Karya Tulis
712 Hits

Tangga-tangga Kesuksesan Belajar: (2) Bertaqwa dan Jauhi Maksiat

Setelah meluruskan niat, seorang penuntut ilmu hendaknya selalu meningkatkan ketaqwaan-nya kepada Allah subhanallahu wa ta’ala dan berusaha untuk selalu menghindari maksiat, karena maksiat adalah salah satu faktor yang menghambat proses belajar, sebaliknya ketaqwaan menyebabkan seseorang mendapatkan kemudahan di dalam menunut ilmu dan memahami ilmu. Diantara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut :

Pertama : Firman Allah :

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

 ”Bertaqwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajari kalian.” ( Qs. al-Baqarah : 282) 

Ayat di atas menunjukkan bahwa taqwa kepada Allah menyebabkan kita mendapatkan ilmu dari Allah.

Berkata Syekh asy-Syenkiti dalam dalam Adhwau al-Bayan fi Idhahi  al-Qur’an bi al-Qur’an : “ Dan kadang seseorang ketika mengamalkan apa yang telah diketahuinya, maka Allah akan mengajarkan sesuatu yang sebelumnya dia tidak tahu, sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas. “

Berkata Syekh as-Sa’di di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalami al-Manan (1/961) : “ Ayat di atas sebagai dalil bahwa Taqwa kepada Allah merupakan sarana untuk mendapat ilmu.” 

Kedua : Firman Allah,   

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu ilmu yang bisa membedakan antara al-haq dan al-batil dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu.  Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Qs. al-Anfal : 29) 

 Ketiga : Firman Allah :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“(Qs. al-Hadid : 28 )

 Berkata  Ibnu Katsir di dalam tafsirnya ( 8/32 ) : “ Yang dimaksud cahaya pada ayat di atas adalah petunjuk yang dengannya bisa melihat dari penyakit buta (hati) dan penyakit kebodohan “

Berkata Syekh asy-Syenkithi  di dalam Adhwau al-Bayan ( 9/10 ) : “ Maksudnya dari cahaya (pada ayat di atas) adalah ilmu dan petunjuk yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah (Qs.al-Maidah : 122) yang menerangkan orang kafir yang diberi hidayah oleh Allah, yaitu :

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

 “ Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? “ ( Qs. al-Maidah : 122 )

Keempat : Firman Allah :

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

“ (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka lupa sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya ( Qs. al-Maidah : 13 )

Ayat di atas menunjukkan bahwa maksiat menyebabkan hilangnya atau lupanya ilmu yang pernah diberikan kepada orang-orang Yahudi. Berkata Syekh Abdurrahman as-Sa’di di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalami al-Manan ( 1/225 ) : 

     وهذا شامل لنسيان علمه، وأنهم نسوه وضاع عنهم، ولم يوجد كثير مما أنساهم الله إياه عقوبة منه لهم.وشامل لنسيان العمل الذي هو الترك

           “ Lupa pada ayat di atas mencakup lupa terhadap ilmu, bahwa mereka telah melupakannya dan ilmu tersebut hilang dari mereka, sehingga tidak didapatkan pada diri mereka ilmu yang Allah menjadikan mereka lupa, sebagai hukuman atas perbuatan mereka. Selain itu, ayat di atas juga mencakup lupa dalam pengamalan (yaitu meninggalkannya ). “

Kelima : Perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu sebagaimana dalam riwayat al-Baihaqi : “Saya menyangka seorang laki-laki lupa terhadap ilmunya karena sebuah dosa yang dia lakukan.”

Keenam : Imam asy-Syafi’I ketika kesulitan di dalam menghafal beliau melapor kepada gurunya Waki’ yang tertuang dalam beberapa bait syairnya :

شَكَوْتُ إلَى وَكِيْعِ سُوْءَ الْحِفْظِ ، فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

وَأَخْبَرَنِي بِاَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ ، وَنُوْرُ اللهِ لَا يُهْدَى لِلْعَاصِي

"Pada suatu hari, aku mengadu kepada guru-ku Waki’ tentang kesulitan dalam menghafal, lalu beliau berpesan agar aku menjauhi maksiat.

“Beliau juga memberitahukan kepada-ku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah itu tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat. “