Karya Tulis
1275 Hits

Tangga-tangga Kesuksesan Belajar: (16) Mengamalkan Ilmu

Seorang penuntut ilmu hendaknya mengamalkan ilmu yang sudah didapat, tanpa diamalkan, maka ilmu tersebut tidak berkah dan tidak bermanfaat. Berikut dalil-dalil yang menjelaskan kewajiban mengamalkan ilmu yang dimiliki, diantaranya sebagai berikut :

          Pertama : Firman Allah :

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim. (Qs. al-Jum’ah: 5)

          Kedua : Firman Allah :

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

           “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?(Qs. al-Baqarah : 44 )

           Ketiga : Firman Allah : 

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. ( Qs. Hud : 88 ) 

Syekh al-‘Utsaimin di dalam Syarh Riyadhu ash-Shalihin berkata tentang ayat di atas: “ Ayat di atas merupakan dalil bahwa manusia yang melanggar apa yang dia larang, atau meninggalkan apa yang dia perintahkan, maka dia telah menyelisihi jalan para Rasul. Karena para Rasul tidak mungkin menyelisihi  apa yang mereka larang manusia dari mengerjakannya. “ 

Keempat: Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

“ Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” ( Qs. ash-Shof : 2-3 )

 

Kelima : Hadits Abi Barzah al-Aslami radhiyallahu 'anhu  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 لَنْ تَزُولَ قَدَمَا عَبْدِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ، عَنْ أَرْبَعِ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ

Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal:

1.     Umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan

2.     Waktu mudanya, digunakan untuk apa saja

3.     Hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya

  1. Ilmunya, apakah diamalkan atau tidak” ( HR. at-Tirmidzi, 2417, beliau berkata : Ini Hadist Hasan Shahih )

Keenam : Hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلَانُ، مَا شَأْنُكَ؟ أليس كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ"

 “Pada hari kiamat ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai di dalam neraka, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan. Penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya, ‘Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?’ Dia menjawab, ‘Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya’” ( HR. al-Bukhari dan Muslim )

Ketujuh : Hadist Anas bin Malik  radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 لَمَّا أُسْرِيَ بِي مَرَرْتُ بِرِجَالٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، قَالَ: فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ، يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ، أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Pada saat Isra’ Mi’raj saya melewati sebuah kaum yang menggunting-gunting bibir-bibir mereka dengan gunting-gunting neraka, aku bertanya kepada Jibril : “Apa yang mereka lakukan itu ?”Jibril menjawab : Mereka adalah para khatib dari kalangan ummatmu yang sewaktu di dunia mereka senantiasa mengajak manusia kepada kebaikan namun mereka melupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca al-Quran apakah mereka tidak memahami?” (HR. Ahmad, 13445, Ibnu Hibban, 53, ash-Shahihah, 291 )

Kedelapan : Hadits Abu Kabsy al-Anmari radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِي مَالِهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ وَهُمَا فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلاَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَلاَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا فَهُوَ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

          “Dunia itu diberikan kepada empat golongan: (1) Seorang hamba yang Allah anugerahi harta dan ilmu, maka dia pun bertakwa kepada Rabbnya dalam hal hartanya, menggunakan hartanya untuk menyambung tali kekerabatan dan mengetahui bahwa Allah memiliki hak dalam hartanya itu, maka dia berada pada derajat yang paling mulia di sisi Allah. (2) Dan seorang hamba yang Allah karuniai ilmu namun tidak diberi harta, dia adalah seorang yang benar niatnya. Dia katakan, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku akan beramal seperti amalan Fulan’, maka dengan niatnya itu pahala mereka berdua sama. (3) Juga seorang hamba yang Allah beri harta namun tidak dikaruniai ilmu, sehingga dia gunakan hartanya tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya dalam hartanya itu, tidak menggunakannya untuk menyambung tali kekerabatan, dan tidak pula mengetahui ada hak Allah dalam hartanya, maka dia berada pada derajat yang paling hina di sisi Allah. (4) Dan seorang hamba yang tidak Allah beri harta maupun ilmu, lalu dia mengatakan, ‘Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan Fulan’, maka dengan niatnya itu dosa mereka berdua sama.” (HR. at-Tirmidzi, 2325, beliau berkata: Ini Hadits Hasan Shahih, dan Ahmad ( 18060 )

