Karya Tulis
11692 Hits

Perumpamaan Kalimat Toyyibah


  أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)

 “ (24)Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,(25). pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.26. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.27. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”  (Qs. Ibrahim: 24-27)

 Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran sebagai berikut :

Pertama: Allah sering memberikan permisalan dengan sesuatu yang ada di sekiling kita. Oleh karenanya, Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan alam semesta dan lingkungan disekitar agar kita memahami permisalan tersebut.

Kedua: Permisalan yang disebutkan Allah dalam ayat ini adalah kalimat toyyibah (kata-kata yang baik) bahkan yang paling baik di dunia ini, yaitu kalimat tauhid “laila illallah “; kalimat yang membedakan antara seorang mukmin dan orang kafir, kalimat yang mengantarkan kita ke dalam syurga dan menyelamatkan dari api neraka. Demi kalimat inilah Allah menciptakan dunia, menciptakan manusia serta mengutus para Rasul, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Qs. adz-Dzariyat: 56)

 Begitu juga di dalam firman-Nya:

 وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

 “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku."(Qs. al-Anbiya’: 25)

 Ketiga: Kalimat tauhid ini (La Ilaha Illallah), jika diucapkan seorang mukmin dengan benar dan ikhlas, dia akan menjadi kokoh dan tangguh sebagaimana layaknya pohon yang kokoh, tegak dan teduh.

 Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya (4/491): “Dari Ibnu Abbas bahwa (kalimat tayyibah) adalah syahadat Laila illallah,  (pohon yang baik) adalah orang beriman, (akarnya menghujam ke dalam tanah) adalah  Laila illallah di dalam hati orang beriman. (cabangnya menjulang) adalah amal orang beriman yang diangkat ke langit.“

 Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Anas bin Malik bahwa yang dimaksud pohon di sini adalah pohon kurma. Pohon tersebut kokoh, menjulang tinggi , dan berbuah setiap saat.

 Pohon yang kokoh dan baik ini mempunyai tiga ciri khas sebagaimana yang disebutkan Allah di dalam surat ini:

 Ciri Pertama: Ashluha Tsabitun (akarnya menghujam ke dalam tanah).

Ciri pertama ini menjelaskan bahwa seorang mukmin yang mengucapkan kalimat “lailaha illah “ dengan benar, maka dia akan memiliki keyakinan kuat yang menancap di dalam hati sanubari. Dia akan memegang Islam kuat-kuat, dan dia akan pertahankan aqidah tersebut sekuat tenaga sampai akhir hayatnya. Ini sesuai dengan firman Allah:

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Qs. Ali Imran: 102)

 Memegang Islam sekuat tenaga sampai akhir hayat adalah wasiat para nabi kepada anak-anak mereka, termasuk di dalamnya wasiat nabi  Ibrahim  dan nabi Ya’qub ‘alaihima as-salam kepada anak-anak mereka, sebagaimana firman-Nya:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Qs. al-Baqarah: 132)

 Orang beriman dengan keimanan seperti ini, sekali-kali  tidak akan menjual aqidahnya dengan dunia dan seisinya, apalagi hanya dengan sebungkus mie instan atau seplastik sembako, maupun dengan beberapa lembar uang ratusan ribu.

Orang beriman yang mempunyai sifat seperti ini hidupnya tidak akan pernah goyah, stress dan bingung dengan ujian apapun juga. Sebaliknya, hidupnya penuh optimis, semangat dan energik, karena ia yakin bahwa semuanya di bawah pengawasan dan  lindungan Allah.  Ini sesuai dengan firman Allah:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ, الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

 “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”(Qs. Yunus: 62-63)

 Sebaliknya, kalimat yang jelek, yaitu kata-kata kekafiran, itu seperti pohon yang jelek  yang mempunyai ciri khas: akarnya tercabut dari tanah (ujtutsat min fauqil ardi) yang kemudian dia mudah goyah (ma laha min qarar). Oleh karenanya, kita dapatkan orang-orang yang paling banyak bunuh diri justru terdapat di Negara-negara maju dan kaya, tetapi mereka adalah orang-orang yang kafir, seperti Finlandia, Amerika, Jepang dan Negara-negara Barat lainnya.

Ciri kedua: Far’uha Fi as-Sama’ (Cabangnya menjulang ke  langit)

Pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat ini bahwa seorang mukmin harus mempunyai cita-cita yang tinggi. Apa cita-cita yang tertinggi bagi seorang mukmin?  Yaitu  menggapai kebahagiaan akhirat. Seorang mukmin akan memandang dunia ini rendah, sedangkan akhirat adalah tinggi. Sehingga, dia merasa mulia dengan Islam ini, dia akan mempunyai semangat yang tinggi setiap saat.

Pelajaran lain yang bisa kita ambil dari ayat di atas bahwa Islam  adalah agama yang paling tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya (ya’u wala yu’al alaihi). Maka, Islam ini tidak boleh dihina oleh siapapun juga, sedangkan umat Islam tidak boleh menjadi umat yang dipimpin. Mereka harus memimpin dunia ini dengan petunjuk Allah. Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs, Ali Imran: 110)

 Ini dikuatkan oleh firman-Nya:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”(Qs. Ali Imran:139)

 Dalam ayat lain disebutkan juga:

 فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

 “Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.”(Qs. Muhammad: 35)

 Allah juga berfirman:

 وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. an-Nisaa`:104)

 Ciri Ketiga:  Thu’ti ukulaha kulla hin  (memberi manfaat kepada masyarakat setiap saat)

Orang mukmin harus bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Maka dia akan memberikan prioritas pada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi orang banyak. Dalam hadist Abu Hurairah radhiyalahu ‘anhu bahwa  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:   

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia meninggal maka semua amalannya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan untuknya.” (HR. Muslim)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang memulai untuk memberi contoh kebaikan (dalam Islam) maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu sampai hari Kiamat” (HR. Muslim)

Tegar Saat Sakaratul Maut.  

Dengan kalimat toyyibah (la ilaha illallah), yang kokoh dan menghujam ke dalam tanah, Allah akan mengokohkan orang beriman di dunia dengan kehidupan yang tenang, tentram, teguh pendirian, tabah, dan sabar, serta tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.   Begitu juga ketika menghadapi sakratul maut, dia bisa mengucapkan La ilaha illallah  di akhir hayatnya. Selain itu, di akherat dia akan bisa menjawab pertanyaan malaikat di dalam kuburan, dan mendapat syurga di sisi-Nya. Allah berfirman: 

  يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“ Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27 )

Berkata Syekh Abdurrahman as-Sa’di di dalam tafsirnya (1/425): “Dan di akherat,  Allah akan meneguhkannya ketika mati untuk tetap berada pada agama Islam dan diberikan husnul khatimah, begitu juga meneguhkannya di alam kubur untuk bisa menjawab dengan benar terhadap pertanyaan dua malaikat. “

Wallahu A’lam ,

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA  

Pondok Gede, 20 Jumadal Ula 1435 / 22 Mei 2014 M