Karya Tulis
27756 Hits

Hukum Menggunakan Kartu Kredit

Pada akhir-akhir ini, banyak kaum muslimin yang menggunakan kartu kredit di dalam melakukan transaksi jual beli, karena kartu tersebut dirasa lebih efesien, aman dan praktis dibanding kalau membawa uang tunai kemana-mana. Namun yang menjadi pertanyaan adalah : apa sebenarnya kartu kredit itu, ada berapa macam, bagaimana hukum menggunakan kartu kredit tersebut, karena sebagian kalangan menyatakan haram karena di dalam kartu tersebut terdapat unsur riba, sebagian yang lain mengatakan sebaliknya bahwa kartu kredit tersebut halal secara mutlak dan tidak ada unsur riba. Bagaimana sebenarnya ?

Defini Kartu Kredit :

Secara etimologi bahasa Arab, kartu kredit disebut dengan Bithaqah al Al I’timan, Kata bithaqah berarti kartu, atau potongan kertas kecil. Adapun al I’timan berarti  sesuatu yang dalam kondisi aman dan saling percaya. Dinamakan demikian karena dengan memegang kartu kredit tersebut, merasa aman kemana-mana tanpa harus susah payah membawa uang yang banyak, karena nilai uang tersebut sudah berada di dalam kartu tersebut. [i]Atau disebut demikian, karena yang meminjamkan uang merasa aman dan percaya kepada pemegang kartu, yang nanti dia akan membayar hutang-hutangnya dikemudian hari.

Adapun pengertian kartu kredit secara terminologi adalah kartu yang dikeluarkan oleh pihak bank dan sejenisnya yang dapat digunakan oleh pembawanya untuk membeli segala keperluan dan barang-barang serta pelayanan tertentu secara hutang. [ii]

MACAM-MACAM KARTU KREDIT

Kartu kredit terbagai menjadi beberapa macam, diantaranya adalah :

1. Kartu Kredit Pinjaman yang Tidak Dapat Diperbaharui (Charge Card)
Di antara keistimewaan paling menonjol dari kartu ini adalah diharuskannya menutup total dana yang ditarik secara lengkap dalam waktu tertentu yang diperkenankan, atau sebagian dari dana tersebut. Biasanya waktu yang diperkenankan tidak lebih dari tiga puluh hari, namun terkadang bisa mencapai dua bulan. Kalau pihak pembawa kartu terlambat membayarnya dalam waktu yang telah ditentukan, ia akan dikenai denda keterlambatan. Dan kalau ia menolak membayar, keanggotaannya dicabut, kartunya ditarik kembali dan persoalannya diangkat ke pengadilan.

2. Kartu Kredit Pinjaman yang Bisa Diperbaharui (Revolving Credit Card)

Jenis kartu ini termasuk yang paling popular di berbagai negara maju. Pemilik kartu ini diberikan pilihan cara menutupi semua tagihannya secara lengkap dalam jangka waktu yang ditoleransi atau sebagian dari jumlah tagihannya dan sisanya diberikan dengan cara ditunda, dan dapat diikutkan pada tagihan berikutnya.

Bila ia menunda pembayaran, ia akan dikenakan dua macam bunga: Pertama bunga keterlambatan, kedua bunga dari sisa dana yang belum ditutupi. Kalau ia berhasil menutupi dana tersebut dalam waktu yang ditentukan, ia hanya terkena satu macam bunga saja, yaitu bunga penundaan pembayaran. Dana yang ditarik tidak akan terbatas bila pemiliknya terus saja melunasi tagihan beserta bunga kartu kreditnya secara simultan.

