Karya Tulis
9525 Hits

Bab 4/1: Kekuatan Istighfar; Istighfar Menghapus Dosa

          Istighfar mempunyai beberapa faedah dan keutamaan, kita sebut juga dengan kekuatan istighfar, diantaranya adalah :

Kekuatan Ke- 1

Istighfar Menyebabkan Terhapusnya Dosa-Dosa Dan Kesalahan.

          Seseorang yang selalu beristighfar kepada Allah, maka dosa-dosanya akan dihapus oleh Allah. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda :

  مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ، ثُمَّ يُصَلِّي، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ: ( وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُون(

          ” Tidak ada satupun seorang hamba yang berbuat suatu dosa, kemudian berdiri untuk bersuci, kemudian melakukan sholat dan beristighfar untuk meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuni dosanya. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam membaca surat Ali Imran , ayat : 135, yang artinya: “ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. “ ( Hadits Hasan Riwayat at-Tirmidzi no : 3009, Abu Daud, no ; 1521 )

 Berkata al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Astqalani di dalam Fathu al-Bari (11/99): 

          فيه إشارة إلى ان من شرط قبول الاستغفار ان يقلع المستغفر عن الذنب والا فالاستغفار باللسان مع التلبس بالذنب كالتلاعب

           “  Hadist tersebut mengisyaratkan bahwa salah satu syarat diterimanya al-istighfar adalah bahwa orang yang beristighfar harus meninggalkan dosa yang dilakukannya, karena kalau tidak begitu, maka beristighfar dengan lisan tetapi masih saja melakukan dosa, hanya perbuatan main-main saja. “

           Berkata Ibnu al-Qayyim di dalam Madariju as-Salikin ( 1/ 307 )

 
          الاستغفار الذي يمنع العذاب هو الاستغفار بالإقلاع عن كل ذنب ، وأما من أصر على الذنب وطلب من الله المغفرة فاستغفاره لا يمنع العذاب ; لأن المغفرة هي محو الذنب وإزالة أثره ووقاية شره ، لا كما ظنه بعض الناس أنها الستر ، فإن الله - تعالى - يستر على من يغفر له ومن لا يغفر له ، فحقيقتها وقاية شر الذنب ، ومنه المغفر لما يقي  الرأس من الأذى ، والستر لازم لهذا المعنى . وإلا فالعمامة لا تسمى مغفرا ولا القبعة ونحوه مع ستره

           “ Al-Istighfar yang bisa mencegah dari adzab adalah al-istighfar yang pelakunya bisa meninggalkan seluruh dosa. Adapun orang yang masih terus berbuat dosa, dan meminta ampunan dari Allah, maka istigfarnya tidaklah bisa menghalangi dari adzab. Karena al-maghfirah artinya menghapus dosa dan menghilangkan bekasnya dan menjaga dari bahayanya. Tidak seperti yang disangka oleh sebagian orang bahwa al-istighfar itu artinya menutupi, karena Allah menutupi dosa orang yang beristighfar kepada-Nya dan orang yang tidak beristighfar kepada-Nya. Maka hakekat istighfar ( yang benar ) adalah melindungi dari kejahatan dosa, darinya diambil nama al-mighfar ( penutup kepala di saat perang ) karena melindungi kepala dari bahaya. Adapun menutupi termasuk dalam arti ini. Makanya, al-‘Imamah ( sorban ) tidak dinamakan mighfaran begitu juga al-qab’ah ( kopyah ) dan sejenisnya, padahal fungsinya untuk menutupi.    

           Beberapa pelajaran dari hadits di atas :

Pertama : Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa sama sekali, akan tetapi orang yang bertaqwa sebagaimana yang tersebut dalam surat Ali Imran ayat 135 diatas, salah satu sifatnya adalah jika ia melakukan kesalahan segera beristighfar, mengakui kesalahannya serta memohon ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kedua : Salah satu cara untuk bertaubat dari dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah dengan berwudlu, kemudian melakukan sholat dua reka’at atau lebih, setelah itu, beristighfar memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Shalat tersebut oleh sebagian orang disebut ”Shalat Taubah”. Kalau kita perhatikan dari hadits di atas, bahwa shalat taubat sangatlah mudah dan ringkas. Bacaan-bacaan di dalamnya sama dengan bacaan-bacaan di dalam shalat- shalat yang lain. Shalat Taubat seperti ini adalah sholat taubat yang benar dan sesuai dengan sunnah.

          Disebutkan di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah (27/164 ) bahwa :

صَلاَةُ التَّوْبَةِ مُسْتَحَبَّةٌ بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الأْرْبَعَةِ

           “ Sholat Taubat hukumnya mustahab(dianjurkan)menurut kesepakatan madzhab yang empat. “

           Adapun sholat taubat yang dilakukan oleh sebagian orang dengan melakukan sholat 12 rekaat pada malam senin dengan didahului ritual mandi dan shalat witir, kemudian diharuskan membaca bacaan-bacaan tertentu di dalamnya, adalah sholat bid’ah yang tidak mempunyai landasan kecuali hadits maudhu’ dan batil, yang tidak boleh diamalkan oleh setiap muslim. (  Lihat Abu Umar Abdullah bin Muhammad al- Hamadi, al- Asinah al- Musyri’ah fi at- Tahdzir mi ash- Sholawat al- Mubtada’ah, as- Syariqah, Maktabah as-Shahabah, 2002 , hal : 169-170) .

 Dosa dan maksiat yang ada dalam diri kita, bagaikan penyakit dalam tubuh manusia, dia akan memberatkan tubuh, mengganggu gerakannya, memperlambat kecepatannya, memandulkan kecakapannya, memusingkan kepalanya, membuat nyeri di perut, membuat pegal di badan, membuatnya tidak bernafsu untuk makan, tidak selera untuk minum dan tidak enak untuk tidur, tidak bisa konsentrasi dalam kerja. Dengan istighfar, penyakit dosa dan maksiat itu akan dihilangkan dan dihapus oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga hati ini menjadi lebih tenang dan wajah menjadi cerah, semangat menjadi tumbuh kembali, badan menjadi segar dan bugar.

Di dalam hadist al-Qudsi yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

          قال الله : يا ابن آدم ، إِنَّكَ ما دَعَوْتَني ورَجَوْتَني : غفرتُ لك على ما كانَ مِنكَ ، ولا أُبالِي ، يا ابنَ آدمَ ، لو بلغتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السماءِ ، ثم استَغْفَرتَني : غَفَرْتُ لك ، ولا أُبالي ، يا ابنَ آدم إِنَّكَ لو أتيتني بِقُرابِ الأرض خَطَايا ، ثم لَقِيتَني لا تُشْرِكُ بي شيئا : لأَتَيْتُكَ بِقُرابِها مَغْفِرَة»

          “Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memohon dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa-dosamu yang lalu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku datangkan utukmu ampunan sepenuh bumi pula.” ( Hadits Shohih Riwayat Tirmidi no : 2540 dan Ahmad : 5/ 172)

          Hadits di atas mengajak kepada siapa saja yang telah berbuat dosa dan maksiat walaupun sebanyak apapun juga, untuk tidak putus asa dari rahmat Allah, jangan sampai ia menganggap atau mengira bahwa Allah tidak akan mengampuni dosanya lagi. Tetapi perlu diingat untuk mendapatkan ampunan dari Allah harus memenuhi tiga syarat seperti yang dijelaskan dalam hadist di atas, yaitu : Pertama : berdoa kepada Allah dengan penuh berhara kepada-Nya, Kedua : beristighfar, yaitu memohon ampunan kepada Allah dengan sungguh-sungguh ( dengan tidak mengulangi perbuatannya lagi ), Ketiga : memurnikan tauhid, dengan menjauhi berbagai bentuk syirik, bid’ah dan kemaksiatan.

Di dalam hadist Zaid bin al-Haritsah radhiyallahu’anhu bahwa  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ

           “ Barang siapa yang mengucapkan : “  Astaghfirullaha alladzi la ilaha illa huwa al Hayyu al –Qayyum wa atubu ilahi ( Saya meminta ampun kepada Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, dan saya bertaubat kepada-Nya ,)  maka akan diampuni dosanya walaupun itu lari dari peperangan. “ ( HR at-Tirmidzi ( 3577 )  dan Abu Daud ( 1519), hadist ini dishahihkan al-Albani di dalam Shahih at-Tirmidzi ( 3/182 ))

Adapun hadist al-Barra’ bin al-‘Azib radhiyallahu’anhu   bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

  مَنِ اسْتَغْفَرَ الله فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثَ مرارٍ فَقَالَ : أَسْتَغْفِرُ الله الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ، غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ.

