Karya Tulis
111 Hits

Bab Ke 6 Surat Kepada Penguasa

Bab Ke 6

Surat Kepada Penguasa

 

 اذْهَب بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ (28)

“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian mundurlah dari mereka, lalu  perhatikanlah apa yang mereka bicarakan." (Qs. An-Naml: 27-28)

Pelajaran dari ayat di atas:

Pelajaran Pertama :

Surat kepada Ratu Bilqis

(اذْهَب بِكِتَابِي هَذَا) ““Pergilah dengan (membawa) suratku ini..”

Nabi Sulaiman memerintahkan burung Hud-Hud untuk membawa suratnya kepada Ratu Bilqis. Ini menunjukkan beberapa hal:

(1). Seorang pemimpin hendaknya bisa melakukan surat menyurat, walaupun tidak harus dirinya sendiri yang menulis.

(2). Perlunya seorang pemimpin mengangkat sekretaris pribadi atau juru tulis.

(3). Perlunya menjalin hubungan dengan pemimpin-pemimpin lain di luar negri, karena di dalamnya terdapat kemaslahatan bangsa dan negara.

(4). Perlunya kurir atau duta untuk membawa surat tersebut kepada penguasa yang dituju.

(5). Perlunya pemimpin menguasai bahasa asing yang digunakan oleh Negara lain.

(6). Perlu berdakwah melalui tulisan dan surat menyurat kepada para pemimpin.

(7). Menunjukkan kebolehan melakukan surat menyurat kepada orang-orang kafir dan musyrikin. Dan ini pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sejumlah pemimpin kafir, diantaranya kepada Kisra (pemimpin Persia) dan Kaisar (pemimpin Romawi) serta al-Muqauqis ( penguasa Mesir).

(8). Perlu penekanan dakwah kepada para pemimpin dan penguasa secara khusus, karena kalau para pengusa baik, rakyat akan ikut baik juga.

Pelajaran Kedua :

Etika Seorang Duta (Kurir)

)فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُون(       

“.. lalu jatuhkanlah surat tersebut kepada mereka, kemudian mundurlah dari mereka, lalu  perhatikanlah apa yang mereka bicarakan."

Ayat di atas menunjukkan etika seorang duta (kurir) yang membawa surat, diantaranya adalah sebagai berikut

(1). Hendaknya seorang kurir duta (kurir) mengikuti setiap petunjuk dan arahan dari orang yang memberikan amanat kepadanya (pemilik surat), dan hendaknya tidak menyelesihi perintahnya sedikitpun. Karena menyelisihi perintah pemimpin dalam masalah politik bisa berakibat fatal.

(فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ) “.. lalu jatuhkanlah surat tersebut kepada mereka..”

Dalam hal ini, burung Hud-hud diperintahkan untuk menjatuhkan surat tersebut di hadapan mereka (para pemimpin negeri Saba’, dalam hal ini adalah Ratu Bilqis)

Seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Hudzaifah atau  Syuja’ bin Wahb membawa surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk disampaikan kepada Kisra, Raja Persia.

Ketika  Abdullah bin Hudzaifah (Syuja’) masuk menemuinya. Kisra memerintahkan agar surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  diambil dari tangan Syuja’. Syuja’ berkata,”Tidak, biarkan aku sendiri yang menyampaikannya kepadamu sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam

(2)  Hendaknya seorang  duta (kurir) bersikap baik, sopan dan santun serta bertindak  wibawa di depan penguasa yang didatanginya, karena dia datang bukan atas nama pribadi, tetapi datang atas nama pemerintahan negaranya. Sikap seperti ini akan mempengaruhi para pemimpin yang didatangi.

(ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ) “ kemudian mundurlah dari mereka..”

Muhammad bin Ishaq (w. 151 H) di dalam as-Sirah an-Nabawiyah (1/15) menerangkan bahwa Abdul Muthalib ketika menemui Abrahah untuk sebuah perundingan sebelum penyerangan Ka’bah, beliau berpenampilan tenang dan berwibawa, sehingga Abrahah terkagum-kagum kepadanya, sehingga Abrahah mau duduk bersama Abdul Muthalib di lantai, padahal pembicaraan belum dimulai.

Ibnu Hisyam ( 213 H) di dalam as-Sirah an-Nabawiyah (2/17) menceritakan bagaimana sikap Ja’far bin Abi Thalib yang sangat sopan dan santun di depan raja Najasyi serta tutur katanya yang baik, sehingga membuat raja Najasyi terpesona dengannya, yang akhirnya mendorongnya untuk memeluk Islam. 

