Karya Tulis
1233 Hits

Tangga-tangga Kesuksesan Belajar: (9) Rihlah Ilmiyah

Seorang penuntut ilmu hendaknya tidak segan-segan untuk melakukan perjalanan dengan tujuan menuntut ilmu. Hal ini sangat penting, karena para ulama sudah berpencar di seluruh dunia. Seseorang yang hanya belajar pada beberapa guru yang ada di daerahnya saja, tentunya tidak cukup, disinilah pentingnya melakukan rihlah ilmiyah (perjalanan untuk mencari ilmu).

Ada sebagian kawan yang berpikir bahwa membeli buku banyak-banyak dan membacanya sendiri sudah cukup, tidak perlu jauh-jauh pergi untuk menuntut ilmu. Tentunya pikiran ini bisa diterima, ketika tidak ada kesempatan lagi untuk menimba ilmu di tempat yang jauh atau di negara seberang. Jika seseorang mempunyai kesempatan untuk belajar di tempat yang jauh dan diperkirakan tempat tersebut memang sangat kondusif untuk menuntut ilmu, karena mudah mengakses buku-buku dan menemui para ulama, tentunya belajar di tempat tersebut jauh lebih baik, paling tidak dari segi pengalaman.

Para ulama-pun melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, diantara mereka adalah sebagai berikut :

Pertama : Nabi Musa melakukan perjalanan jauh yang tidak tahu jaraknya kecuali Allah hanya untuk mencari seorang guru, yang bernama nabi Khidhir. Allah telah menggambarkan perjalanan tersebut di dalam firman-Nya :

 وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا  فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا   فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا

 “ Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun". Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".” ( Qs. al-Kahfi : 60-62 )

 Kedua : ‘Uqbah bin al-Harits radhiyallahu 'anhu melakukan perjalanan dari Mekkah ke Madinah hanya untuk menanyakan satu masalah saja kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadits di bawah ini :

أنَّهُ تَزَوَّجَ ابنَةً لأبي إهَابِ بن عزيزٍ ، فَأتَتْهُ امْرَأةٌ ، فَقَالَتْ : إنّي قَدْ أرضَعْتُ عُقْبَةَ وَالَّتِي قَدْ تَزَوَّجَ بِهَا . فَقَالَ لَهَا عُقْبَةُ : مَا أعْلَمُ أنَّك أرضَعْتِنِي وَلاَ أخْبَرْتِني ، فَرَكِبَ إِلَى رسول الله صلى الله عليه وسلمِ بِالمَدِينَةِ ، فَسَأَلَهُ : فَقَالَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : (( كَيْفَ ؟ وَقَد قِيلَ )) فَفَارَقَهَا عُقْبَةُ وَنَكَحَتْ زَوْجاً غَيْرَهُ . روى البخاري

Diriwayatkan oleh ‘Uqbah bin al-Harits, bahwa dia menikahi seorang perempuan, yaitu anak dari Abi Ihab bin Aziz. Kemudian datanglah seorang perempuan dan berkata:“ Saya telah menyusui ‘Uqbah dan perempuan yang dinikahinya. Berkata ‘Uqbah:“Saya tidak tahu kalau anda menyusuiku dan tidak pula anda memberitahukan kepadaku. Maka beliau segera menaiki kuda untuk melakukan perjalan menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Madinah. Kemudian beliau bertanya tentang masalah tersebut. Maka beliau bersabda : "Bagaimana lagi, kalau sudah dikatakan." Maka ‘Uqbah menceraikan istrinya, dan akhirnya dia menikah dengan laki-laki lain. ( HR. al-Bukhari )

Ketiga : Atasar Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu  yang menyebutkan :

أن جابر بن عبد الله قال: بلغني حديث عن رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، فابتعت بعيراً، فشددت إليه رحلي شهراً، حتى قدمت الشام، فإذا عبد الله بن أنيس، فبعثت إليه أن جابراً بالباب، فرجع الرسول فقال: جابر بن عبد لله؟!! فقلت: نعم، فخرج فاعتنقني، قلت: حديث بلغني لم أسمعه خشيت أن أموت أو تموت، فذكر الحديث.

“ Bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu berkata : suatu ketika sampai kepada saya hadits dari salah satu sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka segera aku membeli unta, dan saya tempuh perjalanan satu bulan untuk mencari hadist tersebut, sehingga aku sampai Syam, maka saya ketemu dengan Abdullah bin Unais. Seorang menyampaikan bahwa Jabir di depan pintu menunggu, maka utusan tersebut kembali dan bertanya : “ Apakah ini Jabir bin Abdullah ? Beliau berkata : “ Iya “. Maka Abdullah bin Unais keluar dan memelukku. Dan saya berkata kepadanya:“Ada suatu hadits sampai kepadaku, saya khawatir kalau mati duluan atau anda mati duluan. Kemudian beliau menyebutkan hadist tersebut.” ( HR. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad )  

Keempat : Atsar yang menyebutkan rihlahnya Abu Ayyub al-Anshari di Madinah kepada ‘Uqbah bin ‘Amir di Mesir, sebagai berikut :

“ Dari Atha’ bin Abi Rabah, dia berkata : Abu Ayyub al-Ansari melakukan lawatan dari Madinah menuju Mesir untuk menemui ‘Uqbah bin ‘Amir, menanyakan suatu hadist yang ia pernah dengar dari Rasulullah. Setelah sampai di Mesir, ia segera menuju kediaman Maslamah bin Mukhallad al-Ansari, gubernur Mesir waktu itu. Sang Gubernur pun menyambut hangat kedatangannya, dan bertanya tentang maksud kedatangannya. Abu Ayyub mengungkapkan maksudnya untuk bertemu ‘Uqbah bin ‘Amir, dan meminta penunjuk jalan yang dapat mengantarkannya ke kediaman ‘Uqbah. Maka Gubernur tersebut mengutus penunjuk jalan.

Abu Ayyub pun sampai di kediaman ‘Uqbah. Setelah saling berpelukan, Abu Ayyub mengungkapkan maksud kedatangannya: “Aku ingin mendengar satu hadis yang telah aku dengar dari Rasulullah, yang tiada tersisa seorangpun telah mendengarkannya selain aku dan engkau tentang menutup aib seorang mukmin.” ‘Uqbah berkata : Benar, aku mendengar bahwa Rasulullah bersabda :

مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا فِي الدُّنْيَا عَلَى خُرْبَةٍ , سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“ Barang siapa yang menutupi aib seorang mukmin terhadap suatu masalah, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. “ Maka Abu Ayyub berkata :” kamu benar “. Kemudian ia beranjak menuju kendaraannya untuk segera kembali ke Madinah.( Lihat al-Khatib al-Baghdadi di dalam ar-Rihlah fi Thalabi al-Hadits, no : 34, hal : 118, dan Ibnu Abdi al-Barr di dalam Jami’ Bayan al-‘ilmi 1/93 )

Kelima : Begitu juga yang dilakukan imam Syafi’I sendiri, yang berpindah dari tempat kelahirannya Gazza, Palestina menuju Mekkah, kemudian dilanjutkan ke Yaman, kemudian ke Iraq, dan akhirnya ke Mesir hingga wafat beliau.

Keenam : Suatu ketika Imam Ahmad ditanya apakah seorang penuntut ilmu belajar kepada seseorang yang banyak ilmunya atau melakukan rihlah ilmiyah ? Beliau menjawab : “ Hendaknya dia melakukan rihyah ilmiyah mengambil ilmu dari para ulama di penjuru dunia, bertemu dan belajar dari mereka. “

Beliau sendiri sudah melaksanakan apa yang dia katakan. Beliau sudah mengembara untuk mencari hadits ke seluruh pelosok dunia, seperti wilayah Syam, Maroko, Aljazair, Madinah, Iraq, Persia dan penghujung dunia.

Ketujuh:  Imam Baqi’ sbin Makhlad yang melakukan perjalanan dari Andalus ke Baghdad untuk bertemu dengan Imam Ahmad ingin belajar hadist dari beliau. Bahkan sesampainya di Baghdad, Imam Ahmad dilarang mengajar hadist kepada masyarakat. Akhirnya dia berpura-pura jadi pengemis untuk bisa belajar hadits dari Imam Ahmad.

