Karya Tulis
3419 Hits

Iman, Aman, dan Amanah


الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. al-An’am : 82 .)

             Sebab Turunnya Ayat

            Di dalam hadist Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu disebutkan : 

 لما نزلت: الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ  قلنا: يا رسول الله! أينا لا يظلم نفسه؟! قال: ليس كما تقولون، لم يلبسوا إيمانهم بظلم: بشرك، أولم تسمعوا إلى قول لقمان لابنه: يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

 Ketika turun ayat :  “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedhaliman“. Kami bertanya : “ Wahai Rasulullah siapa diantara kita yang belum pernah mendhalimi dirinya sendiri ? Beliau bersabda : “ Maksud ayat ini tidak seperti yang kalian pahami, tetapi maksudnya adalah keimanan mereka belum dicampuri dengan kesyirikan, bukankah kalian mendengar nasehat Luqman kepada anak-nya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang besar ".”(Qs. Luqman : 13) ( HR Bukhari )

  Orang Beriman Selalu Merasa Aman

 Mereka yakin bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak akan terjadi kecuali dengan izin Allah. Mereka menyandarkan segala urusan dan problematika yang dihadapinya hanya kepada Allah saja. Mereka yakin bahwa siapa saja yang mengikuti petunjuk Allah, maka Allah akan melindunginya dan memberikan ketentraman dalam hidup ini, sebagaimana firman-Nya :   

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى . وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى .

            “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.  Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Qs. Thaha : 123-124)

             Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya ( 5/ 322   ) : “ Baginya kehidupan yang sempit yaitu di dunia, maka dia tidak bisa hidup tenang, dan tidak tentram hatinya, sebaliknya hatinya sempit karena kesesatannya, walaupun kelihatannya secara lahir bahagia, dia bisa berpakaian, makan dan menempati rumah menurut yang ia senangi,  tetapi sebenarnya hatinya – selama tidak mendapatkan keyakinan dan petunjuk – maka pasti dalam keadaan gelisah dan kebingungan serta keragu-raguan, dan tetap saja terus menerus di dalam kebimbangan. Inilah salah satu bentuk kesempitan di dalam hidup. “

 Ini dikuatkan dengan firman Allah :  

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ.

            “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-An`am : 125)

             Salah satu ciri wali-wali Allah adalah tidak pernah khawatir dengan apa yang belum terjadi dan tidak pernah bersedih dengan apa yang sudah berlalu, sebagaimana firman-Nya :

 لَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.

            “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Qs. Yunus : 62)

             Ayat di atas menunjukkan bahwa keimanan seseorang akan membawa rasa aman dan tenang dalam dirinya. Maka orang yang beriman adalah orang yang paling merasa aman dan tenang di dalam kehidupannya di dunia ini dibanding orang-orang kafir.  Semakin tinggi iman seseorang, maka semakin tinggi pula rasa aman di dalam dirinya, sebaliknya semakin rendah keimanan seseorang, maka semakin rendah pula rasa aman di dalam dirinya.  Ini dikuatkan dengan firman Allah :

 وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

            “ Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” ( Qs al-An’am : 48 )

 Amirul Mukminin Umar bin Khattab adalah salah seorang beriman yang benar-benar merasakan keamanannya dan ketentraman di dalam dirinya.  Bagaimana tidak, walaupun beliau seorang Khalifah yang wilayah kekuasaannya mencakup sepertiga dunia, tetapi beliau tidak pernah ada rasa takut sedikitpun terhadap orang-orang yang ingin mencelakannya. Beliau biasa tidur di bawah pohon, tanpa ada pengawal satupun.