3. Debit Card

Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu dijelaskan di sini bahwa dalam kartu kredit ini terdapat tiga transaksi :

Pertama : Transaksi antara pihak yang mengeluarkan kartu kredit dengan pengguna kartu kredit

Transaksi antara pihak yang mengeluarkan kartu kredit ( dalam hal ini adalah perbankan) dan pihak yang menggunakannya ( yaitu nasabah ) adalah transaksi kafalah ( jaminan ). Dalam hal ini perbankan bertindak sebagai kafil ( pihak penjamin ), sedang pengguna kartu sebagai pihak yang terjamin, sedangkan kartu kredit itu sendiri adalah bukti dari kafalah.  Pihak penjamin berkewajiban membayar seluruh hutang-hutang pengguna dalam setiap transaksinya dengan para pedagang yang telah ditunjuk oleh pihak penjamin. Transaksi ini oleh para fuqaha disebut dengan “ dhoman ma lam yajib “( jaminan pada sesuatu yang bukan kewajibannya ), dan hal ini dibolehkan oleh mayoritas ulama, adapun ulama-ulama Syafi’iyah tidak membolehkannya.

Hanya saja, transaksi kafalah dalam bentuk ini menyisakan beberapa masalah, diantaranya ; bahwa transaksi kafalah di dalam Syariat Islam tidak berorientasi kepada profit, tetapi hanya bantuan belaka. Sedang transaksi kafalah dalam kartu kredit bertujuan untuk mendapatkan keuntungan di balik bantuan yang diberikan kepada para pengguna kartu.

Hukum Membership Fee

Untuk memiliki kartu kredit, seseorang harus menjadi anggota dan membayar sejumlah uang pembuatan kartu, begitu juga dia harus membayar  uang untuk memperbaharui kartu tersebut tiap tahun, jika dia ingin meneruskan penggunaan kartu tersebut.

Bagaimana hukum membership fee tersebut menurut fiqh ? Para ulama menjelaskan bahwa uang dari jasa pembuatan kartu kredit tersebut adalah boleh, selama biayanya masih dalam batas kewajaran, karena hal itu termasuk dalam katagori upah pembuatan kartu. Hal ini dikuatkan dengan ketentuan bahwa semua pengguna kartu tersebut dipungut biaya yang sama, baik dia menggunakan kartu kredit tersebut untuk membeli barang yang sangat banyak, maupun sedikit, bahkan bagi yang tidak menggunakannya sama sekali. Semuanya dikenakan biaya yang sama.

Telat Pembayaran .

Para pengguna kartu sebagi pihak yang terjamin berkewajiban  membayar hutang – hutangnya kepada pihak yang menjamin. Pembayaran hutang ini tentunya sesuai dengan nilai barang yang dia beli dari pedagang atau jasa yang ia manfaatkan darinya. Seandainya pihak penjamin meminta lebih dari itu atau mensyaratkan imbalan jasa dari jaminan yang diberikannya, maka tambahan atau imbalan jasa tersebut termasuk dalam katagori riba. Begitu juga, jika pihak penjamin memberlakukan ketentuan bunga kepada pihak pengguna kartu jika pelunasan hutang kepadanya lewat jatuh tempo atau menunggak. Ini semua tidak dibolehkan.

Bagaimana jika pengguna kartu menyakini karena melihat kondisi financial dan ekonominya, mampu membayar tepat waktu kepada pihak pinjamin sehingga tidak akan terkena  denda atas keterlambatan membayar hutang ? Mayoritas ulama menyatakan bahwa syarat yang tidak sesuai dengan syariat yang terjadi dalam sebuah transaksi, maka akan merusak transaksi itu sendiri dan pelakunya berdosa. Sedang madzhab Hanabilah menyatakan bahwa syarat yang menyelisihi syariat tersebut tidak mempengaruhi keabsyahaan transaksi, dan syarat tersebut dengan sendirinya batal. Oleh karenanya, menurut madzhab ini pengguna kartu yang membayar hutangnya kepada penjamin tepat pada waktunya tidak terkena riba dan ini dibolehkan.

Kedua : Transaksi antara pihak yang mengeluarkan kartu kredit dengan para pedagang.

