Karya Tulis
3335 Hits

( 2 ) Nasionalisme Mesir dan Da’wah Fir’auniyah

Tepatnya pada tahun 1919 M pecahlah revolusi Mesir menentang penajajahan Inggris atas negeri itu. Revolusi yang dipimpin oleh ulama-ulama Azhar ini mampu membuat Inggris mundur.

Melihat gelagat yang tidak menyenangkan tersebut, pemerintahan Inggris segera mengirim Lord Clinbe ke Mesir sebagai duta yang baru untuk melihat dari dekat revolusi ini. Setelah satu bulan meneliti keadaan , segera ia mengirim telegram yang ditujukan kepada Menlu Inggris di London.

Telegram tersebut menyebutkan beberapa langkah yang harus diambil oleh pemerintahan Inggris untuk memadamkan api revolusi tersebut di antaranya adalah:

1/ Revolusi ini berpusat di Al-Azhar dan sangat membahayakan kedudukan Inggris, maka Pemerintahan Inggris diharapkan bisa segera mengambil kebijaksanaan baru.

2/ Meminta agar Sa’ad Zaglul dibebaskan dan dikirim ke Kairo.

Sa’ad Zaglul inilah yang menjadi dalang terjadinya perubahan Revolusi Islam menjadi Revolusi Nasionalis yang perjuanganya sebatas pembebasan tanah air saja. Dia juga yang menyusupkan orang-orang Nasrani ke dalam barisan orang Islam ketika mengadakan konfrontasi dengan penjajah.

 

“Agama hanya milik Allah, akan tetapi Tanah Air milik bersama” begitulah syiar yang dipakai penghianat ini untuk mengaburkan pemahaman jihad Islami. Nampaknya syiar ini sekarang masih berkembang di negara lembah Nil tersebut, terbukti masih terpampangnya tulisan-tulisan yang terlalu membanggakan Mesir sebagai kota leluhur, seperti syiar yang terpampang di depan Fakultas Kedokteran, Universitas Al-Azhar yang berbunyi: “ Misr qobla Kulli Sya’i” (Mesir dahulu sebelum segala sesuatu)

Usaha-usaha untuk menggali kebudayaan nenek moyang terus dilakukan oleh Barat, terutama di Negara- negara Islam. Usaha-usaha itu bertujuan untuk menggiring umat Islam agar selalu mengagung-agungkan warisan leluhurnya.

Setelah ditemukan kuburan Tut An-Mun (Ratu pada dinasti Fir’aun) di sela-sela reruntuhan istana Fir’aun, mulailah digalakkan dengan apa yang dikenal dengan gerakan “Fir’aunisasi”

Istilah-istilah kebudayaan nenek moyang inilah sekarang yang mendominasi kehidupan bangsa Mesir, gambar istri-istri Fir’aun yang porno turut menghiasi jalan-jalan besar kota Kairo, menghiasi amplop-amplop dan kertas-kertas surat. Bahkan kalau kita membeli perangko di Mesir akan sulit kita dapatkan perangko yang tidak bergambar Fir’aun, istri-istrinya yang telanjang maupun gambar-gambar tempat persembahan mereka. Sering pula nama Fir’aun ini dipakai untuk nama-nama yayasan, toko-toko,dan hasil-hasil produksi mereka.

Gerakan Fir’aunisasi ini didalangi oleh Muhammad Husein Haikal, Abdullah Anan, Hasan Subkhi.[1]

Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh kelompok ini adalah menyebarkan nilai-nilai ruhani Fir’aun dengan segala bentuk sesembahan-nya dan menanamkannya kepada umat Islam Mesir. Padahal kalau kita teliti lebih jauh, ternyata nilai-nilai mistik Fir’aun ini mempunyai hubungan erat dengan mistik Yunani.

Salah satu penyair terkenal yang mendukung Fir’aunisasi adalah Hafid Ibrahim, ia pernah menulis:

“Aku pemuda Mesir, jari jemariku dari keturunan anak-anak Pyramid yang abadi”

Dalam kesempatan lain ia juga menulis:

Semua manusia diam tertegun….

Bagaiman aku membangun kemuliaan sendiri….

Sedangkan para pembangun pyramid pada masa lalu cukuplah sebagai jawaban atas sebuah tantangan.”

