Karya Tulis
968 Hits

Tingkatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah


Sebagaimana tingkat keimanan seseorang berbeda satu dengan yang lainnya, maka pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah pun berbeda keimanan mereka satu dengan yang lainnya. Sebagian mereka mempunyai kwalitas keimanan yang sangat bagus, sebagian yang lainnya berada pada pertengahan, dan sebagian lainnya berada pada tingkat keimanan yang rendah. Tetapi mereka semua masih berada pada barisan pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. 

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan adanya perbedaan tingkatan dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah sebagai berikut :

Dalil Pertama : Firman Allah,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“ Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.“ (Qs. Fathir :32 )

Dalam ayat di atas Allah membagi umat Islam menjadi tiga golongan semuanya masuk surga, hanyasaja amalan mereka bertingkat-tingkat :

Golongan Pertama : Dhalimun Li Nafsihi (yang menganiaya dirinya sendiri). Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan sebagian kewajiban dan mengerjakan sebagian larangan.

Syekh Syenkithi di dalam tafsir Adhwau al-Bayan (27/ 240) menyebutkan bahwa golongan inilah yang dimaksud dalam firman Allah :  

خَلَطُوا عَمَلاً صَالِحاً وَآخَرَ سَيِّئاً عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ

“ Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk.  Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka.  Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ (Qs at-Taubah : 102)

Golongan Kedua :  Muqtashid ( pertengahan ). Mereka adalah  orang-orang yang mengerjakan kewajiban dan menjauhi larangan, tetapi meninggalkan sebagian yang sunnah dan mengerjakan beberapa yang makruh.

Golongan Ketiga : Sabiqun bi al-Khairat (mendahului dalam kebaikan), mereka adalah orang yang mengerjakan kewajiban dan menjaga sunnah-sunnah, serta meninggalkan larangan dan sesuatu yang dibenci, bahkan meninggalkan sebagian yang mubah, karena takut terjerumus kepada yang haram.

Berkata Ali bin Abi Thalhah :

فظالمهم يُغْفَر له، ومقتصدهم يحاسب حسابا يسيرا، وسابقهم يدخل الجنة بغير حساب.

          “ Mereka yang mendhalimi diri sendiri akan diampuni, yang pertengahan akan dihisab dengan hisab yang ringan, sedangkan yang mendahului dengan kebaikan akan masuk syurga tanpa hisab “ (lihat Tafsir Ibnu Katsir  : 5/456 ) 

           Adapun ayat (بِإِذْنِ اللَّهِ)  itu keterangan dari golongan ketiga, yaitu mereka yang mendahului di dalam kebaikan. Itu semua atas izin Allah. Ini penting disebutkan, supaya mereka tidak bangga dengan amal mereka dan menjadi sombong karenanya. Mereka tidaklah bisa melakukan hal tersebut kecuali dengan taufik dari Allah. Hal ini akan mendorong mereka untuk selalu bersyukur kepada-Nya atas nikmat ketaatan tersebut. (Taisir al-Karim ar-Rahman :1/689)

 Dari keterangan di atas, diketahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak berada di dalam satu tingkatan, iman mereka satu dengan yang lain berbeda-beda. Tetapi semuanya masuk dalam katagori Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan semuanya mewarisi al-Qur’an dengan ilmu dan amalnya masing-masing. Dan semuanya akan masuk surga.  Bahkan ayat ini termasuk ayat-ayat yang membawa harapan bagi orang-orang yang bermaksiat untuk mendapatkan ampunan Allah dan mendapatkan surga di sisi-Nya.

Dalil bahwa mereka semuanya akan masuk surga adalah firman Allah berikutnya :

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ (33) وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ (34) الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ (35)

“ (Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.  Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu".( Qs Fathir : 33-35 )

Berkata syekh asy-Syenkity di dalam Adwau al-Bayan (27/240) :

والواو في يدخلونها شاملة للظالم، والمقتصد والسابق على التحقيق. ولذا قال بعض أهل العلم: حق لهذه الواو أن تكتب بماء العينين، فوعده الصادق بجنات عدن لجميع أقسام هذه الأمة، وأولهم الظالم لنفسه يدل على أن هذه الآية من أرجى آيات القرآن، ولم يبق من المسلمين أحد خارج عن الأقسام الثلاثة، فالوعد الصادق بالجنة في الآية شامل لجميع المسلمين

“ Huruf al-wawu (و ) pada ayat (يَدْخُلُونَهَا) mencakup orang yang mendhalimi diri sendiri, orang yang pertengahan, dan orang yang mendahului dengan kebaikan. Oleh karena itu sebagian ulama berkata : “ Mestinya huruf (wawu) dalam ayat ini ditulis dengan air kedua mata.” Janji Allah benar bagi tiga kelompok umat ini untuk masuk surga. Dan yang paling pertama (disebut) adalah orang yang mendhalimi diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa ayat ini adalah ayat dalam al-Qur’an yang paling memberikan harapan. Tidak ada satupun dari kaum muslimin  yang tidak termasuk dalam tiga golongan ini. Maka janji untuk masuk surga dalam ayat ini mencakup seluruh kaum muslimin. “ 

Selain itu, Allah pada ayat berikutnya juga berfirman : 

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ (36) وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (37)

“ Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang lalim seorang penolongpun.” ( Qs. Fathir : 36-37 )

Hal itu menunjukkan bahwa tiga golongan di atas adalah orang-orang beriman yang berhak masuk surga, sedang yang ini adalah golongan kafir yang akan masuk neraka.

Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang penyebab golongan yang mendholimi diri sendiri didahulukan penyebutannya dari yang lainnya. Sebagian mereka menyatakan bahwa dhalimun linafsihi (orang yang mendholimi diri sendiri) didahulukan penyebutannya supaya dia tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Sedangkan sabiqun bil khairat (orang yang mendahului dengan kebaikan ) diakhirkan penyebutannya supaya tidak ‘ujub dan bangga dengan amalnya, karena hal itu akan menghancurkan amalnya itu sendiri, maka diakhirkan penyebutannya supaya dia lebih tawadhu’.

Sebagian ulama menyatakan bahwa orang yang mendhalimi diri sendiri didahulukan penyebutannya karena kebanyakan penghuni surga adalah dari golongan ini. Hal itu dikarenakan sangat sedikit umat Islam ini yang tidak pernah bermaksiat dan tidak pernah berbuat dosa, sebagaimana firman-Nya  :

 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

“ Kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". (Qs. Shod : 24) ( Lihat lebih lengkap dalam masalah ini di dalam  Adhwau al-Bayan: 17/242, ketika menerangkan Qs. an-Nur : 22)

 Dalil Kedua : Firman Allah,

 فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11)

“Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga).” (Qs. al -Waqi’ah : 8-10)

Ayat di atas menerangkan bahwa manusia pada hari kiamat terbagi menjadi tiga golongan, yang dua golongan adalah ahli surga, sedangkan yang satu golongan masuk neraka. Ketiga golongan tersebut adalah :

 Golongan Pertama : As-Sabiqun, mereka adalah orang-orang yang bersegera di dalam kebaikan. Ini sesuai dengan firman Allah :

 سَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

 Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs Ali Imran : 133)

           Juga sesuai dengan firman Allah :

 فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

  Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.(Qs al-Anbiya’ : 90)

           Ini juga sesuai dengan firman Allah :

 أولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

 “ Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.(Qs. al-Mukminun : 61)

           Mereka adalah golongan para Nabi dan Rasul, para Siddiqin, Syuhada serta Shalihin. Ini sesuai dengan firman Allah :

 وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

 Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. “ .( Qs, an-Nisa’ : 69 )

 Golongan Kedua : Ashabu al-Yamin, mereka adalah orang-orang yang akan menempati surga di sebelah kanan Arsy, dan mereka dulu dikeluarkan dari sulbi kanan Adam dan akan menerima catatan amalnya dengan tangan kanan.

Berkata as-Suddi : “ Mereka adalah mayoritas penduduk surga. “

Golongan Ketiga : Ashabu asy-Simal, mereka adalah orang-orang kafir dan mereka dulu dikeluarkan dari sulbi kiri Adam dan akan menerima catatan amalnya dengan tangan kiri. Mereka adalah orang-orang yang akan masuk neraka. 

Dalil Ketiga : Firman Allah,

 فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (88) فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ (89) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (90) فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (91) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ (92) فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ (93) وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ (94)

“ Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan.Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih,dan dibakar di dalam neraka. “( Qs. al-Waqi’ah: 88-94)

 Ini adalah tiga golongan manusia saat menghadapi sakaratul maut, sama persis dengan tiga golongan yang disebutkan di atas yaitu di awal surat al-Waqi’ah.  Dan tiga golongan ini hampir sama juga dengan tiga golongan yang disebut di dalam (Qs. Fathir : 32) di atas, hanyasaja ada perbedaan sedikit tentang penafsiran golongan ketiga, yaitu orang-orang yang mendhalimi diri mereka sendiri. 

 Berkata Ibnu Katsir  di dalam Tafsirnya (7/548) :

هذه الأحوال الثلاثة هي أحوال الناس عند احتضارهم: إما أن يكون من المقربين ، أو يكون ممن دونهم من أصحاب اليمين. وإما أن يكون من المكذبين الضالين عن الهدى، الجاهلين بأمر الله

 “ Inilah tiga keadaan di saat manusia menghadapi kematian : (1) sebagian mereka termasuk golongan “al-Muqarrabin“ (Orang-orang yang didekatkan kepada Allah) atau (2) Orang-orang yang derajatnya di bawah mereka yang disebut dengan “Ashabu al-Yamin.”(Golongan Kanan), atau (3) Para pendusta yang tersesat dari petunjuk, yang tidak mengetahui agama Allah. “ 

 Dalil Keempat : Dalam kenyataannya para sahabat Rasulullahpun tidak berada dalam satu tingkatan, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang keimanan mereka sangat tinggi dan sangat dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Abu Bakar as-Siddiq dan para Khulafa’ ar-Rasyidin. Sebagian dari mereka masuk dalam katagori 10 orang yang dijanjikan masuk surga, sebagian dari mereka para pengikut perang Badar, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang masuk Islam agak terakhir , seperti Khalid bin Walid, Abu Sufyan, Ikrimah bin Abi Jahl, Sofwan bin Umayyah, sebagian dari mereka orang awam seperti sahabat yang menggauli istrinya di siang Ramadhan, dan orang Badui yang kencing di Masjid, sebagian dari mereka melakukan maksiat kemudian bertaubat kepada Allah seperti Qudamah bin Math’un yang pernah meminum khamr, Maiz dan perempuan dari suku Ghamidiyah yang berzina kemudian di rajam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itu dengan berbagai tingkatannya masuk dalam katagori sahabat Rasulullah dan sudah pasti masuk dalam katagori Ahlus Sunnah wal Jama’ah.