, apalagi di bawah terik matahari, dia tidak boleh langsung minum banyak, apalagi air es, karena akan membahayakan kesehatan. Penjelasannya  adalah dalam keadaan cuaca panas, maka suhu tubuh kita juga ikut panas, jika dia langsung minum air es, seakan-akan memadamkan bara api. Sehingga banyak orang yang minum air es banyak-banyak pada waktu udara panas, tenggorakannya akan kering dan terluka.

Minum air es dalam keadaan udara panas, akan menyebabkan perut terasa keram atau kejang. Minum air es akan mengubah irama atau tata cara kerja alat di dalam tubuh, terutama perut. Akibatnya adalah timbulnya sedikit gas dalam perut yang bisa membuat perut buncit .

Yang menarik adalah pernyataan sebagian kalangan bahwa terlalu sering minum air dingin, akan menyebabkan kegemukan, khususnya setelah makan. Apakah pernyataan ini benar atau sekedar mitos ? Saya cenderung membenarkannya, karena air es yang kita minum setelah makan akan membekukan makanan berminyak yang sedang kita santap, begitu juga makanan yang berlemak.   Lemak itu akan terbentuk dalam usus dan akan mengakibatkan sempitnya saluran-saluran pencernaan kita. Jika lemak berkumpul maka akan mengakibatkan kegemukan.

Sebagian orang menjelaskan  jika air es yang diminum banyak dengan kondisi lambung ada makanan, maka energi yang dibutuhkan akan terpecah untuk menghangatkan air dan memetabolisme makanan, di samping itu metabolisme yang optimal terjadi pada suhu yang cukup panas, bukan pada suhu air es, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa metabolisme yang terjadi tidak optimal dan terhambat. Terhambatnya metabolisme ini, akan memperlambat kerja saluran cerna, dan bisa menyebabkan penimbunan lemak di bawah perut sedikit demi sedikit. Kegemukan rentan terkena penyakit jantung.

Maka, justru yang dianjurkan adalah minum air hangat setelah makan . Karena air panas akan mencairkan segala makanan berlemak sehingga mudah diserap tubuh. Bahkan selama ini, saya berkeyakinan  ketika suhu udara panas, sebaiknya minum air hangat, atau paling tidak air biasa, yang penting bukan air es. Dari pengalaman tersebut, alhamdulilah saya tidak pernah merasakan sakit. Keyakinan saya tersebut, ternyata didukung oleh dr.  Slamet Iman Santoso, ahli penyakit dalam, yang menyatakan bahwa orang akan lebih sehat apabila segala sesuatu yang dimakan atau diminum mendekati suhu tubuh. Dengan demikian, seluruh sistem pencernaan tidak terlalu repot untuk menyesuaikan dengan suhu makanan yang masuk. Ternyata minum air hangat setelah makan juga merupakan kebiasaan masyarakat Jepang.

Pada musim haji, saya sering melihat kebanyakan jama’ah haji, ketika suhu udara panas, mereka lebih senang membeli air mineral yang disimpan di air kulkas. Hampir kebanyakan manusia melakukan hal tersebut, sampai-sampai ketika berada di Mina, sangat susah saya mencari air mineral yang tidak diberi es. Maka, tidak kaget, ketika jama’ah haji pulang ke Indonesia, mereka pada jatuh sakit, ada yang tenggorakannya kering, ada yang batuk-batuk, pilek, masuk angin, bengkak mulut dan kaki mereka dan lain-lain. Ini akibat tidak seimbangnya antara suhu udara yang begitu panas, dengan air es yang mereka minum. Yang lebih ironis lagi, bahwa air zamzam yang ditaruh di Masjid Haram Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah, hampir semuanya dicampur dengan es yang sangat banyak, sangat sedikit yang tidak dicampur dengan air es, kalau ada sepuluh galon besar, maka hanya satu yang tidak dicampur es, atau bahkan sering semuanya sudah dicampur air es. Inilah yang menyebabkan sebagaian jama’ah haji jadi tidak sehat, karena terlalu banyak mengkomsumsi air yang dicampur dengan es.

