Karya Tulis
499 Hits

Nama-Nama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah 1

          Ahlus Sunnah wal Jama’ah sudah menjadi istilah yang sangat masyhur di kalangan umat Islam. Tetapi ada beberapa istilah yang sebenarnya kalau dikaji lebih mendalam merupakan nama lain dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Diantara istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut :

        Nama Pertama : Ahlul Hadist

Ahlul Hadist disebut Ahlus Sunnah, karena hadist dan sunnah adalah dua nama untuk sesuatu yang satu. Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka tidak akan bisa mengikuti sunnah tanpa mempelajari hadist-hadist nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berkata al-Jailani : “Ahlus Sunnah tidak mempunyai nama kecuali satu nama, yaitu ahlul hadist. “ 

Yang dimaksud Ahlul Hadist disini bukan terbatas pada orang-orang yang belajar hadist atau ilmu mushtholah hadist atau kuliyah di Fakultas Hadist, tetapi mencakup semua orang yang mempelajari hadist dan mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari, walaupun dia ahli fiqh, atau ahli tafsir atau ahli bahasa, atau mempunyai profesi yang berbeda-beda.

          Imam Bukhari menafsirkan hadist (لا تزالُ طائفة من أمتي ) dengan Ahlul Hadist.

          Sebagian ulama menulis buku tentang aqidah dengan memberikan nama Ashabul Hadist, seperti :

1) Aqidatu as-Salaf Ashabu al-Hadist, karya Abu Utsman Ismail ash-Shabuni (w.449 H) (31 halaman)

2) Syiar Ashabu al-Hadist, karya Muhammad bin Ishaq al-Hakim 

3) I’tiqad Aimmati al-Hadist, karya Abu Bakar al-Ismaili. (w. 371 H) (21 halaman)


Nama Kedua : Salafus Shaleh

a.     Makna (Salaf ) Secara Bahasa

Salaf  secara bahasa adalah yang terdahulu atau para pendahulu. Berkata al-Jauhari di dalam ashi-Shihah fi al-Lughah (4/62) :

والقوم السلاف : المتقدمون. وسلف الرجل: آباؤه المتقدمون، والجمع أسلاف وسلاف. والسلف: نوع من البيوع يعجل فيه الثمن

        (al-qaum as-Sullaf) yaitu orang-orang terdahulu. Dan (Salaf ar-Rajuli) artinya adalah nenek moyangnya yang telah mendahuluinya. Jama’nya Aslafun wa Sullaf. (As-Salaf) juga berarti salah satu bentuk jual beli yang bayarannya didahulukan. “ 

        Berkata  Ibnu Faris di dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah  (3/72):

)سلف) السين واللام والفاء أصلٌ يدلُّ على تقدُّم وسبْق. من ذلك السَّلَف: الذين مضَوا. والقومُ السُّلاَّف: المتقدِّمون. والسُّلاَف: السائل من عصير العنب قبل أن يُعصَر. والسُّلْفَة: المعجَّل من الطَّعام قبل الغَدَاء.

 “ (Salaf) terdiri dari huruf (sin, lam dan fa’) akar kata yang mempunyai makna terdahulu dan mendahului. Darinya dikatakan (as-Salaf), yaitu orang-orang yang sudah berlalu. (al-Qaumu as-Sullaf) : orang-orang yang terdahului.  Sedang (as-Sulaf) artinya cairan yang ada dalam perasaan anggur sebelum diperas. Sedang (as-sulfah) adalah makanan yang disegerakan sebelum makan siang. “

Kata (salaf) disebutkan di dalam beberapa ayat dari al-Qur’an, diantaranya :

        Allah berfirman : 

فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ (55) فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ

“ Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.”( Qs. az-Zukhruf : 55-56 )

Kata salaf juga tersebut di dalam firman Allah :

فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Qs. al-Baqarah : 275)

 Maksudnya adalah dia mendapatkan sesuatu yang sudah berlalu.

Begitu juga di dalam firman-Nya :

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

(Kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu".( Qs. al-Haaqah: 24)

 Maksudnya apa yang telah kalian kerjakan di masa lalu ketika di dunia.

Adapun kata salaf dalam hadist adalah apa yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu :

 عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ وَصِلَةِ رَحِمٍ فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَجْرٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ

“ Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata : Saya berkata : “ Wahai Rasulullah bagaimana pendapat anda tentang amal-amal perbuatan yang saya kerjakan pada masa Jahiliyah seperti sedekah, memerdekakan budak, menyambung silaturahim, apakah saya mendapatkan pahala darinya ? “ Bersabda Rasulullah : “ Engkau telah masuk Islam dengan membawa kebaikan yang telah kamu kerjakan di masa lalu. (HR.Bukhari, 1369)

          Hadist di atas menunjukkan bahwa kata (salaf) berarti sesuatu yang sudah berlalu.

          Hadist di atas juga menunjukkan bahwa amal-amal kebaikan yang dilakukan orang kafir di masa kekafirannya, jika dia masuk Islam, maka Allah akan memberikan pahala atas amal-amal tersebut sebagai pemberian dari Allah. Berkata Ibnu Hajar di dalam Fathu al-Bari : “ Bahwa tidak ada larangan, jika Allah menambahkan kebaikan yang dilakukan seseorang dalam Islam, dengan kebaikan yang pernah dilakukannya ketika berada di dalam kekafiran, sebagai tambahan dan kebaikan dari Allah. “

b.    Makna (Salaf) Secara Istilah.

Adapun salaf secara istilah berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat Islam, yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in yang hidup pada tiga abad pertama Islam.

          Hal ini sesuai dengan hadist Abdullah bin Mas’ud  radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

          “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).” (HR. al-Bukhari, 2652 dan Muslim, 2533)  
          Hal ini dikuatkan dengan Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“ Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (Qs. at-Taubah :100).

          Nama Ketiga : ath-Thaifah al-Manshurah

          At-Thoifah artinya kelompok, sedang al-Manshurah artinya yang ditolong. Jadi ath-Thaifah al-Manshurah artinya adalah kelompok yang mendapatkan pertolongan dari Allah. Yaitu mereka yang selalu berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Islam, sehingga Allah selalu melindungi dan menolong mereka dari gangguan syetan dan orang-orang kafir.

          Bukankah sering kita dapatkan sebagian nabi dan orang-orang beriman dibunuh dan dipenjara serta ditindas, apakah ini termasuk kelompok yang ditolong oleh Allah ? Jawabannya bahwa pertolongan Allah kadang muncul di akhir hayat seseorang, sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang yang dimaksud adalah pertolongan Allah kepada umat Islam secara umum, walaupun kadang sebagian dari umat Islam terbunuh di tengah perjalanan sebelum mencapai kemenangan. Tetapi bisa juga diartikan bahwa pertolongan Allah adalah pertolongan kepada seseorang di dalam memegang teguh ajaran Islam sampai akhir hayatnya, sehingga dihindarkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sebagaimana yang dialami orang-orang beriman yang dibakar di parit-parit karena mempertahankan keimanan mereka.

          Nama at-Thoifah al-Manshurah ini diambil dari hadist Mu’awiyah  radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

      لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذلِكَ

           “Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolong mereka dan orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.” ( HR. Bukhari, 3641 dan Muslim, 1037)