Karya Tulis
2253 Hits

Banyak Jalan Menuju Syurga: (28) Puasa, Takziyah, Nengok Orang Sa

Berpuasa, Mengikuti Jenazah, Memberikan Makan Orang Miskin, Menjenguk Orang Sakit.

      Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

         مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Siapakah di antara kalian yang pagi ini sedang berpuasa?". Abu Bakar menjawab : "Aku." Beliau bertanya lagi: "Siapa di antara kalian yang hari ini telah mengantarkan jenazah?" Abu Bakar menjawab: "Aku." Beliau bertanya lagi: "Siapa di antara kalian yang hari ini telah memberi makan orang miskin?" Abu Bakar menjawab: "Aku." Beliau bertanya lagi: "Siapa di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?". Abu Bakar menjawab : "Aku." Selanjutnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah semua itu ada pada seseorang kecuali dia pasti akan masuk surga." ( HR. Muslim : 1707 )

Pelajaran dari Hadits :

Pertama : Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan ini menunjukkan bahwa beliau adalah salah satu wali Allah, yang mempunyai karomah, dimana beliau bisa melalukan amalan yang di luar kemampuan manusia biasa. Ini adalah madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang percaya kepada karomah wali Allah.

Kedua : Keutamaan amal-amal sholeh yang disebutkan di atas ( puasa, mengantar jenazah, memberikan makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit )

Ketiga : Hendaknya seorang muslim berusaha mengumpulkan di dalam dirinya  amalan-amalan pribadi dan amalan-amalan sosial yang bermanfaat bagi orang banyak. Dan hendaknya lebih memperbanyak amalan sosialnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Keempat : Hendaknya seorang muslim masuk di dalam Islam secara Kaffah, mengamalkan seluruh ajarannya sebisa mungkin, karena hal itu akan mengantarkan dirinya masuk syurga.

Kelima : Boleh mengatakan kepada orang lain dengan perkataan : “ Saya “, dengan maksud untuk menentukan dan membedakan satu dengan yang lainnya. Seperti seseorang yang ditanya : “ Siapa yang hari ini sakit ? “, maka boleh dia menjawab : “ Saya.”

 Kebolehan tersebut telah dinyatakan di dalam dalam beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya Firman Allah  : 

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“ Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". ( Qs. al-An’am : 163 )

Begitu juga firman Allah :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“ Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". ( Qs. al-Kahfi : 110)

Perkataan “ Saya “ di sini tidak diartikan untuk menyombongkan diri dan membanggakan diri.  Tidak seperti perkataan Iblis : “ Saya lebih baik dari dia. “. 

Berkata Mula Ali al-Qari di dalam Mirqatu al- Mafatih Syarh Misykatu al-Mashabih ( 6/ 194 ) :

والحاصل أن قول أنا من حيث هو ليس بمذموم وإنما هو يذم باعتبار أخباره بما يفتخر به كقول إبليس أنا خير منه الأعراف ونحو ذلك من نحو أنا العالم وأنا الزاهد وأنا العابد بخلاف أنا الفقير الحقير العبد المذنب وأمثال ذلك

“ Kesimpulannya bahwa perkataan seseorang “ saya “, dari sisi kata-kata, maka bukanlah sesuatu yang tercela. Hanyasaja kata tersebut akan menjadi tercela jika disampaikan dengan maksud membanggakan diri, seperti perkataan Iblis : “ Saya lebih baik darinya “ ( Qs. al-A’raf :12) , seperti juga ungkapan : “ Saya seorang yang alim “, “ Saya seorang yang zuhud“, “ Saya seorang ahli ibadah.” Ini berbeda dengan ungkapan : “ Saya seorang yang fakir, hina, hamba yang berdosa, “ dan semisalnya ( maka hal ini tidak mengapa). “ 

Keenam : Yang dimaksud masuk syurga di dalam hadist ini adalah masuk syurga tanpa hisab dan adzab atau masuk syurga dari pintu mana saja yang dia kehendaki, bukan sekedar masuk syurga. Karena kalau hanya sekedar masuk syurga,  maka seseorang jika beriman secara minimal saja, tanpa mempunyai prestasi yang berarti, dengan izin Allah bisa masuk syurga  juga.

Berkata Imam an-Nawawi di dalam Syareh Shahih Muslim ( 15/156 ) :

 قال القاضي معناه دخل الجنة بلا محاسبة ولا مجازاة علي قبيح الاعمال والا فمجرد الايمان يقتضي دخول الجنة بفضل الله

“ Berkata al-Qadhi ( Iyadh ) : “ artinya ( dari hadist di atas ) adalah masuk syurga tanpa hisab dan balasan atas amal perbuatan yang jelek, karena sekedar beriman saja, bisa menyebabkan seseorang masuk syurga dengan karunia Allah. “