Karya Tulis
605 Hits

Prinsip Ahlussunnah: Iman Perkataan dan Perbuatan, Bertambah....

Menyakini bahwa Iman mencakup :

       تصديق بالجنان، وقول باللسان، وعمل بالجوارح والأركان؛ يزيد بالطاعة، وينقص بالمعصية

“Membenarkan dengan hati, mengatakan dengan lisan, mengamalkan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan “

          Adapun yang menyelesihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini adalah :

Pertama : al-Murji’ah, mereka menyakini bahwa Iman seseorang tetap, tidak bertambah dan tidak berkurang. Dan amal perbuatan seseorang tidak masuk dalam katagori Iman. Iman menurut mereka ada tiga pendapat :

(1)  Iman adalah pembenaran dalam hati dan pengetahuan tentangnya. Ini perkataan al-Jahmiyah

(2)  Iman adalah perkataan di lisan, walaupun kosong dari keyakinan. Ini perkataan al-Karamiyah.

(3)  Iman adalah pembenaran dalam hati dan perkataan di lisan. Ini perkataan Murjiah al-Fuqaha. Tetapi amal perbuatan termasuk buah dari keimanan dan termasuk kewajiban. (Ibnu al-Batthah, al-Ibanah al-Kubra, 2/779, Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa : 7/307). Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan perbedaaan Mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Murjiah al-Fuqaha hanyalah perbedaan istilah sebagaiman yang ditulis oleh pensyareh Aqidah Thahawiyah.

Kedua : al-Khawarij, mereka menyakini bahwa Iman terdiri dari perkataan dan perbuatan, tetapi mereka tidak menyakini bahwa Iman bisa berkurang atau bertambah, karena Iman adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dari sinilah terjadi perbedaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan al-Khawarij dalam menghukumi pelaku dosa besar. Al-Khawarij mengatakan bahwa orang yang mencuri dan berzina telah hilang iman mereka secara keseluruhan, maka mereka dihukumi kafir, keluar dari Islam.

Ketiga : al-Mu’tazilah, mereka berkeyakinan seperti al-Khawarij, hanya berbeda sedikit dalam menghukumi pelaku dosa besar. Mereka mengatakan orang yang mencuri atau berzina, kedudukan mereka antara Iman dan Kafir.

Dalil Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menunjukkan bahwa Iman itu mencakup perkataan dan perbuatan adalah  firman Allah :

 إِنَّمَاالْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (4)

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”(Qs. al-Anfal : 2-4)

 Begitu juga berdasarkan hadist Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ.

          “ Iman memiliki lebih dari 70 atau 60 cabang. Cabangnya yang paling utama adalah ucapan La Ilaha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan dari jalan. Sedangkan malu bagian dari iman.” (HR. Bukhari, 9 dan Muslim, 57)

          Adapun dalil bahwa iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan adalah firman Allah :

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ

“ Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu.” (Qs. al-Mudatstsir : 31)

 Begitu juga firman Allah :

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“ Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.” (Qs. at-Taubah : 124)

 Begitu juga firman Allah :

 وَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

.          Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,(Qs. al-Fath : 4)