Karya Tulis
1514 Hits

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah


Bab 12

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

          Ada beberapa keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang disebutkan al-Qur’an dan Sunnah, diantaranya adalah sebagai berikut :

          Pertama : Firman Allah :

 وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ  

          “ Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan “ (QS. Al-Hajj: 27- 28).

          Berkata Ibnu Katsir di dalam Tafsirnya  ( 3/ 239 ) : “ Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa hari-hari yang telah ditentukan adalah sepuluh hari pertama ( bulan Dzulhijjah ) . “

          Kedua : Firman Allah :

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

          “ Demi Fajar, dan malam-malam yang sepuluh “ ( Qs. al-Fajr : 1-2 )

          Berkata ath-Thabari di dalam Tafsirnya ( 7/ 514 ) :

 وَلَيَالٍ عَشْرٍ هي ليالي عشر ذي الحجة ، لإجماع الحُجة من أهل التأويل عليه

          “ Malam-malam sepuluh maksudnya adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah, berdasarkan hujjah yang disepakati oleh ahli tafsir dalam masalah ini. “

          Ketiga : hadist riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa  Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهُ فِى عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ  قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّه إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ، ثُمَّ لاَ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

          "Tidak ada amal shaleh yang lebih utama darinya, kecuali sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, (apakah melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (darinya)”.(HR. Bukhari)

          Keempat : Di dalamnya ada hari Arafah yang mempunyai keutamaan sangat besar, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa  Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

          “ Tidak ada suatu hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka dari pada hari Arafah.“ ( HR. Muslim ( 3288 )).

          Berkata Ibnu Hajar di dalam Fathu al-Bari ( 2/460 )  :

والذي يظهر أنّ السبب في امتياز عشر ذي الحجة، لمكان اجتماع أمهات العبادة فيه، وهي الصلاة والصيام والصدقة والحج، ولا يأتي ذلك في غيره

          “ Menurut saya yang lebih tepat, bahwa keistimewaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dikarenakan terkumpulnya ibadah-ibadah besar di dalamnya, seperti sholat, puasa, sedekah dan haji. Dan itu tidak ada di hari-hari lain. “ 

Amalan-Amalan Pada Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah

          Ada beberapa amalan yang disyariatkan untuk dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Berikut keterangannya :

          Pertama : Memperbanyak Puasa pada Sembilan Hari Pertama Bulan Dzulhijjah.

          Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صيامُ يومِ عرفةَ : إِني أحْتَسِبُ على الله أن يُكَفِّرَ السنة التي بعدَه والسَّنَّة التي قبلَهُ

          “ Puasa hari Arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan penebus (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Muslim).

          Adapun yang sedang di Arafah, maka tidak disunnahkan baginya untuk berpuasa, karena nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa pada hari itu.

          Diriwayatkan dari Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anhuma :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

          “ Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa pada  sembilan hari pertama  Dzulhijjah, puasa ‘asyura’, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An-Nasai, Abu Daud, Ahmad, dan dishahihkan al-Albani  di dalam Shahih Abu Daud ( 2106 )).

           Kedua :  Memperbanyak Takbir, Tahmid, Tahlil, dan Tasbih.  

          Membaca Takbir pada bulan Dzulhijjah ada dua macam:

          Macam Pertama : Takbir Mutlak.

          Membaca takbir secara mutlak, artinya seseorang membaca takbir kapan saja dan dimana saja, pada waktu-waktu tertentu yang dianjurkan di dalam Islam.

          Adapun waktunya adalah dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah dan berakhir hingga ba’da ‘Ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Dasarnya adalah sebagai berikut :

          Pertama : Firman Allah :

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ  

          “ Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah )“ (QS. Al-Hajj: 27- 28).

          Kedua : Firman Allah :

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

          “ .Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah pada beberapa hari yang berbilang( yaitu hari-hari Tasyriq )“  (Qa. al-Baqarah: 203).

