Karya Tulis
1193 Hits

Banyak Jalan Menuju Syurga: (12) Menjaga Shalat Rawatib

Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

     مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ

"Barangsiapa dalam sehari semalam shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di syurga; empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh." ( HR. Tirmidzi, 380 )

Pelajaran dari Hadits :

Pertama : Hadist di atas menunjukkan keutamaan sholat sunnah rawatib, yaitu sholat yang dilakukan sesudah atau sebelum sholat fardhu.

Kedua : Lafadh hadist di atas secara dhahir menunjukkan bahwa barang siapa yang melakukan sholat sunnah rawatib sehari semalam sebanyak dua belas rekaat, maka Allah akan membangunnya baginya rumah di syurga.  Ini tentunya sholat yang terpenuhi syarat dan rukunnya serta diniatkan karena Allah semata, serta direnungi bacaan-bacaan di dalamnya. Yaitu Sholat yang bisa menjauhkan pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.

      Ketiga : Tetapi di dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang dijanjikan Allah baginya rumah di syurga adalah orang yang selalu menjaga sholat sunnah rawatib dua belas reka’at sepanjang hidupnya, bukan sekedar sehari saja. Hal ini sesuai dengan hadist Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَوْ إِلَّا بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

          “ Tiada seorang hamba muslim yang melaksanakan sholat karena Allah setiap hari dua belas rekaa’at sunnah yang bukan fardhu, kecuali Allah akan membangunkan baginya rumah di syurga atau akan dibangun untuknya rumah di syurga. “ ( HR. Muslim, 728 )

          Di dalam hadits di atas ada lafadh  “ kulla yaumin “ ( setiap hari ), hal itu menunjukkan bahwa yang dijanjikan Allah baginya syurga adalah orang yang melaksanakan sholat tersebut setiap hari, bukan hanya sehari saja. Dan di dalam hadist di atas juga terdapat lafadh “ lillah “ ( karena Allah ), hal ini menunjukkan bahwa sholat tersebut harus dilakukan secara ikhlas, dan tidak mengharap pujian atau balasan dari manusia.

          Keempat : Para ulama ushul fiqh menyebutkan bahwa jika suatu lafadh hadist bersifat mutlak ( tidak terikat ), sedang hadits yang lain lafadhnya bersifat muqayyad ( terikat), maka yang tidak terikat harus dikembalikan kepada lafadh yang terikat. Maka dalam masalah ini, hadist tentang  keutamaan orang yang melaksanakan sholat rawatib dua belas rekaat sehari semalam, harus dibawa kepada hadist yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah menjaga sholat sunnah rawatib tersebut setiap harinya, bukan hanya sekali saja.

          Kelima : Sholat sunnah rawatib dibagi menjadi dua : muakkadah ( yang ditekankan ) dan ghoiru muakkadah ( tidak ditekankan ). Adapun yang muakkadah adalah dua belas rekaat sebagaimana yang disebut di dalam hadist di atas, dan yang dijanjikan rumah di syurga bagi yang menjaganya setiap hari. Adapun yang ghoiru muakkadah adalah selain itu, seperti sholat sunnah sebelum maghrib, atau sebelum ‘Ashar.