Karya Tulis
917 Hits

Keutamaan Ilmu dan Penuntutnya (bag. 1)

Pertama : Allah akan Mengangkat Derajat Penuntut Ilmu.

Allah akan mengangkat derajat para penuntut ilmu di atas manusia yang lain. Ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاَتٍ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu dengan beberapa derajat.” (Qs. al-Mujadalah: 11)

Bahkan para malaikatpun diperintah sujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan kepadanya, karena Allah telah mengajarkan kepadanya ilmu. Ini sebagaimana firman Allah :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“ Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” ( Qs. al-Baqarah : 34 )

 Berkata Ibnu Katsir menerangkan dua ayat sebelumnya di dalam tafsirnya ( 1/ 222 ) :

هذا مقام ذكر الله تعالى فيه شرف آدم على الملائكة، بما اختصه به من عِلم أسماء كلّ شيء دونهم

“ Ini kedudukan dimana Allah menyebutkan kemuliaan Adam terhadap Malaikat, karena Allah mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu yang tidak diajarkan kepada makhluq lainnya.” 

Kedua : Orang-Orang Berilmu Ikut Mempersaksikan Ke-Esaan Allah bersama Para Malaikat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِصْطِ

“Allah telah mempersaksikan bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Dia dan para malaikat dan orang yang berilmu (ikut mempersaksikan) dengan penuh keadilan.” (Qs. Ali ‘Imran: 18)

Berkata Imam al-Qurthubi di dalam  al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (4/41 ) :

في هذه الآية دليل على فضل العلم وشرف العلماء وفضلهم ؛ فإنه لو كان أحد أشرف من العلماء لقرنهم الله باسمه واسم ملائكته كما قرن اسم العلماء.

“Di dalam ayat ini terdapat dalil tentang keutamaan ilmu dan kemuliaan ulama serta keutamaan mereka. Jika ada seseorang yang lebih mulia dari ulama, niscaya Allah akan menggandengkan nama mereka dengan nama–Nya dan nama malaikat-malaikat-Nya sebagaimana Allah menggandengkan nama ulama.”

(3) Ketiga : Allah Membedakan antara Orang-Orang yang Berilmu dengan Orang - Orang yang tidak Berilmu.

Ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“Katakan apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs. az-Zumar: 9)

Berkata Syekh Abdurrahman as-Sa’di di dalam  Taisiri al-Karim ar-Rahman ( 1/720) : “ Katakanlah apakah sama orang – orang yang mengetahui Rabb mereka dan mengetahui ajaran agamanya yang syar’i dan pembalasannya, serta rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah di dalamnya dengan orang-orang yang tidak mengetahuinya sama sekali ? Maka tidaklah sama antara mereka ( yang tahu ) dengan mereka ( yang tidak tahu ), sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, antara terang dan gelap, antara air dan api. Hanyasaja yang mau mengambil pelajaran jika diingatkan adalah mereka yang Ulul Albab, yaitu mereka yang mempunyai akal yang bersih dan cerdas. Yang lebih mengutamakan sesuatu yang tinggi daripada sesuatu yang rendah. Mereka lebih mengutamakan ilmu daripada kebodohan, mengutamakan taat kepada Allah daripada bermaksiat kepada-Nya. Hal itu karena mereka mempunyai akal yang menunjukkan agar mereka melihat akibat dari segala sesuatu. Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai kecerdasan dan akal, maka dia akan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. “ 

Keempat : Orang Berilmu dijadikan Rujukan Utama Masyarakat dalam Masalah Agama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

Maka bertanyalah kepada ahli dzikir (orang-orang berilmu ) jika kalian tidak mengetahui.” (Qs. an-Naml: 43) Ayat yang sama juga tersebut di dalam ( Qs. al-Anbiya’ : 7 )

Berkata Imam al-Qurthubi di dalam al-Jami’li Ahkami al-Qur’an (11/272) :

لم يختلف العلماء أن العامة عليها تقليد علمائها، وأنهم المراد بقول الله عز وجل:" فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ" وأجمعوا على أن الأعمى لأبد له من تقليد غيره ممن يثق بميزه بالقبلة إذا أشكلت عليه، فكذلك من لا علم له ولا بصر بمعنى ما يدين به لا بد له من تقليد عالمه، وكذلك لم يختلف العلماء أن العامة لا يجوز لها الفتيا، لجهلها بالمعاني التي منها يجوز التحليل والتحريم

“ Para ulama tidak berbeda pendapat bahwa orang awam harus mengikuti para ulama mereka, dan merekalah yang dimaksud (pada ayat di atas). Dan mereka sepakat bahwa orang buta jika bingung, maka dia harus mengikuti orang lain yang dia percayai tentang arah kiblat. Begitu juga orang yang tidak mempunyai ilmu dan tidak mengetahui tentang agamanya, maka dia harus mengikuti orang yang tahu. Begitu juga para ulama tidak berbeda pendapat bahwa orang awam tidak boleh berfatwa, karena mereka bodoh terhadap hal-hal yang seseorang bisa mengetahui yang halal dan yang haram. “ 

Kelima : Orang Berilmu Memahami Perumpamaan-Perumpamaan yang disebutkan Allah.

Ini sesuai dengan firman Allah  :

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Dan tidak ada yang mengetahuinya (perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh Allah) melainkan orang-orang yang berilmu.” (Qs. al-’Ankabut: 43)

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya (6/279) : 

أي: وما يفهمها ويتدبرها إلا الراسخون في العلم المتضلعون منه

          “ Yaitu tidak ada yang bisa memahami permitsalan-permitsalan tersebut dan bisa merenunginya kecuali orang-orang yang kuat ilmu mereka dan sangat menguasainya. “

Diriwayatkan bahwa Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata :

عَقَلْتُ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ألف مثل

“ Saya bisa memahami dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 1000 permitsalan “( AR.Ahmad. Berkata al-Haitsami di dalam al-Majma’ ( 8/264) : Isnadnya Hasan )

 Keenam : Orang-Orang Berilmu Adalah Orang-Orang Yang Takut Kepada Allah.

Ini sesuai dengan firman Allah :

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمآءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (Qs. Fathir: 28)

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya ( 6/544 ) :

إنما يخشاه حق خشيته العلماء العارفون به؛ لأنه كلما كانت المعرفة للعظيم القدير العليم الموصوف بصفات الكمال المنعوت بالأسماء الحسنى -كلما كانت المعرفة به أتمّ والعلم به أكمل، كانت الخشية له أعظم وأكثر.

          “ Hanyasaja yang takut kepada-Nya dengan sebenar-benar takut adalah para ulama yang mengetahui tentang Allah. Hal itu karena pengetahuan terhadap Allah yang Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Mengetahui Yang mempuyai sifat yang sempurna dan mempunyai nama-nama yang Baik, setiap pengenalan terhadap-Nya lebih sempurna dan pengetahuan terhadap-Nya lebih lengkap, maka rasa takut kepada-Nya lebih besar dan lebih banyak “

Ketujuh : Allah Memerintahkan Untuk Terus Menambah Ilmu.

Ini sesuai dengan firman Allah  :

          وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah: “Wahai Rabb-ku tambahkanlah kepadaku ilmu” (Qs.Thaha: 114)

Berkata Imam al-Qurthubi di dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an ( 4/41 ) :

فلو كان شيء أشرف من العلم لأمر الله تعالى نبيه صلى الله عليه وسلم أن يسأله المزيد منه كما أمر أن يستزيده من العلم

“ Seandainya ada sesuatu yang lebih mulia dari ilmu, maka Allah akan meemerintahkan nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan dari-Nya sebagaimana Dia memerintahkan untuk meminta tambahan ilmu.”

Kedelapan : Ilmu adalah Pemimpin Sedang Amal adalah Pengikutnya.

Allah berfirman : 

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Ketauhilah, sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan mintalah ampun atas dosa-dosamu.” (Qs. Muhammad: 16).

          Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya (1/24), beliau mengatakan,

العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالعَمَلِ

“ Ilmu dulu sebelum ucapan dan amal perbuatan.”  

Berkata al-Hasan al-Bashri :

العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيقٍ، والعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ يُفْسِدُ أَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ، فَاطْلُبُوا العِلْمَ لا تَضُرُّوا بِالعِبَادَةِ واطْلُبُوا العِبَادَةَ طَلَباً لا تَضُرُّوا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَوْمَاً طَلَبُوا العِبَادَةَ وَتَرَكُوا العِلْمَ حَتَّى خَرَجُوا بِأَسْيَافِهِمْ عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ طَلَبُوا العِلْمَ لَمْ يَدُلَّهَمْ عَلَى مَا فَعَلُوا

“ Orang yang beramal tanpa ilmu, seperti orang yang meniti di luar jalan. Orang yang beramal tanpa ilmu lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Maka tuntutlah ilmu dengan tidak merusak ibadah, dan beribadahlah dengan tidak merusak ilmu. Karena sesungguhnya terdapat suatu kaum yang banyak beribadah tetapi meninggalkan ilmu, sehingga mereka keluar dengan pedang-pedang mereka untuk memerangi umat Muhammad. Seandainya mereka mau menuntut ilmu, maka ilmu tersebut tidak akan menunjukkan kepada perbuatan tersebut. “  

 Kesembilan : Orang-Orang Berilmu adalah Pewaris Para Nabi.  

       Ini sebagaimana di dalam hadits Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَإنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأنْبِيَاءِ ، وَإنَّ الأنْبِيَاءَ لَمْ يَوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً وَإنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ

“  Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil bagian ilmu maka sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak.” ( HR. at-Tirmidzi,  3643. Hadist ini Hasan sebagaimana dalam Misykatu al-Mashabih, 212 )

Berkata Imam al-Qurthubi di dalam al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an (11/78) : 

هذا الحديث يدخل في التفسير المسند ؛ لقوله تعالى : {وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ} وعبارة عن قول زكريا : {فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيّاً يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ} وتخصيص للعموم في ذلك ، وأن سليمان لم يرث من داود مالا خلفه داود بعده ؛ وإنما ورث منه الحكمة والعلم ، وكذلك ورث يحيى من آل يعقوب ؛ هكذا قال أهل العلم بتأويل القرآن… والأظهر الأليق بزكريا عليه السلام أن يريد وراثة العلم والدين.

“ Hadits di atas masuk di dalam tafsir yang bersanad, ini berdasarkan firman Allah (Qs.27:16.“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud ) begitu juga apa yang disampaikan nabi Zakariya (Qs. 19:5-6. “ Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub ) dan ini merupakan pengkhususan dari keumuman (warisan ). Dan Nabi Sulaiman tidaklah mewarisi dari Nabi Daud harta yang ditinggalkan sesudah kematiannya. Tetapi beliau mewarisi darinya hikmah dan ilmu. Begitu juga Nabi Yahya mewarisi dari keluarga Ya’qub ( hikmah dan ilmu ). Inilah pendapat para ulama di dalam menafsirkan ayat di atas…Dan tafsir yang lebih tepat dan sesuai bahwa Nabi Zakariya ingin mewariskan ilmu dan agama “

Pendapat Imam al-Qurthubi di atas sesuai dengan hadist :  

إنا معشر الأنبياء لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ

“ Sesungguhnya kami para Nabi tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah “ ( HR. Bukhari, 6726 dan Muslim, 4501 dari hadist Abu Bakar as-Siddiq tanpa “ Sesungguhnya kami para Nabi “. Adapun tambahan lafadh ini ada dalam as-Sunan al-Kubra karya Imam an-Nasai dengan sanad sesuai syarat Muslim )