          Ketiga : Hadis Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَم عِنْدَ الله وَلا أَحَب إِلَيْهِ فِيهِنَّ الْعَمَلُ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ : عَشْر ذِي الحجة - أَوْ قَالَ : الْعَشْرِ - فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ من التَّهْلِيلَ والتسبيح , وَالتَّكْبِيرَ وَالتَّحْمِيدَ.

          “Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah untuk beramal di dalamnya dari sepuluh hari bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah kalian membaca tahlil, tasbih, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad ( 5446 ) dan al-Baihaqi di dalam Syu’abi al-Iman ( 3473 ) , dan dishahihkan oleh Syekh Syu’aib al-Arnauth )

          Keempat : Atsar para sahabat sebagaimana yang diriwayatkan bahwa :

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا

          “ Bahwa Abdullah bin ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, mereka berdua bertakbir, kemudian orang-orang pun bertakbir mengikuti takbir mereka berdua. ” (HR. al-Bukhari secara muallaq ( 968), lihat Fathu al-Bari ( 2/381 ), dishahihkan al-Albani di dalam Irwa’ al-Ghalil ( 651 )) 

          Kelima : Berkata Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya ( 2/20 ) (970 ) : 

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الْأَيَّامَ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَعَلَى فِرَاشِهِ وَفِي فُسْطَاطِهِ وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الْأَيَّامَ جَمِيعًا وَكَانَتْ مَيْمُونَةُ تُكَبِّرُ يَوْمَ النَّحْرِ وَكُنَّ النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ لَيَالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجَالِ فِي الْمَسْجِدِ

          “ Bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bertakbir di dalam kubahnya, maka terdengar oleh orang-orang yang di masjid, kemudian mereka ikut bertakbir, begitu juga orang-orang pasar juga ikut bertakbir, sehingga Mina bergemuruh dengan suara takbir. Dan Ibnu Umar juga bertakbir di Mina setiap habis sholat lima waktu, di atas kasurnya, di dalam tendanya, di tempat duduknya, dan ketika sedang berjalan pada hari-hari tersebut ( hari tasyriq ), dan Maimunah bertakbir pada hari raya qurban, dan para wanita bertakbir di belakang Abban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari tasyriq  bersama laki-laki lain di dalam masjid “ 

          Macam Kedua :  Takbir Muqayyad ( Terikat )

          Takbiran Muqayyad adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai dari ba’da sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai ba’da shalat ‘Ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Berikut beberapa dalil yang menunjukkan anjuran takbiran muqayyad tersebut :

          Pertama : Atsar Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu :

عَنْ عُمَرَ ؛ أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الظُّهْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.

          “ Bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bertakbir setelah shalat Subuh pada hari Arafah ( 9 Dzulhijjah )  hingga sholat Dhuhur pada akhir hari-hari Tasyriq ( 13 Dzulhijjah ) .”  ( AR. Ibnu Abi Syaibah ( 5681 )

          Kedua :  Atsar dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu :

عَنْ عَلِيٍّ ؛ أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.

          “ Bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bertakbir setelah shalat Subuh pada hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ), hingga sholat Ashar pada akhir hari-hari Tasyriq ( 13 Dzulhijjah ) .”   (AR. Ibnu Abi Syaibah ( 5678 ))  

          Ketiga :Atsar  Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu :

أنه كان يكبر من صلاة الفجر يوم عرفة إلى آخر أيام التشريق، لا يكبر في المغرب

          “ Bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bertakbir setelah shalat Shubuh pada tanggal pada hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ), hingga pada akhir hari-hari Tasyriq ( 13 Dzulhijjah ), dan beliau tidak bertakbir pada Maghribnya. “

          Keempat :Atsar Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

كَانَ عَبْدُ اللهِ يُكَبِّرُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ مِنَ يوم النَّحْرِ ، يَقُولُ : اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

          “ Bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertakbir setelah shalat Subuh pada hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ), hingga sholat Ashar pada hari Nahr, dan beliau bertakbir dengan lafadz sebagai berikut : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillah al-hamdu. ( AR. Ibnu Abi Syaibah ( 5679 )  . Di dalam al-Ausath Ibnu al-Mundzir( 4/305 )  disebutkan : “  Allahu Akbar, Allahu Akbar ( hanya 2x) ,  La Ilaha Illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar walillah al-hamdu. “  Ini juga diriwayatkan dari Ali bin Thalib dalam kitab yang sama.

