Karya Tulis
942 Hits

Tangga-Tangga Kesuksesan Belajar: (14) Mengatur Waktu

Pertama : Mengatur Waktu untuk banyak Kegiatan. 

Seorang penuntut ilmu harus bisa mengatur waktunya, sehingga tidak terbuang sia-sia. Dia harus membagi waktunya untuk menuntut ilmu, untuk istirahat, untuk makan dan minum, untuk keluarganya dan untuk beribadah kepada Allah.

Para ulama pendahulu pun telah memberikan suri tauladan yang baik pada generasi sesudahnya. Adalah Ibnu Jarir at-Thabari telah membagi kesehariannya menjadi beberapa bagian, sebagaimana yang dikisahkan oleh Qadhi Abu Bakar Ahmad Kamil Al-Syajari, salah satu murid dekatnya:

”Setelah Ibnu Jarir makan dan tidur, beliau bangkit untuk sholat Dzuhur di rumahnya. Setelah itu, beliau menulis sebuah buku sampai datang waktu Ashar, kemudian beliau keluar untuk melakukan sholat Ashar dan mengajar para murid-muridnya sampai Maghrib, kemudian beliau mengajar fiqih dan beberapa pelajaran lainnya hingga datang sholat Isya, kemudian beliau pulang ke rumahnya. Beliau benar-benar telah membagi waktu seharinya untuk; maslahat dirinya, agama dan masyarakat sekitarnya.”  ( Sayid Husain Al Affani,’ Imarat al-Auqat bi ‘Amali Ash-Sholihat, (Kairo, Dar Affani) hlm: 34-35 )

           Begitu juga yang dilakukan oleh Abdullah al-Ghani al-Maqdisi, penulis buku Umdatu al-Ahkam, di dalam membagi waktu-waktunya sebagaimana yang dijelaskan oleh muridnya Dhiya’ al-Maqdisi :

          “ Abdullah al-Ghani al-Maqdisi tidak sedikitpun menyia-nyiakan waktunya. Setelah sholat Subuh, beliau mengajarkan al-Qur’an dan Hadist. Setelah  itu beliau bangun untuk berwudhu dan sholat hingga sebelum Dhuhur. Setelah Dhuhur beliau sibuk mengajar dan menulis buku hingga Maghrib. Kemudian sholat Isya’ dan tidur hingga pertengahan malam atau setelahnya. Setelah itu bangun, lalu berwudhu dan sholat hingga mendekati sholat Subuh. Beliau mungkin berwudhu hingga delapan kali dalam semalam atau lebih. Dia berkata : “ Sholat saya menjadi baik, selama anggota badan saya masih basah”. Kemudian, beliau tidur sebentar sebelum Subuh.  Itulah rutinitas yang dilakukannya setiap hari secara terus-menerus. “( Adz-Dzahabi, Tadzkiratu al-Huffadh, 4/1376 )

 Seorang ahli hikmah berkata : “ Gunakan setiap menit yang ada, dan gunakan setiap jam yang ada, maka akan menjadi sangat berharga bagi kehidupan anda.”

Jika kita menyediakan waktu satu jam setiap hari untuk menjalankan suatu program, berarti kita telah mampu mengumpulkan waktu selama 365 jam selama satu tahun, atau sama dengan 45 hari bekerja secara sungguh dan terus menerus selama 8 jam sehari.

Ini sama dengan menambahkan satu bulan setengah kehidupan produktif dalam hidup kita setiap tahun. Walaupun begitu, tidak banyak yang mampu mengerjakannya, kecuali orang-orang yang mempunyai tekad dan semangat yang kuat.

Kedua : Tidak Mengundur-undur Waktu Belajar

Seorang penuntut ilmu hendaknya tidak mengundur-undur belajarnya sampai esok hari, apalagi sampai seminggu, atau sebulan atau bahkan sampai setahun lagi.

Diriwayatkan dalam suatu atsar :

كَتَبَ عُمر بن الخَطَّاب اِلىَ أبَىِ مُوسَى الأشْعرَى وهو بالبَصْرة : " لاَ تُؤَجِل عَمَلَ اليَومِ الِىَ الغَدِّ فَتَزْدحِم علَيكَ الأَعْمال فَتَضيع "

“ Suatu ketika Umar bin Khattab menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari – waktu itu beliau sedang di Bashrah - : “ Janganlah anda menunda  pekerjaan hari ini pada esok hari, karena pekerjaan anda akan menjadi menumpuk sehingga (tidak sanggup anda kerjakan ) dan akan hilang semuanya. “

Ada seseorang bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz : “ Sebaiknya tuan bertamasya dan beristirahat . “ Beliau bertanya : “ Jika saya beristirahat siapa yang menggantiku ? Mereka berkata : “ Anda bisa menundanya sampai besok . “ Beliau berkata : “ Pekerjaan satu hari saja sudah menyusahkanku, apalagi kalau saya harus mengerjakan dua pekerjaan dalam satu hari. “

Seorang penyair pernah menulis bait-baitnya dalam masalah ini:

مَضَى أَمْسِكَ الْمَاضِي شَهِيْدُ مُعْدِلًا وَأَعْقَبَهُ يَوْمٌ عَلَيْكَ جَدِيْدُ

فَيَوْمُكَ إِنْ أَغْنَيْتَهُ عَادَ نَفْعُـــهُ عَلَيْكَ وَمَاضَي الْأَمْسِ لَيْسَ يَعُوْدُ      

فَأِنْ كُنْتَ إِقْتَرَفْتَ إِسَــــاءَةً فَثَنٍ بِإِحْسَانٍ وَأَنْتَ حَمِيْدً

فَلَا تُرْجِ فِعْلَ الْخَيْرِ يِوْمًا إِلَى غَدٍ لَعَلَّ غَدًا يَأْتِي وَأَنْتَ فَقِيْدً

“Harimu kemarin telah berlalu sebagai saksi bagimu, kemudian datang hari baru untukmu…..