Suatu ketika datanglah utusan Kisra, penguasa Persia yang bernama Marzaban hendak bertemu dengan Umar bin Khattab untuk suatu keperluan, orang tersebut mendapatkan Umar bin Khattab tidur pulas di bawah pohon,  tidak ada pengawalan sedikitpun, diapun tercengang dan kaget, seakan-akan dia tidak percaya apa yang dilihatnya, dia berkata : “ Engkau telah memerintah dengan adil sehingga engkau merasa aman, dan bisa tidur nyenyak wahai Umar “

Orang Kafir Merasa Aman dari Adzab Allah

Orang-orang kafir juga merasa aman, tetapi bukan aman yang menentramkan hati dan melapangkan dada, dan bukan pula aman yang membahagiakan hidup. Tetapi maksudnya adalah mereka merasa aman dari adzab Allah, tidak takut dengan ancaman-ancaman Allah, tidak takut dengan neraka dengan segala siksanya. Allah berfirman :

          أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ .  أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ .  أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

            “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?  Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Qs. al-A`raaf : 97-99)

  Allah juga berfirman  :

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13)

            “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: "Celakalah aku". Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (Qs. al-Insyiqaq : 13)

 Di dalam tafsir al-Qurtubi ( 19/273 ) disebutkan bahwa Ibnu Zaid berkata : “ Dan Allah menggambarkan keadaan ahli neraka dengan kesenangan, tertawa dan bersenang-senang ketika di dunia. “

 Berkata Ibnu Katsir  ( 8/ 358 ) : “ Yaitu kesenangan tanpa memikirkan akibatnya ( di akherat ), dan tidak takut dengan apa yang akan terjadi di depannya ( di hari kiamat ), maka Allah menjadikan setelah kesenangan yang sedikit itu, dengan kesedihan yang panjang. “

            Ini sangat berbeda dengan keadaan orang-orang beriman yang selalu merasa takut dengan adzab Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana di dalam firman-Nya :

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِين. فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

            “ Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab) Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.”.  (Qs. Ath-Thuur : 26)

             Ibnu Zaid berkata : “ Allah menggambarkan ahli syurga  dengan rasa takut, sedih, menangis, khawatir ketika mereka hidup di dunia, maka Allah memberikan kepada mereka kenikmatan dan kesenangan di akherat “

            Orang Beriman Selalu Amanah

            Salah satu sifat orang yang beriman adalah memegang amanat yang dititipkan kepadanya dan menyampaikannya kepada yang berhak menerimanya. Ini adalah perintah Allah kepada setiap orang beriman, sebagaimana firman-Nya :

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58)

            “ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “ ( Qs an-Nisa’ : 58 ) .

            Salah satu syarat pemimpin yang boleh dipilih dan diangkat adalah orang yang bisa menjaga amanah di dalam jabatannya, sebagaimana firman Allah :

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِين.

            “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (Qs. Al-Qashash : 26)

 Allah berfirman :

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ.

            “ Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.". (Qs. Yusuf : 55)

             Amanah juga merupakan barometer keimanan seseorang, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

            لا دِينَ لِمَنْ لا عَهْدَ لَهُ وَلا إِيمَانَ لِمَنْ لا أَمَانَةَ لَهُ

“ Tidak ada agama bagi yang tidak menepati janji, dan tidak ada iman bagi yang tidak mempunyai amanat “ ( HR Ahmad, hadist shahih ) 

            Amanat Telah Diangkat Dari Manusia

            Ini berdasarkan hadist Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الْأَمَانَةُ، وَآخِرُ مَا يَبْقَى الصَّلَاةُ، وَرُبَّ مُصَلٍّ لَا خَيْرَ فِيهِ

“ Yang pertama kali diangkat dari manusia adalah amanat, dan akhir  yang tersisa adalah sholat, dan boleh jadi orang yang sholat tidak ada kebaikan di dalamnya “ ( HR . Baihaqi di dalam Syu’abu al-Iman (4892) , dan ath-Thabrani di dalam Mu’jam  ash-Shoghir (387) , berkata al-Haitsami di dalam Majma’ al-Bahrain (7/ 321 ): Di dalamnya terdapat Hakim bin Nafi’ dipercaya oleh Ibnu Ma’in dan dilemahkan Abu Zur’ah, selebihnya perawinya terpercaya. ). Wallahu A’lam  

            Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Pondok Gede,  30 Jumadal Ula 1435 / 1 April 2014