          Lafadh Takbir

          Adapun lafadh takbir, para ulama berbeda pendapat karena adanya beberapa riwayat yang berbeda dari beberapa sahabat :  

          Pendapat Pertama : bertakbir dua kali, yaitu dengan mengucapkan : 

الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد

          Ini pendapat an-Nakh’I, ats-Tsauri, Ahmad, Ishaq, Sufyan dan Muhammad. berdasarkan riwayat Umar bin Khattab dan Abdullah bin Mas’ud, serta Ali bin Abi Thalib ( Ibnu al-Mundzir, al-Ausath : 4/ 301, 304, 305 ) :))

          Pendapat Kedua : bertakbir tiga kali. yaitu dengan mengucapkan : 

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلاّ الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

          Ini pendapat al-Hasan al-Bashri,  Malik, dan asy-Syafi’I. Berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud  ( Mushannaf Ibni Abi Syaibah ( 5679))

          Pendapat Ketiga : lafadz takbir berdasarkan riwayat Ibnu Abbas (Ibnu al-Mundzir, al-Austah : 4/ 304) adalah :

الله اكبر الله اكبر الله اكبر كبيرا الله اكبر تكبيرا الله اكبر واجل الله اكبر ولله الحمد

          Pendapat keempat : lafadz takbir berdasarkan riwayat Ibnu Umar  (Ibnu al-Mundzir, al-Austah : 4/ 305) adalah :

الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو علي كل شيء قدير

          Takbiran Setelah Sholat Berjama’ah

          Apakah takbir ini dianjurkan untuk orang yang sholat berjama’ah saja, atau setiap orang yang sholat walaupun sendirian ? Para ulama berbeda pendapat di dalamnya :

          Pendapat Pertama : takbir ini khusus bagi yang melakukan sholat berjam’ah saja. Ini pendapat Abu Hanifah dan Ahmad berdasarkan atsar dari Ibnu Umar,  Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas :

وكان ابن عمر اذا صلي وحده لا يكبر في ايام التشريق

          “ Ibnu Umar jika sholat sendirian, beliau tidak mengucapkan takbir pada hari-hari Tasyriq. “

وكان ابن مسعود يقول ليس علي الواحد والاثنين تكبير ايام التشريق انما التكبير علي من صلي في جماعه

          “ Ibnu Mas’ud berkata : “ Tidak disunnahkan bagi satu orang atau dua orang untuk bertakbir pada hari-hari Tasyriq. Karena takbir itu hanya bagi orang yang sholat berjama’ah. “

          Pendapat Kedua : bagi yang sholat sendirian juga disunnahkan untuk mengucapkan takbir pada hari-hari Tasyriq.  Ini pendapat Malik, asy-Syafi’I, al-Auza’I, Qatadah, asy-Sya’bi.

          Wanita disunnahkan Bertakbir

          Apakah wanita disunnahkan baginya bertakbir pada hari Tasyriq ?  Para ulama berbeda pendapat :

          Pendapat Pertama : Para wanita tidak disunnahkan untuk membaca takbir pada hari Tasyriq. Ini pendapat al-Hasan al-Bashri, Abu Hanifah dan Ahmad.

          Berkata Sufyan ats-Tsauri :

          ليس علي النساء تكبير في ايام التشريق الا في جماعة 

           “ Tidak dianjurkan bagi para wanita untuk bertakbir pada hari Tasyriq kecuali kalau mereka sholat berjama’ah. “  

          Pendapat Kedua :   Para wanita disunnahkan untuk membaca takbir pada hari Tasyriq. Ini pendapat Malik, asy-Syafi’I, Abu Tsaur, Abu Yusuf, Muhammad al-Hasan, dan an-Nakh’i.

