Karya Tulis
969 Hits

Tangga-tangga Kesuksesan Belajar: (5) Semangat dan Optimis

Seorang penuntut ilmu seharusnya selalu optimis dan semangat di dalam mencari ilmu, pantang menyerah ketika menghadapi berbagai rintangan dan tantangan. Sikap seperti ini akan membawanya kepada keberhasilan dan kesuksesan. Semangat di dalam menuntut ilmu ini dicontohkan oleh para ulama yang telah membuktikan keberhasilannya di dalam menuntut ilmu, diantaranya adalah :

Pertama : Allah berfirman :

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَباً جَنِيّاً

“ Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” ( Qs. Maryam: 25 )

 Salah seorang penyair mengomentari ayat di atas :

ولو شاء ألقى إليها الرطب      ولكن كل شيء له سبب

“ Kalau Allah berkehendak, niscaya kurma itu akan dijatuhkan di depan Maryam .... Tetapi segala sesuatu itu terjadi karena sebab akibat “

Artinya bahwa Allah memerintahkan Maryam untuk berusaha menurut kemampuannya, walaupun bisanya hanya menggoyangkan pohon kurma, tidak hanya duduk manis menunggu taqdir. Walaupun secara teori manusia, ibu yang baru saja melahirkan anaknya, tidaklah punya tenaga cukup untuk menggoyangkan pohon kurma yang berdiri tegar. Tetapi begitulah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha.

Kedua : Imam adz-Dzahabi di dalam Siyar A’lam an-Nubala ( 17/  405) menyebutkan Biografi Abu Bakar al-Qoffal al-Marwazi (411 H). Beliau adalah salah satu ulama dari madzhab Syafi’I yang menjadi pemimpin para ulama dari wilayah al-Khurasan yang kemudian terkenal dengan Madrasah al-Khurasaniyin. Sebelumnya, al-Qoffal, sebagaimana namanya, adalah seorang tukang yang bekerja memperbaiki kunci dan gembok. Profesi tersebut beliau tekuni sampai umur 30 tahun. Secara tiba-tiba beliau tertarik untuk belajar dan menekuni ilmu-ilmu syari’ah. Karena kesungguhannya yang luar biasa, akhirnya dalam waktu singkat beliau sudah menjadi ulama besar dalam madzhab Syafi’i.

Ketiga : Begitu juga yang dialami oleh Ibnu Hazm, yang sebelumnya adalah orang yang sangat bodoh dengan ilmu syar’i. Ketika ia masuk masjid dan langsung duduk, dia ditegur oleh seseorang agar melakukan sholat Tahiyatul Masjid. Pada kesempatan lain, ketika beliau masuk masjid lagi dan langsung sholat, beliaupun kena tegur karena kebetulan waktu itu adalah waktu-waktu terlarang untuk melakukan sholat sunnah. Merasa dirinya bodoh dan tidak mau dipermainkan orang, akhirnya beliau bertekad untuk belajar ilmu syar’I dengan sungguh- sungguh. Akhirnya dia mengurung diri dengan banyak membaca, menela’ah dan belajar dari guru-guru. Dan dalam waktu singkat, beliau keluar lagi, dan kali ini sudah menjadi seorang alim. Ibnu Hazm terkenal sebagai pengibar bendera madzhab adh-Dhahiri.

Keempat : Salah satu penyair menulis :

وبقدر الكد تُكتسب المعـالي         ومن طلب العلا سهر الليالي

تروم العـز ثـم تنام ليـلا        يغوص البحر من طلب اللآلي

          “ Menurut kadar kesungguhannya, seseorang mendapatkan kemuliaan…maka barang siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, hendaknya begadang malam,

          “ Anda ingin mulia, kemudian anda tidur malam…padahal siapa yang ingin mendapatkan perhiasan, dia harus berani menyelam ke dalam lautan “

  Kelima : Salah seorang penyair juga menulis :

وما نيل المطالب بالتمني    ولكن ألق دلوك في الدلاء

“ Tidaklah cita-cita itu diraih dengan berangan-angan...Tetapi lemparkan embermu ke dalam sumur “

  KH. Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, pada tangal 19 Desember, 1936, ketika Kuliyatu al-Mu’allimin al-Islamiyah diresmikan , pada tahun pertamanya, hanya memiliki 16 murid saja. Bahkan sebagian dari mereka tidak bisa menyelesaikan program studinya karena berbagai alasan. Keadaan seperti itu, tidaklah membuat KH. Zarkasyi surut dan pesimis. Bahkan dengan optimis penuh dan semangat yang membara, beliau berkata : “Biarpun tinggal satu saja dari 16 orang ini, program tetap akan kami jalankan sampai selesai, namun yang satu inilah nantinya akan mewujudkan 10, 100 hingga 1000 orang“ (Silaturahmi Dan Dialog Dengan Pimpinan Pondok Gontor, 1 Juli 2003, hal : 3 )

Ini sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah subhanallahu wa ta’ala dalam firman-Nya, bahwa wilayah (kepemimpinan) tidak akan diperoleh kecuali melalui dengan dua hal, keyakinan dan kesabaran :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dan perintah Kami ketika mereka sabar . Dan mereka menyakini ayat-ayat Kami.“(QS. as-Sajdah: 24)