Kesembilan : Hadist  Jundub bin Abdullah al-Azadiy radliyallahu ‘anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ اْلعَالِمِ الَّذِى يُعَلِّمُ النَّاسَ اْلخَيْرَ وَ يَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْءُ لِلنَّاسِ وَ يَحْرِقُ نَفْسَهُ

Perumpamaan seorang alim (berilmu) yang mengajarkan kebaikan kepada umat manusia dan melupakan dirinya sendiri adalah laksana sebatang lilin yang menerangi orang lain namun ia membakar dirinya sendiri”. (HR. ath-Thabrani. Hadist Shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, 5831)

          Kesepuluh : Hadist  Zaid bin Arqom radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak akan berkata kepada kalian kecuali sebagaimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. Beliau pernah bersabda :

         اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَ مِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

          “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah kenyang dan doa yang tidak dikabulkan”. (HR. Muslim: 2722)

Kesebelas : Hadist Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdoa:

اَللَّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَا عَلَّمْتَنِى وَ عَلِّمْنِى مَا يَنْفَعُنِى وَ زِدْنِى عِلْمًا وَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

          “Ya Allah, berilah manfaat kepadaku terhadap apa yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah aku  dengan apa yang akan memberi manfaat kepadaku. Tambahkanlah ilmu kepadaku, segala puji bagi Allah atas segala keadaan dan aku berlindung kepada Allah dari adzab neraka”. ( HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadist Shahih sebagaimana di dalam Misykah al-Mashabih: 3493 ) .

        Keduabelas : Perkataan ulama terdahulu (sebagian kalangan menganggapnya hadist) :  

مَنْ عَمِلَ بِما عَلِمَ أَوْرَثَهُ الله عِلْمُ ما لَمْ يَعْلَمْ ومن لم يعمل بما علم أوشك الله أن يسلبه ما علم

“Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah Ta’ala akan menganugerahkan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya dan barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka dikhawatirkan Allah Ta’ala akan menghapus semua ilmunya.” (Hadist ini disebutkan oleh al-Ghazali di dalam Ihya Ulum ad- Din (1/160 ), dan Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah ( 10/14-15. Hadist ini didhoifkan oleh asy-Syaukani dalam al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, 258, dan al-Albani di dalam adh-Dhai’fah, 422 )

Ketigabelas : Berkata al-Khatib al-Baghdadi di dalam Iqtidha’ al-‘ilmi al-‘amal ( 14-15 ) : 

ثم إني موصيك يا طالب العلم بإخلاص النية في طلبه، وإجهاد النفس على العمل بموجبه، فإن العلم شجرة، والعمل ثمرة، وليس يعد عالماً من لم يكن بعلمه عاملاً... والعلم يراد للعمل كما يراد العمل للنجاة، فإن كان العمل قاصراً عن العلم؛ كان العلم كلاّ على العالم. ونعوذ بالله من علم عاد كلاً، وأورث ذلاً، وصار في رقبة صاحبه غُلاّ.

 “ Kemudian saya berwasiat kepada kalian wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat karena Allah di dalam menuntut ilmu, bersungguh-sungguh di dalam mengamalkan ilmu. Karena sesungguhnya ilmu itu pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak dianggap seorang alim jika dia tidak mengamalkan ilmunya...Sesungguhnya ilmu dicari untuk diamalkan, dan mengamalkan ilmu bertujuan agar selamat ( dunia akherat ). Jika suatu ilmu tidak diamalkan, maka ilmu tersebut menjadi beban bagi seorang ‘alim. Dan kami berlindung kepada Allah dari ilmu berubah menjadi beban, dan mewariskan kehinaan serta menjadi belenggu di leher pemiliknya. “ 

 Kemudian beliau menyebutkan perkataan para sahabat dan tabi’in serta ulama besar lainnya, diantaranya :

 Berkata Ali bin Abi Thalib  :

