Karya Tulis
2385 Hits

Banyak Jalan Menuju Syurga: (3) Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

 وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَن يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَاباً أَلِيماً   

“ Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. ( Qs. al-Fath : 17 )

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

            كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ  يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

"Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, " Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?" Nabi menjawab: "Siapa yang taat kepadaku, masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan."  (HR. Bukhari : 6737 )

Pelajaran dari Ayat dan Hadits :

Pertama : Ayat dan Hadist di atas memerintahkan kita untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam setiap keadaan. Karena taat kepada keduanya menyebabkan kita masuk syurga

Kedua : Perintah Allah dan Rasul-Nya kadang tidak sesui dengan pandangan dan kemauan kita, bahkan kadang terasa berat untuk dikerjakan dalam kondisi-kondisi tertentu. Walaupun begitu, kita tetap diperintahkan untuk mengerjakannya baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan berat. Kita tidak mempunyai pilihan lain kecuali melakukannya. Ini sesuai dengan firman Allah :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“  Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.. “ ( Qs. al-Ahzab : 36 )

Ketiga : Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, walaupun terasa berat dan tidak sesuai dengan pandangan kita,tetapi akan membawa kepada kebahagian dunia dan akherat. Ini pernah terjadi pada diri Fatimah binti Qais yang merasa berat dan tidak suka karena nalurinya sebagai seorang wanita, ketika diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah dengan Usamah, tetapi walaupun berat beliau tetap taat kepadanya, dan akhirnya dia mendapatkan kebahagian ketika menikah dengan Usamah, ini karena barakah dari ketaatan kepada Rasulullah dalam setiap keadaan.

Adapun hadistnya secara lengkap yaitu ketika Fatimah binti Qais  dicerai suaminya Abu Amru bin Hafsh tiga kali, kemudian beliau datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu :

قَالَتْ فَلَمَّا حَلَلْتُ ذَكَرْتُ لَهُ أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَأَبَا جَهْمٍ خَطَبَانِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ انْكِحِي أُسَامَةَ فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا وَاغْتَبَطْتُ

Fathimah binti Qais berkata: “ Setelah masa iddahku selesai, kuberitahukan hal itu kepada beliau( Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ) bahwa Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Al Jahm telah melamarku, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Adapun Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah meninggalkan tongkatnya dari lehernya (suka memukul ), sedangkan Mu'awiyah adalah orang yang miskin, tidak memiliki harta, karena itu nikahlah dengan Usamah bin Zaid." Namun saya tidak menyukainya, beliau tetap bersabda: "Nikahlah dengan Usamah." Lalu saya menikah dengan Usamah, maka Allah telah memberikan limpahan kebaikan padanya, sehingga aku merasa bahagia hidup dengannya (  HR. Muslim, 2709 )

Keempat : Setiap umatku maksudnya umat dakwah, yaitu umat yang menjadi target dakwah Islam yang mencakup semua manusia.  Adapun umat yang enggan adalah umat yang yang kafir dari mereka, umat yang tidak mau menerima dakwah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kelima: Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud setiap umatku adalah  semua umat Islam akan masuk syurga kecuali yang enggan, yaitu yang tidak taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, dan bermaksiat kepadanya, walaupun dia muslim.

Berkata di dalam Faidhu al- Qadir( 5/15 )  :

 أو مسلما لم يدخلها مع السابقين الأولين

       “Jika dia muslim (yang bermaksiat), maka tidak masuk syurga bersama orang-orang yang terdahulu.“ 

       Berkata al-Manawi di dalam at-Taisir Syarh al-Jami’  ash-Shaghir ( 2/412  ) :

فمن أبى أن كان كافر لا يدخل الجنة أصلاً أو مسلماً لا يدخلها حتى يطهر بالنار وقد يدركه العفو فلا يعذب أصلاً وإن ارتكب جميع المعاصي قال الحكيم الترمذي من اعتقد أن أحداً من أهل التوحيد يخلد في النار فقد أعظم الفرية على الله ونسبه إلى الجور

       “ Barang siapa yang enggan, jika dia kafir, maka tidaklah masuk syurga sama sekali, tetapi jika dia seorang muslim, maka dia tidak masuk kecuali setelah dibersihkan dengan api neraka, dan kadang dia mendapatkan ampunan dari Allah, maka dia tidak disiksa sama sekali, walaupun mengerjakan seluruh maksiat. Berkata al-Hakim at-Tirmidzi : “ Barang siapa yang menyakini bahwa seseorang dari ahli Tauhid kekal di dalam neraka, maka sungguh dia sangat berdusta kepada Allah dan menuduhnya tidak adil. “

        Berkata Mula Ali al-Qari di dalam Mirqah al-Mafatih Syarh Misykatu al-Mashabih ( 1/492 ) :

وقال الطيبي المراد إما أمة الدعوة فالآبي هو الكافر أو أمة الإجابة فالآبي هو العاصي استثناء زجرا وتغليظا

       “ Berkata ath-Thibi : yang dimaksud (umat dalam hadist di atas ) adalah Umat Dakwah, maka yang enggan di sini adalah orang kafir, atau mungkin yang dimaksud ( umat di situ ) adalah Umat Ijabah, maka yang enggan di sini adalah orang Islam yang bermaksiat, dikecualikan dari masuk syurga sebagai tamparan dan peringatan baginya. “  

       Keenam  : Imam Bukhari menyebutkan hadist ini di dalam : Bab ( Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah ), hal itu menunjukkan bahwa yang dimaksud taat kepadaku adalah  berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah.