Karya Tulis
655 Hits

Karakteristik Ahlus Sunnah wal Jama’ah [I]


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mempunyai karakteristik dan sifat-sifat khusus yang membedakannya dengan kelompok-kelompok dan aliran-aliran sesat. Diantara karakteristik Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah sebagai berikut :

Karakteristik Ke-1: Bersungguh-sungguh di dalam mempelajari al-Qur’an, dengan membaca, menghafal, mentadaburi dan mengkaji tafsirnya serta mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Allah memerintahkan kita untuk membaca al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (91) وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ (92)

“  Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.   Dan supaya aku membaca al-Qur'an. Maka barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barang siapa yang sesat maka katakanlah: "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan". (Qs. an-Naml : 91-92)

           Allah memerintahkan untuk mentadaburi al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya,

 أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“ Maka apakah mereka tidak mentadabburi al-Qur'an? Kalau kiranya al- Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (Qs. an-Nisa : 82)

 Begitu juga firman-Nya,

 كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“ Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Qs. Shaad : 29)

 Allah memerintahkan untuk mengamalkan al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“ Orang-orang yang telah Kami berikan al- Kitab kepadanya, mereka mengikutinya dengan sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Qs. al-Baqarah:121)

 Berkata as-Sa’di di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman (1/65) : “ (Haqqa Tilawatihi) yaitu mengikuti al-Qur’an dengan sebenarnya, karena tilawah berarti mengikuti. Mereka menghalalkan apa yang dihalalkan al-Qur’an, mengharamkan apa yang diharamkannya, mengamalkan ayat-ayat yang tegas, dan mengimani ayat-ayat yang mutasyabih. Merekalah orang-orang yang bahagia dari Ahlul Kitab, yaitu yang mengetahui nikmat Allah dan mensyukurinya, mengimani semua Rasul dan tidak membedakan satu dengan yang lainnya, merekalah orang-orang beriman yang benar. “

 Adapun menghafal al-Qur’an sebagaimana di dalam hadist Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

 “ Jagalah al-Qur’an, demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, al-Qur’an itu lebih cepat lepasnya (dari hati seseorang) dari pada lepasnya unta dari ikatannya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini dikuatkan dengan hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (Shahih, HR. Abu Daud,1464 dan Tirmidzi, 2914)

Berkata Ibnu Hajar al-Haitami (w 974) di dalam al-Fatawa al-Haditsiyah (hal.156) :  “Hadits di atas khusus bagi yang menghafal al-Qur’an di luar kepala, bukan sekedar membaca mushaf. Karena jika sekedar membaca mushaf, tidak ada perbedaan manusia di dalamnya, dan tidak ada tingkatan sedikit atau  banyak.  Keutamaan yang bertingkat-tingkat  adalah bagi yang menghafal al- Qur’an di luar kepala. Dari hafalan ini, bertingkat-tingkatlah kedudukan mereka di surga sesuai afalannya. Yang menguatkan hal ini bahwa menghafal al-Qur’an hukumnya fardhu kifayah. Jika sekedar dibaca saja, tidak gugur kewajiban ini. Sekedar membaca al-Qur’an tidak mempunyai keutamaan seperti keutamaan  menghafalnya. Inilah yang dimaksudkan dalam hadits di atas dan inilah makna tekstual yang bisa ditangkap.”

          Karakteristik Ke-2: Selalu bersungguh-sungguh di dalam mempelajari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

          Untuk zaman sekarang, umpamanya mereka berusaha mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terhimpun di dalam buku-buku hadist, seperti buku Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasai, Sunan Ibnu Majah dan lain-lainnya.

          Selain itu mereka juga mempelajari kumpulan hadits-hadist hukum, seperti Umdatul Ahkam, Bulughul Maram, atau kumpulan hadist-hadist akhlaq seperti, Arba’in an-Nawawiyah,  Riyadhus Shalihin dan lain-lainnya.

          Dalil tentang keutamaan mempelajari hadits, adalah hadist Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah radhiyallahu 'anhu bersabda : 

 نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

            “Semoga Allah memberikan cahaya di wajah kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya, berapa banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faqih darinya.” ( Hadist Hasan Riwayat Ahmad, 4157, Tirmidzi, 2657,  Ibnu Majah, 232)

Ibnu Qayyim di dalam Miftah Dari as-Sa’adah (1/275) berkata,” Jika seandainya tidak ada keutamaan menuntut ilmu (hadits) kecuali hadits ini, maka cukuplah ia sebagai kemuliaan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendo’akan untuk orang yang mendengar sabdanya, memahami, menghafal dan menyampaikannya.“

          Karakteristik Ke-3 : Berusaha melaksanakan ajaran Islam secara Kaffah (sempurna), tidak hanya mengamalkan sebagiannya dan meninggalkan sebagian yang lain.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Islam mencakup seluruh lini kehidupan ; ilmu, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan. Islam adalah agama dan Negara.  Islam adalah ibadah, mumalah dan akhlaq. Ibadah mencakup ; ibadah khusus, seperti sholat, berdzikir, membaca al-Qur’an, puasa, haji, dan  ibadah umum, seperti ;  menolong orang lain, berbakti kepada orang tua, sayang kepada anak dan istri, ramah dalam pergaulan, dan menghormati orang lain. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs.al-Baqarah: 208)

Begitu juga firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُواْ بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُواْ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً أُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (Qs. an-Nisa`: 150-151)

Begitu juga firman-Nya,

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Qs. al-Baqarah: 85)