Karya Tulis
1391 Hits

Tangga-tangga Kesuksesan Belajar: (1) Meluruskan Niat

Selain memahami kaidah-kaidah di atas, seorang penuntut ilmu harus memperhatikan juga faktor-faktor penting yang menunjang proses belajar. Tanpa memperhatikan dan melaksanakan faktor-faktor tersebut, barangkali cita-cita untuk menjadi seorang yang berilmu hanya tinggal angan-angan belaka.

Faktor-faktor yang menunjang keberhasilan dalam belajar, bisa kita sebut di sini dengan istilah Tangga-Tangga Kesuksessan. Tangga-tangga kesuksesan dalam belajar ini pernah disimpulkan oleh Imam asy-Syafi’I ketika menasehati saudaranya yang ingin belajar ilmu agama. Beliau mengatakan :

أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إلَّا بِسِتَّةٍ        سَأُنْبِيكَ عَنْ تفصيلهاَ بِبَيَانِ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَبُلْغَةٍ         وَصُحبَةِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانِ

“ Saudaraku, anda tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam hal...akan saya terangkan rinciannya dengan jelas “  

“ Kecerdasan, Semangat, Kesungguhan, Harta...Berteman dengan Ustadz, serta Membutuhkan Waktu yang Lama.”

          Di bawah ini akan diterangkan tangga-tangga menuju kesuksesan belajar yang disimpulkan dari berbagai sumber. Mudah-mudahan dengan menaiki tangga-tangga tersebut diharapkan seorang penuntut ilmu mencapai kesuksesan belajar dan ilmunya bermanfaat di dunia dan di akherat.   

Tangga ke - 1: Meluruskan Niat

Seorang penuntut ilmu harus meluruskan niatnya terlebih dahulu, karena dengan niat yang lurus, maka Allah akan memberkati ilmunya dan memudahkannya di dalam proses belajar, sebaliknya seseorang yang salah niat dalam belajar, maka ilmunya tidak akan berkah dan amalannya tidak diterima oleh Allah subhanallahu wa ta’ala. Maka, betapa ruginya para penuntut ilmu yang salah niat. Dalam hadist Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata : Saya telah mendengar Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِى بِهِ الْعُلَمَاء ، أَوْ لِيُمَارِى بِهِ السُّفَهاء ، أو يُصْرِفُ بِهِ وُجُوْه النَّاسِ إلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ

“Barang siapa yang belajar degan tujuan untuk mendebat para ulama, atau mempermainkan orang-orang bodoh, atau untuk mencari pengikut, niscaya Allah akan memasukkannya kepada api neraka. (HR. at-Tirmidzi, Hadist Hasan sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’, 6383)

 Ilmu Syari’at sendiri tabiatnya memang tidak akan bisa dikuasai dengan baik tanpa niat yang lurus. Oleh karenanya, Imam al-Laits mengatakan: “Sesungguhnya yang pertama kali harus dikerjakan seorang penuntut ilmu adalah meluruskan niatnya, hal ini sangat penting agar dia bisa mengambil manfaat dari ilmunya dan orang lainpun bisa mengambil manfaat darinya. “

Berkata al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Jami’ li Akhlaqi ar-Rawi wa Adabi as-Sami’ ( 2/275) bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : 

إنما يحفظ الرجل على قدر نيته

“ Sesungguhnya kemampuan seseorang menghafal sesuai dengan kadar niatnya.”.

Dalam hal ini, hendaknya para penuntut ilmu berniat mencari ridha Allah dalam belajarnya, dan itu terealisir dengan empat hal :

Pertama : Hendaknya ia berniat untuk menghilangkan kebodohan yang ia miliki. Karena Allah tidak menyamakan antara orang berilmu dengan orang bodoh, ssebagaimana firman Allah :

قلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.?” (Qs. az-Zumar : 10)

Selain itu, orang yang hidup tapi bodoh, dia bagaikan mayit yang berjalan. Tubuhnya yang besar bagaikan kuburan, karena hanya berisi orang yang mati. Dalam hal ini penyair al-Mutanabbi menulis :

وَفِي الْجَهْلِ قَبْلَ الْمَوْتِ مَوْتٌ لِأَهْلِهِ... فَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُورِ قُبُورُ

وَإِنْ امْرَأً لَمْ يَحْيَ بِالْعِلْمِ مَيِّتٌ ... فَلَيْسَ لَهُ حَتَّى النُّشُورِ نُشُورُ

“ Di dalam kebodohan sebelum kematian adalah kematian bagi pemiliknya...Tubuh-tubuh mereka sebelum masuk kuburan merupakan kuburan (yang berjalan)

“ Jika seseorang tidak hidup dengan ilmu, dia adalah mayit...maka sampai hari kebangkitanpun dia tidak akan bangkit.”  

Kedua: Hendaknya dia beniat untuk dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.“( Hadist Hasan sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’, 6662 )

Ketiga : Hendaknya dia beniat untuk menghidupkan ilmu, karena ilmu kalau tidak dihidupkan, maka akan ditinggal manusia dan akhirnya hilang.

Keempat : Hendaknya dia beniat belajar untuk diamalkan, karena ilmu tanpa amal, bagaikan pohon tanpa buah, ilmu tersebut justru akan menjadi bumerang baginya pada hari kiamat.

Jika seseorang belum mampu mengikhlaskan niatnya di dalam belajar, jangan serta merta ia langsung berhenti dan tidak mau belajar, tetapi tetaplah belajar, karena dengan belajar itu, diharapkan niatnya berangsung–angsur akan lurus. Imam al-Ghozali sendiri, ketika pertama kali menuntut ilmu belum bisa meluruskan niatnya, setelah belajar dan mengetahui pentingnya meluruskan niat, akhirnya beliau luruskan niatnya dalam belajar. Hal yang sama pernah dialami oleh Mujahid, beliau berkata : “Dahulu, ketika belajar petama kali, saya belum punya banyak niat, akan tetapi akhirnya Allah memberikan saya rezeki yaitu berupa niat yang lurus. “