Karya Tulis
187 Hits

Berlindung dari Musibah yang Mendadak (1)


عن عبد الله بن عمر - رضي الله عنهما - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam: ‘Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dan dari pindahnya keselamatan yang Engkau berikan, dan dari kedatangan sangsi-Mu yang tiba-tiba, serta dari seluruh murka-Mu’.” (HR. Muslim)

Hadits diatas menjelaskan kepada kita, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari empat hal:

Pelajaran Pertama: Hilangnya Nikmat Allah

ﻣﻦ ﺯﻭﺍﻝ ﻧﻌﻤﺘﻚ

“Hilangnya nikmat Allah”

Kata (hilang) menunjukkan bahwa sebelumnya sudah ada nikmat, kemudian nikmat tersebut menjadi hilang. Kenapa nikmat menjadi hilang? Paling tidak terdapat dua hal yang menyebabkan hilangnya suatu nikmat, yaitu; (1) menyalahgunakan nikmat (2) mengingkari nikmat.

Kedua hal tersebut bisa diringkas menjadi satu, yaitu tidak mensyukuri nikmat. Dalilnya adalah firman Allah,

 وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Qs. Ibrahim: 34)

Pada ayat di atas, Allah menyebutkan sifat manusia yang tidak mensyukuri nikmat, yaitu zhalim dan kafir. Zhalim artinya menyalahgunakan nikmat, sedang kafir artinya mengingkari nikmat.

Allah juga menjelaskan bahwa tidak mensyukuri nikmat menyebabkan hilangnya nikmat tersebut, sebagaimana firman-Nya, 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Qs. Ibrahim: 7)

Begitu juga di dalam firman-Nya:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-Anfal: 53)

Diantara nikmat Allah yang paling besar dalam hidup dan wajib disyukuri adalah nikmat Islam dan Iman. Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. al-Maidah: 3)

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa nikmat Islam tersebut harus dijaga jangan sampai hilang dan tidak boleh terkena musibah. 

Adapun nikmat dunia, adalah nikmat yang tidak langgeng. Harta yang dikumpulkan di dunia, cepat atau lambat akan hancur dan punah. Tidak sedikit orang yang baru mengumpulkan harta, kemudian tidak seberapa lama terkena musibah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan doa untuk memperingan musibah dunia, dan berdoa agar musibah tersebut tidak menimpa agama. Hal ini tersebut di dalam hadist ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhu: 

 قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ لأَصْحَابِهِ  :اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

“Sangat jarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari suatu majlis sehingga berdoa dengan doa ini untuk orang-orang yang duduk bersamanya: ‘Ya Allah, berikanlah kami rasa takut kepada-Mu yang bisa  menjadi penghalang  antara kami dan maksiat kepada-Mu, dan (berikanlah kami) ketaatan kepada-Mu yang bisa  menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan (berikanlah kami) keyakinan yang meringankan kami di dalam  menghadapi musibah dunia, Ya Allah, berilah kami manfaat pada pendengaran kami, penglihatan kami dan kekuatan kami selagi kami hidup, dan jadikanlah ia kekal dengan kami dan terpelihara sehinggalah kami mati, dan Kau berikanlah balasan kepada orang yang menzalimi kami, dan bantulah kami terhadap atas orang yang memusuhi kami, dan janganlah Kau timpakan musibah pada agama kami, dan janganlah juga Kau jadikan dunia ini sebagai sebesar-besar kerisauan (matlamat) kami serta (janganlah Kau jadikan) pengetahuan kami mengenai dunia semata-mata, dan janganlah Kau biarkan orang yang tidak mengasihani kami menguasai kami’.” (HR. at-Tirmidzi, an-Nasai. At-Tirmidzi berkata: Hadis ini Hasan Gharib)

Kata (Ni’matika) menunjukkan bahwa seluruh nikmat yang ada di dunia ini, semuanya berasal dari Allah, bukan dari yang lain-Nya. Allah berfirman,

 وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (Qs. An-Nahl: 53)

Berkata al-Wahidi di dalam tafsir al-Wajiz: “Apapun nikmat yang kalian dapatkan, baik berupa kesehatan badan, luasnya rezeki, atau kesenangan berupa harta dan anak, maka semua itu berasal dari Allah kemudian ketika kalian ditimpa sakit dan kebutuhan, maka kalian berteriak meminta pertolongan kepada Allah.”