Begitu gencarnya propaganda Fir’aunisasi yang dilakukan musuh-musuh Islam di negeri Kinanah tersebut, sehingga umat Islam, khususnya yang tinggal di dalamnya mendapat getahnya. Paling tidak ada tiga kerugian yang dirasakan kaum muslimin di Mesir:

a/ Semakin jauhnya generasi Islam dari kebudayaan para pendahulunya. Mereka menjadi asing dengan pahlawan-pahlawan Islam yang telah banyak berperang dalam penyebaran Islam di Mesir, sehingga nama-nama besar, seperti  : Amru bin Ash, Imam Syafi’i, Imam Laits, Shalahudin Al-Ayyubi, Ibnu Taimiyah mulai redup dan sedikit demi sedikit, pelan tapi pasti mulai hilang dari jiwa generasi muslim.

b/ Tergesernya tafakhur (rasa bangga) terhadap kebudayaan Islam, terganti dengan rasa bangga terhadap kebudayaan nenek moyang, tanpa melihat lagi nilai-nilai ke-Islaman-nya.

Berapa banyak generasi Islam hari ini, yang bangga karena bisa mengirimkan surat dengan sampul yang bergambar Fir’aun dan kebudayaannya, walau dengan biaya yang lebih mahal. Dan sedikit sekali yang menggunakan sampul yang bergambar Al-Azhar atau masjid-masjid yang bersejarah lainnya.

c/ Semakin banyaknya turis asing yang keluar masuk Mesir. Turis-turis tersebut sebagai mata-mata kaum kuffar, mereka juga menyebarkan kerusakan di dalamnya. (Walau mereka berdalih bahwa mereka datang hanya untuk mengadakan penelitian sejarah dan terdorong rasa kagumya yang sangat terhadap Mesir, yang kaya akan kebudayaan yang bernilai tinggi)

Hal ini terlihat jelas sekali, ketika dengan bebas mereka membuka aurat di jalan-jalan kota Kairo, tanpa ada seorangpun yang berani melarangnya. Pemandangan seperti ini, selain merusak akhlaq para pemuda Mesir juga mendorong para pemuda Mesir untuk meniru gaya dan gerak-gerik mereka.

Maka tak aneh, kalau sekarang para pemudi Mesir bergentayangan di jalan-hjalan kota Kairo dengan baju mini dan ketat melenggak-lenggok mengundang fitnah bagi siapa saja yang memandangnya.

Akibatnya, karena jengkelnya dengan terhadap pemandangan seperti ini, sebagian aktivis muslim mencoba merubahnya dengan kekerasan. Sering terjadinya peledakan di dalam bis-bis yang mengangkut para turis dan tempat-tempat sejarah hanyalah luapan rasa marah umat Islam terhadap fenomena tersebut.

Anehnya, ulama-ulama Azhar sendiri malah menuding dan memojokkan para aktivis tersebut. Tanpa mengritik sedikit pun atas kebijaksanaan pemerintah Mesir yang sebenarnya adalah rekayasa orang-orang sekuler untuk menghancurlkan Mesir.

Seringkali ulama Azhar tersebut meng-identikan masuknya turis asing ke Mesir dengan masalah “Aqdul Al-Aman” salah satu bab yang ada dalam fikih Islam.

Analogi tersebut rasanya kurang tepat, karena aqdul aman (perjajanjian untuk memberikan keamanan kepada orang kafir yang masuk ke Negara Islam) yang dilakukan pemerintahan harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya adalah orang  kafir yang masuk ke negeri Muslim harus menjaga norma-norma Islam, tidak boleh membawa kerusakan apalagi menjadi  mata-mata untuk kepentingan musuh Islam.

Hal-hal seperti ini telah diterangkan para ulama di dalam Ahkam Ahlu Dzimmah dan di dalam pembahasan Al-Wala’ wal Al-Bara’.

Sementara itu di Negara Iraq, kita dapati sebagian masyarakat masih mengagung-agungkan keturunan Al-Asyuriun.

Partai Baths yang beranggotakan Sadam Husein merupakan partai elit di Negara tersebut. Partai ini pertama kali didirikan pada tahun 1940 oleh Mishil Aflaq seorang Nasrani Lebanon yang mempunyai andil besar dalam merumuskan Ideologi Nasionalis Arab. Salah seorang penyair partai ini pernah menulis:

Jangan tanya tentang agamaku atau mazdabku. Aku adalah seorang Sosialisme Baths Arobi”[2]

Partai ini hingga kini masih dominan di Syiria dan Iraq. Begitu juga yang terjadi di Lebanon dengan kebudayaan Firigiah-nya, atau yang berada di Sudan dengan kebudayaan Zanjiah-nya.



[1] Anwar Jundi, Ashalatu al-fikri al- Islami, Dar al-Fadhilah, hal : 71

[2] Muhammad Sa’id al-Qahthani, Al-Wala wa al-Bara’, Dar al-Tayyibah, hal: 403