Saya juga pernah punya teman satu kamar sewaktu saya kuliyah di Al Azhar, Kairo, Mesir pada tahun 2000-an. Teman saya itu hobinya minum air dari kulkas, bahkan dari prizer. Dia tidak bisa minum, kecuali dengan air es. Akibatnya, teman tadi sering jatuh sakit, dan badannya sangat lemah, jika saya menyentuh bagian punggungnya saja, dia akan menjerit kesakitan. Barangkali tulangnya kropos akibat es dan udara yang dingin Mesir.

Hal lain yang menarik perhatian saya dalam kisah Thalut di atas adalah bahwa tentara Jalut yang sangat kehausan tersebut, ketika melihat air sungai yang begitu banyak mereka langsung minum air tersebut dalam jumlah yang banyak, dan biasanya dalam keadaan seperti ini, mereka minum dengan sangat tergesa-gesa alias secara cepat. Ternyata cara minum seperti ini, selain menimbulkan efek negatif sebagaimana disebutkan di atas, juga bisa menyebabkan keracunan air yang bisa menyebabkan kematian. Hal ini pernah dialami Jennifer Strange (28 tahun) yang ditemukan meninggal tahun 2007 di rumahnya California beberapa jam setelah menjadi kontestan minum air paling banyak tanpa ke kamar mandi. Sebagaimana dikutip oleh detikhealth.com, dari otopsi awal yang dilakukan, Strange diketahui meninggal akibat mengonsumsi air terlalu banyak dan cepat sehingga menyebabkan kondisi yang dikenal dengan keracunan air (water intoxication).

Seperti dikutip dari Howstuffworks, Jumat (23/4/2010) pada dasarnya keracunan air terjadi bila seseorang mengonsumsi terlalu banyak air, sehingga nutrisi lain di dalam tubuh menjadi terlarut yang mengakibatkan zat tersebut tidak bisa lagi melakukan tugasnya dengan baik.  Keracunan air juga mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit yang mempengaruhi konsentrasi ion natrium dan memicu terjadinya hiponatremia.Elektrolit adalah garam ion sederhana yang digunakan oleh sel untuk memindahkan cairan serta pesan saraf yang masuk dan keluar dari sel di seluruh tubuh. Tanpa elektrolit, maka tubuh tidak dapat berfungsi.

Ketika seseorang meninggal akibat keracunan air, maka biasanya dimulai dengan ketidakseimbangan akut ion natrium yang mengakibatkan kerusakan sel besar.Sel akan menjaga kadar natrium agar tetap sehat dengan menggerakkan air serta elektrolit masuk dan keluar sel, baik untuk melarutkan atau meningkatkan kadar natrium dalam cairan tubuh. Tapi saat seseorang minum dalam jumlah banyak dan cepat serta air yang dikonsumsi tidak mengandung tambahan elektrolit, maka sistem pemeliharaan sel tidak dapat menangani tingkat pengenceran natrium yang terjadi.

Hasilnya adalah sel-sel ini akan berusaha mati-matian untuk mencoba meningkatkan konsentrasi natrium dalam cairan tubuh. Beberapa sel akan membengkak tapi sel lainnya tidak, akibatnya sel-sel otak ini akan terhambat oleh tengkorak dan tekanan dari air yang masuk akan semakin besar. Hal inilah yang bisa mengakibatkan kerusakan fatal.  Untuk atlet lari jarak jauh memiliki risiko ini, sehingga seringkali dihindari, dengan cara mengonsumsi minuman olahraga dan bukan air putih selama latihan atau perlombaan. Konon kontes semacam ini pernah menewaskan juga seorang mahasiswa di Northern California, Matthew Carrington (21), dua tahun lalu. Dia pun tewas karena mabuk air.

Saya tidak bisa berkomentar atas kejadian tersebut, kecuali mengucapkan subhanallah, Maha Suci Allah…Yang telah menjelaskan hal ini 14 abad yang lalu, ketika menceritakan kisah tentara Thalut yang meminum air banyak-banyak dan secara tergesa-gesa. Dalam hal ini, Allah juga melarang kita makan dan minum secara berlebih-lebihan :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” ( Qs Al A’raf : 31 ) 

Cipayung, Jakarta Timur, 3 Muharram 1432 H/ 9 Desember 2010 M

Dr. Ahmad Zain An Najah, MA