Ibnu Katsir (774 H ) di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah (7/47)  juga menyebutkan kisah Rib’i bin Amir,  di depan Rustum

الله ابتعثنا لنخرج من شاء من عبادة العباد إلى عبادة الله، ومن ضيق الدنيا إلى سعتها، ومن جور الاديان إلى عدل الاسلام

 

“Allah subhanahu wa ta'ala  telah mengutus kami untuk membebaskan manusia dari penyembahan  manusia kepada manusia menuju penyembahan manusia hanya kepada Allah saja, dan melepaskan belenggu duniawi yang sempit menuju dunia yang luas, dan dari kedhaliman  agama-agama  menuju keadilan agama Islam.”

 (3). Hendaknya seorang duta (kurir) mengamati dan mempelajari tanggapan dari pemimpin yang dituju terhadap surat yang diberikan kepadanya, untuk kemudian disampaikan kepada pemimpin yang mengutusnya.

)فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُون(         

“..lalu  perhatikanlah apa yang mereka bicarakan."

          Berkata Ibnu Juzai di dalam at-Ta’shil li Ulumi at-Tanzil (1/1321) ; “ Maksudnya mundurlah ke tempat yang masih dekat, agar anda bisa mendengar pandangan mereka tentang surat tersebut. “

Ini menunjukkan bahwa seorang duta (kurir) hendaknya dipilih dari orang-orang yang cerdas dan bisa berpikir cepat, serta pandai menganalisa keadaan.

Pelajaran Ketiga :

Pemimpin Menerima dan Menulis Surat

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (29) إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31)

29. Berkata ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. 30. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” 31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri". (Qs. an-Naml:29-31)

 

 (1). Seorang pemimpin hendaknya meminta pendapat dari para penasehat, tokoh dan staf ahlinya ketika mendapatkan suatu masalah. Ratu Bilqis telah melakukannya dengan baik.

(قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ) Berkata ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar..”

Berkata asy-Sya’rawi di dalam tafsirnya (1/6735) : “Al-Mala’ adalah para tokoh, pembesar dan  penasehat, serta staf khusus.” 

(2). Seorang pemimpin hendaknya menghormati surat yang sampai kepadanya, jika berisi informasi yang bermanfaat atau ajakan untuk berbuat baik.

(إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيم) “sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.”  

Hendaknya jangan bertindak seperti Kisra, Raja Persia yang menyobek surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan sebelum mengetahui isinya, hanya karena keangkuhan dan kesombongannya, sehingga Allah membinasakannya lewat anaknya sendiri, yaitu Syirawaih, dan merobek-robek kerajaannya Persia menjadi berkeping-keping.

 (3). Dianjurkan untuk menyebut nama penulis di awal surat, sebagai pengenalan diri.

(إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ). Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman.

Ini adalah etika seorang penulis surat, yaitu mengenalkan dirinya terlebih dahulu kepada orang yang dia tuju, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Karena orang yang menerima surat jika mengetahui penulisnya, dia akan bersikap sesuai dengan keadaan penulis surat tersebut.

Sebaliknya surat kaleng (surat tanpa mencantumkan nama penulisnya) menunjukkan sikap pengecut dari penulis surat dan tidak adanya rasa tanggung jawab terhadap isi surat tersebut.

(4). Di dalam Ruh al-Ma’ani (14/465),  al-Alusi menjelaskan kebolehan menyebut nama penulis surat terlebih dahulu sebelum menyebut nama Allah, dengan tujuan jika orang kafir menghinakan surat itu, maka yang terkena pertama kali adalah namanya sebelum nama Allah. 

(5). Dianjurkan untuk memulai tulisan surat dengan menyebut Basmalah secara lengkap.

 (وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم )

(6). Seorang pemimpin hendaknya berbicara singkat, padat dan akurat, serta membawa misi yang jelas, sehingga terjaga wibawanya dan bisa menggetarkan musuh. 

)أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (

“ Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri".

 

Berkata as-Sa’di di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman (1/604 ) : “ Surat Nabi Sulaiman sangat singkat, tetapi mengandung keterangan yang sangat lengkap. Surat ini berisi : (a). Larangan untuk sombong dan tetap bersikukuh pada keadaan yang sekarang (b). Perintah untuk tunduk kepada perintahnya dan taat kepadanya. (c). Perintah untuk datang kepadanya (d). Serta ajakan untuk masuk Islam. “

 Pelajaran Keempat :

 Surat-surat Rasulullah Kepada Para Raja.  