           “ Barang siapayang beristighfar setiap selesai sholat tiga kali, dengan mengucapkan : “  Astaghfirullaha alladzi la ilaha illa huwa al Hayyu al –Qayyum wa atubu ilahi ( Saya meminta ampun kepada Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, dan saya bertaubat kepada-Nya), maka akan diampuni dosa-dosanya nya walaupun itu lari dari peperangan. “ (  HR. Thabrani di Mu’jam al-Ausath dan al-Shaghir. Ini adalah hadist dhaif sekali, karena di dalamnya ada perawi ‘Amru bin Farqad dia adalah lemah ( lihat Majma’ az-Zawaid  wa Manbau al- Fawaid karya al-Haitsami ( 10/131 )

           Hadist Zaid bin al-Haritsah di atas menunjukkan bahwa istighfar bisa menghapus seluruh dosa, baik yang besar maupun yang kecil, karena di dalamnya disebutkan dosa lari dari peperangan, padahal sebagaimana kita ketahui bahwa lari dari peperangan adalah salah satu dosa besar. Hal itu bisa dimaknai bahwa istighfar di sini harus diikuti taubat yang sungguh-sungguh ( taubat nasuha ) serta tidak mengulanginya lagi. Adapun jika hanya mengucapkan istighfar saja, maka masuk dalam katagori berdoa kepada Allah. 


          Beberapa bulan yang lalu, seseorang berkonsultasi kepada penulis, dan bertanya apakah Allah mengampuni dosa-dosanya selama ini, karena dia telah banyak mabuk-mabukan dan minum mimuman keras, bahkan sampai berzina berkali-kali ?

Penulis mengira orang yang bertanya demikian tidaklah sendiri, banyak dari umat Islam ini yang tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Pengampun, mengampuni segala dosa baik yang besar maupun yang kecil, kecuali dosa syirik. Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

           “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.“ ( Qs. an-Nisa : 48 ) .

Kejadian ini mirip dengan kisah seorang penjahat kelas kakap yang pernah membunuh 99 orang secara dhalim, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Abu Sa’id al-Khudri  radhiyallahu’anhu  bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

  كَانَ فِيمَن كَانَ قبلكُمْ رجل قتل تِسْعَة وَتِسْعين نفسا ، فَسَأَلَ عَن أعلم أهل الأَرْض ، فَدلَّ على رَاهِب ، فَأَتَاهُ فَقَالَ : إِنَّه قتل تِسْعَة وَتِسْعين نفسا ، فَهَل لَهُ من تَوْبَة ؟ فَقَالَ : لَا . فَقتله فكمل بِهِ مائَة ، ثمَّ سَأَلَ عَن أعلم أهل الأَرْض ، فَدلَّ على رجل عَالم ، فَقَالَ : إِنَّه قد قتل مائَة نفس ، فَهَل لَهُ من تَوْبَة ؟ فَقَالَ : نعم ، وَمن يحول بَينه وَبَين التَّوْبَة ، انْطلق إِلَى أَرض كَذَا وَكَذَا ؛ فَإِن بهَا أُنَاسًا يعْبدُونَ الله ، فاعبد الله مَعَهم ، وَلَا ترجع إِلَى أَرْضك فَإِنَّهَا أَرض سوء . فانظلق حَتَّى إِذا نصف الطَّرِيق أَتَاهُ الْمَوْت ، فاختصمت فِيهِ مَلَائِكَة الرَّحْمَة وملائكة الْعَذَاب ، فَقَالَت مَلَائِكَة الرَّحْمَة : جَاءَ تَائِبًا مُقبلا بِقَلْبِه إِلَى الله . وَقَالَت مَلَائِكَة الْعَذَاب : إِنَّه لم يعْمل خيرا قطّ . فَأَتَاهُم ملك فِي صُورَة آدَمِيّ فجعلوه بَينهم ، فَقَالَ : قيسوا مَا بَين الْأَرْضين فَإلَى أَيَّتهمَا كَانَ أدنى فَهُوَ لَهُ . فقاسوه فوجدوه أدنى إِلَى الأَرْض الَّتِي أَرَادَ ، فقبضته مَلَائِكَة الرَّحْمَة " .

          “ Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya?

          Ahli ibadah itu berkata: “Tidak.” Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jahat.”

  Maka dia pun berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah perjalanan datanglah kematian menjemputnya, (lalu dia pun mati). Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang dia.

  Malaikat rahmat mengatakan: “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.” Sementara malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.”

  Datanglah seorang malaikat dalam wujud seorang manusia, lalu mereka jadikan dia (sebagai hakim pemutus) di antara mereka berdua. Maka kata malaikat itu: “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”

  Lalu keduanya mengukurnya, dan ternyata mereka dapatkan bahwa orang itu lebih dekat kepada negeri yang diinginkannya. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya.

  Perawinya berkata, berkata Qatadah: al-Hasan mengatakan: “Disebutkan kepada kami, bahwa ketika kematian datang menjemputnya, dia busungkan dadanya (ke arah negeri tujuan).” ( HR. Muslim )

  Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kisah di atas :

Pertama : Allah telah menggerakkan hati orang yang bermaksiat, sehingga ada keinginan untuk bertaubat, atau dengan kata lain : Allah telah memeberikan taufik-Nya kepada orang tersebut untuk bertaubat. Tanpa taufik dari Allah, seseorang tidak akan mempunyai kemauan, bahkan tidak akan tergerak hatinya sedikitpun untuk bertaubat. Dari sini kita ketahui betapa pentingnya taufik dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka hendaknya kita selalu memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar diberikan taufik untuk bisa berbuat baik, memohon kekuatan untuk bisa menghindari hal-hal yang tidak baik, dan dijauhi dari bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kedua: Ahli ibadah yang tidak punya ilmu, yang dalam hadits di atas disebut sebagai ” rahib ” ( seorang pendeta) adalah orang yang rentan terjerumus dalam kesesatan dan akan menyesatkan orang lain. Ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh para ulama tafsir bahwa maksud kalimat ” Wala ad-Dhollin ” dalam surat al- Fatihah adalah kaum Nashara, termasuk di dalamnya para pendetanya yang semangat beribadah, akan tetapi tidak mempunyai ilmu, sehingga dicap oleh Allah sebagai golongan yang sesat.

Oleh karenanya kita diwajibkan untuk selalu membaca surat al- Fatihah dalam sholat lima waktu sebanyak 17 kali, yang di dalamnya terdapat do’a memohon kepada Allah agar dijauhkan dari jalannya kaum Nashara yang sesat.

Pendeta di atas dikatakan sesat dan menyesatkan, karena dia tidak mengetahui bahwa Allah mengampuni segala dosa, kecuali dosa syirik, kemudian dia berfatwa kepada orang yang ingin bertaubat bahwa pintu taubat telah tertutup. Akibat kesesatannya itu akhirnya dia terbunuh secara tidak terhormat.

Ketiga : Seorang yang alim ( mempunyai ilmu syar’i) adalah sosok yang mampu memberikan penerangan dan pencerahan kepada manusia karena ilmu yang dimilikinya, sehingga manusia menemukan kebahagiaan hidupnya baik di dunia maupun di akherat.

Keempat : Lingkungan sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang. Orang yang membunuh 100 orang tadi adalah hanyalah salah satu korban dari lingkungannya sendiri.

Kelima : Pentingnya mencari ilmu syar’i. Seorang pembunuh 100 orang bisa menemukan kebahagian hidup karena berusaha mencari ilmu syar’I, sehingga dia bertemu dengan seorang alim yang menunjukkan padanya jalan yang benar.

  Catatan :

Kisah pembunuh 100 orang di atas bukan berarti mengajak seseorang berbuat jahat seenaknya sendiri dengan dalih Allah akan mengampuni dosa-dosanya jika ia beristighfar. Hal itu dikarenakan dua hal :

Pertama : Seseorang yang telah berbuat jahat tidak mengetahui apakah dia akan hidup lama sehingga bisa beristighfar kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bagaimana jika dia sedang berbuat jahat atau sedang bermaksiat kemudian tiba-tiba Allah mencabut nyawanya ? Bukankah dia akan merugi karena mati dalam keadaan bermaksiat dan su-ul khotimah.

Kedua : Anggap saja ia bisa hidup lama, akan tetapi apakah dia yakin akan bisa sadar dan tergerak hatinya untuk beristighfar kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala ? Sebagaimana yang disebut di atas bahwa bertaubat itu adalah taufik dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tanpanya manusia tidak mungkin ada keinginan untuk bertaubat.