Hari ini adalah harimu, manfaatnya untuk kamu, sedang hari kemarin tidak akan kembali lagi ….

Jika hari kemarin anda telah melakukan kesalahan, maka segera anda ikuti dengan perbuatan baik, sedang anda mensyukurinya…..

Maka janganlah anda sekali-kali menangguhkan perbuatan baik sampai besok hari, barangkali besok hari tiba, sedang anda sudah tiada… …”

Orang Barat mengatakan :  “ Tomorrow Never Comes “,  besok tidak akan datang selamanya. Artinya jika anda selalu mengundurkan suatu pekerjaan pada esok harinya, jangan-jangan anda sudah meninggal terlebih dahulu, sehingga besok bagi anda tidak pernah datang selamanya. 

Ketiga : Menghindari Para Pencuri Waktu

Seorang penuntut ilmu hendaknya juga menghindari  para pencuri waktu, yang akan mencuri waktu belajarnya untuk hal-hal yang  kurang penting. Yang dimaksud dengan pencuri waktu adalah kegiatan-kegiatan yang menguras banyak waktu kita tanpa membuahkan hasil yang berarti.

Berikut ini beberapa contoh kegiatan-kegiatan yang sering mencuri waktu kita , diantaranya adalah:

(1) Aktivitas yang tidak Terencana.

Ya, aktivitas yang tidak terencana hanya akan menghabiskan waktu saja. Orang yang tidak punya rencana dalam aktivitasnya dia sekedar beraktivitas tanpa mengetahui tujuan dari aktivitas itu ke mana, dan target-target apa saja yang ingin dicapai.

(2) Orang-Orang yang Berkunjung tanpa Membuat Janji Terlebih Dahulu.

Para ulama berusaha mencari cara untuk mengatasi keadaan seperti ini. Diantara mereka ada yang telah mempersiapkan pekerjaan yang bisa dikerjakan sambil menerima tamu, seperti meruncingi pensil, merapikan buku dan lain-lainnya.

(3) Mengobrol tentang hal-hal yang tidak terlalu penting.

(4) Banyak Rapat dan Pertemuan yang tidak Efektif.

(5) Tidak Berani Menolak Permintaan.

Kalau anda  ingin menjaga waktu anda sebaik mungkin, sekali-kali anda belajar untuk mengatakan “ Tidak “ dan menolak tugas-tugas yang sepertinya tidak pas untuk anda. Anda harus belajar untuk memilih tugas yang anda benar-benar ingin lakukan atau sesuai dengan bakat anda atau sesuatu yang memang perlu untuk diselesaikan.

(6)  Nonton TV, Browsing Internet, Facebook, Twitter, WhatsApp.

(7)  Dering Telepon atau Handpone

Seorang penuntut ilmu diharapkan bisa mengetahui kapan waktu yang paling produksi baginya. Dia harus mengetahui kapan kondisi badannya mempunyai kekuatan penuh dan kapan kondisi badannya melemah. Untuk kemudian membagi tugas-tugasnya sesuai dengan kondisi badannya. Untuk pekerjaan yang sulit dan memerlukan pemikiran yang matang, hendaknya diletakkan pada waktu pagi habis tidur. Pada saat - saat seperti itu pikiran masih jernih dan segar, apalagi didukung dengan udara pagi yang sejuk. Sebaliknya pekerjaan yang ringan, seperti browsing  di internet atau membaca  koran dan melihat berita di TV, bisa dilakukan pada sore hari ketika badan sudah agak capek. Dengan demikian waktu kita akan terpakai secara lebih efektif.

Keempat : Menganalisa Dimana Dia Menghabiskan Waktu

          Untuk menunjang keberhasilan anda di dalam mengatur waktu, anda harus memahami juga di mana dan kegiatan apa saja yang menyita waktu anda.

          Untuk melakukan hal itu, anda bisa membuat catatan khusus bagi seluruh kegiatan yang anda lakukan selama satu bulan, beberapa banyak waktu yang anda habiskan  untuk mengerjakan tugas kantor, tugas sekolah, pertemuan-pertemuan di dalam organisasi, dan membuka internet. Kalau anda seorang ibu rumah tangga, maka berapa banyak yang anda habiskan untuk pergi ke pasar, memasak di dapur, mengurusi anak, berapa banyak pula waktu yang anda sediakan untuk membaca buku, membaca al-Qur’an, mendengarkan ceramah, berapa banyak pula waktu yang anda habiskan untuk istirahat dan tidur ?

          Setelah anda mengetahui informasi semacam itu, mulailah anda melakukan perubahan secukupnya, hal-hal yang kurang penting mungkin bisa ditinggalkan diganti dengan hal- hal yang lebih penting untuk segera diselesaikan. Sebagai contoh, setelah dilihat dalam catatan tersebut, ternyata anda terlalu banyak di depan komputer, padahal hanya sekedar membaca berita atau mencari informasi yang sebenarnya tidak anda perlukan sekali, maka kurangilah waktu anda di depan komputer dan begitu seterusnya.