Karya Tulis
133 Hits

Berlindung dari Buruknya Takdir


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَتَعَوَّذُ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: "Bahwasanya Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung  kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yang terus menerus, buruknya takdir dan senangnya musuh (karena musibah yang menimpa umat Islam).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pelajaran dari Hadits di atas:

Hadits di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa kepada Allah meminta berlindung dari dari empat yang membawa madharat dunia dan akhirat.  Empat hal tersebut adalah sebagai berikut:

Pelajaran Pertama: Kerasnya Musibah

(جَهْدِ الْبَلاَءِ) artinya Kerasnya musibah.

(جَهْدِ الْبَلاَءِ) mempunyai dua arti:

(a) Jahdi al-Bala’ artinya semua yang menimpa manusia dan menyebabkannya dalam kepedihan dan penderitaan.

(b) Juhdi al-Bala’ artinya musibah yang tidak mampu dihadapinya dan sangat berat untuk ditanggungnya. Yaitu musibah yang tidak bisa dihindarinya. Saking hebatnya musibah tersebut sehingga seseorang memilih mati daripada mendapatkan musibah seperti ini.

          Sebagian ulama menjelaskan bahwa musibah secara umum terbagi menjadi dua bentuk;

Bentuk Pertama: Musibah Dunia

Musibah Dunia adalah musibah yang menimpa manusia pada anggota badan dan jiwanya, serta menimpa benda-benda yang ada disekitarnya.  Musibah ini tidak terkait dengan agama dan keyakinan yang dianutnya. 

Musibah dalam bentuk pertama ini meliputi tiga hal;

a) Musibah Fisik (Jasmani), yaitu setiap musibah yang menimpa manusia pada salah satu anggota badannya, seperti sakit kepala, patah kaki, batuk-batuk, masuk angin.   

b) Musibah Psikis (Ruhani), yaitu setiap musibah yang menimpa manusia pada kejiwaannya seperti sedih, stress, galau, khawatir, kecewa. Ini pernah dialami oleh dua wanita yang disebutkan di dalam al-Qur’an, yaitu Maryam binti ‘Imran yang difitnah oleh orang-orang Yahudi sebagai wanita yang tidak berakhlak, sebagaimana yang tercantum di dalam Qs. Maryam: 16-37. Begitu juga yang dialami oleh ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha yang difitnah melakukan selingkuh dengan salah satu sahabat, sebagaimana yang tersebut di dalam Qs. an-Nur: 11-26. 

c) Musibah Besar, yaitu musibah yang menimpa manusia dalam jumlah yang banyak dan bebarengan, seperti meletusnya perang, terjadinya tanah longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus dan kebakaran.

Musibah besar ini pernah dialami oleh Bani Israel, ketika mereka ditindas oleh Fir’aun, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala,

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ  يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ  وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Qs. al-Baqarah: 49)

Sebagian manusia tertimpa musibah-musibah di atas, kemudian tidak bisa bersabar terhadapnya. Justru dia mengeluh, mencaci maki, bahkan meninggalkan imannya. Ini sesuai dengan firman Allah,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Qs. al-Hajj: 11)

Bentuk Kedua: Musibah Agama

Musibah agama adalah musibah yang menimpa manusia dalam menjalankan ajaran agamanya. Seperti seorang muslim yang menjadi ragu-ragu terhadap ajaran agamanya, sehingga memutuskan untuk pindah agama atau murtad dari Islam. Begitu juga seseorang yang melakukan perbuatan syirik,  maksiat dan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Musibah agama ini lebih berbahaya dari musibah dunia, karena akan membawa kesengsaraan dunia dan akhirat sekaligus. Musibah agama ini disebut juga (Daraki asy-Syaqa’) yang akan diterangkan pada doa selanjutnya.

          Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk meminta perlindungan dari segala musibah. Di dalam hadits Abu Ubaidah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

سَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِنَّهُ لَمْ يُعْطَ عَبْدٌ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنْ الْعَافِيَةِ

“Mintalah keselamatan kepada Allah, karena sesungguhnya Allah tidak memberikan sesuatu yang paling baik kepada seorang hamba daripada keselamatan.” (HR. Ahmad)

Ini dikuatkan oleh hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku." (HR. al-Bukhari)

Pelajaran Kedua: Datangnya Kesengsaraan

(وَدَرَكِ الشَّقَاءِ) artinya Datangnya kesengsaraan.

