Karya Tulis
3665 Hits

( Bab IV ) Neo –Nasionalisme

Neo Nasionalisme sangat banyak dan beragam, namun kali ini, kita hanya akan membahas tiga bentuk dari neo nasionalisme tersebut, yaitu Liga Arab, Nasionalisme Mesir  dan Fir'aunisasi, serta Nasionalisme Indonesia :

( 1 ) Liga Arab

Pada hakikatnya Liga Arab ini adalah perpanjangan tangan dari “ Nasionalisme Arab”yang pernah ikut andil di dalam meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah. Sehingga sejarah berdirinya Liga ini, tidak bisa dilepaskan dari campur tangan musuh-musuh Islam, khususnya Barat.

Barat ternyata mempunyai kepentingan di dalam Liga ini, mereka mengharapkan agar liga Arab ini,  mampu menopang penyebaran faham Nasionalisme di wilayah Timur Tengah. Ketika itu, tepatnya pada tahun 1945 Antonie Adien, Menlu Brithania terbang menuju Kairo untuk mengumpulkan para pemimpin Arab dan meletakkan batu pertama proyek Liga Arab, yang ditanda-tangani pada tanggal 22-3-1945 dan beranggotakan Mesir, Sudi Arabia, Lebanon, Syiria, Iraq, Yordan, dan Yaman.

Walaupun di dalam pertemuan itu disebutkan bahwa tujuan utamanya adalah membahas berbagai permasalahan yang menyangkut bangsa Arab dan mengadakan usaha-usaha nyata untuk kemajuan bangsa Arab. Namun di dalam prakteknya justru proyek tersebut banyak merugikan bangsa Arab, karena mereka secara mental harus terdepak dari dunia Islam, karena tidak bisa menyelesaikan permasalahan- permasalahan umat Islam itu sendiri.[1]

Bahkan Azumardi Azra menyatakan bahwa Nasionalisme Arab tidaklah lebih dari ideologi semu dan tidak pernah terwujud secara kongkrit dan stabil. Ideologi Arabisme Sekuler dalam awal perkembangannnya tidak efektif di dalam menyelesaikan masalah-masalah dunia Arab. Ia tidak bisa menghapus kenyataan bahwa kawasan ini beragam dalam banyak hal dan setiap wilayah mempunyai sejarah sendiri.



[1] Muhammad Qutb, Madzahib al-Fikriyahal- Mu’ashiroh, hal. 15

 

Sathih Hushori (1880-1968), adalah orang asing yang dibesarkan Zionisme dan sangat benci terhadap Islam. Dia mempunyai peran besar di dalam menyebarkan  faham Nasionalisme di tengah-tengah bangsa Arab.

Tokoh besar gerakan Nasionalisme Arab ini, adalah salah satu murid didikan Partai Persatuan Turkey yang mampu memindahkan pemikiran Nasionalisme Thouroniyah Turki ke pelataran dunia Arab. Dialah orang pertama kali yang mempunyai gagasan untuk menjadikan “ Etnis, Kebangsaan dan Keturunan”, sebagai alternatif pengganti ajaran Islam[1].

Tulisannya sekarang banyak mewarnai majalah Sekuler “ Arobi” terbitan Kuwait. Ia-pun mempunyai saham yang tidak sedikit di dalam proses terbentuk Liga Arab.

Berikut ini adalah salah satu tulisannya, yang sampai sekarang masih dijadikan slogan yang didengung-dengungkan para tokoh nasionalisme Arab:

“ Kemenangan bagaimanapun juga akan berada di tangan Nasionalisme Arab, ini merupakan analisa yang ditemukan oleh penelitian sejarah umum Nasionalisme “[2].

Begitu juga tulisan seorang penyair Al-Qori, yang tidak asing lagi bagi tokoh-tokoh Nasionalis Arab:

“ Berikan saya suatu hari, untuk memperingati kebangkitan bangsa Arab menjadi suatu Umat.

Dan berjalanlah dengan jasadku menuju agama burham.

Selamat atas kekafiran yang menyatukan kita .

Kemudian kita ucapkan ahlan wasahlan kepada neraka Jahannam.”

Proyek inilah yang akhirnya mengantarkan kekalahan total bangsa Arab pada perang 1969 dengan Israel, negara kecil yang jumlah penduduknya 1/35 % dari penduduk Arab.

Maka tak aneh, kalau Israel terus berusaha menopang tokoh-tokoh Nasionalisme, agar tetap memegang tampuk pemerintahan Negara-Negara Arab. Karena dengan mereka –lah Israel mampu mencapai tujuan yang sudah direncanakan sebelumnya.

Diantara keuntungan-keuntungan yang bisa dikeruk Israel, dengan bentuk kepemimpinan Nasionalisme Arab adalah sebagai berikut:

  • Matinya ruhul Jihad Islami, yang selama ini sangat ditakuti Zionisme.
  • Terbentuknya bangsa Arab sebagai bangsa yang selalu bergantung kepada bangsa lain. Karena  bangsa yang tidak beraqidah tak akan mampu mandiri.
  • Terbentuknya bangsa Arab sebagai bangsa yang terpecah-pecah.

Proyek ini jugalah, yang memaksa bangsa Arab untuk mengakui Israel sebagai bangsa  berwibawa, yang mampu  mempermainkan negara-negara Arab dan terus menerus melakukan penekanan terhadap segala usaha untuk menghubungkan bangsa Arab dengan Aqidah Islamiyah[3].

Perlu disebutklan di sini pokok-pokok pemikiran “Nasionalisme Arab”:

  1. Unsur-unsur terpenting yang menopang gerakan ini adalah kesatuan bahasa, sejarah dan tanah air.
  2. Bangsa Arab adalah bangsa yang satu, hidup di dalam satu wilayah, oleh karenanya batas-batas geografi yang ada sekarang wajib dihilangkan, sehingga bangsa Arab terkumpul di dalam satu Negara.
  3. Bangsa Arab hendaklah bisa membebaskan diri dari ajaran-ajaran khurafat, hal-hal yang ghoib, dan melepas diri dari ikatan agama yang akan membuat terpecahnya persatuan bangsa Arab.[1]

Nampaknya masih sulit bagi bangsa yang memegang “Faham Nasionalisme” untuk bisa bangkit dari perpecahan yang akan terus mewarnai kehidupanya sebagai bangsa, selama mereka tidak kembali kepada Islam.



[1] WAMY, Mausu’ah Al-Muyassirah fii al-Adyan wa al-Madzahib Al-Mu’ashirah, hal: 404. Lihat juga: Anwar Jundi, Rijal Ihktalafa fiihim ar ra’yu, Darul Anshar, hal: 73



[1] Anwar Jundi, Rijal Ikhtalafa Fihim ar-Ro’yu, ( Kairo, Darul Anshor, t.t ) hal. 73

[2] Majalah al-‘Aroby, Januari, 1997, hal. 123

[3] Abdul Halim ‘Uwais, Dirosat Suquth 30 daulah , hal : 200-205