Karya Tulis
13339 Hits

Pengaruh Ketenangan Jiwa Dalam Penyembuhan Stroke


الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

“ Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. “ ( Qs Ar Ra’du : 28 )

Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Islam sangat memperhatikan kesehatan rohani dan jasmani sekaligus. Perhatiaannya terhadap ketenangan dan ketentraman jiwa jauh lebih besar dari kesehatan badan dan anggota tubuh lainnya. Karena kesehatan dan ketentraman jiwa merupakan kunci dan faktor yang sangat penting untuk meraih kesehatan jasmani. Bahkan keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karenanya, kita dapatkan Rasulullah saw yang berhati tenang dan tentram jarang menderita sakit, begitu  juga para sahabat dan para pengikutnya sampai hari kiamat.

Hal ini dikuatkan dengan pernyataan WHO  tahun 1947 yang menyebutkan bahwa : “ Sehat  adalah suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial, serta tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan”. Bukan itu saja, Negara Indonesia telah mengeluarkan Undang-Undang No.23, tahun 1992 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa : “Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi.”

 

Kedua : Salah satu sifat orang yang beriman adalah hati mereka selalu tentram dan tenang. Hal itu karena mereka menyakini bahwa seluruh yang terjadi di dalam kehidupan dunia ini pasti atas kehendak dan izin Allah swt. Mereka juga menyakini bahwa tidak ada yang bisa memberikan manfaat dan mudharat secara mutlak kecuali Allah swt. Mereka hanya menyembah, bertawakkal, menggantungkan segala sesuatu, memohon, meminta pertolongan, meminta kesembuhan ketika sakit, memohon rizqi hanya kepada Allah swt saja.

Oleh karenanya, mereka tidak khawatir dengan masa depan dan tidak sedih dengan kejadian yang sudah berlalu. Sehingga dalam hidup mereka dipenuhi dengan semangat dan optimis serta tidak pernah putus asa. Allah swt berfirman :

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. “ ( Qs Yunus : 62-63 )

Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) bahwa stress adalah “ suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang akan menimpanya.”  Artinya bahwa orang yang stres perasaanya selalu cemas, takut dan tidak pernah tenang di dalam hidupnya. Keadaan seperti ini akan menggerakkan, menyiagakan serta membuat aktif organisme dalam tubuh.

Virgil Brown, M.D., pimpinan American Heart Association dan profesor ilmu kedokteran pada Emory University di Atlanta, menyebutkan bahwa stroke dimulai dari pengerasan arteri atau yang disebut juga sebagai arteriosklerosis. Arteriosklerosis ini muncul akibat dari gaya hidup modern yang penuh stress.

Kenapa stres bisa menyebabkan stroke ?  Karena stres bakal memicu naiknya tekanan darah dan menaikkan kolesterol dalam darah. Kondisi inilah yang membuat pembuluh darah menjadi tersumbat. Stres yang berkepanjangan juga cenderung menyebabkan rasa lelah, depresi, rasa kantuk, meningkatnya kepekaan akan rasa sakit, sakit kepala, demam, dan perasaan kehilangan tenaga.

Menurut Dr. Selye bahwa  seseorang yang merasa terancam, maka tingkat alarm dalam tubuhnya akan menjadi aktif, yaitu  dengan cara mengaktifkan kelenjar, merangsang sistem saraf otonom, lalu hormon – hormon dilepaskan kedalam darah, yang kemudian akan merangsang kelenjar adrenal dan mengeluarkan hormon kelenjar adrenalin dan kortisol ke dalam sistem tubuh. Hal itu,  membuat posisi tubuh kita berada dalam kondisi siap bertempur dan waspada penuh dengan ancaman dari luar, sehingga ada peningkatan kemampuan untuk menahan rasa sakit, mempertahankan aliran darah dan denyut jantung.

Setelah itu, organisme di dalam tubuh akan menyesuaikan diri dengan penyebab stress. Maka, terjadilah kekebalan secara aktif maupun pasif, kemudian jantung berdenyut kencang dan seluruh kepekaan meningkat tajam. Ketika masalah selesai,  maka denyut jantung seketika melambat, dan keletihan mulai terasa. Jika tingkat keletihan berlangsung lama dan secara terus -  menerus, maka munculah penyakit Hipertensi, Tukak lambung, Encok, Asma, Alergi, Jantung dan lain – lain, dan tidak sedikit yang berujung pada Stroke.

Oleh karena itu, orang – orang beriman yang hatinya selalu tenang dan tentram serta selalu optimis di dalam menghadapi masa depan, maka insya Allah akan terhindari dari penyakit-penyakit di atas, terutama penyakit stroke.

