Karya Tulis
3611 Hits

Iman, Islam dan Ihsan Dalam Bekerja


وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

‘’Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan‘’. (Qs. at-Taubah: 105)

A.   IMAN DALAM PEKERJAAN

Pelajaran Pertama: Kita bekerja karena perintah Allah. Kita bekerja karena beriman kepada Allah. Itulah syarat pertama supaya pekerjaan kita tidak sia-sia dan diterima di sisi Allah. Ya, ikhlas (lillah ta’ala). Adapun maksud ikhlas di sini adalah bekerja karena mencari pahala di sisi Allah. 

Pelajaran Kedua: Oleh karenanya, kita diperintahkan untuk memulai setiap pekerjaan dengan menyebut nama Allah, baik dengan mengucapkan bismillah ataupun hamdalah, sebagaimana dalam hadist Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِالْحَمْدِ لِلَّهِ أَقْطَعُ  

“Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan “Alhamdulillah“, maka akan terputus (berkahnya)“. (HR. Abu Daud, Hasan)

Pelajaran Ketiga: Bekerja juga harus memperhitungkan keberkahan, bukan sekedar meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Maka, sangat perlu kita menginfakkan sebagian dari rizqi yang diberikan Allah kepada kita, supaya pekerjaan kita mendapatkan keberkahan di sisi Allah.  

B.   ISLAM DALAM BEKERJA  

Pelajaran Keempat: Sebagai seorang muslim, ketika kita bekerja bukan hanya sekedar bekerja kemudian mendapatkan uang. Akan tetapi, kita harus melihat dan meneliti, apakah pekerjaan yang kita pilih tersebut sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya atau belum?, Apakah sudah masuk katagori halal, syubhat, atau bahkan haram?. Dan inilah syarat kedua agar pekerjaan kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu harus sesuai dengan tuntuntan Allah dan Rasul-Nya. Dan ini sesuai dengan firman Allah:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

‘’Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun’’. (Qs. al-Mulk: 2)

Maksud dari “yang lebih baik amalnya“ adalah, yang paling ikhlas karena mencari pahala di sisi Allah dan yang paling sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pelajaran Kelima: Pekerjaan yang halal akan membawa berkah dalam kehidupan, keluarga dan masyarakat.

 C. IHSAN DALAM BEKERJA

Pelajaran Kelima: Dalam bekerja kita harus selalu merasa diawasi oleh Allah, atau yang sering kita kenal dengan muraqabatullah,  sebagaimana firman Allah di atas:    

فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.“

Dengan demikian, kita dituntut untuk selalu jujur dan tidak melakukan penyelewengan, penipuan, penggelapan, korupsi dan lain-lainnya.  Karena, cepat atau lambat kita akan dikembalikan kepada Allah dan segala amal perbuatan kita akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan-Nya  pada hari kiamat kelak. Sebagaimana firman-Nya:

وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Pelajaran Keenam: Ihsan dalam bekerja juga berarti kita memilih pekerjaan yang bermanfaat bagi masyarakat. Semakin banyak dan luas manfaat pekerjaan tersebut, maka semakin banyak pula pahalanya dan semakin besar berkahnya. Ini sesuai dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika anak Adam mati, maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendo’akan orangtuanya.“ (HR. Muslim: 1631)

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, kita mengetahui sebenarnya Islam telah mengajarkan pada umatnya agar selalu ber-amal dan mengikhlas amalnya hanya untuk Allah, mencari pekerjaan yang halal dan yang paling bermanfaat bagi manusia banyak, kemudian di dalam bekerja dia haru selalu muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah dalam setiap pekerjaannya), sehingga dia akan selalu jujur dan sungguh-sungguh di dalam bekerja. Wallahu A’lam 

Bekasi, 27 Shofar 1434/ 10 Januari 2013

 

DR. Ahmad Zain An-Najah, MA