           Ketiga : Memperbanyak Amal Shaleh

          Dalilnya adalah hadist riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa  Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهُ فِى عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ  قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّه إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ، ثُمَّ لاَ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

          "Tidak ada amal shaleh yang lebih utama darinya, kecuali sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, (apakah melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (darinya)”.(HR. Bukhari)

          Keempat : Memperbanyak Sholat Sunnah.

          Ini berdasarkan hadist Tsauban radhiyallahu 'anhu bahwa ia bertanya tentang amalan yang bisa memasukkan ke dalam syurga, maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab :

عليك بكثرة السجود لله ؛ فإنّك لا تسجد لله سجدةً إلا رفعك الله بها درجةً ، وحطَّ عنك بها خطيئةً

          “ Hendaknya kamu memperbanyak sujud kepada Allah ( sholat sunnah ), karena sesungguhnya kamu tidaklah sujud kepada Allah dengan sekali sujud, kecuali Allah akan mengangkat dengannya satu derajat dan dihapuskan dengannya satu kesalahan.” ( HR. Muslim (488 ))

          Kelima : Memperbanyak Sedekah dan Infaq Materi dan Non Materi.

     Ini sesuai dengan hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه أنَّ ناساً قالوا : يَا رَسُولَ الله ، ذَهَبَ أهلُ الدُّثُور بالأُجُورِ ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أمْوَالِهِمْ ، قَالَ : أَوَلَيسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ بِهِ : إنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقةً ، وَكُلِّ تَكبيرَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَحمِيدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً ، وَأمْرٌ بالمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهيٌ عَنِ المُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وفي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ  قالوا : يَا رسولَ اللهِ ، أيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أجْرٌ ؟ قَالَ : أرَأيتُمْ لَوْ وَضَعَهَا في حَرامٍ أَكَانَ عَلَيهِ وِزرٌ ؟ فكذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا في الحَلالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu : Sesungguhnya sebagian dari para sahabat berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershadaqah dengan kelebihan harta mereka”. Nabi bersabda : “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershadaqah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shadaqah, tiap-tiap tahmid adalah shadaqah, tiap-tiap tahlil adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemungkaran adalah shadaqah dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shadaqah“. Mereka bertanya : “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”. (HR. Muslim)

          Keenam : Melaksanakan Shalat Idul Adha

          Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

          “Laksanakanlah shalat untuk Rabb-mu ( sholat ‘Idul Adha ) dan sembelihlah hewan qurban (QS. Al-Kautsar: 2).

          Ketujuh: Menyembelih Hewan Qurban

          Hadist ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما عمل ابن آدم يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم، وإنه ليؤتى يوم القيامة بقرونها وأشعارها وأظلافها، وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع بالأرض، فطيبوا بها نفسا.

 “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah (berqurban), dan sesungguhnya pada hari kiamat orang yang berqurban itu akan diberi tanduk, bulu, dan kukunya, dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah, maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. at-Tirmidzi (1493), Ibnu Majah (3126) dan al-Hakim (4/246 ) dengan sanad sahih, sebagaimana disebutkan di dalam Taudhih al- Ahkam ( 4/367).  Berkata al-Albani di dalam Misykatu al-Mashabih ( 1470 )  : Shahih )

          Kedelapan : Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah.

          Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu  bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَينَهُمَا ، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الجَنَّةَ       

          “  Antara ibadah umrah yang satu ke ibadah umrah berikutnya adalah sebagai penghapus dosa-dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur, tidaklah ada balasan baginya kecuali syurga.”  ( HR. Bukhari ( 1773) dan Muslim )

          Kesembilan : Memperbanyak Taubat kepada Allah.

          Allah berfirman :  

 وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

                   “ Dan bertaubatlah kepada Allah kalian semuanya wahai orang-orang beriman supaya kalian beruntung “ ( Qs. an-Nur : 31 ) 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