Karya Tulis
815 Hits

Tangga-tangga Kesuksesan Belajar: (7) Butuhkan Waktu dan Proses

Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa untuk segera menguasai semua ilmu yang diinginkannya, tetapi dia harus bersabar, karena segala sesuatunya perlu proses. Dan ini merupakan sunnatullah di dalam kehidupan : “ Segala sesuatu perlu proses“. Dalam sebuah pepatah Arab disebutkan :

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا

“Belajarlah, karena seseorang itu tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu ”

Artinya, seseorang tidak begitu saja menjadi seorang alim tanpa melalui proses dan usaha. Maka seorang penuntut ilmu, jika ingin menjadi orang alim, hendaknya dia belajar dan terus belajar sehingga cita-citanya tercapai.

Seseorang yang tidak memahami kaidah semacam ini, cenderung gagal di dalam menguasai ilmu. Sebagai contoh ringan di dalam kehidupan akademis mahasiswa al-Azhar, ketika seseorang memulai menghafal al-Qur’an secara tergesa-gesa dan berusaha menguasai hafalan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dia tidak mau melakukan pengulangan atas hafalannya, maka dapat dipastikan orang tersebut akan gagal dalam menghafal al-Qur’an.

Akhir-akhir ini muncul trend di masyarakat kita, yang sebenarnya cukup menggembirakan, yaitu munculnya semangat para penuntut ilmu untuk mengikuti program menghafal al-Qur’an hanya dalam waktu 40 hari. Sebagian berhasil menghafal al-Qur’an dalam waktu yang sangat singkat tersebut, sebagian yang lain mengalamai kegagalan. Tetapi yang perlu diperhatikan dalam trend semacam ini bahwa al-Qur’an tidak bisa dikuasai dalam waktu yang begitu cepat, karena harus terus menerus diulang-ulang dan membutuhkan proses dan waktu agar benar-benar bisa kita hafal di dalam benak kita dan menjadi darah daging kita. Mungkin seseorang bisa menyetor hafalannya selama 40 hari, tetapi apakah hafalan tersebut bisa diuji lagi ?  Dan sampai kapan dia mampu mempertahankan hafalan tersebut ? Tentunya semuanya perlu proses dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Mungkin 40 hari itu hanya sebagai pembuka dan penyemangat tetapi yang menjadi kewajiban selanjutnya adalah menjaga halafan tersebut. Dan ini tentunya tidak mudah.

Fenomena semacam ini, telah dipantau secara seksama oleh para ahli fiqh, sehingga mereka menelurkan sebuah kaidah yang sangat penting sekali. Kaidah tersebut berbunyi :

مَنْ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أوانه عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ

Barang siapa yang tergesa-gesa untuk mendapatkan sesuatu yang belum saatnya, maka justru akan dihukum untuk tidak mendapatkannya.“ ( Kaidah ini disebutkan oleh Imam as-Suyuthi di dalam al-Asybah wa an-Nadhair (1/336) 

Para ulama yang sudah terbukti keilmuan mereka, juga membutuhkan proses sehingga mereka menjadi ulama yang tangguh. Lihat saja umpamanya, sebagaimana disebutkan oleh Imam an-Nawawi di dalam al-Majmu’(1/17) bahwa Imam asy-Syafi’I menghabiskan waktunya selama 20 tahun untuk mempelajari bahasa Arab. Padahal kalau diteliti, beliau adalah seorang keturunan Arab asli yang lahir di Gazza, Palestina, serta hidup di lingkungan Arab sejak kecil. Selain itu, beliau juga fasih di dalam berbahasa Arab. Walaupun begitu, beliau tetap membutuhkan waktu untuk mempelajari sesuatu yang sudah menjadi bahasanya sehari-hari.

  Abul Khair al-‘Umrani, seorang ulama Yaman, ketika menulis kitab al-Bayan yang merupakan syareh kitab al-Muhadzab karya asy-Syairazi, beliau membutuhkan waktu untuk menulisnya selama 40 tahun.

Ibnu Hajar al-Atsqalani ketika menulis kitab Fathu al-Bari, syareh dari kitab Shahih al-Bukhari, yang menurut Imam asy-Syaukani adalah satu-satunya kitab terlengkap dalam menerangkan Shahih al-Bukhari, untuk menyusunnya membutuhkan waktu 40 tahun karena harus mengumpulkan data-data dari berbagai sumber.

Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’ :

أنّ أحد طلبة الحديث رام طلبه ورغب فيه وحضر عند الأشياخ وجلس مجالسهم ثم لما مرّ عليه الزمن رأى أنّه لم يستفد شيئا ولم يحصل كبير علم فقال: إنّني لا يناسبني هذا العلم وترك العلم لظنّه أنّ عنده في فهمه ركودة أو أنّه لا يصلح لطلب العلم؛ قال: فلما كان ذات يوم -أي بعد أن ترك بمدة- مرّ على صخرة يقطر عليها ماءٌ قطرة تلو قطرة وقد أثر ذلك الماء في تلك الصخرة فحفر فيها حفرة فتوقف متأملا ومعتبرا ومتدبرا فقال: هذا الماء على لطافته أثّر في هذه الصخرة على قساوتها فليس عقلي وقلبي بأقسى من الصخر وليس العلم بألطف منه من الماء، فعزم على الرجوع إلى طلب العلم فرجع ونبغ وصار ممن يشار إليهم فيه

“ Bahwa seorang penuntut ilmu hadits bersungguh-sungguh dan senang belajar ilmu hadits, dia mendatangi para masyayikh ( guru-guru ) dan duduk di majlis-majlis mereka. Kemudian setelah berjalan waktu beberapa lama, dia melihat bahwa dirinya tidak banyak mengambil manfaat darinya dan tidak banyak mendapatkan ilmu darinya. Maka dia berkata : “ Sesungguhnya ilmu ini tidak cocok untuk saya. “ Kemudian dia berhenti belajar dan menyangka bahwa dirinya adalah orang yang bodoh atau tidak cocok menjadi penuntut ilmu. Suatu ketika dia berjalan melewati sebuah batu besar yang ditetesi air setetes demi setetes, dan ternyata hal itu mampu mempengaruhi batu besar tersebut dan membuatnya berlubang. Maka dia berhenti sejenak sambil merenung dan mengambil pelajaran darinya, maka dia berkata : “ Air ini walaupun begitu lembut mampu merubah batu besar yang begitu keras, padahal otakku dan hatiku tidaklah sekeras batu tersebut, dan ilmu (yang kupelajari) tidak selembut air tersebut.” Maka orang tersebut bertekad kembali untuk bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu, maka dia segera kembali dan akhirnya menjadi ulama hadist yang menjadi rujukan. “  

Bagaimana dengan kita ?

Syekh al-Utsaimin, seorang ulama senior di Arab Saudi, karya-karya beliau banyak menghiasi perpustakaan-perpustakan dan toko-toko buku, dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Salah satu rahasia keberhasilan beliau adalah lamanya beliau mengajar di Masjid Besar ‘Unaizah, sebuah kota yang terletak tidak begitu juah dari kota Riyadh Saudi Arabia. Diperkirakan beliau mengajar berbagai disiplin keilmuan di masjid tersebut selama kurang lebih 30 tahun, hingga hari wafatnya. Berkat Taufik Allah subhanahu wa ta’ala, penulis sempat berguru kepada beliau selama kurang lebih satu bulan pada tahun 1994 M, pada waktu mahasiswa universitas Madinah liburan panjang dan pulang ke Indonesia. Penulis memberanikan diri untuk tidak pulang dan pergi ke kota ‘Unaizah untuk belajar langsung kepada beliau. Alhamdulillah, beliau menyediakan asrama khusus bagi para penuntut ilmu yang ingin belajar langsung kepadanya yang letaknya di samping masjid tersebut, selain itu beliau juga memberikan hadiah buku-buku secara gratis kepada para muridnya.

Seingat penulis, beliau mengajarkan berbagai disiplin keilmuan kepada murid-muridnya pada waktu Dhuha antara jam 8-11 pagi. Selama tiga jam tersebut, beliau mengajarkan materi Tafsir, Hadits, Fiqh, dan ilmu-ilmu yang lain dalam satu waktu secara bergantian. Kemudian setiap habis sholat ‘Ashar beliau membacakan kitab Riyadhu ash-Shalihin. Kemudian setiap hari Jum’at beliau menyampaikan khutbah di masjid tersebut. Kadang beliau mengajak murid-muridnya untuk hadir di rumah beliau dalam pertemuan terbuka dengan masyarakat dan para penuntut ilmu, yang mereka sebut dengan Liqaat al-Bab al-Maftuh ( Pertemuan-Pertemuan Dengan Pintu  Terbuka ).

Kaisar Nero pernah mengomentari pembangunan kota Roma yang megah waktu itu, dia pernah mengatakan bahwa : “Rome is not built in one night “ (kota Roma tidak dibangun dalam satu malam). Konon kerajaan Romawi Kuno mulai dibangun pada tanggal 13 Agustus tahun 625 SM dengan wilayah kerajaan seluas 280 ribu meter persegi.

Artinya untuk membangun sebuah kota yang indah dan besar tentunya dibutuhkan waktu puluhan tahun lamanya, sama halnya dengan membangun sebuah keilmuan yang tangguh.