Karya Tulis
1166 Hits

Banyak Jalan Menuju Syurga: (14) Membaca Doa Sayidul Istighfar


          وعن شَدَّادِ بْنِ أَوسٍ - رضي الله عنه - ، عن النبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قال : (( سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ العَبْدُ : اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إلهَ إلاَّ أنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ ، وأبُوءُ بِذَنْبِي ، فَاغْفِرْ لِي ، فَإنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ أنْتَ . مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِناً بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِي ، فَهُوَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ ، وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ ))

 Dari Syadad bin Aus bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : ” Sayidul Istighfar adalah seorang hamba berdo’a : ” Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku, Tiada Ilah kecuali Engkau, Engkau telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu, aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu sekuat tenagaku, aku berlindung kepada-Mu dari apa perbuatan jelekku, aku mengakui akan nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui juga atas dosa yang pernah aku perbuat, maka ampunilah diriku, sesungguhnya tiada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau ya Allah.”Barang siapa yang mengucapkan doa ini ( yaitu doa sayidul istihgfar ) pada siang hari dengan menyakini isinya, kemudian mati pada hari itu, sebelum datang waktu sore, niscaya dia termasuk ahli syurga. Dan barang siapa yang membacanya pada malam hari dengan menyakini isinya, kemudian dia mati sebelum datangnya pagi, niscaya dia termasuk ahli syurga” ( HR Bukhari, no : 6306 )

Adapun kandungan dan pelajaran dari doa sayidul istighfar di atas adalah sebagai berikut :

Pertama : Tauhid Rububiyah

اللهُمَّ أَنْتَ رَبِّي

 ” Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku, “.

Doa sayidul istighfar ini dimulai dengan pengakuan seorang hamba kepada Rabb-nya, bahwa Dia adalah Pencipta, Pemilik dan Pemeliharanya. Karena Rabb berarti : pemilik dan pemelihara. Pengakuan seperti ini disebut dengan Tauhid Rububiyah.

Kedua : Tauhid Uluhiyah

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ

  “ Tiada Ilah kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu ”

Maksudnya seorang hamba mengakui dan menyatakan bahwa di alam ini tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Karena ”Ilah” berarti : sesuatu yang disembah, sesuatu yang dijadikan gantungan dan sandaran, sesuatu yang dituju dan dicari ketika terjadi kesulitan. Pengakuan seperti ini disebut dengan”Tauhid Uluhiyah”.

          Allah mempertanyakan orang-orang yang mengakui Allah sebagai Pencipta, Perawat, Penyembuh, Penurun Hujan, Pemberi Rizqi, tetapi mereka menyembah kepada selain Allah, karena pengakuan terhadap Tauhid Rububiyah akan membawa kepada pengakuan kepada Tauhid Uluhiyah, sebagaimana di dalam firman-Nya :( Qs al-Mu’minun : 84-89 ), ( Qs. Yunus : 31 ), ( Qs. Luqman : 32 ),  ( Qs. Yunus : 22-23 ).


          Ketiga : Memenuhi dan Membenarkan Janji

وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ

 ” Aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu dan membenarkan janji-janji-Mu sekuat tenagaku .”

al ‘Ahdu ( Janji seorang hamba kepada Allah ), yaitu seorang hamba  mengakui bahwa Allah adalah Rabbnya, dia pernah berjanji kepada Allah, bahwa dia akan melaksanakan seluruh perintah dan larangan-Nya. Janji ini pernah disampaikan kepada Allah sewaktu dia berada di sulbi Adam, sebagaimana yang pernah disampaikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam friman-Nya :

          وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. ( Qs Al A’raf : 172 )

Janji itu diucapkan hamba-Nya untuk melaksanakan segala perintah Allah sesuai kemampuannya, bukan sesuai hak Allah yang harus dia penuhi, tentunya hal ini tidak akan sanggup dilakukan oleh seorang hamba. Ini sesuai dengan firman Allah : (Qs. al-Baqarah : 286 ) , ( Qs. at-Taghabun : 16 ), ( Qs. ath-Thalaq : 7 )

Adapun ” al Wa’du “ ( Janji Allah kepada hamba-Nya ), yaitu bahwa Allah akan memberikan pahala bagi yang taat dan memberikan hukuman bagi yang bermaksiat. Ini sesuai dengan firman Allah :

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“ Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga) “ ( Qs. an-Najm : 31 )

Keempat : Berlindung Dari Perbuatan Jelek

أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شِرِّ مَا صَنَعْتُ

” Aku berlindung kepada-Mu dari apa perbuatan jelekku ”

Kita harus selalu berlindung kepada Allah dari perbuatan jelek kita. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam sendiri selalu mengajarkan kepada kita agar selalu berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kita dan kejelekan amalan kita. Ini sangat terlihat secara jelas di dalam setiap khutbahnya ketika beliau berdo’a :

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِناَ وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

”Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan kejelekan amalan kami ”

Jiwa manusia selalu membisikan kejelekan, jiwa semacam ini disebut dengan “ an-Nafsu al-Ammarah bi- as-suu’ “, makanya kita dianjurkan untuk selalu berlindung kepada Allah dari bisikannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala melaui lisan istri pejabat yang pernah merayu nabi Yusuf ‘alaihi as-salam :

          وَمَا أُبَرِّىءُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

”Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang Sesungguhnya jiwa ini selalu menyuruh kejelekan ” ( Qs Yusuf : 53 )

          Maka barang siapa mampu menahan jiwa yang jahat ini, akan dimasukkan ke syurga dan barang siapa yang mengikuti bisikannya akan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana firman-Nya :

فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)

          “ Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).“ ( Qs. an-Nazi’at : 37-41 )

          Selain jiwa yang selalu membisikan kejahatan, di sana ada jiwa lain yang selalu menyesali perbuatan-perbuatan jeleknya, dan jika dia berbuat baik, juga menyesalinya, kenapa tidak berbuat baik yang lebih banyak.  Jiwa semacam ini disebut dengan “ an-Nafsu al-Lawamah.“, sebagaimana di dalam firman Allah :

لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ (1) وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (2)

“ Aku bersumpah dengan hari kiamat.dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) “ ( Qs.al-Qiyamah : 1-2 )

Di sana ada jiwa lain yang ketiga, “an-Nafsu al-Muthmainnah” yaitu jiwa yang ketika disebut nama Allah menjadi tenang, jiwa yang mendapatkan ketenangan dalam beribadah kepada Rabb-nya. Jiwa yang selalu istiqamah berada di jalan-Nya, sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabmu", "Dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.Maka masuklah ke dalam barisan hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku".  ( Qs.al-Fajr : 27-30 )

Kelima : Mensyukuri Nikmat

أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتك عليِّ

” Aku mengakui akan nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku. ”

Nikmat yang diberikan Allah kepada kita sangat banyak sekali, karena banyaknya sehingga kita tidak bisa menghitungnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

          وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

 ”Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah )”. ( Qs Ibrahim : 34 )

Kebanyakan manusia dalam menyikapi nikmat terbagi menjadi dua, yaitu dhalim dan kufur. Dhalim yaitu melampaui batas di dalam menggunakan nikmat Allah yang diberikan kepadanya dengan membuat kerusakan di muka bumi, dan bermaksiat kepadanya. Atau mengkufuri  nikmat Allah dengan tidak mau mengakuinya bahwa itu datang dari Allah, bukan datang karena keahlian, kecerdasan dan kepintarannya.

Keenam : Mengakui Kesalahan dan Dosa

وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي

  ” Dan aku mengakui juga atas dosa yang pernah aku perbuat. “

Mengakui dosa merupakan syarat diterimanya sebuah istighfar dan taubat. Oleh karenanya, orang yang berdo’a harus merasa rendah dan hina di hadapan Allah, harus merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang berlumuran dosa dan maksiat, makhluk yang kecil yang tidak mempunyai daya apa-apa. Sebaliknya dia harus mengakui bahwa Allah adalah Maha Suci, Maha Perkasa, Dzat Yang Mampu melakukan apa saja.

Keutamaan Doa Sayyidul Istighfar

Do’a Sayidul Istighfar ini mempunyai keutamaan yang sangat besar sekali, yaitu orang yang selalu membacanya dan memahaminya serta menyakini isinya akan dimasukkan ke dalam syurga. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam hadits berikutnya :

  مَن قَالها مِن النَّهارِ مُوقناً بِها فَماتَ مِن يومهِ قَبل أنْ يُمسِي فَهو مِن أَهل الجَّنةِ، ومَن قَالها مِن اللَّيْلِ وهُو مُوقِنٌ بِها فَماتَ قَبل أنْ يُصبحُ فَهو مِن أَهل الجنة .

”Barang siapa yang mengucapkan doa ini ( yaitu doa sayidul istihgfar ) pada siang hari dengan menyakini isinya, kemudian mati pada hari itu, sebelum datang waktu sore, niscaya dia termasuk ahli syurga. Dan barang siapa yang membacanya pada malam hari dengan menyakini isinya, kemudian dia mati sebelum datangnya pagi, niscaya dia termasuk ahli syurga ”. ( HR Bukhari, no : 6306 )

Hadits di atas menjelaskan secara gamblang bahwa barang siapa yang mengucapkan atau membaca doa sayidul istighfar dengan menyakini isinya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam syurga. Hal itu disebabkan tiga  hal :

Pertama : Karena dia sudah menyatakan ke-Esaan Allah ( bertauhid ) dari hatinya yang paling dalam serta menyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kedua : Karena dia sudah beristighfar dan memohon ampun atas segala dosa-dosanya.Sehingga dia datang kepada Allah dengan hati yang bersih dan sehat, sebagaimana firman Allah :

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

“ Pada hari di mana harta dan anak tidak ada manfaatnya, kecuali siapa yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih ( sehat ) “ ( Qs. asy-Syu’ara’ : 88-89 )

Ketiga : Setelah hatinya kosong dari dosa dan diisi dengan tauhid, tiba-tiba dia mati pada hari itu juga, maksudnya dia belum sempat mengerjakan dosa-dosa lagi, maka tentunya orang seperti ini termasuk ahli syurga. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam:

          مَنْ لَقِيَ اللهَ تَعَالَى لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيئاً دَخَلَ الجَنَّةَ

  ” Barang siapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukannya dengan sesuatu, niscaya ia akan masuk syurga ” ( HR Ahmad )

Ini dikuatkan juga dengan hadits Mu’adz  bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لا إله إلا الله دَخَلَ الجَنَّةَ

” Barang siapa yang akhir dari perkataannya : La ilaha illahu , niscaya ia akan masuk syurga . ”( Berkata an-Nawawi di dalam Riyadh ash-Shalihin ( 1/ 465 ) : Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Hakim, dan beliau berkata : Shahih Isnadnya )