Karya Tulis
1024 Hits

Tangga-tangga Kesuksesan Belajar: (4) Sabar dan Ulet

Seorang penuntut ilmu dituntut sabar dan ulet, karena ilmu ini tidak bisa diraih dengan santai-santai. Ilmu bisa didapat hanya dengan kesungguhan yang luar biasa dan disertai dengan kesabaran dan keuletan. Dalil-dalilnya adalah :

Pertama : firman Allah :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. ( Qs. as-Sajdah : 24 )

 Para ulama menerangkan di atas dengan menetapkan suatu kaidah penting, yaitu :

فبالصبر واليقين تنال الإمامة في الدين

  “ Maka hanya dengan kesabaran dan keyakinanlah seseorang mampu menjadi pemimpin dalam masalah agama “

Hal itu dikarenakan dengan sabar, seseorang bisa menghindari diri dari fitnah syahwat, sehingga dia tidak jatuh dalam maksiat.  Dan dengan keyakinan yang teguh, dia bisa menghindari diri dari fitnah syubhat, sehingga tidak mudah ragu dan terjerumus dalam pemikiran sesat. Sebagaimana firman Allah :

وَتَوَاصَوْاْ بالحق وَتَوَاصَوْاْ بالصبر

“ Dan mereka saling nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran ( yaitu yakin ) dan saling nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Qs. al-Ashr: 3 )

Kedua : Firman Allah :

أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الْأِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ  وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ  وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ  وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?  Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (Qs. al-Ghasiyah: 17-21)

Sebagian ulama mengatakan tentang ayat di atas bahwa seakan-akan Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar sebagaimana sabarnya unta, dan mempunyai kemauan tinggi seperti tingginya langit, dan tegar seperti tegarnya gunung, serta rendah hati kepada sesama orang-orang beriman sebagaimana bumi. 

Ketiga : Perkataan ulama :

       لا ينال العلم براحة الجسم

“ Ilmu itu tidak didapat dengan bersantai-santai “

Keempat : Suatu ketika asy-Sya’bi ditanya : “ Bagaimana anda bisa mendapatkan ilmu yang begitu banyak ? Maka beliau menjawab :

بنفي الاعتماد، والسير في البلاد، وصبر كصبر الجماد، وبكور كبكور الغراب

      “ Dengan tidak bergantung kepada seseorang, berjalan ke negeri-negeri, bersabar seperti sabarnya benda mati, dan berpagi-pagi seperti burung gagak. “

Kelima : Ibnu Qutaibah pernah menulis sebuah syair :  

وقَلَّ مَنْ جَدَّ في أَمْرٍ يُطالِبُهُ ... فاستَصْحَبَ الصَّبْرَ إِلاَّ فاز بالظَّفَر

“ Sangat jarang orang yang sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu ....kemudian dia sabar di dalamnya, kecuali dia akan mendapatkannya. “

          Keenam : Berkata penyair lain :

فالصبرُ مفتاحُ النجاحِ ولم نجدْ ... صعباً بغيرِ الصبرِ يبلغُهُ الأملْ

“ Sabar adalah kunci keberhasilan, dan kami tidak bisa menundukkan ....kesulitan sehingga seseorang mendapatkan cita-citanya tanpa kesabaran. “

الجَدُّ بالجِدِّ والحرمانُ بالكسلِ     … فانصَبْ تُصِب عن قريبٍ غايةَ الأملِ

“ Keberhasilan itu bisa diraih dengan kesungguhan, sedangkan kegagalan itu terjadi karena kemalasan…Maka bekerja keraslah, niscaya anda akan mencapai cita-cita “

  Ketujuh :  Salah seorang penyair juga menulis :

دببت للمجد والساعون قد بلغوا                       جُهد النفوس وألقـوا دونـه الأُزرا

وكابدوا المجد حتى ملَّ أكثرُهُم                       وعانق المجد من أوفى ومن صبرا

لا تحسبن المجد تمراً أنت آكله                       لن تبلغ المجد حتى تَلْعَقَ الصَـبِرَا  

“  Saya mencari sebuah kemuliaan, sedangkan orang-orang yang berusaha sudah sampai... pada kepenatan jiwa dan demi itu mereka meninggalkan beras. “

“ Mereka mengejar kemuliaan, sampai-sampai kebanyakan mereka sudah bosan.. sedangkan yang berhasil mencapai kemuliaan adalah orang yang setia dan yang sabar. “

“ Jangan anda sangka bahwa kemuliaan itu seperti anda makan kurma...anda tidak akan mencapai kemuliaan sampai anda menelan brotowali (tanaman obat yang pahit)”          

          Kedelapan : Disebutkan di dalam Sunan ad-Darimi ( 1/114 ) bahwa Ibnu Abbas berkata : Ketika saya mencari ilmu, saya tidak mendapati orang-orang yang lebih banyak ilmunya dari orang-orang Anshar. Suatu ketika aku mendatangi salah satu dari mereka, tetapi diberitahukan kepadaku bahwa dia sedang tidur. Maka akupun menjadikan selendangku sebagai bantal untuk sekedar berbaring, sampai orang yang saya tuju tersebut keluar untuk melaksanakan sholat Dhuhur. Dia berkata : “ Sejak kapan engkau berada di sini wahai sepupu Rasulullah ? Maka aku menjawab : “ Sudah agak lama,” Dia berkata : “ Kenapa tidak engkau beritahu kepadaku akan kedatanganmu ?” Aku menjawab : “ Engkau hendak datang kepadaku, maka aku sudah melakukan keperluanmu.“ Berkata Ibnu Abbas : “Itu di masa saya belajar, maka sekarang saya banyak dicari orang. “

Kesembilan : Berkata Sahnun :

لا يصلح العلم لمن يأكل حتى يشبع

“ Tidak pantas ilmu itu untuk orang yang makan sampai kenyang “

 Macam-Macam Kesabaran Dalam Menuntut Ilmu

Sabar dalam menuntut ilmu bisa dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :

Pertama : Sabar Dalam Perjalanan Menuntut Ilmu, sebagaiaman firman Allah :

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا

“ Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".( Qs. al-Kahfi : 62 )

Nabi Musa tetap bersabar dalam menuntut ilmu ketika mencari seorang guru yang bernama nabi Khidhir, walaupun beliau merasa keletihan selama dalam perjalanan. 

Kedua : Sabar Terhadap Sifat Guru

Nabi Musa juga berusaha bersabar terhadap gurunya, yang mungkin banyak hal-hal dari gurunya yang tidak cocok dengan nabi Musa, sebagaimana firman Allah :

 قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

“ Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun". ( Qs. al-Kahfi : 69 )

 Dalam sebuah pepataha Arab disebutkan :

 إنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيبَ كِلَاهُمَا ... لَا يَنْصَحَانِ إذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا 

فَاصْبِرْ لِدَائِك إنْ أَهَنْت طَبِيبَهُ ... وَاصْبِرْ لِجَهْلِك إنْ جَفَوْت مُعَلِّمَا.

 “ Sesungguhnya guru dan dokter keduanya… tidak akan memberikan nasehat jika keduanya tidak dihormati.

 “ Maka bersabarlah dengan penyakitmu, jika anda menghina dokter…dan bersabarlah dengan kebodohanmu jika anda menjauhi guru. “