Karya Tulis
1712 Hits

Tips Ke- 10: Berkonsentrasi Pada Hasil

Banyak para aktivis yang merasa bangga kalau mereka aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari diskusi, menghadiri seminar, panitia bazaar, ikut rihlah dan piknik bersama, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Mereka tidak mengetahui bahwa yang terpenting bukanlah banyak aktivitas, tapi hasil dari aktivitas itu sendiri. Aktivitas, terkadang dapat membebaskan dari tekanan jiwa, akan tetapi hal itu tidak cukup untuk mencapai tujuan anda.  Maka disini, orientasi pada hasil sangat diperlukan.

Mari kita renungkan goresan pena orang-orang sukses di bawah ini :

Kunci kesuksesan bukan terletak pada bagaimana anda menghabiskan waktu, namun kunci kesuksesan adalah terletak bagaimana anda menginvestasikan waktu anda.”

 “ Orang awam hanya berpikir bagaimana cara menghabiskan waktu. Orang-orang besar berpikir bagaimana cara menggunakan waktu tersebut sebaik mungkin untuk menggapai cita-citanya. “

“ Tidaklah cukup hanya sekedar sibuk, semut pun sibuk, tetapi pertanyaannya adalah, apa yang menyibukkan anda?  Atau anda sebenarnya sibuk mengerjakan apa ? “


Kelompok-Kelompok Orang Sibuk

Orang-orang yang sibuk menjalankan aktivitasnya bisa dikelompokan menjadi tiga :

Kelompok Pertama : Pencari Kesibukan.

Kelompok ini hanya mencari aktivitas tanpa ada tujuan tertentu yang akan dicapai. Baginya yang penting sibuk, dan ada kegiatan. Ada sebagian dari kelompok ini mencari kesibukan untuk menghilangkan rasa kesedihan yang sedang merundungnya, atau menghindari dari kebosanan di rumah. atau karena mengobati stress yang menimpa dirinya. Sebagian yang lain mencari kegiatan sekedar memperbanyak teman, atau mencari kenalan, atau bahkan sekedar ikut-ikutan.

Kelompok ini kelihatannya adalah orang-orang yang super sibuk, tetapi sebenarnya mereka tidak mempunyai tujuan jangka panjang yang jelas, apalagi program dan rencana yang matang, ibarat orang yang berjalan di tempat, mereka tidak ke mana-mana. Kegiatan mereka tidak produktif sama sekali. 

Kelompok Kedua : Para Reaksioner.

Kelompok ini adalah orang-orang yang hanya bereaksi dari sebuah kejadian, melawan gelombang, mengatasi masalah-masalah yang menimpa dirinya.

 Kelompok ini susah untuk mendapatkan kemajuan yang signifikan, karena tidak memiliki visi dan tujuan jangka panjang. Yang penting baginya adalah menyelesaikan masalah yang dihadapinya, itu saja, tidak lebih. Maka, jika masalahnya teratasi, orang-orang seperti ini akan menganggur, atau seandainya beraktivitaspun, sekedar mengisi waktu kosong atau menghibur diri.

Mereka sebenarnya telah menjadi korban lingkungannya sendiri. Biasanya  mereka mengeluh, karena sudah bekerja keras, tetapi hasilnya tidak maksimal.

Kelompok Ketiga : Para Perancang dan Visioner.

Kelompok ini adalah orang-orang yang memiliki tujuan hidup yang jelas, mempunyai visi dan misi di dalam setiap kegiatannya. Mereka selalu merencanakan langkah-langkah yang dibuatnya secara teratur dan sistimatis, dengan menyertakan target-target yang hendak dijangkaunya.

Mereka membagi waktunya sesuai dengan kegiatan-kegiatan yang sudah direncakan tersebut. Di dalam mencapai target jangka panjangnya, mereka  membaginya menjadi tujuan-tujuan jangka pendek yang bisa dicapai secara realistis.

 Mereka mempunyai skala prioritas di dalam kegiatannya. Jadi tidak asal melakukan kegiatan, tetapi mempertimbangkannya berdasarkan maslahat dan madharat yang merujuk pada visi dan misi yang sudah dicanangkan sebelumnya.

 

 

Terminal Pertama = Tempat Lahir

Terminal Terakhir = Alam Kubur

Tujuan Terakhir = Syurga atau Neraka

Jarak Perjalanan = Umur

Bekal Perjalan = Ketaatan kepada Allah

Modal Perjalanan = Waktu-waktu kosong

Copet dan Perampok = Syahwat dan Hawa nafsu

Keuntungannya = Masuk syurga

Kerugiannya = Masuk neraka

 

Imam Ghozali di dalam bukunya Ihya Ulumuddin menyebutkan peta perjalan Manusia, yang bisa diringkas sebagai berikut:[1]

 Sementara itu, Ibnu Qayyim menggambarkan orang yang cerdik adalah orang yang memperhatikan setiap langkah yang dilaluinya, tidak banyak melamun dan berangan-angan. Seandainya dia mengetahui pendeknya jarak yang akan ditempuh, maka sangat ringan baginya untuk bekerja keras demi mencari bekal dan oleh-oleh sebelum sampai tujuan.[2]

 


[1]. Imam Ghozali, Ihya Ulumuddin, juz: I, hlm: 391

[2]. Ibnu Qayyim, Thoriq Hijratain, hlm: 185- 187

Terminal Pertama = Tempat Lahir

Terminal Terakhir = Alam Kubur

Tujuan Terakhir = Syurga atau Neraka

Jarak Perjalanan = Umur

Bekal Perjalan = Ketaatan kepada Allah

Modal Perjalanan = Waktu-waktu kosong

Copet dan Perampok = Syahwat dan Hawa nafsu

Keuntungannya = Masuk syurga

Kerugiannya = Masuk neraka