          هتف العلم بالعمل فإن أجابه وإلا ارتحل

 “ Menghubungi ilmu itu dengan amal perbuatan, jika dia menjawabnya (itulah ilmu), jika tidak (dijawab dengan amal ) maka ilmu itu akan pergi “(hal.36 )

Berkata Abu Qilabah kepada Ayub :

 يا أيوب إذا أحدث الله لك علماً فأحدث لله عبادة ولا تكونن إنما همك أن تحدث به الناس

 “ Wahai Ayub, jika Allah memberikan kepadamu suatu ilmu, maka lakukanlah satu ibadah untuk-Nya. Jangan sampai pikiranmu hanya ingin berbicara kepada orang lain tentang ilmu tersebut. “ ( hal: 35 )

 Berkata al-Hasan al-Bashri :

همة العلماء الرعاية، وهمة السفهاء الرواية

 “ Kemauan para ulama itu bagaimana menjaga ilmu itu dengan mengamalkannya, sedangkan kemauan orang-orang bodoh itu bagaimana menambah riwayat. “  ( hal.35 )

  Berkata al-Khatib al-Baghdadi  di dalam al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi(2/258):

كان إسماعيل بن إبراهيم بن جارية يقول: "كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به"

Ismail bin Ibrahim bin Jariyah berkata:“ Kami dahulu biasa memohon bantuan dalam menghafal suatu ilmu dengan cara mengamalkannya

Berkata Al-Fudhail Bin ‘Iyadh :

لا يزال العالم جاهلاً حتى يعمل بعلمه فإذا عمل به صار عالماً

“Seorang ‘alim tetap dikatakan bodoh sebelum ia mengamalkan ilmunya, jika ia mengamalkannya maka barulah ia dikatakan seorang ‘alim.”

Berkata Ma’ruf bin al-Fairuz al-Karkhi :

 إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا فَتْحَ لَهُ بَابَ الْعَمَلِ، وَأَغْلَقَ عَنْهُ بَابَ الْجَدَلِ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ شَرًّا فَتْحَ لَهُ بَابَ الْجَدَلِ، وَأَغْلَقَ عَنْهُ بَابَ الْعَمَلِ".

 “ Jika Allah menghendaki seorang hamba suatu kebaikan, maka akan dibukakan baginya pintu amal perbuatan dan ditutup dari pintu perdebatan. Dan jika Allah menghendaki seorang hamba suatu kejelekan, maka akan dibukakan baginya pintu perdebatan, dan ditutup darinya pintu amal perbuatan. “

           Keempatbelas : Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa dia berkata : “ Saya tidaklah menulis suatu hadist dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali saya amalkan, sampai saya melewati hadist yang menyebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan memberikan upah kepada tukang bekam satu dinar, maka sayapun memberikan satu dinar kepada tukang bekam ketika aku berbekam. “

          Bahkan beliau pernah meminta ijin kepada istrinya untuk mengambil budak perempuan. Kemudian beliau membeli seorang budak dengan harga murah dan diberi nama Raihanah, mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

          Kelimabelas : Suatu ketika para budak mendatangi al-Hasan al-Bashri agar beliau dalam khutbah Jum’at menyampaikan materi tentang keutamaan memerdekakan budak. Maka pada Jum’at pertama, beliau belum berbicara tentang materi itu, begitu juga pada Jum’at kedua. Dan pada Jum’at ketika beliau baru berbicara tentang keutamaan memerdekan budak dan sangat bagus penyampaiannya. Maka ketika selesai sholat Jum’at dan para jama’ah keluar dari masjid, mereka pada mencari budak untuk dimerdekakan.  Kemudian ketika para budak yang sudah dimerdekakan berdatangan kepadanya untuk mengucapkan terimakasih, mereka mengatakan kepada beliau : “ Anda mengakhirkan sampai tiga Jum’at. “ Maka beliau menjawab : “ Saya menunggu dulu sampai Allah memberikan kepadaku rezeki, kemudian aku memerdekan budak dengan harta tersebut karena Allah semata, supaya saya tidak menyuruh manusia sesuatu yang saya belum kerjakan.”