Yang dimaksud dengan (Daraki asy-Syaqa’) di sini adalah mendapatkan kesengsaraan dunia dan akhirat akibat perbuatan syirik, kufur, maksiat, dan dosa. Ini disebutkan juga dengan musibah agama. Kalau musibah sebelumnya, yaitu (Jahdi al-Bala’) adalah musibah dunia.

Untuk menghindari (Daraki asy-Syaqa’) ini, kita harus mendekatkan diri kepada Allah, seraya merasa takut akan adzab-Nya serta mentaati segala perintah-Nya.

Ini sesuai dengan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ

“Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat (kepada-Mu). Dan jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.” (HR. at-Tirmidzi)

Juga sesuai dengan doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ من جَمِيعِ سَخَطِكَ

“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari seluruh murka-Mu.“ (HR. Muslim)

Murka Allah akan datang ketika manusia berpaling dari ajaran-Nya, melanggar aturan-aturan-Nya, tidak mau menyembah-Nya, bahkan membuat sesembahan tandingan-tandingan di hadapan-Nya.

Pelajaran Ketiga: Buruknya Takdir

(وَسُوءِ الْقَضَاءِ) artinya Buruknya takdir.

Termasuk keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah beriman kepada takdir yang baik, maupun takdir yang buruk.

Maksud dari (Su’u al-Qadha’)  dalam  hadits di atas, ada dua hal:

(1) Su’u al-Qadha’ artinya buruknya hukuman atau putusan.

Kadangkala seseorang keliru ketika memutuskan suatu hukuman kepada orang lain. Ini berlaku bagi para hakim yang menghukumi perkara manusia. Berlaku juga pada perorangan yang menghukumi atau memutuskan sesuatu pada dirinya sendiri ataupun kepada orang lain, kemudian ternyata hukuman dan putusan tersebut keliru. Maka kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari kesalahan atau kekeliruan dalam menghukum atau memutuskan.

(2) Su’u al Qadha’ artinya buruknya takdir Allah.

Maksud dari buruknya takdir Allah adalah akibat buruk yang dirasakan seseorang dari suatu takdir, bukan takdir Allah yang buruk. Sebagai contoh, seseorang ditakdirkan mengalami kecelakan yang menyebabkan kakinya patah. Orang yang mengalami kecelakan ini merasakan sakit yang berkepanjangan. Ini yang dimaksud dengan buruknya takdir atau takdir buruk.

Ketika Allah mentakdirkan sesuatu yang kelihatan buruk di mata manusia, tidak serta merta hal itu berakibat buruk juga, kadang justru malah membawa kebaikan bagi hamba tersebut. Ini sesuai dengan firman Allah,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah: 216)

Nabi Yusuf 'alaihi as-sallam yang ditakdirkan masuk ke dalam sumur, dan masuk penjara, ternyata itu semua mengantarkannya kepada kekuasaan di Mesir. Nabi Musa 'alaihi as-sallam  yang waktu bayi dihanyutkan di sungai Nil, ternyata membawanya ke istana Fir’aun. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita dapatkan orang yang sakit disuntik oleh dokter. Suntik bagi pasien itu menyakitkan, tetapi membawa kebaikan baginya.

Ayat Qur’an tentang Su’u al-Qadha’

Diantara ayat yang menunjukkan adanya (Su’u al-Qadha’) di dalam kehidupan manusia adalah firman Allah,

لَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ فَنَذَرُ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejelekan  bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka.” (Qs. Yunus: 11)

Begitu juga Firman Allah subhanahu wa ta'ala,

          قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!’ (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).” (Qs. al-An’am: 40-41)

Kejelekan Tidak kepada Allah

Pernyataan bahwa semua takdir bagi Allah baik, tidak ada yang buruk bagi-Nya ternyata sesuai dengan hadist Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

“Kami menyambut panggilan-Mu, semua kebaikan ada pada diri-Mu dan kejelekan itu bukan kepada-Mu.(HR. Muslim)

Imam an-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim (3/121) menjelaskan lima pendapat ulama di dalam menafsirkan kalimat (‘dan kejelekan bukan kepada-Mu’) dalam hadist di atas, yang ringkasannya sebagai berikut;

(1) Artinya bahwa tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang jelek.

