Karya Tulis
5828 Hits

Waktu Dalam al-Qur’an dan Sunnah dan Perkataan Para Ulama


Dalam banyak ayat, Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan waktu, seperti firman-Nya:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” (Qs. al-Ashr: 12)

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang”. (Qs. al-Lail: 1-2)

وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى

“Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)” (Qs. adh-Dhuha: 1-2)

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Karena Allah tidak bersumpah terhadap sesuatu di dalam al-Qur’an kecuali untuk menunjukkan kelebihan yang dimilikinya.

Bahkan, dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa dengan menggunakan waktu tersebut seorang hamba bisa mengambil pelajaran dan bersyukur, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur”. (Qs. al-Furqan: 62)

Tadzakkur berarti mengingat Allah, mengingat nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita, mengingat bahwa seorang muslim dalam hidupnya ini mempunyai tujuan, yaitu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memakmurkan dunia ini dengan nilai-nilai yang diletakkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, mengingat bahwa kematian adalah sesuatu yang benar-benar akan terjadi pada diri setiap manusia, sehingga dia harus mempersiapkan segalanya untuk menyambutnya.

Dengan demikian, tadzakkur berarti juga kesempatan untuk mengembangkan diri di dalam kehidupan ini, untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia, negara, bangsa dan ummat, serta di akhirat nanti menjadi pendamping para nabi, syuhada, orang-orang jujur serta orang-orang shaleh di syurga.

Syukur berarti mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita, mensyukuri kesempatan yang diberikan Allah kepada kita, mensyukuri potensi yang diletakkan Allah dalam diri kita, untuk kemudian kita gali, kita kembangkan dan kita aktualisasikan untuk kepentingan masyarakat dan umat.

Bahkan Allah telah menyatakan bahwa Ulul Albab adalah orang–orang yang mampu memanfaatkan waktunya untuk ketaatan, sebagaimana dalam firman-Nya :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Qs. Ali Imran: 190)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Ulul Albab  bukanlah orang yang mampu menghafal kata-kata, maupun susunan huruf yang tertulis di dalam buku atau mampu menjawab soal-soal ujian di suatu sekolah. Akan tetapi, Ulul Albab adalah orang yang mampu melihat kejadian yang ada di sekitarnya dan memanfaatkan waktu yang ada, yang kemudian diramu menjadi bekal di dalam kehidupan ini, dan diteruskan dengan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagi kepentingan manusia.

Allah juga berfirman  pada ayat lain :

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

 “ Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”  ( Qs Ibrahim : 33-34 )

             Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Allah memberikan berbagai macam nikmat kepada kita , salah satu nikmat tersebut adalah  ditundukkan malam dan siang, yaitu diberikan waktu kepada kita sehari semalam selama 24 jam, kalau kita pandai mensyukurinya dengan memanfaatkannya dalam ketaatan, maka  nikmat tersebut akan menjadi berkah bagi kita, dan Allah akan menambah dengan kenikmatan lainnya. Tetapi jika menyia-nyiakannya maka nikmat tersebut akan dicabut oleh Allah.

            Maka Allah memberikan balasan bagi yang memanfaatkan waktu untuk ketaatan dengan syurga yang penuh nikmat, sebagaimana firman-Nya :

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

“ (kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu". ( Qs. al-Haaqqah : 24 )

 Sebaliknya, orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat waktu, bahkan menyia-nyiakan untuk hal-hal yang dimurkai Allah, maka Allah akan membalasnya dengan siksa api neraka, Allah berfirman :

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“ Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang lalim seorang penolongpun.” ( Qs. Fathir : 37 )

 Para ulama tafsir-  sebagaimana yang disebutkan Ibnu Katsir - berbeda pendapat tentang panjang umur yang Allah telah memberi kesempatan pada hamba-Nya untuk beribadah di dalamnya, sebagian berpendapat umur 40 tahun, sebagian lain berpendapat umur 60 tahun, dan ini yang sesuai dengan umur rata-rata umat Islam, yaitu antara 60- 70 tahun. Dan ini sesuai juga dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَعْذَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَ إِلَى امْرِئٍ أخَّرَ عُمْرَهُ حَتَّى بَلَّغَه سِتّيْن سَنَة

“ Allah tidak memberikan udzur kepada seseorang yang telah dipanjangkan umurnya sampai 60 tahun. “  ( HR Bukhari )

Karena pentingnya waktu yang ada, sehingga Allah akan meminta pertanggungjawaban dari setiap manusia untuk apa saja waktu yang diberikan Allah selama hidup ini. Dalam suatu hadist disebutkan:

لَنْ تَزُولَ قَدَمَا عَبْدِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ، عَنْ أَرْبَعِ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ ”

Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal:

1.     Umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan

2.     Waktu mudanya, digunakan untuk apa saja

3.     Hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya

  1. Ilmunya, apakah diamalkan atau tidak” ( HR. Tirmidzi, Hadist Hasan)

Kalau kita perhatikan hadist di atas, kita dapatkan bahwa empat unsur kekuatan yang ada dalam diri manusia, jika ia mau memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, niscaya akan berhasil di dunia dan akherat. Empat unsur kekuatan itu adalah : kesempatan, kesehatan, harta, dan ilmu.

Hal ini dikuatkan dengan hadist lain yang menyatakan:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Dua nikmat yang kebanyakan manusia rugi di dalamnya: Kesehatan dan Kesempatan” (HR. Bukhari)

 Ibnu Qayyim berkata dalam bukunya al- Jawab al-Kafi :

“ Sebenarnya waktu manusia adalah umurnya. Waktu adalah materi kehidupannya yang abadi. Waktu berjalan seperti jalannya awan. Barang siapa yang waktunya berjalan untuk Allah dan bersama Allah, maka itulah sebenarnya kehidupan dan umurnya. Selain itu, tidak masuk dalam kehidupannya. Jika dia menghabiskan waktunya dalam kelupaan, kesenangan dan angan-angan yang batil, tidur dan menganggur, maka kematian lebih baik baginya. “ 

Beliau juga berkata : “ Jika hari berlalu dan saya tidak berkarya serta tidak mendapatkan ilmu, maka itu bukan usiaku. “

Beliau juga mengatakan di dalam bukunya al Fawaid : “ Menyia-nyiakan waktu lebih bahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu berarti memutusmu dari Allah dan kampung akherat, sedangkan kematian memutuskanmu dari dunia dan penghuninya. “

Ibnu Jauzi berkata di dalam bukunya Shoidu al-Khotir : “ Manusia harus mengetahui kemuliaan zaman dan nilai waktunya sehingga dia tidak menyia-nyiakannya walau sebentar. Dia harus mempersembahkan  yang terbaik untuk dalam usianya . “

Beliau juga berkata : “ Betapa banyak manusia yang menghabiskan waktunya dengan sia-sia, tanpa mendapatkan apa-apa. Sesungguhnya hari-hari ini sepert sawah. Janganlah orang yang berakal berhenti dari menanam dan menyebar biji. “

Berkata Hasan Bashri : “ Dunia ini hanya ada tiga hari : kemarin, hari ini, besok. Kemarin telah berlalu bersama dengan apa yang di dalamnya. Sedangkan hari esok semoga anda menemuinya. Adapun hari ini adalah milikmu, maka beramallah di dalamnya. “