Pelajaran Kedua: Bergesernya Keselamatan dan Kesehatan

وتحوُّل عافيتك

“Bergesernya keselamatan dan kesehatan”

(Tahawwuli) artinya berubah, bergeser dan berpindah. Sedangkan (‘Afiyatika) artinya keselamatan dari segala bencana dan musibah yang Engkau berikan.

Doa ini menunjukkan bahwa keselamatan yang Allah berikan kepada manusia bisa berubah kapan saja, atau berpindah kepada orang lain. Dan ini juga menunjukkan bahwa kehidupan dunia ini tidak langgeng, dia hanya sementara. Tetapi walaupun begitu, kita diperintahkan untuk selalu memohon kepada Allah agar keselamatan yang kita dapatkan tetap bisa dipertahankan sebisa mungkin. Ini terwujud jika kita selalu memanfaatkan keselamatan dan kesehatan tersebut untuk mentaati segala perintah Allah dan menjauh segala larangan-Nya.

Di dalam hadits ‘Abdullah bin al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada seorang laki-laki sambil menasehatinya,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ : شَبابَكَ قبلَ هِرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara; waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. al-Hakim. Imam adz-Dzahabi menyatakan hadits ini sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim)

Keselamatan dan kesehatan di dalam hidup ini, harus dijaga dan dipertahankan sebisa mungkin. Maka, tidak boleh seorang muslim bercita-cita bertemu musuh. Karena jika musuh datang menyerang, akan berpotensi menghilangkan keselamatan dan kesehatan, dan merubahnya menjadi bencana dan musibah. Betapa banyak umat Islam di beberapa negara yang dulunya hidup aman, damai dan sejahtera, ketika perang meletus, tiba-tiba mereka menderita dan sengsara dalam waktu yang panjang.

Di dalam hadist ‘Abdullah bin Abi Aufa bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

“Wahai manusia, janganlah kalian berangan-angan bertemu musuh dan mintalah kepada Allah keselamatan. Maka, jika kalian bertemu dengan musuh, bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah bayang-bayang pedang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berkata Imam an-Nawawi: “Larangan untuk berangan-angan ketemu musuh, karena (keinginan bertemu musuh) itu mengesankan sikap ‘ujub (sombong), bertawakkal kepada diri sendiri, serta yakin dengan kekuatannya. Ini bentuk sikap semena-mena. Padahal Allah telah menjamin orang yang dilakukan semena-mena, akan ditolongnya. Begitu juga (keinginan bertemu musuh) itu mengesankan tidak ada perhatiannya terhadap musuh dan meremehkan kekuatan mereka. Ini bertentangan dengan sikap hati-hati dan sungguh-sungguh.”

Di dalam hadits Abu Bakar as-Siddiq radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

سَلُوا الله العَفْوَ والعافيةَ، فإنَّ أحداً لَم يُعْطَ بعد اليَقين خَيراً من العافية

“Mintalah keselamatan kepada Allah, karena sesungguhnya Allah tidak memberikan sesuatu yang paling baik kepada seorang hamba, setelah keyakinan, daripada keselamatan.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, serta dishahihkan al-Albani)

Ini juga dikuatkan oleh hadist ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan doa di bawah ini ketika pagi dan petang,

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي،اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنَ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku.Ya Allah tutupilah auratku, tenangkanlah kepanikanku. Ya Allah jagalah aku dari arah depanku, dari arah belakangku, dari kananku, dari kiriku, dari arah atasku. Dan saya berlindung kepada Keagungan-Mu dari dicelakakan dari arah bawahku.” (Hadits Shahih. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)