Karya Tulis
29 Hits

Berlindung dari Hati yang Tidak Khusyu'


Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu berkata, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)

 

Pelajaran dari Hadits di atas:

        Hadist di atas memerintahkan kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari empat hal, yaitu: (1) dari ilmu yang tidak bermanfaat, (2) dari hati yang tidak khusyu’, (3) dari jiwa yang tidak merasa kenyang, dan (4) dari doa yang tidak dikabulkan.

Dalam bab ini hanya diterangkan satu hal saja, yaitu berlindung dari hati yang tidak khusyu’, sebagaimana sabdanya,

وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ

“Dan dari Hati yang tidak khusyu’.”

        Hati yang tidak khusyu’ membuat seseorang tidak takut terhadap Allah. Dia akan meremehkan perintah-perintah-Nya dan melanggar larangan-larangan-Nya. Ini karena hatinya terpaut dengan kesenangan dunia. Oleh karenanya, setiap muslim diperintahkan untuk memohon kepada Allah agar dijauhkan dari hati yang tidak khusyu’.

        Pengertian Khusyu’

Khusyu’ secara bahasa artinya tunduk, tenang dan rendah diri serta tawadhu’. Allah berfirman,

وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًاً   

“Dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (Qs. Thaha: 108)

Khusyu’ secara istilah diartikan: “Keadaan jiwa yang berdampak pada ketenangan dan tawadhu’ dalam bersikap.”

Pengertian khusyu’ menurut al-Qur’an, sebagaimana di dalam firman-Nya,

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan mintalah pertolongan (kepada) Allah dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui Rabb-mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs. al-Baqarah: 45-46)

Pengertian khusyu’ menurut ayat di atas mempunyai dua makna:

(1) Hati yang Khusu’ adalah hati yang menyakini bahwa dia akan bertemu dengan Rabb-nya untuk mendapatkan balasan dari perbuatannya selama hidup di dunia.

(2) Hati yang khusu’ adalah hati yang menyakini bahwa kematian akan menjemputnya setiap saat, sehingga dia selalu mempersiapkan bekal untuknya, dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. 

Ini dikuatkan dengan hadits Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

    إذا قمت في صلاتك فصلِّ صلاة مودع

    “ Jika engkau bangkit untuk shalat, maka shalatlah seakan-akan itu adalah shalat terakhirmu” (HR. Ibnu Majah. Hadts Shahih sebagaimana di dalam as-Silsilah ash-Shahihah(401))

     Hadits di atas menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk melaksanakan shalat dalam keadaan khusyu’ dan salah satu cara agar mendapatkan kekhusyu’an adalah menghadirkan diri seakan-akan besok akan mati dan menjadikan shalat yang kita lakukan tersebut adalah shalat yang terakhir.

    Pertanyaan Fiqih, apakah dianjurkan seorang Imam mengucapkan hal tersebut kepada makmum setiap hendak shalat ?

    Jawabannya, boleh seorang Imam sebelum melaksanakan shalat berjama’ah mengucapkan kepada para makmum kalimat:”Shalatlah kalian, seakan-akan ini adalah shalat kalian yang terakhir.” Tetapi sebaiknya tidak dilazimkan atau dilakukan secara kontinyu, karena dikhawatirkan ada anggapan bahwa itu pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Pembagian Khusu’

Khusyu’ dibagi menjadi dua, yaitu:

Pelajaran Pertama: Khusyu’ Mahmud 

Khusyu’ Mahmud (khusyu’ yang terpuji), yaitu khusyu’ yang terdapat dalam hati, dan efeknya terlihat dalam sifat dan sikap serta gerak-gerik. Oleh karenanya, orang yang khusyu’ dalam shalat akan selalu menundukkan pandangan dan tidak melirik ke kanan atau ke kiri atau melihat ke atas.

Tentang khusyu’ dalam hati, berkata Ibrahim An-Nakh’i: “Khusyu’ itu bukan dengan memakai baju kasar dan compang-camping, ataupun makan makanan yang keras, dan selalu menundukkan kepala. Akan tetapi khusyu’ adalah jika kamu memandang semua orang sama derajatnya, baik para pejabat maupun orang awam, serta kamu tunduk dengan apa yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala.”

Suatu ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu melihat seorang pemuda berjalan sambil menundukkan kepalanya, beliaupun menegur pemuda tersebut seraya berkata: ”Wahai pemuda angkat kepalamu, karena khusyu’ itu hanya di hati.”

Berkata Ali bin Abi Thalib: “Khusyu’ itu terdapat dalam hati, dan tandanya kamu berbuat lembut terhadap sesama muslim, serta tidak menoleh-noleh ketika sedang melakukan shalat.”

Pelajaran Kedua: Khusyu’ Madzmum 

Khusyu’ Madzmum (khusyu’ yang tercela) adalah khusyu' yang dibuat-buat, padahal hatinya tidak demikian, seperti berpura-pura menangis dan menunduk-nundukkan kepala. Pernah pada suatu ketika seseorang mengambil nafas panjang dan berpura-pura sedih di depan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, melihat seperti itu, Umar langsung menamparnya.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Umar bin Khattab jika berbicara lantang, jika berjalan cepat, jika memukul keras, tetapi walaupun begitu beliau adalah seorang ahli ibadah yang khusyu'. Artinya khusyu' yang hakiki tidaklah bertentangan dengan sikap yang tegas dan suara yang lantang serta berjalan yang tegap, karena khusyu' letaknya di dalam hati.

Sebab-sebab hati menjadi keras dan tidak khusyu’:

(1) Terlalu banyak berangan-angan tentang dunia, dan lupa akan akhirat.

(2) Tidak membaca doa dan dzikir dalam setiap kegiatannya.

(3) Tidak membaca al-Qur’an dan mentadabburinya.

Tiga sebab itu terkumpul dalam firman Allah,  

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hadid: 16)

(4) Tidak berdoa kepada Allah agar hatinya diteguhkan dalam ajaran Islam. Ini dijelaskan sebagaimana di dalam hadits  Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah. Hadits Shahih)

Begitu juga doa memohon keteguhan hati dalam setiap urusan sebagaimana di dalam hadits Syadad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jika manusia menyimpan emas dan perak, maka simpanlah doa-doa di bawah ini,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala perkara, dan kemauan kuat untuk berbuat sesuatu yang benar, aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan ibadah dengan baik kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau mengetahuinya. Dan aku memohon ampunan-Mu atas (dosa-dosaku) yang Engkau mengetahuinya, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui yang ghaib.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Hibban. Lafazh  dari Ahmad. Hadits Hasan)

Wallahu A’lam.