Kedelapan : Ibnu Khaldun di dalam al-Muqaddimah berkata :  “ Sesungguhnya melakukan perjalanan di dalam menuntut ilmu dan bertemu dengan para masayikh ( para guru) merupakan kesempurnaan di dalam menuntut ilmu. Hal itu disebabkan karena manusia mengambil ilmu dan akhlaq dari para ulama begitu juga dari madzhab dan keutamaan mereka, itu kadang dengan cara belajar dan mengajar serta bertemu dengan mereka, dan kadang dengan cara bergaul dengan mereka, atau langsung mengambil ilmu dari mereka Hanya saja belajar dengan cara bertemu langsung dengan mereka lebih melekat dan lebih kuat. Oleh karenanya menurut kadar banyaknya guru, maka ilmu seseorang akan lebih melekat dan lebih terbuka.

Dalam suatu pepatah Arab disebutkan :

من لم يكن رُحْلَةً لَنْ يكونَ رِحْلَةً

“ Barang siapa yang tidak pernah pergi untuk mencari ilmu, maka dia tidak akan pernah didatangi ( orang lain ) untuk belajar darinya ”

Manfaat Rihlah Ilmiyah

Pertama : Dengan melakukan perjalanan untuk mencari ilmu menyebabkan seseorang bisa berkonsentrasi penuh, dia tidak disibukkan dengan urusan dunia, bahkan istri dan anak sekalipun.

Kedua : Seseorang jika merasakan betapa penatnya perjalanan dan betapa besarnya perjuangan mencari ilmu, maka dia akan sungguh-sungguh mencarinya dan akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya. Akhirnya, dia akan memahami betapa berharganya sebuah ilmu.

Ketiga : Dengan melakukan perjalanan, seseorang akan bertemu dengan orang-orang yang baik dan  berkenalan dengan orang-orang yang berhasil, sehingga bisa mengikuti jejak mereka dan meniru akhlaq mereka.

Keempat : Dengan melakukan perjalanan, seseorang mengenal adat istiadat masyarakat lokal, perbedaan watak dan perilaku, sehingga dia bisa memahami perbedaan. Bahkan fatwa dan hukum bisa berubah sesuai dengan perubahan waktu, tempat dan  keadaan. Lihatlah Imam asy-Syafi’i, bagaimana ketika beliau berpindah dari Iraq ke Mesir banyak fatwa-fatwa beliau berubah drastis. Para ulama menyebutkan pendapat Imam asy-Syafi’i ketika berada di Iraq dengan al-Qaul al-Qadim (pendapat lama) dan pendapat beliau ketika berada di Mesir disebut dengan al-Qaul al-Jadid (pendapat baru).

Kelima : Dengan banyak perjalanan menuntut ilmu, maka seseorang akan bertemu dengan banyak guru dari berbagai madzhab, sehingga wawasannya semakin luas dan dalil-dalilnya akan semakin kuat.

Keenam : Perjalanan Ilmiyah bisa menjadi penghibur dari rasa sedih ketika tertimpa musibah atau ditinggal orang-orang yang dicintai.

Ketujuh : Perjalanan Ilmiyah bisa menumbuhkan rasa semangat lagi ketika mengalami kejemuan, bosan dan rasa suntuk karena berada dalam satu keadaan.  Dengan berpindah tempat dan bergantinya suasana maka akan menimbulkan rasa semangat baru dengan suasana baru ditambah dengan bertemu dengan orang-orang baru yang baik dan berilmu.

Kedelapan : Perjalanan Ilmiyah membuat hidup seseorang lebih sehat, baik sehat badan maupun sehat jiwa. Karena dia terus bergerak dan berpindah. Menurut ilmu kesehatan, badan yang sering dipakai untuk gerak dan beraktivitas akan menjadi sehat karena terjadinya proses pembakaran dalam tubuh, sebaliknya badan yang tidak pernah diolah dan digerakkan maka akan lemah dan sakit. Sebagaimana air yang menggenang, dia akan merusak, sebaliknya air yang mengalir, dia akan menjadi baik dan bermanfaat bagi alam.

Kesembilan : Dengan melakukan Perjalanan Ilmiyah seseorang akan lebih terhormat dan disegani di tempat yang baru maupun di tempat dia berasal, karena bagi masyarakat, orang yang baru tersebut tentunya mempunyai nilai lebih dibanding dengan orang yang sehari-hari mereka kenal. Seperti emas, jika tetap di tempatnya, maka dia tidak berharga karena sama dengan tanah, tetapi ketika dikeluarkan dari tempatnya menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Kesepuluh : Dengan melakukan Perjalanan Ilmiyah, ilmu seorang ulama bisa lebih menyebar. Karena tempat yang dia berada di dalamnya sekarang, barangkali masyarakatnya kurang mendukung dan tidak tertarik dengan ilmu. Dengan pindahnya ke tempat yang lebih besar dan kondusif, diharapkan ilmunya dibutuhkan masyarakat setempat.

