Karya Tulis
676 Hits

Prinsip Ahlussunnah: Rukun Islam Ada 5 dan Rukun Iman Ada 6

Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah di dalam Memahami Aqidah dan Perbedaannya dengan Kelompok-kelompok Sesat.

Di bawah ini akan diterangkan secara khusus prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Memahami Aqidah. Kemudian disebutkan kelompok sesat yang menyelesihi pemahaman tersebut. Kenapa harus Aqidah ? Jawabannya bahwa perbedaan dalam memahami aqidah akan menyebabkan seseorang menjadi sesat dan keluar dari madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, lain halnya jika perbedaan tersebut dalam masalah Fiqh atau Hadits, tidak akan menyebabkan seseorang keluar dari madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah selama aqidahnya lurus dan benar.

Imam asy-Syatibi di dalam kitab al-I’tisham (1/478) berkata :

 هذه الفِرَق إنما تصير فِرَقاً بخلافها للفِرقة الناجية في معنًى كلِّيٍّ في الدين، وقاعدة من قواعد الشريعة، لا في جزئيٍّ من الجزئيات؛ إذ الجُزئي والفرْع الشاذّ لا ينشأ عنه مخالفة يقع بسببه التفرق شِيَعًا، وإنما ينشأ التفرق عند وقوع المخالفة في الأمور الكلية

 “ Kelompok-kelompok ini dikatakan kelompok sesat karena menyelisihi al-Firqah an-Najiyah (Kelompok yang Selamat) dalam masalah-masalah pokok agama dan kaidah-kaidah syariatnya. Bukan menyelesihi dalam satu cabang dari cabang-cabangnya. Karena suatu cabang jika berbeda sendiri tidak akan terbentuk darinya penyelewengan yang menyebabkan munculnya perpecahan. Tetapi munculnya perpecahan ketika terdapat penyelewengan dalam masalah pokok. “

 Diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah di dalam memahami Aqidah adalah sebagai berikut :

Prinsip Ke -1 :

Menyakini Rukun Islam yang Lima dan Rukun Iman yang Enam.

Kelompok sesat yang menyelesihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini adalah  :

Pertama : Syiah Rafidhah, mereka menyakini bahwa rukun Islam ada tujuh, yaitu ; 1. Wilayah, 2 Thaharah, 3. Sholat, 4, Zakat, 5. Puasa, 6. Haji, dan 7. Jihad.  Adapun rukun Iman menurut mereka ada lima : 1. At-Tauhid, 2. al-‘Adl, 3.An-Nubuwah, 4.al-Imamah, 5. Al-Ma’ad (Rasail al-Kurki, 1/59)

Kedua : Kelompok Mu’tazilah, mereka menyakini bahwa rukun Islam ada lima : 1. Tauhid, 2. Keadilan, 3. Janji dan Ancaman, 4.Kedudukan diantara kedua kedudukan, 5. Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar.

Adapun dalil Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa Rukun Islam ada lima  adalah hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بُنِيَ الإسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ ، وَأنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَإقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَحَجِّ البَيْتِ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“ Islam dibangun di atas lima perkara : bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, menegakkan sholat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan “ (HR. Bukhari dan Muslim)

Barang siapa yang menyakini Rukun Islam selain yang disebut di atas, maka dia termasuk ahli bida’h dan sesat. Ini berdasarkan  firman Allah :

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

 Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (Qs an-Nisa’:136)

 Sedangkan rukun Iman yang enam, berdasarkan hadits Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu :

عنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

Dari Umar radhiyallahu anhu, ia berkata, “Suatu hari ketika kami duduk-duduk di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut Beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di paha Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika kamu mampu,“ kemudian dia berkata, “Engkau benar.“ Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“ Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” Dia berkata, “Engkau benar.” Kemudian dia berkata lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan.” Beliau menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu.” Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan terjadinya).” Beliau menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari yang bertanya.” Dia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya?“ Beliau menjawab, “Jika seorang budak melahirkan tuannya dan jika kamu melihat orang yang sebelumnya tidak beralas kaki dan tidak berpakaian, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunan,” Orang itu pun pergi dan aku berdiam lama, kemudian Beliau bertanya, “Tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepadamu dengan maksud mengajarkan agamamu.” (HR. Muslim)