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menulis 43 surat kepada para pemimpin dunia, diantaranya:

(1). Surat untuk Raja Najasyi, Ethiopia

Adapun isi surat Rasulullah kepada Raja Najasyi sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ محمَّدٍ رَسُولِ اللهِ إلى النَّجاشِى مَلِكِ الحَبَشَةِ، أَسْلِم أنْتَ، فإنى أحْمَد إلَيْكَ اللهَ الذى لا إله إلاَّ هُوَ المَلِكُ القُدُّوسُ السَّلامُ المُؤْمِنُ المُهَيْمِنُ، وأَشْهَدُ أنَّ عِيسى ابْنَ مَرْيَمَ رُوحُ اللهِ وكَلِمتُهُ ألقَاهَا إلى مَرْيمَ البَتُولِ الطَّيِّبَةِ الحَصِينَةِ، فَحَمَلَتْ بِعيسى، فَخَلَقَهُ الله مِنْ رُوحِهِ ونفخه، كَمَا خَلَقَ آدَمَ بِيدِهِ، وإنى أدْعُوكَ إلى اللهِ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ له، والمُوالاَة عَلى طَاعَتِه، وأَنْ تَتَّبِعنى، وتُؤمِنَ بالَّذِى جَاءَنى، فَإنى رَسُولُ اللهِ، وإنى أدْعُوكَ وجُنُودَكَ إلى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وقَدْ بَلَّغْتُ ونَصَحْتُ، فاقبَلُوا نَصيحَتى، وَالسَّلاَمُ عَلى مَنِ اتَّبعَ الهُدَى

“ Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, kepada an-Najasyi, Raja Habasyah. Masuklah anda kepada Islam.

Sesungguhnya aku bertauhid kepada yang tiada Tuhan kecuali Dia, Dialah RajaYang Maha Suci, Yang Maha Pemberi Keselamatan, Yang Maha Pemberi Keamanan, Yang Maha Pelindung. Dan aku bersaksi bahwa Isa bin Maryam adalah Ruh(tiupan) dari Allah (yang terjadi) dengan kalimat-Nya (yang disampaikannya) kepada Maryam yang perawan, yang baik dan menjaga diri (suci) lalu mengandung (bayi) Isa, yang Allah menciptakannya dari ruh dan tiupan-Nya sebagaimana menciptakan Adam dengan tangan-Nya.

Aku mengajak engkau kepada Allah yang Esa, tidak mempersekutukan sesuatu bagi-Nya dan taat patuh kepada-Nya dan mengikuti aku dan meyakini (ajaran) yang datang kepadaku.

Sesungguhnya aku utusan Allah. Dan aku mengajak engkau dan tentaramu kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Agung. Aku telah menyampaikan dan telah aku nasihatkan; maka terimalah nasihatku. Salam bagi yang mengikuti petunjuk ini.”.  (Ibnu Qayyim (751 H), Zadul Ma'ad : 3/689)

 

(2). Surat kepada Raja al-Muqauqis, Mesir

Berikut ini isi surat Nabi Muhammad untuk Raja Al-Muqauqis, nama aslinya Khirij bin Mina’:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ، مِنْ محمَّدٍ عبدِ اللهِ ورسُولِه، إلى المُقَوْقِس عظِيمِ القِبْطِ، سَلامٌ على من اتَّبَعَ الهُدى، أما بَعْدُ: فإنى أدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإسْلامِ، أَسْلِم تَسْلَمْ، وأَسْلِم يُؤْتِكَ اللهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فإنْ تَوَلَّيْتَ، فإنَّ عَلَيْكَ إثْمَ القِبْط  )يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إلاَّ اللهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللهِ، فَإن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأنَّا مُسْلِمُونَ (

     “ Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Kepada al-Muqauqis Pembesar Qibthi. Salam sejahtera kepada yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.

Aku mengajak Anda dengan dakwah Islam. Anutlah agama Islam dan Anda selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Tetapi apabila Anda berpaling, Anda akan memikul dosa kaum Qibthi. ( Wahai Ahli kitab, marilah menuju ke suatu kalimat ketetapan yang tidak terdapat suatu perselisihan di antara kita, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun. Tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah (muslimin)(Qs.Ali Imran : 64).” (Ibnu Qayyim (751 H), Zadul Ma'ad : 3/691) 

(3).Surat kepada Raja Kisra, Persia

Adapun isi surat tersebut sebagai berikut :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ، مِنْ محمَّدٍ رَسُولِ اللهِ، إلى كِسْرَى عَظِيمِ فَارِسٍ، سَلامٌ عَلَى مَن اتَّبَعَ الهُدَى وآمَنَ باللهِ وَرَسُولِهِ، وشَهدَ أنْ لاَ إله إلاَّ الله وحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، وأنَّ مُحَمَّداً عَبْدُه ورَسُولُهُ، أدْعُوكَ بِدِعَايَة اللهِ، فإنى أنا رَسُولُ اللهِ إلى النَّاسِ كَافَّةً لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيّاً ويَحِقَّ القَوْلُ عَلى الكَافِرِينَ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، فَإنْ أَبَيْتَ فَعَلَيْكَ إثْمُ المَجُوسِ

 

          “ Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Kepada Kisra pembesar Persia. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk dan beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala  dan Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku mengajak dengan seruan Allah.

Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada seluruh umat manusia supaya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup hatinya dan supaya ketetapan azab kepada orang-orang kafir itu pasti. Masuklah Anda ke dalam Islam, niscaya akan selamat. Jika kamu menolak, sesungguhnya kamu memikul dosa kaum Majusi.” (Ibnu Qayyim (751 H), Zadul Ma'ad : 3/688) 

 (4). Surat kepada Raja Heraklius, Romawi      

Adapun isi surat tersebut sebagai berikut :

بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ، مِنْ محمَّدٍ رَسُولِ اللهِ، إلى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّوم، سَلامٌ عَلَى مَن اتَّبعَ الهُدى، أمَّا بَعْدُ: فَإنى أدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإسْلامِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإنْ تَوَلَّيْتَ، فَإنَّ عَلَيك إثْمَ الأرِيسِّيينَ، )يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إلاَّ اللهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلا يتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللهِ، فَإن تَوَلَّواْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُون(

“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang . Dari Muhammad, hamba dan utusan Allah kepada Heraklius pembesar  Romawi. Salam sejahtera bagi siapapun yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du.

            Dengan ini, aku menyerumu untuk memeluk Islam. Masuk Islamlah, maka Allah akan memberimu  pahala dua kali lipat. Akan tetapi, jika engkau menolak, engkau harus menanggung dosa orang-orang Arisi.  ( Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimah (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahawa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahawa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). ( Qs. Ali-Imran : 64)  (HR. al-Bukhari)” Ibnu Qayyim (751 H), Zadul Ma'ad : 3/688)

Dari surat-surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para pemimpin dan raja, bisa diambil beberapa pelajaran darinya, diantaranya adalah sebagai berikut :

(1). Beliau memulai suratnya dengan menyebut nama Allah dengan lafadh Basmalah secara lengkap

(2). Kemudian beliau menyebutkan nama penulis surat dan nama pemimpin yang dituju.

(4). Beliau memberikan dalil terhadap ajakan tersebut, kadang beliau ambil dari al-Qur’an, kadang beliau sebutkan intinya

(5). Beliau memberikan kabar gembira berupa pahala bagi yang mau menerima dakwahnya dan memberikan ancamanan berupa dosa yang harus dia tanggung sebagai pemimpin.

(6). Surat-surat beliau singkat tapi padat serta bermutu,  tidak panjang dan bertele-tele.

Pelajaran kelima :

Berdakwah Melalui Surat

(1). Berdakwah dengan surat adalah sunnah para Nabi, paling tidak pernah dilakukan oleh Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, makanya diharapkan seorang muslim bisa mengikuti jejak kedua Nabi tersebut di dalam berdakwah. 

(2). Surat menyurat pada zaman sekarang telah berganti menjadi surat elektronik (email) dan berbagai jenis media sosial (medsos), seperti : Facebook (FB), WhatsApp (WA), Twitter, Telegram, Youtube, Instagram, dan lain-lainnya, serta mass media cetak maupun elektronik, seperti televisi, radio, koran, majalah dan lain-lainnya.

Oleh karenanya, setiap muslim perlu memanfaatkan media sosial yang tersedia sekarang untuk menyebarkan kebaikan di kalangan masyarakat luas, serta menghilangkan kemungkaran dari lingkungan mereka.

(3). Perlu adanya duta muslim yang mengantarkan surat atau da’i yang diutus kepada para pemimpin  untuk mendekati dan melobi mereka, secara langsung, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada Raja Namruj, Nabi Musa dan Harun kepada Fir’aun, Nabi Yusuf kepada Raja Mesir.

(4). Hadits Thariq bin Syihab radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya,

أيُّ الجهادِ أفضلُ ؟ قال : «كلمةُ حقٍ عند سلطان جائر».

 

 “ Jihad apa yang paling afdhal ? Beliau bersabda, menyampaikan kalimat yang haq di hadapan penguasa yang dhalim.” (HR. Nasai. Sanadnya Hasan ( lihat Ibnu al-Atsir (w. 606 H),  Jami’ al-Ushul fi Ahaditsi ar-Rasul, editor ; Abdul Qadir al-Arnauth (1/6735)

Berkata al-Munawi (1031 H) di dalam at-Taisir bi syarhi al-Jami’ ash-Shaghir (1/365) : “Maksud dari kalimat haq adalah amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan ucapan atau yang lainnya seperti tulisan (surat). Disebut sebagai jihad yang paling utama, karena berjihad melawan musuh, biasanya diwarnai perasaan harap dan cemas.  Khusus untuk penguasa, biasanya jika diajak kepada kebaikan, maka sangat berpotensi yang mengajaknya dipenjara atau dibunuh. Oleh karenanya, disebut sebagai sebaik-baik jihad, karena diliputi rasa takut yang lebih (dibanding jihad di medan pertempuran). “

 Senin, 24 Rabi’ul Akhir 1438 H / 23 Januari 2017 M