(2) Artinya bahwa kejelekan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah secara sendiri, seperti perkataan: “Ya, Allah Yang Maha Pencipta Kejelekan, Yang Menciptakan anjing dan babi.” Tetapi hendaknya dia mengatakan, “Ya Allah, Yang Maha Pencipta segala sesuatu.”

(3). Artinya bahwa kejelekan itu tidak akan naik kepada-Nya, tetapi yang naik kepada-Nya adalah kata-kata yang baik dan amal shalih.

(4) Artinya bahwa kejelekan itu tidak dinisbatkan kepada Allah, tetapi kepada makhluk-Nya. Ketika Allah menciptakan sesuatu yang kelihatan jelek atau buruk di mata manusia, sebenarnya baik di sisi Allah, karena di balik kejelekan itu terdapat hikmah yang begitu banyak .

(5) Artinya bahwa kejelekan itu tidak ada di dalam sifat dan nama Allah, karena sifat dan nama Allah semuanya baik.

Ayat al-Qur’an tentang Kejelekan bukan kepada Allah

Di bawah ini beberapa contoh dari ayat-ayat al-Qur’an bahwa kejelekan bukan kepada Allah, di antaranya adalah sebagai berikut,

 وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana.  Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf.  Dan berkata Yusuf:  ‘Wahai ayahku inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.  Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.  Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki.  Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (Qs. Yusuf: 100)

Pada ayat di atas, Nabi Yusuf 'alaihi as-sallam  menisbatkan seluruh kebaikan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, seperti; terwujud takwil mimpinya dalam kenyataan, keluarnya dari penjara, datangnya keluarganya ke Mesir. Sebaliknya, beliau menisbatkan perselisihannya dengan saudara-saudaranya kepada syaithan.

Juga dalam firman Allah,

 أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا (79)  وَأَمَّا الْغُلامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا (80)  فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا (81)  وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (82)

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". (Qs. al-Kahfi: 79-82)

Pada ayat di atas, Nabi Khidhir menisbatkan perusakan kapal kepada dirinya, dan menisbatkan sampainya kedua anak yatim pada umur baligh kepada Allah. 

Juga dalam firman-Nya,

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78)  وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79)  وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80)  وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81)  وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (82)

“(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". (Qs. asy-Syu’ara: 78-82)

Pada ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam menisbatkan penciptaan, petunjuk, memberi makanan dan minuman, kesembuhan, mematikan, menghidupkan, ampunan kepada Allah. Adapun sakit, beliau nisbatkan kepada dirinya sendiri bukan kepada Allah.

Kemudian dalam firman-Nya,

 وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

“Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (Qs. al-Jin: 10)

Berkata Ibnu Katsir: “Ini adalah adab mereka di dalam bertutur kata, mereka menisbatkan kejelekan tanpa menyebut pelakunya. Sedangkan kebaikan, mereka nisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.”

Pelajaran Keempat: Senangnya Musuh

(وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ) artinya Senangnya musuh.

          Yang dimaksud dengan (Syamatati al-A’da’) adalah musuh yang senang dengan musibah yang menimpa kita. Jika umat Islam kalah dalam perang, terjadi perpecahan sesama muslim,  tertimpa musibah, menjadi korban banjir, tanah longsor dan gempa, maka orang kafir senang dengan kejadian tersebut. Allah berfirman subhanahu wa ta'ala,

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?’ Dan Musa pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang lalim’.” (Qs. al-A’raf: 150)

Dari empat hal yang kita diperintahkan berlindung darinya, ada sebagian ulama yang membedakannya sebagai berikut:

(1) Musibah atau takdir buruk jika terjadi di awal hidup, maka disebut dengan “Su’ul Qadha’”.

(2) Musibah atau takdir buruk jika terjadi di akhir hidup, maka disebut dengan “Daraku asy-Syaqa’.

(3) Musibah jika berasal dari faktor internal umat Islam sendiri, maka disebut dengan “Jahdu al-Bala’”.

(4) Musibah jika terjadi karena faktor eksternal umat Islam atau berasal dari musuh Umat Islam disebut “Syamatatu al-A’da’”.

Wallahu A’lam.