Karya Tulis
551 Hits

Hukum an-Niyahah dan Menangis Merapati Mayit

          Pengertian an-Niyahah

An-Niyahah adalah meratapi mayit dengan menyaringkan suara serta mengulangi-ulanginya, kadang disertai dengan menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan mayit..

Berkata an-Nawawi di dalam al-Adzkar (1/147) dan al-Majmu’(5/281) :

واعلم أن النياحة : رفع الصوت بالندب ، والندب : تعديد النادبة بصوتها محاسن الميت

 “ Ketahuilah bahwa an-Niyahah adalah : menyaringkan suara dengan an-Nadb, dan an-Nadb  adalah mengulang-ngulang ratapan dengan suara nyaring disertai dengan menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan mayit.” 

Hukum an-Niyahah

Para ulama sepakat bahwa an-Niyahah hukumnya haram. Begitu juga haram berdoa dengan keburukan ketika tertimpa musibah. 

Imam ad-Dzahabi di dalam al-Kabair (hlm.309) memasukan an-Niyahah dalam katagori dosa besar yang ke-49, hal itu karena adanya nash yang berisi ancaman di akhirat berupa adzab bagi pelakunya. Selain itu, an-Niyahah mengindikasikan lemahnya keimanan seseorang kepada Allah dan menipisnya kepercayaan kepada Qadha dan Qadar, yang merupakan salah satu rukun iman yang keenam.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Dosa niyahah ini tidak akan diampuni kecuali dengan bertaubat. Adapun kebaikan-kebaikan yang dilakukan tidak dapat menghapuskannya, karena niyahah termasuk dosa besar. Sementara dosa besar hanya dihapuskan dengan taubatnya si pelaku.” (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 2/25)

Dalil-dalilnya keharaman an-Niyahah adalah sebagai berikut :

Pertama : Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata : Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‏          ‏لَيْسَ مِنّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعا بِدَعْوَى الجاهِلِيَّةِ‏

 “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, menyobek saku baju dan berdo’a dengan seruan (do’a) orang jahiliyah” ( HR. Bukhari dan Muslim ) 

Kedua : Hadist Abu Musa al-‘Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata :

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِئَ مِنْ الصَّالِقَةِ وَالْحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ

  “ Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari orang yang ash-shaliqah, al-haliqah dan asy-syaqqah” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Berkata adz-Dzahabi di dalam al-Kabair (hlm.309) dan an-Nawawi di dalam al-Adzkar (1/146 ) :

‏          الصالقة‏:‏ التي ترفع صوتها بالنياحة؛ والحالقة‏:‏ التي تحلق شعرها عند المصيبة؛ والشاقة‏:‏ التي تشقّ ثيابها عند المصيبة

Ash-Shaliqah adalah perempuan yang meninggikan suaranya dengan ratapan (atas mayit). Sedangkan al-Haliqah adalah perempuan yang mencukur (menggundul) rambutnya ketika terjadi musibah. Adapun asy-Syaqqah adalah perempuan wanita) yang merobek-robek pakaiannya ketika terjadi musibah.” 

          Ketiga : Hadits Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata :

‏          أَخَذَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ الْبَيْعَةِ أَنْ لاَ نَنُوحَ

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil janji (membai’at) atas kami agar tidak meratapi (atas mayit).” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Keempat : Hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اثْنَتانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ‏:‏ الطَّعْنُ في النَّسَبِ وَالنِّياحَةُ على المَيِّتِ‏

“ Dua hal pada diri manusia yang menyebabkan kekufuran : mencaci-maki nasab (garis keturunan) dan niyahah (meratap) atas mayit.“ ( HR. Muslim)

Boleh Menangis atas Musibah

Dibolehkan ahli mayit menangis ketika tertimpa musibah tanpa disertai ratapan dan memukul-mukul pipi dan merobek-robek baju.

Berkata an-Nawawi di dalam al-Adzkar (1/147) : 

وأما البكاء على الميت من غير ندب ولا نياحة ، فليس بحرام.

 “ Adapun tangisan atas mayit tanpa menyebut-menyebut kebaikan mayit dan tanpa meratapi maka itu tidak haram”.

 Diantara dalil-dalil yang membolehkannya adalah sebagai berikut :

Pertama : Hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ia berkata :

أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم عاد سعد بن عبادة ومعه عبد الرحمن بن عوف وسعد بن أبي وقاص وعبد اللّه بن مسعود، فبكى رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم، فلما رأى القومُ بكاءَ رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم بكَوْا، فقال‏:‏ ‏"‏ألا تَسْمَعُونَ إنَّ اللَّهَ لا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ العَيْنِ ولا بِحُزْنِ القَلْبِ، وَلَكِنْ يُعَذّبُ بِهَذَا أَوْ يَرْحَمُ، وأشار إلى لسانه صلى اللّه عليه وسلم‏”‏‏.‏

“ Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi Sa’ad bin Ubadah dan bersama beliau Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdullah bin Mas’ud, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, ketika melihat tangisan Rasulullah maka mereka pun menangis, kemudian Rasulullah bersabda ; “Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidaklah menyiksa disebabkan linangan air mata, dan hati yang sedih, tetapi  Allah menyiksa atau  memberi rahmat dengan ini, seraya menunjuk lisan beliau shallalahu ‘alaihi wa wa sallam”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua : Hadist Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ia berkata:

أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم رُفِعَ إليه ابنُ ابنته وهو في الموت، ففاضت عينا رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم، فقال له سعد‏:‏ ما هذا يا رسول اللّه‏؟‏‏!‏ قال‏:‏ ‏"‏هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَها اللَّهُ تَعالى في قُلوبِ عِبَادِهِ، وإنمَا يَرْحَمُ اللَّهُ تَعالى مِنْ عِبادِهِ الرُّحَماءَ‏"‏‏.‏

“ Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika diangkat kepada beliau putra anaknya yang sakaratul maut, maka kedua mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlinang air mata, kemudian Sa’ad berkata kepada Rasulullah : “apa ini wahai Rasulullah ?”, beliau menjawab : “ Inilah rasa kasih sayang yang Allah letakkan pada hati hamba-hambanya, dan hanyasanya Allah menyanyangi hamba-hambanya mempunyai sifat kasih sayang.”( HR. Bukhari dan Muslim )

          Ketiga : Hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata :  

أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم دخل على ابنه إبراهيم رضي اللّه عنه وهو يجود بنفسه، فجعلتْ عينا رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم تذرفان، فقال له عبد الرحمن بن عوف‏:‏ وأنت يا رسولَ اللّه‏؟‏‏!‏ فقال‏:‏ ‏"‏يا بْنَ عَوْفٍ‏!‏ إِنَها رَحْمَةٌ‏"‏ ثم أتبعها بأخرى فقال‏:‏ ‏"‏إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ ما يُرْضِي رَبَّنا، وَإنَّا بِفِرَاقِكَ يا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ‏"‏ والأحاديث بنحو ما ذكرته كثيرة مشهورة‏.‏

“ Bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempat putranya yang ketika itu sedang sekarat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlinang air mata, melihat hal itu, Abdurrahman bin ‘Auf berkata  kepada beliau ; “ Dan engkau (menangis) wahai Rasulullah ?” Beliau kemudian berkata : “ Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini wujud kasih sayang”, kemudian beliau berlinang lagi dan bersabda : “ Sesungguhnya mata ini berlinang, dan hati ini bersedih dan kita tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita, dan sesungguhnya kami sangatlah bersedih dengan perpisahan ini wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari)