Karya Tulis
1219 Hits

Kewajiban Yang Terkena Musibah


Seseorang yang ditimpa musibah hendaknya sabar dan menyakini bahwa apa yang terjadi adalah ketentuan Allah yang tidak bisa ditolak dan dihindari. Ini sesuai dengan firman Allah : 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tidak ada satu musibahpun menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mafuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. al-Hadid: 22).

Kalau seseorang sudah mengetahui bahwa semuanya yang terjadi adalah taqdir yang sudah ditentukan Allah, maka dia tidak berduka cita secara berlebihan terhadap yang luput darinya dan tidak boleh putus asa dari kasih sayang Allah, sebagaimana di dalam firman-Nya :

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“ (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” ( Qs. al-Hadid : 23 )

 Dan apa yang ditaqdirkan Allah untuk hamba-Nya adalah baik dan terdapat banyak hikmah yang bisa dipetik darinya. Sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

          عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

  “Sangat menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan tidaklah hal tersebut terjadi kecuali bagi orang beriman. Apabila mendapat kesenangan dia bersyukur, maka bersyukur itu baik baginya. Dan apabila ditimpa kesusahan dia bersabar maka bersabar itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Kadang apa yang kita benci, ternyata membawa kebaikan bagi kita dikemudian hari. Sebaliknya kadang yang kita senangi, ternyata membawa bencana bagi kita di kemudian hari. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (Qs. al-Baqarah: 216)

 Ibnu Abi Dunya al-Baghdadi ( W.281)  di dalam kitab  al-I’tibar  wa A’qab as-Surur wa al-Ahzan ( hlm. 29)  menyebutkan bahwa Abdullah bin Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

لِكُلِّ فَرْحَةٍ تَرْحَةٌ، وَمَا مُلِئَ بَيْتٌ فَرَحًا إِلَّا مُلِئَ تَرَحًا،

Pada setiap kegembiraan terdapat kesedihan. Tidaklah sebuah rumah dipenuhi dengan kegembiran melainkan rumah itu dipenuhi juga dengan kesedihan.

Allah berfirman memuji orang-orang yang sabar ketika ditimpa musibah seraya mengucapakan : “ Inna lillahi wa inna ilahi raji’un “,  

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. al-Baqarah: 155-157)

Hal ini dikuatkan dengan hadist Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwasanya ia berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

" Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).' melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik. “

Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berkata; Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya, "Siapakah orang muslim yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang yang pertama kali berhijrah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian akupun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Ummu Salamah mengkisahkan; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Hatib bin Abi Balta'ah melamarku untuk beliau sendiri. Maka saya pun menjawab, "Bagaimana mungkin, aku telah mempunyai seorang anak wanita, dan aku sendiri adalah seorang pencemburu." Selanjutnya beliau pun menjawab: "Adapun anaknya, maka kita do'akan semoga Allah mencukupkan kebutuhannya, dan aku mendo'akan pula semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya itu."( HR. Muslim, 1525)  

Bahkan mayoritas ulama berpendapat bahwa musibah itu berpahala selain pahala kesabaran atas musibah tersebut. Diantara ayat yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah :

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

 “ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. al-Baqarah: 155)