Karya Tulis
1680 Hits

Tips Ke- 4: Membagi Waktu Dalam Berbagai Kegiatan

Seorang muslim hendaknya tidak hanya beramal dan bekerja dalam satu bidang saja. Tetapi hendaknya dia membagi waktu-waktu yang dimilikinya  untuk mengerjakan banyak kewajiban. Seperti mengerjakan kewajibannya terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dengan memperbanyak sholat, dzikir, membaca al-Qur’an. Sekaligus juga bisa mengerjakan kewajibannya terhadap orang tua, keluarga, anak, istri, saudara, tetangga dan masyarakat secara umum.

Di dalam Suhuf Ibrahim ‘alaihi as-salam disebutkan :

” Orang yang berakal hendaknya membagi waktunya menjadi 4 bagian ; waktu untuk bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala, waktu untuk intropeksi terhadap diri sendiri, waktu untuk bertafakkur serta merenungi ciptaan Allah dan waktu untuk mengurusi kebutuhan hidupnya seperti makan dan minum” [1]

Berkata Salman al-Farisi kepada Abu Darda’ radhiyallahu 'anhuma yang kemudian disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إنَّ لربِّكَ عليك حقًّا، وإنَّ لِنَفسكَ عليك حقًّا، ولأهلك عليك حقًّا، فأعْطِ كلَّ ذي حقٍّ حقَّهُ

”Sesungguhnya pada Rabb-mu ada hak yang harus anda tunaikan, dan pada dirimu ada hak yang harus anda tunaikan, dan pada diri keluargamu ada hak yang harus anda tunaikan, maka berilah setiap bagian akan haknya” (HR. Bukhari )

Ini dikuatkan dengan hadist Abdullah bin Amru radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“ Dan sesungguhnya pada jasadmu ada hak atas dirimu, dan pada matamu ada hak atas dirimu, dan pada isterimu ada hak atas dirimu dan pada pengunjungmu ada hak atas dirimu.”  ( HR. Bukhari )  

Begitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ ، وَلَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ , وَأَصُوْمُ وُأفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

”Sesungguhnya saya adalah orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Walaupun begitu, saya bangun malam dan kadang tidur juga, berpuasa dan berbuka, serta menikahi para wanita, dan barang siapa yang tidak mau mengikuti sunnahku, maka bukanlah ia dari golongan-ku“ (HR. Bukhari)

Para ulama pendahulu pun telah memberikan suri tauladan yang baik pada generasi sesudahnya. Adalah Ibnu Jarir at-Thobari telah membagi kesehariannya menjadi beberapa bagian, sebagaimana yang dikisahkan oleh Qadhi Abu Bakar Ahmad Kamil Al-Syajari, salah satu murid dekatnya:

”Setelah Ibnu Jarir makan dan tidur, beliau bangkit untuk sholat Dzuhur di rumahnya. Setelah itu, beliau menulis sebuah buku sampai datang waktu Ashar, kemudian beliau keluar untuk melakukan sholat Ashar dan mengajar para murid-muridnya sampai Maghrib, kemudian beliau mengajar fikih dan beberapa pelajaran lainnya hingga datang sholat Isya, kemudian beliau pulang ke rumahnya. Beliau benar-benar telah membagi waktu seharinya untuk; maslahat dirinya, agama dan masyarakat sekitarnya.” [2]

            Begitu juga yang dilakukan oleh Abdullah al-Ghani al-Maqdisi, penulis buku “ Umdatu al-Ahkam “, di dalam membagi waktu-waktunya sebagaimana yang dijelaskan oleh muridnya Dhiya’ al-Maqdisi : “

            Abdullah al-Ghani al-Maqdisi tidak sedikitpun menyia-nyiakan waktunya. Setelah sholat Subuh, beliau mengajarkan al-Qur’an dan Hadist. Setelah  itu beliau bangun untuk berwudhu dan sholat hingga sebelum Dhuhur. Setelah Dhuhur beliau sibuk mengajar dan menulis buku hingga Maghrib. Kemudian sholat Isya’ dan tidur hingga pertengahan malam atau setelahnya. Setelah itu bangun, lalu berwudhu dan sholat hingga mendekati sholat Subuh. Beliau mungkin berwudhu hingga delapan kali dalam semalam atau lebih. Dia berkata : “ Sholat saya menjadi baik, selama anggota badan saya masih basah’ . Kemudian, beliau tidur sebentar sebelum Subuh.  Itulah rutinitas yang dilakukannya setiap hari secara terus-menerus. “ [3]

 


[1]. Mahmud Misri, al-Waqtu Huwa al-Hayat, hlm: 56

[2]. Sayid Husain Al Affani,’ Imarat al-Auqat bi ‘Amali Ash-Sholihat, (Kairo, Dar Affani) hlm: 34-35

[3]  Adz-Dzahabi, Tadzkiratu al-Huffadh, 4/1376