Karya Tulis
11232 Hits

Keutamaan Doa Nabi Yunus


وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ  فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“ Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap : "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.  Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”.(Qs.al-Anbiyaa` : 87-88 )

Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran, diantaranya adalah :

Pertama : Bahwa para nabi berasal dari manusia, yang kadang berbuat salah atau lupa, maka Allah langsung menegurnya supaya kesalahan tersebut tidak berlangsung lama. Begitu juga yang dilakukan oleh nabi Yunus ‘alahi as-salam ketika beliau meninggalkan kewajiban berdakwah setelah kaumnya yang tinggal di kota al-Mausil, Iraq mendustakannya, maka Allah menegurnya dengan melemparnya ke dalam perut ikan paus, maka beliau pada ayat ini disebut Dza an-Nun ( orang yang masuk perut ikan Paus ).

Begitu juga yang dialami oleh nabi Adam ‘alaihi as-salam ketika memakan buah khuldi sehingga diturunkan dari syurga. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditegur oleh Allah dalam surat Abasa. 

Kedua : Kebanyakan manusia mengira bahwa kemaksiatan yang mereka lakukan tidaklah berdampak buruk bagi kehidupan mereka. Padahal musibah-musibah yang menimpa manusia kebanyakan disebabkan oleh maksiat yang mereka perbuat. Sebaliknya ketaqwaan dan ketaatan akan membawa kepada keberkahan di dalam hidup seseorang. Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. al-A`raf : 96)

 Hal ini dikuatkan oleh firman Allah pada ayat lain:

         ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ . كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَكُلٌّ كَانُوا ظَالِمِينَ

“ (Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.” (Qs.al-Anfal : 53-54)

Dikuatkan juga di dalam firman Allah di ayat lain:

        وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ  فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Dan (juga) Karun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. al-`Ankabut : 39-40)

Ketiga : Allah telah mengajarkan kepada kita bagaimana nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa di dalam kegelapan-kegelapan, yaitu ketika ditimpa musibah dan kesulitan hidup.

Berkata Ibnu Mas’ud : “  Dalam tiga kegelapan : kegelapan perut ikan Paus, kegelapan lautan, dan kegelapan malam. “ ( Tafsir Ibnu Katsir : 5/367 )

Do’a nabi Yunus ‘alaihis salam tersebut mengandung tiga unsur pokok :

Unsur Pertama : أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Mengikrarkan kembali tauhid kepada Allah, yaitu bahwa seorang hamba yang ingin berdoa kepada Allah hendaknya memperbaiki hubungannya dengan Allah dengan mentauhidkan dalam ibadah serta meninggalkan syirik.  Ini terdapat di dalam surat al-Fatihah juga dengan firman-Nya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.

 “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (Qs. al-Fatihah : 5)

 Unsur Kedua : سُبْحَانَكَ

Hendaknya dia selalu mensucikan Allah, dengan menyakini bahwa satu-satu Dzat yang suci dan dan sempurna serta tidak pernah salah adalah Allah. Sebaliknya manusia adalah makhluq yang lemah yang penuh dengan kekhilafan dan kesalahan.  

Oleh karena itu, posisi yang paling dekat dengan Allah adalah ketika kita sedang bersujud di hadapan Allah pada waktu sholat. Sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“ Posisi yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah do’a di dalamnya. “ ( HR Muslim )

Disaat kepala dan jidat kita yang kita anggap sebagai anggota tubuh yang paling mulia ini, kita letakkan di atas tanah yang hina, tanah yang setiap hari kita injak-injak, maka saat itulah kita menyebut kebesaran dan ketinggian Allah dengan mengucapkan :

“ Subhana Rabbiya al-A’la “ ( Maha Suci Rabb-Ku Yang Maha Tinggi ), sebagaimana di dalam hadist Hudzaifah radhiyallahu 'anhu:

نَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَكَانَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ : " سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ . وَفِي سُجُودِهِ : سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى "

“ Bahwasanya beliau sholat bersama Rasululla shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika ruku’ beliau membaca : “ Subhana Rabbiya al-Adhim “, dan ketika sujud, beliau membaca : “ Subhana Rabbiya al-A’la “. (Hadist Shahih lighairihi Riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Nasai,  dan Ibnu Majah )

 Unsur Ketiga :  إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

 Hendaknya seorang hamba dalam berdoa merasa bahwa dirinya adalah makluq yang lemah, tidak berdaya, tidak mempunyai kekuatan, selalu membutuhkan pertolongan Allah di dalam kehidupan ini. Inilah hakekat ibadah, yaitu ketundukan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semakin kita menampakkan ketundukan kita di hadapan Allah, maka semakin kita dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

Dikisahkan pada zaman dahulu bahwa seseorang datang kepada salah seorang ulama besar seraya menanyakan penyebab tidak dikabulkan doanya oleh Allah, padahal dia sudah berdoa selama 40 tahun lamanya, maka ulama tersebut berkata : “ Barangkali anda selama ini ketika berdoa tidak pernah mengakui dosa-dosa anda . “ 

 Doa ini serupa dengan doa para nabi, seperti doa nabi Adam ‘alaihi as-salam :

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".(Qs. al-A`raaf : 23)

Ini juga doa nabi Muhammad shallahu ‘laihi wa sallam, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist di bawah ini:

وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ اَلصِّدِّيقِ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي . قَالَ قُلْ : " اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا , وَلَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ , فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ , وَارْحَمْنِي , إِنَّكَ أَنْتَ اَلْغَفُورُ اَلرَّحِيمُ

“ Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu bahwa dia berkata kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam: Ajarkanlah padaku doa yang aku baca dalam sholatku. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ucapkanlah: (artinya = Ya Allah sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah diriku sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang)." ( HR Bukhari dan Muslim )

 Pelajaran Keempat :   Kisah Nabi Yunus adalah kisah orang beriman yang patut kita contoh. Allah berfirman:  

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” ( Qs. al-Anbiya’ : 88 )

Para ulama menjelaskan bahwa doa nabi Yunus ini boleh dibaca di saat kita tertimpa musibah dan bencana, mudah-mudahan dengan doa tersebut Allah akan menolongnya sebagaimana sebelumnya telah menolong nabi Yunus.

Berkata Syekh Abdurrah As-Sa’di di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ( 1/529 ) :

“ Ayat ini merupakan janji dan berita gembaira bagi setiap orang beriman yang tertimpa musibah dan kesulitan, sesungguhnya Allah akan menyelamatkannya dan mengangkat kesulitannya dan meringankan bebannya karena keimanannya kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan terhadap nabi Yunus.  “

Demikianlah Allah menolong orang-orang beriman, artinya Allah tidak serta menolong orang beriman tanpa melalui sunnatullah yang telah ditetapkan Allah. Tetapi Allah menolong hamba-Nya dengan cara-cara yang telah ditetapkannya, yaitu hamba tersebut beristighfar, bertauhid dan selalu memuji-Nya serta mengaku kasalahan-kesalahannya, setelah itu akan datang pertolongan Allah.  Wallahu A’lam

 Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA  

Pondok Gede, 20 Jumadal Ula 1435 / 22 Mei 2014 M