Suatu ketika Syekh Izzu ad-Din bin Abdu as-Salam keluar dari Syam dan melewati kota Karkuk. Ketika penguasa kotaa tersebut menginginkan beliau tinggal di kota tersebut, Syekh Izzu ad-Din menjawab: “Kotamu terlalu kecil untuk menyebarkan ilmuku“. Maka beliau melanjutkan perjalanan ke kota Kairo, Mesir. 

Manfaat rihlah ilmiyah telah diringkas Imam asy-Syafi’I dalam bait-bait syi’ir yang beliau tulis, sebagaimana tertera di bawah ini.

( 1) Pertama : Beliau menulis :

سافر تجد عوضا عن من تفارقه     وانصب فان لذيذ العيش في النصب

إني رأيت وقوف الماء يفسده        إن سال طاب وان لم يجر لم يطب

والأسد لولا فراق الغابي ما افترست    والسهم لولا فراق القوس لم يصب

والشمس لو وقفت في الفلك دائما       لملها الناس من عجم ومن عربي

والتبر كالترب ملقى في أماكنه     والعود في أرضه نوع من الحطب

فان تغرب هذا عز مطلبه        وان تغرب ذاك عز كالذهب

“Pergilah, niscaya engkau mendapatkan ganti apa yang engkau tinggalkan,

Dan selalulah bekerja keras, karena nikmatnya hidup ketika bekerja keras,

Saya melihat genangan air sangatlah merusak, jika ia mengalir maka akan bermanfaat, jika tidak, maka akan merusak.

Singa ketika masih di hutan, tentunya tidak menakutkan, dan anak busur selama masih dalam tempat, tidak akan mengenai sasarannya.

Matahari, jika tetap diam di tengah langit, maka semua manusia akan bosan, baik yang berbangsa Ajam maupun yang berbangsa Arab.

Emas jika masih di tempatnya, sepert tanah biasa, dan kayu wangi jika belum dipetik, harganya sama dengan kayu bakar.

Jika si fulan pergi, maka dia akan dicari, dan jika fulan yang lain juga pergi, maka dia menjadi langka, bagaikan emas. ”

(1) Kedua : Dalam kesempatan lainnya, Imam asy-Syafi’I juga menulis  :

تغرب عن الأوطان تكتسب العلا   وسافر ففي الأسفار خمس فوائد

تفريج هـمٍّ واكتسـاب معيشـة   وعلـم وآداب وصحبـة مـاجد

فان قيل فـي الأسفار ذل وشدة وقطع الفيافي وارتكاب الشدائـد

فموت الفتى خير له من حيـاته بدار هوان بين واش وحـاسـد

”Tinggalkan negaramu, niscaya engkau akan menjadi mulia, dan pergilah, karena bepergian itu mempunyai lima faedah .

Menghibur dari kesedihan, mendapatkan pekerjaan, ilmu dan adab, serta bertemu dengan orang-orang baik.

Jika dikatakan bahwa bepergian itu mengandung kehinaan, dan kekerasan, dan harus melewati jalan panjang, serta penuh dengan tantangan,

Maka bagi pemuda kematian lebih baik daripada hidup di kampung dengan para pembohong dan pendengki.“

(2) Ketiga : Berkata Abu Tamam :

وطولُ مُقامِ المرءِ في الحَيِّ مُخْلِقٌ …لديباجَتَيْهِ فاغْتَرِبْ تَتَجدَّدِ

فإنِّي رَأيتُ الشَّمسَ زيِدَتْ مَحَبَّةً ... إلَى النَّاسِ إذْ لَيْسَتْ عليهم بِسَرْمَدِ

“ Lamanya seseorang tinggal di desa membuat bajunya lusuh..maka pergilah, maka baju itu akan berganti baru.

Sesungguhnya saya melihat matahari semakin dicintai manusia …karena tidak diam lama di tempat. “