Pihak yang mengeluarkan kartu berkewajiban untuk  membayar hutang yang ditanggung pihak pengguna kepada para pedagang tersebut. Hutang tersebut bisa dipindahkan dari pihak pengguna kartu kepada pihak yang mengeluarkan kartu melalui transaksi hiwalah.  Jadi, para pedagang tidak boleh lagi meminta bayaran kepada para pembeli yag merupakan pihak pengguna kartu  atau pihak yang dijamin, karena hutang mereka sudah dipindahkan ke pihak yang mengeluarkan kartu.  Ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw : “ az-Za’im Gharim” artinya; orang yang menjamin adalah pihak yang berhutang ( karena jaminan tersebut) (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah ).

Keuntungan Pihak Penjamin.

Pihak penjamin, yaitu yang mengeluarkan kartu  akan mendapat keuntungan dari pihak pedagang dalam bentuk discount harga barang-barang yang telah dibeli oleh pihak pengguna kartu. Artinya pihak penjamin tidak membayar penuh dari jumlah harga yang telah dibeli oleh pengguna kartu atau dalam rekening pembayaran. Bagaimana hukum mengambil keuntungan dengan cara seperti ini ?  Sebagian ulama membolehkan transaksi semacam ini dengan mengemukakan beberapa alasan :

1.       Keuntungan tersebut adalah biaya administrasi atau upah dari jasa pengambilan uang dari para nasabah ( para pengguna kartu ), dan ini dibolehkan.

2.       Keuntungan tersebut adalah upah dari jasa pihak penjamin, karena membuat iklan dan pesan-pesan terhadap barang-barang yang dijual pedagang.

3.       Keuntungan tersebut adalah upah dari jasa pihak penjamin,karena telah membantu pedagang untuk mencarikan pelanggan yang dalam istilah fiqih disebut samsarah atau mediator atau broker.

Yang menjadi masalah dalam transaksi ini adalah bahwa hubungan antara pihak yang mengeluarkan kartu ( penjamin )   dengan pihak pedagang adalah hubungan kafalah di dalam membayar hutang-hutang pihak pengguna kartu ( yang dijamin ) kepada pedagang. Tetapi di dalam satu waktu, ketika pihak penjamin mendapat keuntungan dari pedagang berupa discount harga, maka hubungan antara keduanya berubah menjadi transaksi Ijarah, atau mediator.

Ketiga : Transaksi antara para pengguna kartu dengan para pedagang. .

Transaksi antara para pengguna kartu dengan para pedagang mempunyai dua bentuk  :

  • Transaksi jual beli, hal ini terjadi jika pembawa kartu tersebut membeli barang-barang dari pedagang.
  • Transaksi ijarah ( sewaan ), hal ini jika pembawa kartu memanfaatkan sesuatu dari pedagang.

Kedua transaksi tersebut sah dan diijinkan dalam syariat Islam.

Kesimpulan :

Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa menggunakan kartu kredit di dalam transaksi jual beli hukumnya diperinci terlebih dahulu :

Jika pihak penjamin tidak mensyaratkan denda dari keterlambatan pembayaran hutang dari pihak yang dijamin, maka hukumnya boleh. Sebaliknya, jika disyaratkan seperti itu, maka hukumnya tidak boleh, kecuali jika pihak pengguna kartu berkeyakinan penuh bahwa dia bisa melunasi hutang tersebut tepat pada waktunya, maka hal ini dibolehkan menurut sebagian ulama.

Bagi pihak pembuat kartu ( penjamin ) dibolehkan memungut biaya pembuatan kartu dari pihak pengguna dalam batas-batas kewajaran. Begitu juga, pihak penjamin atau pembuat kartu dibolehkan mendapatkan keuntungan dari penjual berupa discount harga-harga yang dibeli oleh pengguna kartu, karena telah mempromosikan barang-barangnya kepada konsumen, atau karena telah membantu pedagang mncarikan pelanggan atau karena telah membantu untuk mengambil hutang-hutang dari pengguna kartu.

Walaupun begitu, dianjurkan seorang muslim untuk berhati-hati sekali menggunakan kartu dalam transaksi semacam ini, jika tidak mendesak, sebaiknya ditinggalkan. Wallahu A’lam.

Bontang, Kaltim, 21 Agustus 2009 M



[i][i] Wahbah Zuhaili.

[ii] Sholah Sowi, Wahbah