Ketiga : Salah satu cara yang paling efektif agar hati menjadi tenang dan tentram adalah dengan selalu mengingat Allah swt. Mengingat Allah swt di sini tidak sekedar mengucapkan dzikir atau do’a-do’a tanpa merenungkan artinya. Betapa banyak orang yang setiap harinya berdzikir dan berdo’a serta membaca al-Qur’an, tetapi hati mereka tetap saja tidak tenang dan tentram. Buktinya, banyak dari mereka yang goncang hidupnya, tidak sabar di dalam menghadapi berbagai ujian dan tantangan, selalu mengeluh dengan keadaan, pikiran dan jiwa mereka stress dengan masalah-masalah keduniaan yang sangat remeh. Akhirnya mereka jatuh sakit karena tidak bisa istirahat dan tidur nyenyak, bahkan tidak sedikit yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa berdzikir dan mengingat Allah pada ayat di atas maksudnya adalah mengingat Allah sambil menyakini bahwa Allah swt satu-satu Dzat Yang bisa memberi manfaat dan mudharat secara mutlak,  berdzikir kepada Allah sambil menyelami betapa besar nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepadanya, sehingga dzikir seperti itu menumbuhkan rasa syukur yang mendalam dari hati nuraninya terhadap nikmat-nikmat tersebut. Rasa puas dan syukur terhadap apa yag diberikan Allah kepadanya membuat hatinya selalu tenang dan tentram, walaupun dia menghadapi berbagai masalah di dalam kehidupan ini.

Dalam suatu penelitian disebutkan bahwa sebagian orang yang terkena stroke setelah rajin membaca dan mendengar bacaan al Qur’an secara rutin, didapatkan memori verbalnya meningkat sebanyak 60 persen. Artinya bahwa ketenangan jiwa saat membaca al Qur’an mampu meringankan orang yang menderita sakit stroke.  Hal itu dikarenakan  hati yang tenang bisa menggerakkan lebih banyak lagi mekanisme umum dalam tubuh yang akan memperbaiki dan memperbaharui jaringan syaraf otak pasca serangan stroke.

Keempat : Berdzikir kepada Allah dianjurkan setiap saat, dalam keadaan apapun juga.  Mulai bangun tidur, masuk dan keluar kamar mandi, makan dan minum, menyisir rambut, bercermin dan memakai baju, masuk dan keluar rumah, ketika terdengar suara petir, hujan turun, naik kendaraan, sampai ketika kembali mau tidur semuanya ada dzikir tersendiri yang setiap muslim dianjurkan untuk membacanya. Semuanya itu dimaksudkan agar kehidupan orang beriman terbentengi dengan dzikir dan mengingat Allah swt. Karena syetan bergentanyangan di mana-mana, mencari celah ketika manusia lengah dari mengingat Allah, maka pada waktu itu dia masuk ke dalam tubuhnya, mengganggu pikirannya, membuat resah jiwanya, mengobarkan hawa nafsunya, sampai dia terjerumus di dalam kesesatan, kebodohan serta kebinasaan di dunia dan akherat.

Oleh karenanya, dizkir adalah “Hishnu al Muslim”, yaitu benteng orang muslim dari serangan dan gangguan syetan. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa dzikir juga sebagai benteng orang beriman dari berbagai serangan penyakit, virus dan bakteri yang mengelilinginya.

Kelima : Jiwa yang tenang adalah jiwa yang tidak mudah emosi atau marah. Dia akan berusaha untuk mengendalikan emosinya walaupun dia mampu meluapkannya, tetapi justru yang dia pilih adalah memaklumi dan memaafkan. Allah berfirman menerangkan sifat orang yang bertaqwa:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” ( Qs Ali Imran : 134 )  

Marah dapat mempengaruhi aliran darah, kinerja jantung, dan dapat memicu penyakit stroke. Bahkan ditengarai sebagian besar pencetus stroke adalah berasal dari rasa marah. Stroke sendiri saat ini prevalensinya terus meningkat dan menduduki peringkat ke-3 penyebab kematian manusia. Dari sebuah penelitian yang melibatkan  1.000 orang yang memiliki riwayat jantung. Ketika diuji dengan hanya mengingatkan penyebab mengapa mereka menjadi marah saja, tekanan darah mereka langsung meningkat dan  5 – 10% aliran darah mereka dapat berkurang, keadaan seperti ini rentan terkena stroke.

Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang tenang dengan selalu mengingat Allah setiap saat, dan mudah-mudahan kita dihindari dari berbagai penyakit, termasuk di dalamnya penyakit stroke.

Jakarta,  20 Duzlhijjah 1413 / 26 Nopember 2010

Dr. Ahmad Zain An Najah, MA